9

1816 Kata
Kirito langsung membawa Ishtar ke UCLA Medical Center sesampainya di L.A. Setelah memastikan kalau Ishtar mendapat perawatan yang terbaik disana, barulah Kirito mencari hotel untuk dia menginap dalam jangka waktu yang gak bisa dipastikan. Akhirnya Kirito memutuskan untuk menginap di Ritz Hotel. Kirito langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur begitu memasuki kamarnya. Coba aja kalau Carina bisa ikut kesini... Kami kan bisa sekalian bulan madu... Carina... Kenapa aku gak rela di sedekat itu dengan Rha?? Padahal aku sendiri juga punya seseorang yang berarti di hatiku...bathin Kirito. ”Berarti?? Vela?? Ya, pasti cuma Vela... Gak mungkin yang lain...”tegas Kirito pada dirinya sendiri. Belum sampai 10 menit Kirito berbaring, bel kamarnya berbunyi. Kirito langsung membuka pintu dan betapa kagetnya Kirito saat melihat Vela berdiri di depan pintu kamarnya. ”Vela??”ucap Kirito gak percaya. ”Hai... Rencananya aku mau nemuin kamu besok, tapi aku gak dapat kamar di hotel ini... Aku boleh numpang gak sampai aku dapat hotel??”tanya Vela. ”Pasti... Untung aku minta kamar yang double bed... Kamu bisa pakai tempat tidur yang satunya lagi...”ujar Kirito sambil membawakan tas Vela ke dalam. ”Sorry ya kalau aku ganggu kamu...”ucap Vela basa basi. ”Enggak koq... Lagian aku kan jadi ada teman... Gak suntuk sendirian di sini...”sahut Kirito lalu melanjutkan kembali berbaring di tempat tidurnya dan mencoba untuk memejamkan mata. ”Kamu pasti capek banget... Ya udah, mumpung kamu tidur, aku mandi dulu...”ucap Vela pelan lalu mencium dahi Kirito sebagai ucapan selamat tidur. Vela masuk ke dalam kamar mandi. Dan sebentar saja Kirito sudah mendengar suara air keluar dari shower. Kirito malah semakin gak bisa tertidur. Matanya sangat susah untuk dipejamkan. Saat mendengar pintu kamar mandi dibuka, Kirito langsung pura-pura memejamkan matanya. Vela keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk lalu mencari baju gantinya di dalam tas yang mungkin hanya untuk satu atau dua stel pakaian. Setelah mendapatkan pakaiannya, Vela kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk berpakaian. Kirito langsung melompat dari tempat tidur dan segera keluar kamar. Kirito berjalan-jalan dari lantai dasar sampai ke lantai teratas. Tapi pikirannya masih dipenuhi dengan hal yang entah kenapa gak bisa dilupakannya. Saat melihat Vela keluar dari kamar mandi, Kirito langsung terbayang sosok Carina saat dia melemparkan handuk untuk Carina di kamar mandi, saat dia menggendong Carina ke tempat tidur, saat dia memeriksa kaki Carina yang terkilir, saat dia menarik handuk Carina. Sebagian dari diri Kirito merasa dirinya memang cowok b******k, om m***m, seperti yang diucapkan Carina padanya. Tapi sebagian dirinya yang lain merasa kalau Kirito memang berhak atas apa yang dilihatnya dari tubuh Carina. Kirito mengambil hp-nya lalu menelpon Carina. Padahal Kirito sadar kalau saat itu di tempat Carina hari sudah larut. Tapi berkali-kali Kirito menelpon tetap gak ada jawaban dari seberang. Bahkan selalu nada sibuk yang terdengar oleh Kirito. Akhirnya Kirito menyerah dan mematikan ponselnya lalu kembali ke kamar. Saat Kirito kembali ke kamar, Vela sedang menonton TV. ”Kamu darimana?? Aku kira tadi kamu tidur...”tanya Vela saat menyadari Kirito memasuki kamar. ”Dari jalan-jalan...”jawab Kirito. ”Kita cari makan yuk...”ajak Vela sambil berbalik menghadap Kirito. Kirito berusaha tersenyum,”Boleh... Tapi aku mandi dulu ya...”ujar Kirito lalu langsung masuk ke kamar mandi. Sementara itu di rumah Kirito terlihat begitu ramai kerumunan orang. Bahkan ada mobil polisi di sana. Carina berada di luar rumah bersama Rha dan Vio. Ternyata tepat saat Kirito sedang gak ada di rumah, perampok masuk ke rumah keluarga Oberon itu. Dari laporan Carina, hanya beberapa barang berharga di kamar Ishtar yang sempat diambil para kawanan perampok itu. Sedangkan kamar Carina dan kamar Kirito (yang diakui Carina pada polisi sebagai kamar sepupu mereka) sama sekali belum sempat dimasuki karena Carina berhasil memanggil polisi saat para kawanan perampok itu baru memasuki rumah. ”Kamu yakin mau tinggal disini malam ini??”tanya Rha cemas saat Carina memutuskan untuk tetap bertahan di rumah itu. ”Iya... Kan kata polisi udah gak pa-pa... Lagian Kapolseknya bilang kalau akan ada beberapa polisi yang berjaga disini... Jadi aku aman...”ujar Carina tenang. ”Lebih baik lo tinggal di rumah Rha malam ini. Bukannya gw gak mau lo tinggal di apartement gw, tapi gw tinggal bareng suami gw. Jadi gw takutnya lo gak leluasa aja...”saran Vio. ”Iya, Rin... Aku cemas kalau nanti seandainya perampok itu datang lagi... Kamu tinggal di rumah aku aja malam ini...”sambung Rha benar-benar terlihat cemas. Carina sempat berpikir sebentar, lalu dia pun setuju untuk tinggal di rumah Rha malam itu. Carina mengambil semua keperluan sekolahnya sebelum dia dan Rha pulang ke rumah Rha. Baik Rha, Carina, atau Vio bersyukur karena pada saat kejadian gak seorang wartawan pun yang datang. Kalau seandainya ada wartawan yang datang, akan sangat berbahaya. Hubungan Carina dengan keluarga Oberon dan Rha pasti akan ketahuan. ”Kamu pakai kamar ini aja... Biasanya Vio yang pakai kamar ini kalau dia bertengkar dengan suaminya... Tapi belakangan ini hubungan mereka sangat baik, jadi Vio udah lama gak nginap disini...”ujar Rha menjelaskan saat menunjukkan kamar yang akan dipakai Carina,”Kamar aku yang di ujung. Kalau ada apa-apa, panggil aku aja, kalau gak lewat telpon juga bisa, yang nomor 1 ke kamar aku, kalau yang nomor 5 ke dapur, yang no 6 ke kamar pembantu...” ”Thank’s buat semuanya malam ini... Aku gak tau harus gimana kalau kamu dan Vio gak ada... Gak ada lagi yang bisa aku hubungi...”ujar Carina tulus. ”Udah, gak pa-pa... Mungkin kalau kamu gak nelpon aku pada saat seperti ini, aku akan minta putus... Karena aku gak bisa berguna untuk kamu...”ujar Rha. Carina menggenggam tangan Rha,”Jangan minta putus saat aku merasa kamu sudah cukup penting dalam hidup aku...”tegas Carina. ”Gak akan, seandainya aku minta putus dari kamu, sesudah itu aku pasti akan menghilang dari kehidupan kamu... Udahlah, jangan dipikirkan... Kamu istirahat aja, ini udah jadi malam yang berat buat kamu...”ujar Rha lalu mencium dahi Carina sebelum keluar dari kamar. Carina naik ke atas tempat tidur, tapi dia tetap gak bisa tidur. Dia kembali teringat kata-kata terkahir Vela saat menemuinya di rumah setelah keberangkatan Kirito ke bandara. ”Aku tau kalau sebenarnya pernikahan kalian hanya kontrak selama 7 bulan. Karena itu aku ingin mengingatkan, jangan terlalu dekat dengan Kirito hingga melibatkan perasaanmu. Karena Kirito adalah milikku. Aku akan ke L.A juga sekarang. Dan aku harap kamu gak menganggu kami selama disana. Ingat itu, Carina...” ***   Ternyata kesialan Carina gak hanya berhenti malam itu saja. Selama di sekolah berbagai kesialan mendatanginya. Dari lupa bawa baju olahraga, sampai kena marah guru gara-gara salah bawa tugas. Dan saat pulang Carina baru menyadari kalau hp-nya gak ada. Setelah bersusah payah mengingat dimana dia meletakkan hp-nya akhirnya Carina sadar kalau kemungkinan besar hp-nya hilang saat dia pergi sekolah, saat berada dalam kendaraan umum. Pulang sekolah Carina di jemput oleh Vio karena Rha ingin Carina melihat syutingnya hari itu. ”Kamu yakin kalau kamu gak butuh hp?? Kita bisa pergi beli sekarang koq, mumpung aku lagi istirahat...”ujar Rha saat dia, Vio dan Carina duduk di tempat yang sedikit lebih jauh dari tempat artis lain istirahat. Carina menggeleng pelan,”Gak usah, aku gak butuh banget koq...”tolak Carina. ”Terserahlah...”ujar Rha pasrah. ”Kamu pulang malam ini??”tanya Vio ingin tau. ”Iya... Lagian aku gak yakin mereka berani kembali ke rumah... Setidak...” Carina gak sempat menyelsaikan ucapannya karena tiba-tiba seorang kru datang dengan tergesa-gesa ke sisi Rha. ”Rha! Lawan mainmu cedera... Dia jatuh di kamar mandi... Syuting gak mungkin dilanjutkan... Setidaknya sampai dia sehat kembali.”ujar kru itu cemas. ”Gak bisa... Scene yang ada gw-nya kan tinggal sekali ini... Gw gak mungkin syuting scene yang sama lain waktu. Semua jadwal gw udah diatur...”ujar Rha gak terima kalau dia yang harus mengalah. ”Tenang, Rha... Biar gw yang ngomong sama sutradara ya...”ujar Vio menengahi lalu pergi ke tempat sutradara. ”Bagusan lo pergi dulu deh... Mood gw jadi jelek nih gara-gara kejadian ini...”ujar Rha dingin. ”Rha...”tegur Carina karena baru kali ini Carina melihat Rha begitu egois. Kru itu langsung pergi. Di dunia artis, Rha memang terkenal tegas soal jadwal syuting. Dia akan menyelesaikan semua syutingnya secepat mungkin, walaupun dia harus mengorbankan jam tidurnya. Wajar kalau dia sengat kesal gara-gara cedera lawan mainnya. Itu berarti semua jadwalnya sebulan kedepan harus diatur ulang. Dalam keheningan antara Rha dan Carina, tiba-tiba Vio datang. ”Kalau lo memang ingin syuting dilanjutkan hari ini juga, sutradara gak masalah kalau ada yang bisa menggantikan Kana.”ujar Vio serius. Rha yang mendengarnya langsung berpikir keras. Menggantikan Kana?? Siapa yang bisa?? ”Apa dia benar-benar gak bisa berdiri?? Kan adegannya cuma pelukan sama gw terus naik mobil, habis deh...”ujar Rha. ”Gak bisa, Rha... Dia aja pingsan. Sekarang lagi dalam perjalanan ke rumah sakit.”sahut Vio lalu duduk di tempatnya tadi. Rha dan Vio saling berpandangan. Tiba-tiba keduanya menoleh ke arah Carina. Kontan aja Carina bingung dengan tatapan kedua orang itu. Rha langsung kembali menatap Vio. ”Ada yang bisa ngegantikan Kana. Dilihat dari postur tubuhnya, Carina mirip banget dengan Kana. Hanya warna rambut mereka yang beda, dan itu gak masalah. Hair stylish bisa mengatasinya.”ujar Rha serius. ”Aku gak mau ah!”tolak Carina. ”Ayolah Carina... Cuma sebentar... Kalau semuanya lancar, bisa koq sekali take... Pliz...”bujuk Vio. ”Aku gak bisa... Aku gak pernah berdiri di depan kamera...”tolak Carina. ”Gak pa-pa... Kamu gak harus menghadap ke kamera koq. Cuma dari belakang yang di shoot...”sambung Rha. ”Tapi...” ”Ayolah... Demi aku dan Rha... Pliz... Kita teman kan??”tanya Vio memelas. Carina terdiam. Dipandanginya wajah Vio dan Rha yang begitu memohon kesediaannya untuk syuting satu adegan. Carina menghela nafas pendek, pasrah,”Baiklah... Hanya sekali ini, oke?? Gak akan ada lain kali...”ujar Carina serius. ”Hore!!”sorak Vio dan Rha senang. Mereka langsung mendatangi sutradara, dan ternyata sutradara juga tertarik dengan Carina. Akhirnya syuting pun dilanjutkan hanya dengan sekali take. Setelah selesai syuting, sutradara langsung mendatangi Carina. ”Apa kamu gak berminat jadi artis??”tanya sutradara itu. Carina tersenyum,”Maaf, tapi saya gak berminat... Bagi saya dunia artis adalah dunia yang sangat gak ingin saya masuki... Saya bukan termasuk orang yang sanggup bertahan...”jawab Carina sesopan mungkin. ”Tapi kamu ada bakat lho... Bukankah akan lebih baik kalau bakat itu disalurkan??”tanya sutradara itu gigih. ”Gak... Saya tetap dengan keputusan saya...”tegas Carina. ”Baiklah kalau itu keputusan kamu. Tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa menghubungi saya...”ujar sutradara itu sambil menyerahkan kartu namanya. ”Kalau gitu saya permisi dulu...”pamit Carina seraya mengambil kartu nama sutradara itu kemudian pergi dari sana bersama Rha dan Vio. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN