Rha masih terdiam di ambang pintu saat Carina menjawab Kirito,”Rha tau kalau kaki aku semalam terkilir, dan dia hari ini datang menjengukku. Gak pa-pa kan??”tanya Carina membantu Rha menjawab.
”Gak pa-pa sih... Tapi lo tau darimana kalau Carina dirawat disini??”tanya Kirito lagi.
Ih... Kenapa sih ni cowok... Biasanya dia gak pernah semau tau ini.. Tapi sekarang dia koq cerewet banget sih... Udah main cium seenaknya, sekarang mau tau urusan orang lagi...bathin Carina sebal.
”Ah itu, tadi gw mau nelpon lo, tapi susah banget nyambungnya... Jadi berhubung gw tau no istri lo, ya udah, gw nelpon dia. Dari situ gw tau kalau dia dirawat disini. Sebagai teman, wajar donk kalau gw jenguk istri lo…”jawab Rha sudah mulai memahami keadaan.
“Oh… Tapi ada urusan apa lo nyari gw??”tanya Kirito.
”Gw ada iklan baru, dan gw disuruh nyari partner, rencananya gw mau ngajak elo, lo mau??”tanya Rha berbohong, karena sebenarnya iklan itu sudah selesai dikerjakannya, Rha berani bertaruh Kirito akan menolaknya, makanya dia berani.
”Lo kan tau sendiri kalau gw udah mundur... Sorry ya, gw gak bisa bantu lo kali ni... Tapi kalau lain kali lo butuh bantuan yang gak ada hubungannya dengan tampil di depan kamera, gw pasti bantu...”jawab Kirito.
”It’s okay...”sahut Rha lalu tersenyum.
“Dan sekarang aku yang mau nanya sama kamu, koq kamu bisa balik kesini lagi?? Bukannya kamu ngantor hari ini??”tanya Carina pada Kirito.
”Aku gak akan ke kantor lagi sampai hari keberangkatan... Jadi aku bakalan ngawasi kamu dan Papa disini...”jawab Kirito santai.
”Bencana donk...”gumam Carina.
Kirito langsung menatap Carina,”Bencana apa maksud kamu??”tanya Kirito yang ternyata dapat mendengar ucapan Carina.
”Bencana karena aku pasti akan kena omel setiap hari, bencana karena aku harus ketemu kamu setiap saat, bencana karena harus kamu yang mengurus aku, pokoknya semua bencana!!”jawab Carina kesal.
”Kayaknya aku mesti balik ke lokasi syuting deh... Cepat sembuh ya...”pamit Rha sambil mencium pipi Carina lalu segera keluar dari kamar Carina.
Kirito gak percaya dengan apa yang dilihatnya,”Apa-apa’an tadi?? Pakai cium pipi segala! Baru kali ini aku liat Rha begitu perhatian sama cewek selain sepupunya... Apa yang terjadi diantara kalian sebenarnya?? Rha itu paling malas jenguk orang lain, bahkan lawan mainnya dalam film... Kenapa dia bisa dengan senang hati menjenguk kamu?? Aku gak percaya kalau itu hanya karena kamu istriku...”tanya Kirito serius.
”Bukan urusan kamu!! Dia mau cium pipi atau cium bibir juga bukan urusan kamu!!”tukas Carina singkat sambil membalik badannya.
”Jawab aku Carina!”tegas Kirito sambil membalik badan Carina lagi.
Carina menatap Kirito dengan garang,”Ngapain kamu marah-marah, Kirito?? Apa yang membuat kamu sampai semarah ini?? Kamu marah istri kamu dicium orang lain?? Gak kan?? Kamu gak punya hak marah sama aku dengan alasan aku istri kamu. Karena aku bukan istri dalam arti sebenarnya. Jadi apa yang membuat kamu marah?? Kamu aja seenaknya menciumku!”tanya Carina dingin.
”Ya! Aku gak berhak menuntut apapun dari kamu! Tapi tolong, bersikaplah seperti istriku sebenarnya di depan orang lain.”sahut Kirito.
”Hanya aku yang harus bersikap seperti seorang istri sebenarnya?? Kamu?? Gak wajib?? Kamu kira tadi malam aku gak sadar saat kamu mencium Vela?? Aku sadar, hanya saja aku gak mau mengganggunya, karena aku tau kamu dan Vela memang pacaran, dan hubungan kalian agak jauh gara-gara pernikahan 7 bulan ini. Dan aku juga gak pernah mengikat kamu dengan apapun! Apalagi dengan status kamu sebagai suamiku! Jadi tolong jangan ikat aku dengan apapun! Itu ada dalam perjanjian kita...”
”Aku dan Vela beda kasus dengan kamu dan Rha!! Aku udah lama kenal dengan Vela! Sedangkan kamu? Baru kemarin kalian kenal, dan kalian langsung seintim itu?? Rha juga... Apa dia gak memandang aku sebagai suami kamu?? Seharusnya kamu juga ingat kalau gak hanya di depan Papa kita pura-pura sebagai suami istri, di depan yang lain juga... Oke, kalau aku gak boleh ikut campur urusan pribadi kamu, tapi setidaknya jangan sama Rha, dia teman dekatku dan dia juga seorang artis yang sangat amat terkenal... Setidaknya jangan dalam waktu dekat ini... Terserah kalau udah 7 bulan... Setelah itu aku gak peduli... Tolonglah Car...”
”Rha??!!”ucap Carina memotong ucapan Kirito.
Baik Kirito maupun Carina sama-sama melihat ke arah pintu. Rha berdiri di sana dengan satu tangan di kenop pintu. Ada raut terkejut di wajahnya. Tapi raut wajah itu segera menghilang dan digantikan dengan sebuah raut yang sama sekali gak bisa di tebak apa artinya. Rha kemudian berjalan masuk, dia lewat di samping Kirito dan mengambil kunci mobil yang ada di meja dekat tempat tidur Carina. Rha sempat berhenti di sisi Kirito lalu membisikkan sesuatu.
”Jaga istri pura-pura lo dengan baik, karena kalau enggak, jangan menyesal kalau sebelum 7 bulan, dia udah bersama gw...”bisik Rha serius lalu langsung pergi dari kamar Carina.
”s**t!!”umpat Kirito super kesal,”Well, sekarang Rha-mu udah tau hubungan kita yang sebenarnya. Walaupun begitu, aku gak ingin kalian bersikap terlalu dekat, apalagi di depan Papa.”tegas Kirito sambil beranjak dari kursinya menuju pintu.
”Jangan pernah mendikte-ku tentang apa yang harus aku lakukan!!”pekik Carina kesal.
Kirito sempat berhenti sesaat dan memandang Carina begitu tajam sebelum keluar dari kamar Carina.
***
Rha sedang menyelesaikan syuting iklan terbarunya untuk produk otomotif saat Vio datang menghampirinya setelah meminta izin dengan kameraman.
”Tumben lo nyela syuting gw... Ada apa nih??”tanya Rha santai.
”Apa-apa’an ini?? Lo ngerebut cewek Kirito di depan umum?? Koq gw gak tau apa-apa tentang kejadian malam itu??”tanya Vio sambil menunjuk judul besar di sebuah tabloid ibukota.
Rha merebut tabloid itu,”Sialan niy wartawan. Berani banget dia nulis kayak gini…”geram Rha.
Vio menarik Rha menjauhi para kameraman,”Jelasin sama gw apa yang terjadi malam itu. Gw gak mungkin jawab gak tau apa-apa, sedangkan status gw manager elo...”tegas Vio.
”Oke... Gw cerita...”
Akhirnya Rha menceritakan pada Vio apa yang terjadi malam itu, bahkan sampai hubungan suami istri antara Kirito dan Carina yang pura-pura pun ikut dibahas dalam pembicaraan singkat mereka. Gak ada satupun adegan yang terlewatkan, karena ternyata Rha juga menceritakan bahwa dia melihat dengan mata kepalannya sendiri kalau Kirito mencium Carina di tempat tidur rumah sakit. Rha baru berhenti bercerita saat ada sebuah sms masuk di hp-nya.
From: Carina
Rha... Tlg jgn m’crtakn mslh tdi dg sypapun... Q g ingin org” tw klu Q istri Kirito... Q hrp U tw alsn’y...
Rha membalas sms Carina.
To: Carina
Sorry... Q udh t’lnjur ngsi tw seppu Q... Akn Q pstkan klu cma dy yg tw...
Gak lama kemudian datang sms balasan dari Carina.
From: Carina
Thx... Q hrp seppu U bs jga rhsia... Krna Q bnr” ingin m’rhsiakan’y dri public...
Rha gak membalas sms Carina. Dia memilih untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Vio.
”Gw mohon, cuma lo yang tau masalah ini. Jangan sampai orang lain tau kalau Carina istri Kirito, apalagi kalau sampai bocor bahwa pernikahan mereka hanya 7 bulan...”ujar Rha pelan.
”Gak masalah... Tapi apa lo benar-benar serius dengan Carina??”tanya Vio.
”Gw serius. Baru dia cewek yang bisa ngebuat gw lupa kalau gw artis... Gw nyaman disampingnya...”
Vio menghela nafas pendek,”Ya udah deh... Terserah lo... Tapi ingat gara-gara masalah kemarin, kita harus ngadain jumpa pers dalam waktu dekat ini, lebih baik kalau sebelum acara ulang tahun kamu...”tegas Vio.
”Oke deh, manager!”sahut Rha ceria sambil memperagakan sikap hormat.
***
Sudah seminggu Carina keluar dari rumah sakit. Itu berarti hari keberangkatan Kirito ke L.A hanya tinggal 2 hari lagi. Kirito juga udah mulai masuk kantor sejak Carina kembali ke rumah. Bahkan akhir-akhir ini Kirito sampai kerja lembur. Ada beberapa masalah yang muncul saat dia gak masuk kantor. Seperti hari itu, Kirito pulang larut malam dalam keadaan yang menyedihkan. Entah apa yang terjadi padanya hingga membuat Kirito yang membenci alkohol sampai mabuk berat dan diantar pulang oleh Vela.
”Kirito?? Koq bisa mabuk sih??”tanya Carina saat membukakan pintu untuk Kirito dan Vela.
”Kamu nanya sama aku?? Seharusnya kamu yang tau apa masalah yang dihadapinya, kamu istrinya...”ujar Vela sambil membantu memapah Kirito ke kamarnya.
”Makasih udah ngantar Kirito. Apa kamu gak nginap disini aja? Hari udah terlalu malam...”ujar Carina sambil melepaskan sepatu Kirito.
”Gak usah. Lebih baik kamu urus Kirito dengan baik, besok dia ada rapat pemegang saham di kantornya. Pastikan besok pagi keadaannya sudah membaik... Aku pulang dulu.”pamit Vela lalu keluar dari kamar Kirito.
Setelah mengantarkan Vela ke teras, Carina kembali ke kamar Kirito. Carina melepaskan dasi dan jas Kirito. Carina juga membuka kancing teratas dari kemeja Kirito agar dia lebih mudah bernafas. Saat Carina akan pergi, tangan Kirito tiba-tiba menarik pergelangan tangan Carina.
”Kamu disini aja, Vel...”gumam Kirito pelan.
”Aku Carina, tau...”sahut Carina pelan sambil berusaha melepas genggaman tangan Kirito yang begitu kuat.
Entah dirasuki setan darimana, Kirito yang entah sadar entah enggak menarik tangan Carina dengan kuat hingga Carina hilang keseimbangan dan jatuh tepat di atas tubuh Kirito. Tanpa sempat mengelak, tangan Kirito sudah berada di belakang leher Carina dan mendekatkan wajah Carina.
Carina bisa merasakan hembusan nafas Kirito. Kirito mencium Carina. Dengan sekuat tenaga Carina berusaha melepaskan diri, tapi Kirito jauh lebih kuat. Setelah merasa Kirito agak melonggarkan tangannya di belakang leher Carina, Carina langsung menarik diri dan berlari ke kamarnya.
”Aku bukan Vela, Kirito... Aku bukan...”isak Carina mulai menangis.
***
Keesokan paginya, Carina sengaja bangun lebih pagi dan segera menyiapkan sarapan. Dia gak ingin bertemu Kirito hari ini. Jadi dia memutuskan untuk berangkat sekolah lebih cepat. Apalagi hari ini hari pertama dia masuk sekolah setelah libur satu minggu.
Carina berhasil melewati jam-jam di sekolah tanpa ada perubahan yang berarti dari hari-hari sebelumnya. Gak ada lagi yang mengganggunya dengan pertanyaan tentang Rha, hanya Lena yang sibuk mengganggu Carina, menanyakan apa yang terjadi pada Carina sampai seminggu gak masuk sekolah. Karena menurut Lena, Carina adalah satu-satunya makhluk yang Lena kenal yang paling cinta sama sekolahan. Bel pulang sudah berbunyi. Carina dan Lena sama-sama keluar dari kelas.
”Rin... Main ke rumah aku yuk... Ceritain donk, ngapain aja kamu seminggu ini koq gak masuk sekolah...”bujuk Lena.
”Berapa kali aku bilang Lena... Aku harus kerja... Ini juga hari pertama aku kerja setelah seminggu aku gak masuk sekolah... Gak mungkin kalau aku gak kerja... Mau dapat uang darimana??”ujar Carina penuh penekanan.
”Ayolah... Libur aja sehari lagi...”bujuk Lena pantang menyerah.
”Gak!”
”Iya!”
”Enggak!!”
”Iya! Iya! Iya!”
”Enggak! Enggak! Enggak!”
”Carina...”
”Lena...”
”Ayolah Carina...”
”Enggak mau! Sekali gak mau, tetap gak mau!!”tegas Carina.
Lena terus membujuk Carina sampai mereka tiba di gerbang depan. Carina sama sekali gak menyadari bahwa ada sebuah mobil yang dikenalnya terparkir manis di pinggir jalan. Carina dan Lena lewat di samping mobil itu. Tapi tiba-tiba pintu mobil itu terbuka dan sebuah tangan menarik Carina masuk ke dalam mobil. Lena sama sekali gak menyadari hal itu. Bahkan sampai mobil itu menghilang di tikungan yang berjarak seratus meter dari gerbang sekolah.
”Rha!! Gak ada cara yang lebih sopan apa?! Kayak penculik tau!!”bentak Carina kesal dengan kelakuan Rha yang mirip penculik.
”Ha ha ha... Tapi keren kan?? Ini salah satu adegan syuting aku lho... Kan aku baru sekali ini dapat peran antagonis... Cocok gak?? Payah tau ngepasin timingnya...”tanya Rha santai sambil terus mengemudikan mobilnya.
”Gak!!”jawab Carina asal,”Rha... Aku mau kerja lho hari ini... Ini bukan jalan ke tempat kerja aku...”lanjut Carina setelah menyadari jalan yang dilaluinya berlawanan arah dengan jalan ke tempat kerjanya.
”Tenang aja... Aku udah minta izin koq ke tempat kerja kamu... Hari ini aku ingin memonopoli kamu sendirian... Dan kamu gak boleh nolak... Soalnya hari ini aku benar-benar off...”ujar Rha ceria.
”Rha... Jangan suka berbuat seperti ini... Aku gak suka... Kita gak ada hubungan apa-apa... Kita cuma teman biasa... Kamu terlalu mengistimewakan aku... Dan aku gak suka itu...”ujar Carina serius.
”Makanya kamu ikut aku, aku ingin memastikan seperti apa hubungan kita sebenarnya...”sahut Rha gak kalah serius.
Carina memilih untuk mengikuti keinginan Rha hari ini. Karena dia lagi malas berdebat dengan Rha. Carina sudah terlalu banyak berdebat hari ini. Dan itu gara-gara Lena. Rha mengemudikan mobilnya menuju sebuah butik dan berhenti disana.
”Buat apa kita kesini, Rha??”tanya Carina bingung.
”Gak mungkin aku bawa kamu dengan baju seragam sekolah gini... Nanti kalau seandainya kita ketemu wartawan bisa ketauan sekolah kamu...”ujar Rha sambil membukakan pintu untuk Carina.
Carina pasrah. Dia mengikuti semua yang diinginkan Rha. Setelah mengganti bajunya dengan stelan casual, Carina dan Rha kembali mobil dan melanjutkan perjalanan. Ternyata Rha membawa Carina ke sebuah taman hiburan.
Rha yang mengenakan topi dan kacamata, membawa Carina main bianglala di taman itu. Tepat saat kabin yang ditempati Carina dan Rha berada di puncak, bianglala itu berhenti.
”Rha... Ini kenapa?? Koq berhenti??”tanya Carina cemas.
”Gak pa-pa... Cuma berhenti sebentar... Aku yang minta...”
”Rha?? Ini semua apa sih??”tanya Carina semakin bingung.
Rha mendekati Carina dan menggengam kedua tangannya,”Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Sejak kamu mengantarkan pesanan Vio. Aku selalu merasa ada sesuatu di kamu yang membuat aku tertarik. Tapi aku gak tau itu apa. Boleh gak kalau aku menyebut itu love at the first sigh?? Aku suka, aku sayang, dan aku mencintaimu, Carina… Do you want to be my lady??”tanya Rha serius.
Carina benar-benar gak menyangka kalau Rha berniat ‘menembaknya’. Carina bingung harus jawab apa. Dia gak benci sama Rha, tapi dia juga gak tau apa yang dirasakannya untuk Rha itu cinta atau cuma sekedar teman.
”Rha... Tapi kamu tau kan kalau aku istri Kirito??”
”Itu hanya kontrak, Carina... Aku bisa bersabar sampai kontrak itu habis...”
”Tapi Rha...”
”Kamu benci aku??”
Carina menggeleng.
”Kalau gitu apalagi yang kamu cemaskan??”
”Aku memang gak benci kamu, tapi aku juga gak mencintai kamu... Aku aja masih bingung dengan perasaan ini...”
”Dengar Carina... Terima aku... Kita akan terus pacaran, sampai kamu berhasil mencintai orang lain... Dan kalau suatu saat orang itu muncul dan kamu ingin bersamanya dan orang itu juga ingin bersamamu... Aku rela mundur... Aku akan melepaskanmu... Tapi aku akan tetap menjagamu dari jauh...”
”Itu gak adil buat kamu, Rha... Ini sama aja aku memanfaatkan kamu... Aku gak mau kalau kamu sakit hati...”
”Cukup adil... Karena saat ini aku membutuhkanmu di sampingku... Aku yang meminta kamu untuk berada di sisiku...”
Carina terdiam. Rha selalu baik padanya. Rha juga gak punya kejelekan yang membuat Carina gak nyaman berada di sampingnya. Gak ada alasan untuk menolak Rha. Akhirnya Carina mengangguk pelan.
”Cihuuuyyy!!”sorak Rha langsung merengkuh Carina kedalam pelukannya.
Rha menelpon petugas bianglala di bawah agar segera menjalankan kembali bianglala-nya. Setelah sampai di bawah, Rha langsung menarik Carina untuk bermain di wahana yang lain. Mereka juga menaiki jet coaster. Terakhir mereka bermain jet ski di pantai.
”Rha... Bajuku basah nih...”ujar Carina saat mereka selesai bermain jet ski.
Rha tersenyum lalu menarik Carina ke dalam pelukannya,”Kamu gak berpikir kalau aku gak menyiapkan apa-apa kan??”ujar Rha balik bertanya.
”Kamu udah nyiapkan baju ganti yang lain??”tanya Carina lagi.
”Udah donk...”ujar Rha PD lalu menelpon seseorang untuk membawakan baju ganti mereka.
Rha dan Carina menunggu di sebuah cafe di taman itu. Karena baru saja selesai main jet ski, Rha lupa memakai kembali topi dan kacamatanya. Sampai seorang gadis menghampiri meja mereka.
”Kamu Rha, kan??”tanya gadis itu sambil memperhatikan wajah Rha.
Rha kaget, dia sadar kalau dia gak memakai topi ataupun kacamata. Dan yang lebih parah, gara-gara mendengar ucapan gadis itu, orang-orang yang duduk di sekitar Rha langsung menyadari kehadiran Rha dan mereka langsung mengerubungi meja Rha. Carina yang paling benci hal seperti itu langsung berdiri dan memilih menunggu di pintu masuk. Setelah beberapa saat, seorang perempuan menghampiri Carina. Perempuan itu Vio.
”Lo Carina kan??”tanya Vio.
”Iya... Kamu siapa??”ujar Carina balik bertanya.
”Gw Vio, manager Rha sekaligus sepupunya. Ini baju ganti yang diminta Rha.”ujar Vio sambil menyerahkan sebuat tas pada Carina,”Rha mana??”tanya Vio setelah menyadari kalau yang ada di situ menunggunya hanya Carina.
”Tuh..”tunjuk Carina pada sebuah kerumunan.
Vio langsung menepuk dahinya,”Ketauan ya??”tanya Vio lemas.
”He eh...”
”Lo ganti baju dulu deh, habis itu langsung ke mobil Rha. Gw mau bantu dia dulu...”ujar Vio lalu pergi ke arah kerumunan itu.
Carina menuruti perintah Vio. Dia langsung mencari toilet untuk ganti baju. Setelah selesai ganti baju, Carina langsung ke mobil Rha di parkiran. Gak sampai 20 menit, Rha udah muncul di sana bersama Vio.
”Sorry banget, Rin... Aku bener-bener gak nyangka kalau mereka seagresif itu...”ujar Rha memohon maaf pada Carina.
”Tu makanya, besok-besok kalau persiapannya gak matang, jangan main di taman hiburan... Gw pulang dulu, Rha... Kalian hati-hati ya... Gw yakin kalau salah satu dari orang-orang yang ada disana akan menelpon pihak pers...”pamit Vio lalu bergegas ke mobilnya yang diparkir gak jauh dari mobil Rha.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Rha mengantar Carina pulang.
”Nanti malam aku telpon ya...”ujar Rha saat berada di teras rumah Carina.
”He eh... Hati-hati pulangnya...”pesan Carina.
Tapi Rha sama sekali gak beranjak dari hadapan Carina.
”Apalagi??”tanya Carina.
”Mana ciuman selamat malamnya??”tanya Rha.
”Rha!”tegur Carina.
”Ayolah... Gak ada yang salah koq...”bujuk Rha.
Carina menghela nafas pendek. Akhirnya Carina memutuskan untuk memberi Rha ciuman selamat malam di pipi. Tepat saat bibir Carina hampir menyentuh pipi Rha, tiba-tiba Kirito datang dan menarik lengan Carina.
”Apa-apa’an kalian!”bentak Kirito sambil menarik Carina ke sisinya.
Rha menatap Kirito dengan tatapan gak senang lalu balas menarik Carina ke pelukannya,”Jangan sentuh pacarku! Aku gak masalah kalian tinggal satu rumah, tapi jangan pernah berniat menyentuh Carina!! Aku udah pernah bilang waktu itukan??”ujar Rha gak kalah tegas lalu mencium bibir Carina dengan posesif,”Aku pulang dulu...”pamit Rha kemudian.
Setelah Rha menghilang dari penglihatan Carina, Carina langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Kirito.
”Carina!!”panggil Kirito kuat sambil berlari mengejar Carina.
Mendengar Kirito memanggilnya, bukannya berhenti, Carina malah mempercepat larinya hingga sampai ke kamar. Dengan cepat Carina berhasil mengunci pintu kamarnya saat Kirito baru sampai di depan pintu.
”Carina!! Carina!! Carina buka pintunya!! Aku mau bicara sama kamu!!”ujar Kirito sambil menggedor pintu kamar Carina.
”Mau bicara apa, Kirito?? Emangnya ada yang harus kita bicarakan??”ujar Carina balik bertanya.
”Setidaknya kita bisa bicara tentang hubunganmu dengan Rha... Aku ingin penjelasan atas semuanya!”
”Gak ada yang harus dijelaskan. Dan bagaimana hubunganku dengan Rha, itu bukan urusan kamu.”
”Carina! Tolong buka pintunya!!”ujar Kirito pantang menyerah.
Tapi Carina tetap tak bergeming. Dia berdiam diri di belakang pintu. Sedangkan Kirito terus menggedor pintu kamar Carina. Makin lama gedoran Kirito makin pelan dan kemudian berhenti. Setelah merasa aman. Carina pergi ke kamar mandi untuk mandi. Carina baru keluar dari kamarnya setelah setengah jam kemudian. Dan saat Carina membuka pintu kamarnya, Carina benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya di lantai depan kamarnya. Kirito tergeletak gak sadarkan diri.
Carina panik. Tapi dengan cepat dia berhasil mengatasi kepanikannya dan menarik Kirito ke tempat tidurnya.
”Panas banget badannya...”gumam Carina sambil menyentuh dahi Kirito dengan punggung tangannya.
Carina berlari ke dapur untuk mengambil mangkuk dan mengisinya dengan air dan batu es sebelum kembali ke kamar. Carina mencari handuk kecil di lemarinya untuk mengompres Kirito. Carina memeras handuk itu sebelum menaruhnya di dahi Kirito. Carina terus melakukan hal yang sama berulang-ulang sampai lewat tengah malam, sampai akhirnya Carina tertidur dengan kepala di pinggir tempat tidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi saat Kirito sadar. Dia meraih handuk di dahinya dan meletakkannya ke dalam mangkuk di samping tempat tidur. Kirito berusaha untuk duduk, dia menyadari kalau Carina tertidur dengan menggenggam tangannya. Dengan perlahan Kirito melepaskan genggaman tangan Carina. Dan mencoba untuk berdiri. Kirito kemudian mengangkat Carina ke atas tempat tidur lalu menyelimutinya.
”Makasih...”gumamnya lalu mencium dahi Carina,”Selamat pagi, istriku...”lanjut Kirito sebelum keluar dan kembali ke kamarnya sendiri untuk kembali tidur, karena nanti jam sepuluh pagi, Kirito akan berangkat ke L.A dengan pesawat medis.