“Kamu dengar apa enggak??”tanya Kirito sebal.
Carina merengut,”Iya dengar... Dah puas ngomelnya Tuan muda??”tanya Carina sebal.
Kirito tersenyum,”Puas sekali, dan sekarang kamu minum obat pereda sakit ini baru nanti kamu tidur.”ujar Kirito sambil menyerahkan dua buah tablet dan gelas berisi air pada Carina.
Carina mengambil obat itu lalu meminumnya,”Makasih...”ucap Carina tulus.
”Hey... Aku boleh bertanya tentang sesuatu??”tanya Kirito tiba-tiba sambil menarik kursi tempat dia duduk mendekati tempat tidur Carina.
”Apa??”tanya Carina bingung, karena tumben-tumbennya Kirito terlihat begitu antusias menanyakan sesuatu.
”Kenapa kamu sama sekali gak mau diumumkan sebagai istriku??”
”Ha??”
”Iya... Kenapa kamu gak mau kalau masyarakat tau kamu itu istriku... Setidaknya kita gak perlu seperti tadi kalau bertemu dengan wartawan... Kita bisa menjawab mereka dengan santai, tanpa harus melarikan diri terus... Tau gak?? Baru kali ini aku benar-benar terdiam di depan wartawan... Bahkan aku harus sesegera mungkin menghindari wartawan itu...”
”Dengar ya, Tuan muda... Alasan aku gak mau diumumkan jadi istri kamu itu, satu, aku masih 17 tahun dan masih sekolah... Apalagi aku anak beasiswa, kalau ketahuan aku sudah menikah, beasiswaku akan dihentikan... Dan besar kemungkinan aku akan diberhentikan dari sekolah, sedangkan aku masih ingin mengejar cita-citaku...”
”Aku bisa membiayai sekolahmu... Dan kalau kamu diberhentikan, aku sanggup membiayai guru untuk home schooling...”potong Kirito.
”Dua, akan banyak berita miring mengenai pernikahan ini. Pasti gak sedikit yang berpikir kalau kita MBA... Karena, jujur, pernikahan ini terlalu terburu-buru dan sama sekali gak pernah terbayang olehku...”lanjut Carina tanpa memperdulikan protes Kirito.
”Gak masalah... Kita bisa membuktikan kalau gak ada yang namanya MBA dengan pemeriksaan dokter... Atau mungkin, kita buat aja berita itu menjadi fakta??”
Carina melotot marah pada Kirito,”Jangan harap!! Ketiga, pernikahan ini hanya tujuh bulan, sampai Papa benar-benar sembuh... Dan itu berarti setelah 7 bulan statusku adalah janda... Umur 18 tahun aku sudah janda?? Gak mungkin... Jadi lebih baik kalau gak ada yang tau kan?? Dan aku bisa menjalani hidupku dengan normal...”
”Aku gak masalah koq kalau meneruskan pernikahan ini... Aku kan masih bisa nikah lagi?? Polygami kan sah...”sahut Kirito santai.
”Gak akan!! Lebih baik aku jadi janda daripada dimadu... Oh tidak... Aku gak pernah memikirkan hal ini akan terjadi padaku... Seperti cerita di film aja...”gumam Carina cukup kuat untuk dapat di dengar Kirito.
”Apa kamu punya seseorang yang kamu sukai sampai kamu gak mau ketahuan kalau kamu menikah denganku??”tanya Kirito tiba-tiba bersikap cukup serius.
”Gak ada orang spesial dalam hidupku selain Papa... Dan Lena...”sahut Carina sambil tersenyum tulus.
Mungkin aku juga punya seseorang yang aku harapkan untuk dapat menjadi teman hidupku... Walaupun aku tau kalau orang itu gak akan bisa aku miliki...bathin Carina
Agh... Ternyata kalau dia seperti ini, dia sangat manis... Kenapa hanya wajah garangnya yang sering keluar saat bersamaku... Aku yakin kalau gak sedikit yang menyukainya di sekolah... Kayaknya kapan-kapan aku ingin main ke sekolahnya...bathin Kirito sambil senyum-senyum sendiri.
”Ya udah deh... Tidur sana... Obatnya udah mulai reaksi nih... Aku jadi ngantuk...”ujar Carina menghentikan lamunan Kirito.
”Oke... Selamat tidur istriku...”ucap Kirito lalu mencium dahi Carina.
Carina langsung mengelap bekas ciuman Kirito,”Jangan pernah menciumku tanpa persetujuan dariku, Kirito!!”bentak Carina kesal.
Mungkin lebih tepatnya bukan itu alasan aku menolak untuk diumumkan sebagai istrimu... Kalau masyarakat umum tau istrimu adalah aku, seorang gadis dari masyarakat biasa yang gak punya kelebihan apa-apa... Bukan gak mungkin hal ini malah akan menjatuhkan reputasimu... Kamu juga gak bisa berhubungan lagi dengan Vela... Tapi... Apa alasan ini murni untuk membuatmu bahagia atau hanya keegoisanku sendiri??bathin Carina.
Kirito berjalan ke tempat tidurnya sambil tertawa pelan dan berbaring dalam keadaan tertelentang dengan tangan menjadi alas kepalanya. Entah kenapa Kirito sama sekali gak bisa memejamkan matanya. Pikirannya dipenuhi bayangan Carina saat terjatuh di kamar mandi. Kirito gak menyangkal kalau dia sempat melihat Carina tanpa busana dua kali, itupun keduanya benar-benar sekilas, tapi meninggalkan kesan mendalam di pikiran Kirito. Pertama di kamar mandi saat baru masuk dan yang kedua saat dia menarik handuk Carina. Yang kedua ini dilakukan Kirito tidak berdasarkan akal sehatnya. Entah setan darimana yang membujuknya untuk melakukan hal itu. Dan Kirito yang biasanya berhasil mengendalikan semua pikirannya, saat itu benar-benar spontan menarik handuk Carina. Dia merasakan ada aliran aneh yang memasuki dirinya saat melihat Carina tanpa busana.
”Aku kan masih normal... Jadi wajar donk kalau aku tertarik... Apalagi itu bukan hal yang mudah di lupakan begitu aja... Pemandangan yang indah... Dan tubuh itu... Benar-benar sempurna... Dan yang paling penting, dia itu istri aku... Aku punya hak penuh atas dirinya... Karena kami menikah dengan sah secara agama maupun hukum...”gumam Kirito membenarkan tindakannya.
***
Carina belum boleh keluar dari rumah sakit selama 4 hari. Itu berarti Carina harus libur sekolah selama 4 hari. Carina benar-benar kebingungan. Siapa yang akan memintakan izin ke sekolah... Kirito gak mungkin, karena akan beresiko rahasia mereka akan terbongkar. Wilda?? Harus bilang apa ke sekolah siapa Wilda dan punya hubungan apa dengan Carina?? Andhika?? Jauh lebih susah... Menghubungi Lena juga gak mungkin karena Lena pasti akan menjenguknya di rumah sakit dan besar kemungkinan Lena akan bertemu dengan Kirito. Apalagi Kirito menginap di kamar Carina. Belum lagi ruangan tempat Carina dirawat adalah ruang VIP, Lena pasti akan jadi petasan China dengan sejuta pertanyaannya.
”Sialan!! Belum pernah aku kebingungan seperti ini!!”rutuk Carina kesal.
”Bingung kenapa??”tanya sebuah suara yang ternyata milik Kirito.
Carina menatap Kirito dengan pandangan gak percaya,”Ngapain kamu kesini lagi??”tanya Carina curiga karena tadi pagi-pagi sekali Kirito sudah gak ada di kamar Carina dengan meninggalkan hp privat numbernya di sebelah bantal Carina dengan mode ’Tulis Pesan’ yang bertuliskan kalau dia sudah pulang untuk bersiap pergi kerja.
”Aku ngantar ini sebelum ke kantor... Keperluanmu selama 4 hari...”ucap Kirito sambil menunjukkan tas besar yang dibawanya.
”Kamu buka lemari aku lagi??”tanya Carina gak percaya.
”Iya...”sahut Kirito dengan senyum jahil di wajahnya.
”AGH!! Kenapa sih ada orang yang gak tau malu kayak dia...”rutuk Carina sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.
”Hei hei... Yang ada itu kamu harus berterima kasih sama aku... Bukannya ngutuk kayak gitu...”ucap Kirito sambil memasukkan tas besar itu ke dalam lemari kecil yang ada disana,”Nih hp kamu...”lanjut Kirito sambil menyerahkan hp Carina.
”Makasih...”ujar Carina tulus.
Kirito berjalan lagi ke ambang pintu lalu berbalik menghadap Carina,”Selama aku gak ada disini, minta tolong sama Wilda, Andhika atau perawat kalau ingin turun dari tempat tidur... Aku gak mau dengar ada pengaduan dari siapapun yang mengatakan kalau kamu memaksakan diri untuk berjalan... Mengerti??”tegas Kirito.
”Iya, Tuan muda...”sahut Carina malas.
”Bagus...”ujar Kirito lalu menghilang di balik pintu.
”Hem... Retak yah... Pantesan kemarin pas dibawa jalan agak nyeri... Parah juga ya...”gumam Carina sambil mengangkat kaki kirinya cukup tinggi hingga dapat dilihatnya dalam posisi berbaring.
Carina kembali teringat masalah sekolahnya. Kebingungan yang teramat sangat menerpanya. Sampai akhirnya Carina memutuskan untuk meminta bantuan orang itu. Carina mencari nomor telpon seseorang di phone book hp-nya lalu menelpon orang itu.
”Rha...”
”Carina... Tumben kamu yang nelpon... Ada apa nih??”tanya Rha dari seberang.
”Kamu bisa tolong carikan orang yang bisa pura-pura jadi ibu kos aku gak??”
”Buat apa, Rin??”
”Aku gak bisa ke sekolah selama 4 hari ini... Kaki kiriku yang kemarin terkilir ternyata bertambah parah. Agak retak, tapi gak pa-pa koq... Beberapa hari istirahat pasti sembuh...”
”Tapi nanti kalau aku udah siap syuting aku jenguk kamu ya??”
”Iya... Aku di ruang Tulip, rumah sakit yang kemarin...”
”Oke deh... Tunggu aja kabar baik dari aku... Bye...”ujar Rha mengakhiri pembicaraan mereka di telpon.
Di tempat lain, Rha langsung masuk ke dalam mobilnya saat Vio berteriak memanggilnya.
”Rha mau kemana lo??”tanya Vio.
”Pergi bentar!! Bilang aja sama sutradaranya lewati aja adegan gw!! Bentar lagi gw balik!!”teriak Rha lalu segera tancap gas dari lokasi syutingnya.
”Anak ini... Pasti ada hubungannya dengan Carina... Soalnya dia belum pernah ninggalin syuting apapun alasannya...”gumam Vio pasrah dengan sikap sepupunya itu.
Rha mengemudikan mobilnya menuju sekolah Carina. Setelah mendapatkan parkiran, Rha langsung pergi menuju ke ruang kepala sekolah.
”Anda ada hubungan apa dengan Carina??”tanya Pak Kepala.
”Saya temannya, Carina masuk rumah sakit tadi malam... Jadi dia harus dirawat selama 4 hari. Saya mohon Bapak mau memberinya izin...”ujar Rha tenang.
”Tapi pihak sekolah perlu bukti berupa surat dokter sebelum memberikan izin... Seandainya anda bisa membawakan surat dokter, kami bisa memberinya izin selama seminggu... Karena selama ini dia memang gak pernah sekalipun absen dari pelajaran...”sahut Kepala Sekolah.
”Baiklah... Surat dokternya akan saya antar nanti... Terima kasih atas kerja samanya... Saya permisi dulu... Selamat pagi...”pamit Rha lalu sesegera mungkin meninggalkan sekolah dan pergi ke rumah sakit tempat Carina dirawat.
Carina baru saja berniat untuk memejamkan matanya sejam atau dua jam saat pintu kamarnya terbuka dan Vela berdiri disana, dengan keanggunan yang luar biasa.
”Kamu... Kirito baru aja keluar, dia kerja... Mungkin kalian selisih jalan...”ujar Carina berusaha ramah.
”Aku tau... Lagipula aku kesini bukan untuk ketemu Kirito... Aku hanya ingin menanyakan keadaanmu. Itu saja.”ucap Vela.
”Oh... Aku lumayan koq... Cuma disuruh dokter istirahat 4 hari lagi disini...”jelas Carina.
”Oh gitu... Kalau gitu aku permisi, aku harus kerja juga... Selamat pagi...”pamit Vela yang mengikuti jejak Kirito, menghilang di balik pintu.
Tumben banget dia kesini... Ada apa ya?? Aku jadi curiga... Dia kan gak dekat sama aku... Waduh...bathin Carina sambil kebingungan sendiri, Bagusnya aku ngapain yah?? Mau jalan-jalan, malas. Mau nonton, gosipnya itu mulu... Agh!! Suntuk!!
Carina akhirnya memutuskan untuk mandi. Tapi dia harus meminta pertolongan seseorang untuk menurunkannya dari tempat tidur itu. Carina mencari-cari nama Wilda di hp-nya. Dan setelah menemukan nama Wilda di dalam daftar, Carina langsung bersiap untuk menelponnya saat pintu kamarnya kembali terbuka. Dan kali ini tamu itu adalah Rha.
”Rha?! Ngapain kamu disini??”tanya Carina benar-benar gak percaya.
”Jenguk kamu lah... Gak mungkin banget kalau aku melahirkan...”sahut Rha santai,”Urusan izin kamu ke sekolah udah beres. Kamu dapat izin seminggu.”
”Tapi...”
”Tenang aja... Semua pekerjaan aku udah beres koq... Jadi satu hari ini aku bisa menemani kamu disini...”sahut Rha bersemangat.
Carina menatap Rha dengan tatapan menyelidiki, dari ujung kaki sampai ujung kepala.
”Hei hei hei... Koq gitu banget ngeliatnya??”tegur Rha sambil berjalan mendekati tempat tidur Carina.
”Masa’ iya kerja’an kamu udah siap sepagi ini?? Kamu itu kan lagi sibuk-sibuknya... Kamu artis, jadwal kamu pasti padat... Jangan bohong deh...”ujar Carina.
”Ha ha ha... Oke oke, aku jujur... Emang, kerja’an aku belum kelar semua, tapi sekarang aku off, jam 10 nanti baru ada pengambilan gambar lagi… Makanya aku sempatkan kesini sekarang, soalnya aku gak tau selesainya jam berapa… Dan kapan bisa kesini lagi...”sahut Rha ceria.
Carina tersenyum lalu melanjutkan niatnya untuk menelpon Wilda,”Hallo Wilda?? Wil, kamu bisa ke kamarku gak?? Aku mau mandi, tapi gak bisa turun... Ha?? Oh ya udah... Kamu urus Papa aja dulu. Ntar apapun kata dokter kasih tau langsung sama aku ya... Iya...”ujar Carina di telpon.
Rha membuat gerakan tangan agar Carina memandangnya.
”Napa, Rha??”tanya Carina setelah selesai bicara di telpon.
”Kalau cuma mau turun dari tempat tidur sama ke kamar mandi kan bisa sama aku aja...”ujar Rha serius.
”Tapi...”
”Gak ada tapi-tapian... Yuk!”sela Rha lalu bersiap menggendong Carina dengan meletakkan tangannya di punggung dan belakang lutut Carina.
Carina reflex melingkarkan tangannya di leher Rha. Rha yang menyadari itu memandang wajah Carina yang begitu dekat dengannya lalu tersenyum. Rha membawa Carina ke kamar mandi. Setelah berada di dalam kamar mandi, Carina menutup pintunya.
Saat akan membasahkan tubuhnya, Carina teringat akan sesuatu.
”Agh!! Baju gantinya masih di tas... Gimana cara aku ngambilnya ya?? Sialan ni kaki!! Minta tolong sama Rha gak mungkin... Masa nyuruh orang buat ngambilin underwear aku... Mana dia cowok lagi... Jalan keluar?? Gimana ya...”gumam Carina kebingungan,”Rha??”panggil Carina kemudian.
Gak ada sahutan dari luar. Carina mencoba memangilnya lagi, tapi tetap gak ada jawaban. Akhirnya Carina memutuskan untuk mandi dulu baru mengambil pakaian ganti di dalam tas.
Carina mandi secepat mungkin, bahkan ini adalah waktu mandi Carina yang paling cepat. Setelah memakai handuk, Carina berjalan dengan sangat amat pelan keluar dari kamar mandi. Betapa terkejutnya Carina saat membuka pintu, melihat Kirito ada di kamarnya.
Kirito yang menyadari kehadiran Carina langsung berdiri dan menghampiri Carina,”Masih nekad jalan?? Kamu memang benar-benar mau kaki kamu patah ya??”tanya Kirito dengan suara penuh emosi.
”Aku cuma mau ngambil baju ganti. Aku lupa tadi. Karena kupikir gak ada orang, jadi aku mau ngambil sendiri...”jawab Carina cepat.
”Benar-benar cewek satu ini... Untung aku langsung kesini... Kalau enggak, mungkin kamu akan nekad jalan...”geram Kirito lalu bersiap mengangkat Carina.
”Hei hei hei... Aku masih basah lho!!”tolak Carina.
”Udah diem!!”gertak Kirito sambil mengangkat Carina ke tempat tidur.
Setelah meletakkan Carina, Kirito membongkar isi tas yang dibawanya tadi pagi lalu mengambilkan pakaian Carina.
”Nih... Pakai.”ujar Kirito sambil menyerahkan baju pada Carina.
Carina menerima bajunya, tapi dia sama sekali gak melakukan apa-apa sesudahnya.
”Hey, cepat pakai bajunya! Nanti masuk angin... Kamu mau dirawat lebih lama disini??”tegur Kirito.
Carina meluruskan punggungnya,”Gak akan selama kamu masih di kamar ini!”sahut Carina.
”Baiklah... Baiklah... Aku keluar... Tapi cepat pakai bajunya... Karena aku juga ingin ganti baju...”ujar Kirito lalu keluar dari kamar Carina.
Carina langsung memakai pakaian yang dipilihkan oleh Kirito. Ternyata pakaian itu hanya berupa tanktop putih dan celana jeans pendek. Baju kebangsaan Carina.
”Udah belum??”tanya Kirito dari luar.
”Udah...”sahut Carina.
Kirito kembali masuk lalu membuka kemejanya begitu saja di hadapan Carina sehingga memperlihatkan badannya yang cukup kekar lalu mengambil baju ganti di tas yang sama dengan tempat baju Carina dan duduk di sebelah tempat tidur Carina,”Dengar, apapun alasannya, kamu gak boleh jalan selangkah pun… Aku gak mau kakimu patah. Dua minggu lagi aku harus ke L.A ngantar Papa, dan aku gak mau meninggalkan kamu dalam keadaan patah kaki. Mengerti??”tanya Kirito sok serius.
“Iya iya… Cerewet banget sih…”sahut Carina malas.
”Ini juga demi kamu, tau? Bandel banget jadi anak...”
”Enak aja! Kamu tuh yang sok ngatur banget!!”balas Carina.
Kirito berdiri,”Apa kamu bilang??”tanya Kirito.
”Kamu itu om-om m***m yang sok ngatur...”ujar Carina yang sama sekali gak pernah membayangkan apa yang akan dilakukan Kirito selanjutnya.
Kirito langsung mendorong tubuh Carina hingga terbaring di tempat tidur, lalu menahan kedua tangan Carina dan menciumnya.
Carina berusaha memberontak, tapi semua usahanya percuma karena kedua tangannya ditahan Kirito di atas kepalanya.
”Carina...”panggil Rha yang tiba-tiba masuk ke kamar Carina,”Kirito??”ucap Rha tak percaya apa yang dilihatnya.
Rha baru saja menyaksikan pemandangan paling mesra yang pernah dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Temannya sedang mencium perempuan yang disukainya di atas tempat tidur. Rha gak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya kalau dia telat datang.
”Rha?? Ngapain lo disini??”tanya Kirito lebih heran yang langsung berhenti mencium Carina dan kembali duduk.