Kirito dan Carina tiba di sebuah restoran mewah. Kirito membantu Carina untuk turun dan memapahnya memasuki restoran. Rha yang melihat kejadian itu agak jauh dari parkiran mendapat kebenaran dari persepsinya. Cewek yang bersama Kirito yang diakuinya sebagai istrinya adalah Carina.
”Brengsek... Gw dikerjain nih...”geram Rha lalu memilih untuk segera pergi dari restoran itu.
Sementara itu tepat saat Kirito baru saja mau melangkahkan kaki memasuki restoran, segerombolan wartawan dan photografer langsung menyerbu mereka. Carina dengan cepat langsung menarik topi jaketnya hingga membenamkan hampir setengah wajahnya tepat sesaat sebelum seorang photografer mengambil gambarnya. Carina langsung bersembunyi di belakang Kirito sementara Kirito berusaha menjauhkan Carina dari para wartawan.
”Apa dia istri anda??”
”Siapa dia sebenarnya??”
”Apa hubungan anda dengan perempuan ini??”
”Dimana istri anda sekarang??”
”Apa yang anda lakukan dengannya disini??”
Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut para wartawan. Kirito benar-benar bingung. Dia bisa aja menjawab semuanya dengan jujur, tapi akan berakibat buruk pada Carina. Kalau dia gak segera menjawabnya, ada kemungkinan salah satu dari photografer itu yang berhasil mengambil gambar Carina. Kirito benar-benar bingung.
”Dia...”
”Dia temanku... Kirito hanya membantu menjemputnya untukku... Dia gak ada hubungannya dengan Kirito...”ujar sebuah suara memotong ucapan Kirito.
Sebuah suara yang sangat familiar di telinga semua orang.
Rha ada disana. Dan dia juga udah menarik Carina kesisinya.
”Apa dia kekasih anda??”
”Ada hubungan apa diantara kalian??”
”Bukankan baru-baru ini anda bilang tidak akan menjalin hubungan dengan perempuan manapun??”
”Siapa dia sebenarnya??”
”Kenapa Kirito yang membantu anda untuk menjemputnya??”
Kali ini pertanyaan-pertanyaan itu terlontar untuk Rha. Dan dengan posesif Rha melindungi Carina dengan memeluk bahu Carina tanpa memperdulikan kehadiran Kirito.
”Dia hanya teman saya saat ini... Hubungan kami saat ini hanya sebatas teman biasa... Dan saya gak akan berkilah dengan ucapan saya yang kemarin... Saya belum menemukan seseorang untuk menjalin hubungan serius dengan saya, beda kasus kalau hanya berteman... Saya berhak berteman dengan siapa saja... Dan tolong jangan terlalu mengekspose-nya... Dia hanya masyarakat biasa yang kebetulan saya temui pada suatu hari dan jadi teman saya... Dan maaf kalau saat ini saya belum bisa memberikan keterangan lengkap... Lain waktu aja ya... Dia kurang enak badan... Saya permisi...”ujar Rha begitu profesional lalu membawa Carina meninggalkan kerumunan itu dengan membimbing Carina masuk kedalam mobilnya.
Rha hanya membisu selama perjalanan. Gak ada sedikitpun dia berniat untuk bicara. Akhirnya Carina memilih untuk buka suara.
”Makasih ya...”ujarnya tulus.
”Apa maksud semua ini, Carina?? Kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu istri Kirito?? Kenapa kamu selalu berakting seperti masyarakat biasa?? Apa ini alasan waktu itu kamu pura-pura sakit di depan Kirito?? Kenapa, Carina!? Kenapa kamu melakukan ini semua sama aku??”ucap Rha hampir histeris.
”Kenapa kamu marah, Rha??”
”Karena aku merasa dibohongi!! Aku merasa dikerjai... Kamu puas??”geram Rha tanpa bisa menahan emosinya.
”Aku gak ngerti apa yang kamu marahkan... Tapi kalau dengan menjawab semua pertanyaan itu dapat membuat kamu senang... Akan aku jawab...
Kita hanya teman, dan kamu juga gak pernah bertanya apa-apa tentang statusku atau apapun tentangku... Malah kamu yang memberitahu padaku kalau kamu mengetahui tentang aku lebih banyak dari yang bisa aku perkirakan... Aku gak pernah berakting seperti masyarakat biasa, karena pada dasarnya aku memang hanya masyarakat biasa yang kebetulan menikah dengan Kirito, sang idola dan sang pengusaha... Dan masalah di restoran waktu itu... Kamu benar... Memang benar ini alasannya... Aku gak ingin kamu tau kalau aku istri Kirito, aku gak ingin menjalin hubungan dengan siapapun berdasarkan statusku sebagai istri Kirito. Aku ingin hubungan yang benar-benar memakai statusku sebagai masyarakat biasa... Carina Sagitta, bukan Nyonya Oberon...
Dan kalau kamu bertanya kenapa aku lakukan ini... Jawabannya seharusnya kamu tau... Aku gak pernah terbiasa dengan selebritis... Aku gak pernah nyaman dengan status selebritis... Gak pernah... Apalagi hidup bersama seorang selebritis... Kejadian seperti tadilah yang paling aku takutkan... Wartawan begitu mengerikan saat mencari berita... Mereka akan menghalalkan segala cara... Termasuk memutar balikkan fakta agar menjadi perhatian masyarakat! Dan aku juga gak pernah ingin membohongimu apalagi sampai mengerjaimu... Seharusnya kamu tau itu... Dan aku sama sekali gak puas atas apapun yang terjadi malam ini... Aku gak pernah mengharapkan ini semua terjadi...”jawab Carina tegas,”Tolong berhenti, Rha...”
”Ini di tengah jalan...”tolak Rha.
”Berhenti atau aku lompat??”ancam Carina sambil menarik gagang pintu.
”Oke... Oke...”sahut Rha cepat sambil meminggirkan mobilnya.
”Aku kira kita bisa jadi teman... Tapi kayaknya kamu gak pernah percaya sama aku... Jadi selamat tinggal... Aku gak akan pernah muncul dihadapanmu sampai kapanpun, aku gak akan menyusahkanmu lagi...”pamit Carina lalu turun dari mobil Rha dan berjalan menjauh.
Sesaat Rha terdiam. Dan setelah Carina sudah agak jauh, barulah dia turun dari mobil dan mengejar Carina.
”Carina!! Maaf... Maafkan aku...”teriak Rha sambil mengejar Carina.
Carina terus berjalan dengan tertatih-tatih tanpa memperdulikan teriakan Rha.
Rha langsung menarik Carina ke dalam pelukannya.
”Maafkan aku... Aku benar-benar menyesal udah marah dan gak mempercayai kamu... Aku hanya benci pada kerahasiaan... Kalau ada rahasia, aku selalu merasa di bohongi... Ibuku sendiri tega meninggalkanku dengan membohongiku kalau dia ingin membelikanku es krim saat usiaku 7 tahun, tapi dia gak pernah kembali... Aku kehilangan ibuku di mall, dan sejak saat itu aku gak pernah menemukan ibuku... Aku gak bisa menerimanya... Aku terlanjur menyukaimu, makanya aku benar-benar terpukul saat tau kamu istri Kirito, aku benar-benar shock saat mengetahui kamu milik orang lain...”ucap Rha terdengar lirih.
Carina membalas pelukan Rha,”Belajarlah untuk mempercayai orang lain orang lain walaupun besar kemungkinan kita akan ditipu, tapi hidup tanpa mempercayai orang lain akan lebih tersiksa...”ucap Carina lembut.
Rha melepaskan pelukannya pada Carina,”Kaki kamu terluka, kan??”tanya Rha sambil memandang ke bawah.
”Aku jatuh pas di kamar mandi... Dan sepertinya kakiku agak terkilir... Itu alasan kenapa aku membatalkan acara makan malam kita... Aku gak ingin membuatmu khawatir...”jawab Carina jujur.
”Oh...”gumam Rha lalu menggendong Carina.
”Rha?!”ucap Carina gak percaya dengan apa yang dilakukan Rha.
”Kaki kamu kan sakit, jadi gak mungkin donk kamu jalan... Biar aku gendong aja... Lagian kamu koq ringan sih??”tanya Rha sambil tersenyum usil.
”Jadi kamu mau bilang kalau aku kurus??”tanya Carina pura-pura ngambek.
”Enggak ah... Perasaan kamu aja...”jawab Rha lalu tertawa ringan.
Rha menaikkan Carina ke dalam mobilnya lalu kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan stabil.
”Kita makan malam dulu yuk...”ajak Rha begitu tiba-tiba.
”Ah... Apa nanti gak bakalan ketemu sama para wartawan itu??”tanya Carina cemas.
”Gak akan... Kali ini kita makan di restoran milik kenalanku... Dan aku bisa jamin kalau gak bakal ada wartawan disana... Gimana??”tanya Rha lagi.
”Oke deh...”sahut Carina yang memang kelaparan.
Carina baru sampai lagi di rumah sakit saat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Carina segera ke ruang IGD, tapi ternyata disana sama sekali gak ada orang. Carina segera bertanya dengan seorang perawat yang kebetulan lewat disana. Perawat itu mengatakan kalau Ishtar sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dengan menahan sakit di kakinya, Carina mencari ruangan tempat Ishtar di rawat. Dan setelah cukup lama mencari gara-gara kakinya yang gak bisa di ajak kompromi, Carina berkali-kali harus duduk untuk mengurangi rasa sakit di kakinya, akhirnya Carina berhasil menemukan kamar VIP itu. Carina langsung masuk tanpa mengetuknya, dan ternyata yang ada didalam sedang menunggu Ishtar adalah Kirito dan Vela.
Dia lagi... Pasti Kirito yang ngasi tau dia... Tapi aku koq gak senang ya??bathin Carina
”Carina...”ujar Kirito datar.
Carina berusaha tersenyum lega karena melihat keadaan Ishtar sudah cukup baik hingga bisa dipindahkan ke ruang perawatan,”Syukurlah kalau Papa baik-baik aja...”ujar Carina lemah lalu tiba-tiba pingsan di ambang pintu.
Kirito kaget, tapi dia berhasil mengatasi kekagetannya dan langsung berlari ke tempat Carina dan menggendongnya ke sofa, lalu memanggil dokter untuk memeriksa Carina. Beberapa saat kemudian dokter datang bersama beberapa orang suster. Dokter menyuruh agar Carina dipindahkan ke kamar sebelah setelah mendapat izin dari Kirito.
”Apa benar dia hanya terjatuh di kamar mandi??”tanya dokter Theo setelah melakukan pemeriksaan pada Carina.
”Iya, Dok... Dia yang bilang sendiri pada saya saat dia baru terjatuh...”sahut Kirito,”Memangnya kenapa, Dok??”
”Kaki kirinya mengalami keretakan... Mungkin dia memaksakan dirinya untuk berjalan jauh sambil menahan sakit di kakinya... Seharusnya kalau langsung dibawa periksa ke dokter, kakinya gak akan mengalami keretakan... Dan kalau dia lebih lama lagi memaksa untuk berjalan dan menahan sakit di kakinya, kaki kirinya mungkin akan patah...”jelas dokter Theo,”Untuk sementara ini sampai retak di kakinya pulih, dia belum boleh berjalan, minimal dia harus menggunakan kursi roda...”
”Baiklah, dok... Akan saya pastikan kalau dia gak akan berjalan sampai kakinya sembuh...”ujar Kirito yakin.
”Baiklah... Kalau begitu saya permisi dulu... Mungkin malam ini dia gak akan bangun karena saya memberinya suntikan penahan rasa sakit... Tapi seandainya dia terbangun nanti, berikan dia obat yang ada di sana... Obat itu akan meredakan rasa sakit di kakinya...”ujar dokter Ivan lalu keluar dari ruang rawat Carina.
Pintu kamar Carina terbuka, Vela masuk dan langsung berdiri di sebelah Kirito,”Apa Carina baik-baik saja??”tanya Vela simpati.
”Gak terlalu baik... Dia gak boleh jalan sampai kakinya sembuh... Gadis ini... Padahal dia sering menasehati Papa supaya menjaga kesehatan... Bukan cuma Papa aja, bahkan seluruh penghuni rumah... Tapi dia sendiri?? Bisa sebodoh ini...”ujar Kirito.
”Kasihan... Oh ya, Kirito... Malam ini kamu nginap dimana?? Disini??”tanya Vela penasaran.
”Ya... Dan besok pagi-pagi sekali aku akan pulang untuk bersiap pergi kerja...”jawab Kirito.
”Kamu menyukainya??”tanya Vela pelan.
”Apa maksudmu??”
”Kamu terlihat begitu cemas saat dia pingsan tadi... Dan kamu lebih memilih menginap di rumah sakit daripada pulang atau menginap di rumahku...”
Kirito menarik menggenggam tangan Vela,”Dengar, jangan pernah mengatakan hal seperti tadi. Bagiku, tetap kamu yang terpenting... Aku mengkhawatirkan Carina hanya karena dia istriku, dan aku wajib menjaganya. Kalau enggak, Papa bisa membunuhku... Dia anak kesayangan Papa...”
”Bisakah aku percaya kalau kamu gak akan punya perasaan apa-apa padanya??”
”Bisa... Karena cuma kamu yang aku cintai...”ujar Kirito meyakinkan.
Vela baru pulang dari rumah sakit saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia memasuki apartementnya. Di letakkannya tas tangannya di meja rias lalu duduk di depan kaca.
”Kirito... Kenapa kamu malah menikah dengan perempuan itu daripada menungguku kembali dari Amerika... Padahal kamu bilang kamu menyukaiku sejak SMA... Apa aku harus menyerahkanmu pada gadis itu begitu saja?? Apa aku sama sekali gak berhak memperjuangkanmu?? Walaupun kamu bilang kalau kamu hanya menyukaiku, tapi... Ada yang lain di gadis itu... Dia sanggup membuat siapapun untuk menyukainya... Memujanya... Dan kamu... Aku yakin, walaupun sedikit, tapi kamu pasti tertarik sama dia... Perasaan yang sedikit itu yang aku takutkan... Aku takut kalau nanti perasaan itu mengalahkan perasaanmu padaku, dan akhirnya kamu memilih untuk bersamanya dan meninggalkan aku...”gumam Vela pada bayangannya di cermin.
”Ayolah Vela Raina... Kamu harus terus memperjuangkan Kirito... Karena kamu berhak... Kamu lebih segala-galanya dari gadis kampung itu!!”ujar salah satu bayangan Vela di cermin.
”Jangan melakukan hal bodoh Vela... Lebih baik kamu menunggu... Karena Kirito pasti akan kembali padamu... Cepat atau lambat...”ujar bayangan Vela yang lain.
”Lebih cepat kamu mendapatkan Kirito akan lebih baik!! Kirito mencintaimu!! Kamu lebih cantik, lebih berpendidikan, lebih dewasa, lebih lama mengenal Kirito dibandingkan gadis miskin itu...”
”Menunggu lebih bijak, Vela... Karena pernikahan mereka hanya 7 bulan... Itu waktu yang gak terlalu lama untuk dinanti... Dibandingkan dengan lamanya Kirito mencintaimu...”
”Untuk apa menunggu selama 7 bulan kalau sebenarnya kamulah yang seharusnya menyandang status istri Kirito...”
”Belum tentu Om Ishtar menyetujui kamu menjadi menantunya... Kamu tau sendiri kalau Om Ishtar menyukai gadis miskin itu...”
”Kalau sekarang, mau gak mau Om Ishtar menerimamu... Dia gak bisa apa-apa...”
”Jangan membuat dirimu jadi penjahat cinta, Vela...”
”Apanya yang penjahat cinta?? Kamu hanya perlu memperjuangkan apa yang jadi hakmu...”
”Diam!! Aku tau apa yang harus aku lakukan!! Aku akan memperjuangkan Kirito!!”tegas Vela pada dirinya sendiri,”Ya... Aku harus memperjuangkan Kirito... Bukankah nanti Kirito akan pergi ke L.A... Itu kesempatanku... Apapun akan kulakukan untuk mempertahankan Kirito di sisiku...”
Sementara itu di rumah sakit, Kirito bingung harus tidur dimana... Di kamar Ishtar dilarang menginap. Hanya ada dua pilihan, tidur di kamar Carina atau di luar bersama Wilda dan Andhika. Akhirnya Kirito memilih untuk tidur di kamar Carina. Karena ruangan tempat Carina dirawat itu sama dengan ruangan Ishtar, VIP, tersedia satu tempat tidur ekstra untuk penunggu pasien, disanalah Kirito tidur.
Carina terbangun karena ingin buang air. Awalnya dia bingung ada dimana, tapi setelah mengingat kejadian terakhir, Carina sadar kalau dia berada di salah satu ruang perawatan di rumah sakit. Carina duduk di tepi tempat tidur. Dia melihat Kirito teridur dengan begitu lelap. Sementara itu Carina menyadari kalau kaki kirinya diperban. Carina ingin membangunkan Kirito, minta tolong padanya untuk membawa Carina ke kamar mandi. Tapi Carina gak tega membangunkannya, karena Kirito terlihat begitu lelah. Akhirnya Carina berjalan dengan merambat di dinding begitu pelan hingga sampai di kamar mandi. Setelah selesai buang air kecil, Carina merasakan nyeri yang teramat sangat di kakinya, dia memilih untuk secepatnya kembali ke tempat tidur. Dan saat membuka pintu kamar mandi, Carina benar-benar terkejut setengah mati.
Kirito berdiri disana dengan tangan terlipat di depan dadanya dengan wajah kesal,”Berapa kali harus aku bilang kalau kamu sekali-kali harus minta tolong pada seseorang... Jangan terus-terusan sok kuat...”geram Kirito sambil menggendong Carina kembali naik ke tempat tidur.
”Aku gak tega bangunin kamu... Pagi-pagi nanti kamu masih harus ke kantor...”kilah Carina sambil berbaring kembali.
”Kamu tau?? Tulang pergelangan kaki kirimu retak gara-gara kamu memaksakan diri untuk berjalan. Dan kalau kamu masih memaksakan diri, kamu harus terima kalau pada akhirnya kaki kirimu patah...”omel Kirito.
”Retak?? Patah??”ulang Carina benar-benar gak percaya.
”Ya... Dan selama kakimu belum kembali normal, kamu harus menggunakan kursi roda atau meminta seseorang untuk membantumu berjalan. Mengerti?!”tanya Kirito serius.
Ternyata dia perhatian juga sama aku... Tunggu! Perhatian atau cuma gak mau direpotkan?? Jangan terlalu berharap Carina...bathin Carina.