Mantili mengenakan penutup wajah hitam. Alif tak bisa mengenalinya. Gadis itu berontak ketika sang pangeran ini mencari tahu siapa dirinya. Gadis tersebut ke luar dari pondok Alif, lalu berlari menghindar dari pengejaran. Pemuda pesisir itu masih bisa menarik bajunya, tetapi gerakan Mantili yang gesit mampu memberikan pertahanan yang lebih baik. Gadis itu terlepas lagi dari cengkeraman Alif. Malam gelap gulita mengenakan pakaian serba hitam, Alif tak bisa mencarinya tanpa penerangan yang layak.
“Bang Alif, apa yang terjadi?” Ridwan menghampiri tuannya. Keributan itu sampai ke telinganya.
“Ada yang mencoba menyentuhku saat tidur. Tadi siang ada yang memelukku saat di dalam sungai. Aneh sekali.” Alif menggeleng saat mengingat dua peristiwa menyeramkan itu.
“Ha. Ada seperti itu?” Ridwan seperti tak mempercayai jika ada seorang wanita sampai nekat mempermalukan dirinya sendiri.
“Ya, memang terdengar mustahil. Tapi percayalah, aku mengalaminya. Perempuan yang kukejar barusan bahkan nyaris membuka pakaianku. Siapa dia? Siang tadi kukira salah satu gadis di antara para pengungsi ini, jadi aku tak terlalu ambil pusing. Mungkin mereka khilaf atau terbawa perasaan. Ini berbeda. Gerakannya begitu mahir dan penuh perhitungan.” Alif mendongak ke atas pohon. Ia mencari keberadaan musuhnya barusan.
“Mungkin musuh kita. Atau utusan Belanda yang ingin menangkap Bang Alif.”
“Aku bahkan tak tahu kita punya musuh selain Belanda. Kalau dia ingin menangkapku mengapa tak dari tadi saja. Ya Allah, lindungilah hamba dari wanita gila dan berhasrat seperti tadi. Mengerikan!” Alif bergidik. Selama hidup baru kini iya ketahui ada perempuan yang hasratnya bisa membara dan menghalalkan segala cara. Ya, wajar saja. Selama di dalam istana ia hanya bertemu dengan perempuan-perempuan sopan. Pun di luar istana para wanitanya masih menjaga tata krama. Mantili hanya segelintir dari jenis yang berbeda.
Dua pemuda pesisir itu berbalik. Namun, pada saat yang sama mereka dikejutkan dengan robohnya dua penjaga yang mulutnya mengeluarkan busa.
“Tewas. Benar-benar pergerakan yang begitu hening.” Ridwan memegang leher punggawa itu, masih mecoba mencari denyut kehidupan di sana.
“Sebaiknya penjagaan diperketat. Aku tak akan tidur malam ini. Dan tolong bangunkan pemuda lain juga, Bang Ridwan. Kita harus mengubur dua tubuh tak bernyawa ini. Usahakan wanita dan anak-anak tak tahu jadi kita bisa bergerak dan berpikir lebih jernih.” Alif melihat jarum yang tertusuk di leher pemuda yang tewas di depannya. Senjata beracun yang sangat mematikan.
Malik dan Ibrahim dibangunkan oleh Ridwan. Dua di antara mereka berjaga dan dua lainnya menggali kuburan. Dalam kegelapan malam mereka bekerja tanpa diketahui oleh para pengungsi. Agak jauh ke dalam hutan kuburan itu digali. Supaya tak timbul pertanyaan lain. Bukan Alif tak menghargai orang yang sudah berkorban. Ia hanya menghindari permintaan para pengungsi yang akan meminta pergi lagi nantinya. Sedangkan tempat yang baru telah dibangun sebagian. Mengulang dari awal itu melelahkan.
“Jika ada pergerakan mencurigakan, jika jumlahnya lebih dari satu. Jangan hadapi sendirian. Panggil yang lain. Entah mengapa si penyusup ini tak mencariku langsung jika memang aku yang menjadi sasarannya.” Alif menutup makam itu dengan tanah yang tadi ia gali.
“Mungkin ini Bang, tadi katamu pelakunya seorang perempuan. Barangkali dia ingin merasakan bersama denganmu walau sebentar. Ya, bisa jadi dia tertarik dengan rupamu.” Ridwan menghaluskan batang kayu yang akan dijadikan nisan.
“Na’udzubillah. Astaghfirullah. Lebih baik aku mati daripada berzinah dengan perempuan itu.” Bulu kuduk Alif seketika merinding lagi mengingat sentuhan Mantili di dalam pondoknya.
Empat kawan sejati itu akhirnya berjaga sampai masuk waktu Shubuh. Sesekali mereka berkeliling di dekat hutan untuk mencari jejak keberadaan para penyusup tadi. Sayangnya mereka tak memeriksa di atas pohon. Di sana ada tiga gagak hitam yang tak tidur juga sedang mengawasa mereka dari atas.
“Sial. Sedikit lagi padahal!” gerutu Mantili. Ia kesal dua kali keinginannya mendekap Alif gagal.
“Kau terlalu menggebu-gebu. Kami saja yang lelaki tidak seperti itu mendekati wanita. Perlahan-lahan sampai mereka yang menyerah sendiri. Tentu rasanya jadi lebih menyenangkan ketika mau sama mau,” cemooh salah satu saudara Mantili.
“Cih! Lama. Aku tak suka menunggu.” Gadis itu menarik napas panjang berkali-kali. Ia berusaha meredam gejolak hasratnya yang masih menggelora.
Tiga gagak hitam itu mampu melompat dari dahan ke dahan tanpa membuat keributan sama sekali. Mereka ke luar dari pagar tempat para pengungsi beristirahat. Berusaha mengatur rencana lain untuk mendapatkan kepala Alif.
“Siang nanti kita coba memberi mereka ancaman. Jika sampai wanita dan anak-anak berteriak dan panik. Itu kesempatan bagus untuk menyerang. Sudahlah, aku tak tertarik lagi dengan pangeran itu, kita ambil saja apa yang dibutuhkan.” Mantili membuka penutup wajahnya. Mata itu memerah karena tak mendapatkan mangsa sesuai keinginan hatinya. Ragam ilmu hitam yang ia pelajari berakibat demikian pada tubuhnya.
Di dalam pengungsian itu seperti tak terjadi apa-apa semalam. Para punggawa hanya memberitahukan pemuda saja agar semuanya tetap tenang. Mereka melanjutkan pekerjaan membuat pagar dan yang lainnya dengan penuh kewaspadaan. Harap-harap cemas jika bertemu dengan para penyusup yang selicin belut.
Alif membuat busur panah untuk membidik sasaran di atas pohon. Hanya tempat itu yang belum ia periksa dari tadi malam. Besar kemungkinan penyusup tersebut sembunyi di sana. Sedangkan Ridwan membantu membuat pemanahnya.
Saat salah satu pemuda sedang duduk di dekat pohon dan menguliti kayu hingga halus. Sebuah kain hitam turun terus dan mengitari leher pemuda itu. Ia sempat ingin menghindar. Namun, tarikan dari atas justru lebih cepat. Dalam hitungan detik pemuda tersebut telah meregang nyawa dengan bekas cekikan di bagian leher. Kemudian mayat itu digantung dan diayunkan oleh dua gagak hitam yang menewaskannya.
“Ya Allah!” Malik terkejut ketika ia hendak mencari kayu. Ia melihat salah satu temannya telah meregang nyawa. Gegas ia melepas jeratan hitam dan memanggil yang lain. Sigap dengan keadaan yang sedang berlangsung. Ridwan meminta istrinya untuk membawa wanita dan anak-anak menjauh sementara waktu.
“Apa yang terjadi, Bang?” tanya Istri Ridwan.
“Kau tenang dulu. Nanti Abang cerita. Kau bawa yang lain bermain di mana gitu. Kami harus bekerja. Hati-hati, ya.” Ridwan berlari menyusul Alif yang berjalan mengarah ke tempat pemuda itu digantung.
“Lagi? Segera kuburkan. Yang lainnya berpencar. Jika mencurigakan dan membahayakan habisi saja.” Perintah Alif pada yang lain.
Telinga pemuda berwajah Arab itu menangkap gemerisik daun yang timbul tanpa adanya embusan angin. Ia mendongak ke atas pohon. Seketika Alif melihat sekelebat sosok hitam yang melompat secepat kilat. Ia siagakan panahnya dan membidik ke arah bayangan itu tadi.
“Dia pasti di atas sana. Kita kejar sampai dapat.” Alif kembali melesatkan beberapa anak panahnya hingga dua gagak hitam yang menyusup di sana mulai berlari menyelamatkan diri. Mereka melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Sementara itu para pemuda yang tersisa mengejarnya dari bawah. Tak hanya panah saja. Bahkan Ridwan kini telah membidik sasaran dengan senapannya. Lesatan timah panas itu melubangi dahan pohon hingga nyaris salah satu gagak terluka.
“Aku juga yang harus turun tangan!” Mantili menutup wajahnya dengan kain serba hitam. ia mengambil tanah yang telah halus menyerupai debu. Lalu melompat dan menaburkannya di udara. Debu itu mempu membuat mata lawannya pedih.
Pedang Mantili langsung ia keluarkan. Ia tak ingin berbasa-basi lagi. Alif yang langsung ia serang demi menebas kepala pemuda itu. Sang pangeran menghindar dari tendangan dan layangan pedang yang ditujukan padanya.
“Siapa kau? Aku tak mengenalmu!” Alif menahan pedang Mantili dengan panahnya. Ia kemudian menendang perut Mantili hingga gadis itu mundur beberapa langkah.
“Aku malaikat pencabut nyawa. Kau susullah orang tua dan calon istrimu yang sudah dimakan cacing tanah itu.” Mantili maju dengan tenaga yang lebih besar. Tatapan matanya nyalang seolah-olah ingin mencabik-cabik daging Alif.
Mendengar perkataan Mantili barusan pahamlah Alif bahwa wanita itu salah satu dari yang menyerang istananya dulu. Hampir dua orang itu saling bunuh jika tak ada tembakan dari Ridwan. Mantili merunduk dan melindungi kepalanya. Kesempatan itu digunakan Alif untuk menarik penutup wajahnya. Sayangnya gerakan gadis itu masih gesit hingga niat sang pangeran tak kesampaian.
Dor!
Tembakan kembali dilepaskan Ridwan. Kali ini punggawa tersebut ingin menghabisi Mantili. Namun, berkat kecepatan gadis itu peluru hanya mengenai dahan pohon saja. Ia melemparkan belati ke arah Ridwan. Beruntung punggawa itu masih sempat merunduk.
Satu tendangan yang diarahkan Malik ke punggung Mantili membuat gadis itu jatuh. Ia berusaha berdiri, tetapi dengan cepat tangannya ditarik dan hampir kepalanya diantukkan ke dahan oleh Alif. Mantili menahan tangan sang pangeran, lalu beralih ke leher Alif. Ia mencekik pemuda itu semampunya. Lalu dari arah belakang, Ridwan datang menjerat leher mantili dengan kain.
Gadis itu terjatuh, tak ingin berakhir sia-sia. Dua kakinya ia naikkan dan mengunci leher lalu membanting tubuh Ridwan yang nyaris membunuhnya. Jeratan kain di leher Mantili terlepas. Namun, kini lawannya tak seimbang. Empat dengan satu. Sedangkan dua saudaranya sendiri tengah bertarung dengan yang lain.
“Menyerahlah!” ujar Ridwan. Lelaki itu kembali mengisi peluru di senapannya.
“Tidak akan.” Mantili melompat lebih tinggi hingga memijak bahu Ridwan. Ia menyasar kepala Alif dengan pedangnya. Dan tangan Mantili sempat diraih oleh Ibrahim hingga punggawa itu melempar tubuhnya dan menabrak sebuah pohon besar. Darah segar pun ke luar dari bibir Mantili. Namun, ia masih sempat tertawa.
“Kalian lemah!” umpatnya usai meludah dengan warna merah.
Lelah dengan perlawanan yang tak kunjung usai. Meski Mantili sedang kesakitan. Alif menarik busur panahnya. Satu senjata itu menancap di bahu Mantili menembus tulangnya sampai gadis itu menjerit kesakitan. Dua kali Alif telah melukainya.
Dua gagak lain mendengar jeritan saudarinya, gegas menyudahi perlawanan. Mereka kemudian, membawa Mantili pergi setelah menaburkan tanah yang telah dihaluskan menjadi debu sampai penglihatan para punggawa terganggu. Dengan cepat mereka melompat dan berlari menjauh dari tempat pengungsian itu.
Beberapa pemuda masih mencoba mengejarnya sampai jauh. Lalu kembali dengan tangan kosong, sebab jalan yang ditempuh berbeda.
“Sudahlah, yang penting semuanya selamat. Kita harus bekerja lebih cepat. Aku takut mereka datang dengan rombongan yang lebih banyak lagi.” Alif mengutarakan kerisauan hatinya.
“Bagaimana kalau kita pergi lagi, Bang.” Ridwan mengutarakan hal itu meski tahu tuannya tak akan setuju.
“Jika ada yang harus pergi. Itu hanya aku. Mereka mengincarku, bukan kalian.”
Rasa hati Alif yang ingin segera menghilang dari kerumunan para pengungsi itu kian menjadi. Ia merasa bersalah dengan kematian beberapa pemuda, akibat serangan tiga orang yang sampai sekarang tak ia ketahui wajahnya. Ia ingin menyendiri dan jauh dari semuanya, hanya berjalan kaki tanpa tujuan yang pasti. Lalu mati karena telah berjuang melawan penjajah dan berkumpul bersama keluarganya yang telah tiada.