Mantili dan dua saudara seperguruannya masih melakukan pengejaran terhadap Alif. Mereka menyusuri tepi pantai, pemukiman warga yang sudah hangus terbakar, bahkan surau-surau yang kitab sucinya sudah tak utuh lagi.
Gadis kejam itu tak menyerah meski telah hampir sepekan melakukan perjalanan. Sebab mereka dibekali oleh beberapa kantong emas oleh Adrian. Mantili telah berjanji akan membawa kepala Alif ke hadapan kekasihnya, lalu mengabdikan hidupnya pada Adrian.
Hingga malam ke tujuh pencarian ia belum juga menemukan keberadaan Alif, meski telah memasuki hutan-hutan lebat. Namun, satu tempat yang sepertinya pernah ditinggali oleh orang banyak membuat harapannya kembali membumbung tinggi.
“Pasti, tak salah lagi mereka pernah tinggal di sini.” Mantili mencium bau tanah yang ia genggam. Hidungnya sangat tajam mengenali bau tubuh musuhnya.
“Kita lanjutkan perjalanan?” tanya salah seorang saudara lelaki Mantili.
“Tidak. Kita istirahat dulu sebentar. Betisku kebas. Luar biasa sekali lelaki ini, dia licin bagai belut.” Mantili menekuk dan meluruskan lututnya beberapa kali hingga aliran darahnya menjadi lebih lancar. Tiga gagak hitam itu beristirahat dengan berbaring di sebuah dahan layaknya burung. Mereka butuh istirahat juga untuk memulihkan tenaga usai sepekan melakukan perjalanan jauh.
Di tengah dingin angin malam yang terus berembus, Mantili kembali mengingat kebersamaannya dengan Adrian. Lelaki bengis yang telah memberinya kepuasan berkali-kali. Sebenarnya ia bosan, hanya saja pantang bagi kesatria pilih tanding seperti Mantili untuk ingkar janji. Sebelum merasa jenuh dikurung di sebuah rumah dan hanya melayani satu laki-laki saja. Maka gadis itu berencana untuk bersenang-senang dengan lelaki lain terlebih dahulu. Ia yakin Adrian tak akan marah padanya, sebab mereka berdua sama saja. Bekas banyak orang dan telah merasakan banyak tubuh pula. Jadi tak boleh ada yang saling menuding.
Mantili mengingat-ingat kembali rupa Pangeran Alif yang sangat rupawan. Adrian juga tampan, tapi pesona perjaka ting-ting seperti pemuda pesisir itu terlihat berbeda di mata Mantili. Tiba-tiba saja pikirannya jadi lebih kotor dari biasanya. Jika tak bisa membawa kembali kepala Alif, maka hatinya pun untuk ditawan tak jadi masalah. Setelah hati digenggam maka diinjak sampai remuk pun bukan perkara yang rumit.
“Kumaafkan kau yang pernah menggoreskan luka di betisku. Tapi tidak untuk dosa karena menghancurkan perguruanku. Jika kau tak bisa diajak berbicara baik-baik. Maka biarkan pedangku yang mengambil peran. Tapi, masak, lelaki seperti kau yang ototnya kekar begitu tak tertarik dengan tubuh molek dan mulus sepertiku? Pasti kau tak ada bedanya dengan Adrian. Ah, jadi penasaran aku dibuatnya. Mungkin aku harus mendekatimu dengan cara lemah lembut seperti putri kerajaan dengan senyum malu-malunya.” Mantili membayangkan Alif yang sedang berbaring di sebelahnya dan memeluk tubuhnya.
Suara koak gagak yang dibawa oleh dua saudara lelakinya membuat lamunan Mantili buyar. Ia kemudian pergi tidur. Mantili memprediksi jarak yang ditempuh untuk menangkap Alif tak lama lagi, sebab aroma tubuh yang kas itu semakin matang di hidungnya.
“Selamat malam, Tuan yang tampan, semoga kita menyatu di alam mimpi.” Gadis itu menutup kedua netra hitamnya. Melanjutkan lamunan menjadi bunga-bunga tidur yang indah hanya untuknya saja.
***
Berbekal indra penciuman yang hampir menyerupai serigala. Mantili dan dua saudaranya terus menyisiri hutan, baik jalan mendaki atau menurun. Mereka tak boleh kehilangan mangsanya kali ini. Sedangkan Mantili tak ingin kehilangan penghangat tubuhnya. Dalam keheningan mereka terus bergerak hingga sampai pada sebuah pemukiman di mana para pemuda, punggawa dan seorang Pangeran terlihat tak ada bedanya.
“Tutup muka!” perintah Mantil pada dua saudara lelakinya. Gagak hitam itu lekas menutp muka kepala dan hanya menyisakan mata yang terlihat dengan kain hitam saja.
Gadis kejam itu menunjuk pepohonan yang amat tinggi. Dua saudaranya langsung paham. Kemudian mereka memanjat dengan cepat tanpa menimbulkan kegaduhan. Saat tiba giliran Mantili, ia sedikit terpeleset dan menjerit. Namun dengan cepat pula ia kembali memanjat.
Mendengar ada suara yang sangat aneh, Alif menoleh ke arah pohon besar yang tak jauh dari tempatnya berjongkok. Ia sedang menyemai benih terong di tanah yang baru saja digemburkan. Langkah pertama mereka sebenarnya tak bisa dikatakan salah, tapi tak juga bisa dibenarkan. Para pemuda pesisir itu lebih mementingkan kebutuhan makan terlebih dahulu, bukan keamanan. Padahal sewaktu-waktu siapa saja bisa menyerang.
“Ada apa, Bang Alif, sepertinya kau melihat sesuatu yang tak beres.” Ridwan heran melihat tuannya menatap pohon tersebut tanpa berkedip.
“Entah hanya perasaanku saja atau memang seperti ada mata yang mengawasiku dari sana. Atau aku terlalu terbawa perasaan.” Alif melanjutkan kembali pekerjaannya. Ada banyak tanah yang harus ditanami. Sedangkan yang lain baru mulai membuat pagar betis berlapis.
“Lihatlah, dia sangat jantan sedang bergulat dengan tanah seperti itu. Beda dengan Adrian yang hanya berada di dalam ruangan dan memerintah seenaknya.” Mantili mengawasi Alif dengan menggunakan teropong modern. Ia perhatikan setiap peluh yang menetes di kulit Alif. Begitu memancarkan kilat ketika terkena sinar matahari.
“Katakan kalau kau menyukai pemuda yang harus kita ambil kepalanya.” Salah satu gagak hitam mencemooh Mantili.
“Aku menyukainya. Setidaknya sebelum dibunuh aku ingin berada satu selimut dengannya. Tidak pakai selimut pun tak apa. Asal bisa berada dalam dekapannya.” Mantili mengigit bibirnya sendiri ketika Alif menancapkan kayu tajam ke tanah sebagai pagar.
“Perempuan gila. Nafsumu bahkan lebih besar dari kami berdua. Ilmu apa yang diajarkan ayahmu sampai kau jadi seperti ini?”
“Tak perlu ilmu yang sulit. Hanya perlu susuk yang kugunakan di wajah dan bagian bawah. Jadinya aku selalu haus belaian lelaki.” Gadis kejam itu meletakkan teropongnya ketika Alif bergerak menjauh menuju sumber air.
“Pantas Adrian jadi tergila-gila denganmu. Ternyata sudah kau mantrai dia.”
“Pekerjaanku tak gratis, saudaraku. Selama membantu Adrian, aku juga diberikan baju indah dan kepingan emas yang kusimpan di suatu tempat. Saat sedang santai aku akan mengambilnya, menyusun keping demi keping di ranjangku. Aku tak akan kekurangan harta seumur hidupku.”
Tak ada lagi Alif yang bisa dilihat Mantili oleh matanya sendiri. Gadis itu kemudian turun. Ia terus menuju sungai tempat pangeran itu membersihkan diri. Rencananya sudah tak bisa dibendung lagi ketika ia melihat pemuda itu sudah menceburkan diri.
“Kau benar-benar memukau.” Dengan perlahan Mantili masuk ke dalam sungai, ia berenang melawan arus meski terkena bebatuan kecil. Ketika matanya berbatasan dengan kaki Alif. Gadis itu langsung berdiri dan memeluk sang pangeran dari belakang. Kesalahan terbesar Mantili ialah menganggap semua lelaki sama b***t dan bernafsu.
Pangeran Alif terkejut ketika sepasang tangan dingin memeluknya dengan sangat erat. Matanya membelalak dan jantungya berdegup kencang. Tak ingin terlena nantinya, ia pun melepaskan jeratan tangan itu, lalu berbalik dan mendorong tubuh wanita itu sampai jatuh ke sungai. Gegas pangeran memakai baju atasnya yang ia lepas. Tak ingin diganggu oleh gadis yang mungkin memendam perasaan padanya. Alif tak curiga ada penyusup yang masuk. Ia hanya beranggapan salah satu dari para gadis yang ada dalam pengungsian sedang iseng mengerjainya.
“Aku tak boleh diam di tempat ini lama-lama. Bisa-bisa mereka memaksaku untuk memilih gadis yang harus kunikahi. Sementara tak satupun dari mereka yang mampu memikat hatiku.” Alif mengenakan kembali ikat kepalanya. Ia tak menoleh ke belakang lagi ketika Mantili masih betah di dalam air. Gadis kejam itu berdiri setelah napasnya habis. Ia semakin tertantang untuk meraih Alif dengan pelukannya.
“Bagaimana, enak mandi siang-siang, ha?” cemooh dua saudara Mantili padanya yang sedang basah kuyup.
“Dia terlalu pemalu untukku yang beringas. Tak masalah, akan kucoba lain waktu. Sampai dia membuat kesabaranku habis. Kuratakan tempat ini dengan api sekalian.” Gadis itu naik ke permukaan. Pergerakan tiga gagak hitam itu begitu rapi sampai belum ada satupun dari para punggawa yang menyadari kehadiran mereka termasuk Ridwan.
Para pengungsi dari pesisir itu lebih memilih menyibukkan diri membangun benteng. Kayu-kayu hutan telah ditebang dan diruncingkan. Satu demi satu diikat dengan kulit kayu yang telah dirangkai menjadi tali, kemudian disusun di depan jalan masuk agar tak ada yang mudah menerobosnya.
“Bang Ridwan. Kita percepat saja membuat benteng ini. Aku ingin pergi dari tempat ini.” Jujur Alif mengatakan pada punggawa setianya.
“Ke mana, Bang? Bukankah di sini lebih baik daripada terus-terusan pindah.” Ridwan kemudian melepaskan kayu yang telah ia tajamkan.
“Aku tak mengajak siapa-siapa. Aku hanya berniat berjalan sendiri. Kalian jagalah keluarga masing-masing. Tak ada kewajiban bagi siapa pun di sini untuk mengabdi denganku.”
“Ia, tapi ke mana dan untuk apa?”
“Aku ingin ke Bukit Gayo. Bergerilya, seperti yang dilakukan pendahulu kita yang telah syahid. Menebus kekalahanku saat tak mampu mempertahankan istana. Akan kucari dan kubunuh mereka walau hanya satu yang kujumpai di jalanan.” Alif mengambil kayu yang dijatuhkan Ridwan dan menancapkannya di tanah. Kejujurannya barusan membuat punggawa setianya tak fokus dalam bekerja. Ridwan pikir Pangeran Alif akan menjalankan kehidupan seperti yang lain. Menikah dan punya anak dengan salah satu gadis di pengungsian.
“Mungkin luka hatimu terlalu dalam, Tuanku. Hingga kau tak mampu memaafkan dirimu sendiri,” gumam Ridwan. Ia mengambil batang kayu runcing lainnya dan mengaitkannya hingga menjadi sebuah pagar berat. Dipikul oleh tiga lelaki dewasa baru bisa dipindahkan. Pangeran terlihat bersungguh-sungguh membangun perlindungan untuk rakyatnya.
Malam menjelma setelah fajar kemerahan telah terbenam. Para pengungsi yang kini telah memiliki tempat tinggal menunaikan shalat Isya berjamaah. Lalu makan bersama dari hasil buruan dan tangkapan ikan. Hasil kebun belum ada yang bisa dipanen sebab baru tumbuh tunas saja. Alif seperti biasa, ia menyendiri. Bukan ia tak mau bergabung dengan rakyatnya. Hanya saja sebagian dari pengungsi yang membawa serta keluarganya, membuat hati pangeran itu berdesir. Lalu tak lama kemudian ia ingat kembali dengan kedua orang tuanya.
Suara jangkrik mendominasi pondok-pondok yang mulai dibangun lebih kokoh. Alif mendengkur karena tubuhnya sangat kelelahan. Pada saat itulah Mantili turun dari atas pohon sendirian saja. Ia melarang dua saudaranya untuk ikut campur.
Tak lupa dua batang jarum beracun, Mantili tiupkan pada dua pemuda yang sedang berjaga, dan mereka tumbang tanpa menjerit sedikit pun.
Tanpa rasa bersalah gadis itu melompat dan mendatangi pondok Alif yang ukurannya lebih kecil dari yang lainnya. Mantili tertawa melihat mulut Alif menganga lebar. Darah mudanya kian berdesir ketika menyaksikan pemuda itu tidur tanpa menggunakan kain selimut.
Mantili bergerak perlahan, ia kini berada di atas tubuh Alif, memperhatikan pahatan wajah yang begitu sempurna tanpa cela. Nekat, gadis itu berbaring dalam pelukan pemuda pesisir tersebut. Betah Mantili di sana sebab Alif juga membalas pelukannya.
Sampai kemudian kening Alif bertautan, bola matanya mulai bergerak-gerak ketika ia merasa tak tidur sendirian. Pikirannya masih berusaha menyadarkan dirinya. Alif belum memiliki istri lalu siapa yang ia dekap dan mengapa begitu nekat. Tak ingin terjadi perzinahan, pemuda itu gegas membuka matanya. Ia saksikan sendiri dalam temaram lampu minyak dan sinar rembulan, tangan seorang wanita berani meraba tubuhnya lalu mulai membuka tautan kain di pinggangnya.
Alif langsung mendorong gadis itu.
“Astaghfirullah. Kau siapa, tak ingatkah dengan dosa sampai nekat memasuki kamarku?” Alif masih mencoba berbaik sangka.
“Tuan, aku merindukanmu. Aku butuh dekapanmu. Ayolah, hanya kita berdua saja di sini. Tak akan ada yang tahu.” Satu suara yang dikeluarkan gadis itu membuat Alif sadar. Ia bukanlah salah satu pengungsi. Sebab ia hafal wajah dan suara semua orang yang bersamanya.
“Siapa kau dan apa maumu?” Alif mencengkeram tangan gadis itu yang masih mencoba berbuat tak senonoh padanya.