Patah Hati

1851 Kata
Pangeran Alif juga para punggawanya terus membangun pemukiman baru untuk rakyat pesisir yang mengikutinya kemanapun mereka pergi. Hampir seminggu berada di sana, mereka semua tak lagi bepergian, sebab sumber air begitu mudah ditemui. Dari pagi sampai sore hari para lelaki yang jumlahnya terus bertambah sudah masuk ke dalam hutan, mereka menebang pepohonan untuk dijadikan bahan utama membuat tiang dan atap pondok. Walau sederhana tidak mengapa asalkan ada tempat untuk berlindung dari panas dan hujan. Alif sendiri sedang menggambar sesuatu di tanah. Walau sekarang masih aman, bukan tak mungkin akan ada pihak Belanda yang menyerang ke sana. Mereka harus bersiap jika harus kehilangan semuanya lagi. Namun, setidaknya mereka telah mencoba bertahan. “Bang, Pangeran Alif itu tidak mencoba untuk menikah saja. Yang aku lihat beberapa perempuan muda banyak menatapnya dengan sangat berbeda,” ujar istri Ridwan ketika memperhatikan punggung Alif. “Eh, itu Abang tak berani menanyakannya. Dia baru saja kehilangan calon istri satu jam sebelum akad nikah diikrarkan. Mungkin masih berkabung atau entahlah. Abang takut dia tersinggung.” Ridwan berusaha menidurkan putri kecilnya yang enggan lepas darinya. Ia ingin bergabung dengan Alif tetapi anak gadisnya seakan-akan tak mengizinkan. “Kasihan sekali. Sepertinya Pangeran merasa bersalah dengan semua ini. Selama bersama tak pernah aku melihatnya tersenyum. Padahal yang lain sudah mencoba untuk ikhlas. Namanya ujian, kita tak pernah tahu kapan datangnya.” “Pangeran merasa ini hukuman untuknya. Sebab tak terlalu memperhatikan rakyatnya dan memilih menikah. Begitu katanya.” Perlahan-lahan Ridwan memindahkan putrinya yang sudah tertidur ke pangkuan istrinya. “Ada yang salahkah dengan menikah?” tanya istri Ridwan, “aneh-aneh saja. Ini sudah takdir harus terjadi. Pangeran menikah atau tidak pasti Belanda tetap menyerang kita. Sudah ratusan tahun perang ini berkobar dan bergantian kita kalah dan menang.” “Sudah, ya, Abang pergi dulu tak enak dengan yang lain.” Punggawa itu meninggalkan istri dan anaknya yang telah tinggal di sebuah pondok sederhana. Mereka berencana tinggal di sana terus sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Ridwan melangkah menghampiri sang pangeran yang masih menggambar di tanah. Malik dan Ibrahim tidak terlihat dari tadi. Dua punggawa itu bersama-sama dengan yang lain mencari kayu sesuai permintaan Alif. “Kita harus membuat pagar ini. Agar saat Belanda menyerang dan kira-kira kita akan kalah, para penduduk masih punya waktu untuk kabur.” Alif menunjuk gambar pagar kayu berujung runcing yang dibuat mengelilingi tempat tinggal yang baru. “Bisa saja, Bang Alif. Tapi ini memakan waktu yang sangat lama.” Ridwan memperhatikan gambar yang dibuat Alif, begitu teliti dan rapi. Sang pangeran memang mahir menggambar peta di istana dulu. Ia yang terbaik dari semua bangsawan yang ada. “Iya, lalu masalahnya apa?” Alif heran dengan perkataan Ridwan. “Berarti kita akan menetap di sini terus-menerus? Benteng ini sepertinya tebal dan tak sebentar membuatnya.” “Kasihan wanita dan anak-anak kalau sampai berpindah-pindah lagi. Kalau kita yang ke sana kemari tak ada beban.” “Artinya Bang Alif berencana untuk tinggal di sini dalam kurun waktu seterusnya, begitu bukan?” Ridwan memastikan sekali lagi. “Tidak tahu, aku hanya memikirkan kepentingan rakyatku saja. Kalau mereka aman dan sejahtera aku pun bahagia. Aku tak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Aku tak mau kesalahan yang sama terulang lagi lalu semuanya hancur tak bersisa. Sampai sekarang suara tangisan Putri Naqi masih terngiang-ngiang di telingaku. Entah bagaimana tanggapan pihak Kerajaan Malaka ketika tahu Kerajaan Pesisir telah musnah dan putrinya juga tewas dalam keadaan mengenaskan.” Sang pangeran menarik napas panjan dan mengembuskannya dengan perlahan. “Bang Alif, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Tak ada yang bisa menghindar dari semua ini. Engkau menikah atau tidak, serdadu Belanda itu pasti akan tetap menggempur dan menghancurkan kita. Ini sudah bagian dari rencana mereka, kurasa.” “Aku tak menyalahkan diriku sendiri. Hanya saja, andaikata ....” Perkataan Alif terputus. Sesak di dadanya kembali datang ketika mengenang berpulangnya orang-orang yang ia sayangi. “Tak apa, Bang Alif, menangislah kalau memang perlu. Hanya ada kita berdua di sini.” “Bahkan untuk menangis seperti perempuan pun aku tak layak, sebab aku tak berjuang keras seperti laki-laki. Aku kagum pada kedua abangku yang tak sempat kutemui. Mereka menghadap Allah dengan bangga. Sedangkan aku, si bungsu yang biasa bergelimangan harta dan tak bisa diharapkan.” Mata Alif memerah dan berembun. Ia berusaha menahan air matanya agar tak tumpah. “Tuanku,” panggil Ridwan dengan gelarnya yang dulu. “Berhentilah, aku bukan tuanmu lagi. Aku bahkan tak memiliki emas sekeping pun sekarang. Kita sudah sama.” “Tuanku. Jika lelah beristirahatlah. Biarkan kami yang mengerjakan apa yang kau rencanakan. Semuanya sudah mulai membaik dan mulai menerima takdir yang memang harus terjadi. Hanya engkau yang terlihat benar-benar tak baik. Tuanku jadi terlihat kurus beberapa hari belakangan ini.” “Baguslah jika memang mereka sudah mulai menerima keadaan. Soal diriku jangan terlalu kau pikirkan, Ridwan. Istri dan anakmu lebih membutuhkan dirimu. Aku baik-baik saja. Kurus sedikit tak masalah. Mungkin karena lidahku yang terlalu memilih-milih makanan. Terbiasa dilayani membuatku jadi manja. Menyedihkan!” Alif mengejek dirinya sendiri. “Bagaimana kalau engkau menikah saja, Bang Alif. Supaya ada yang memperhatikanmu seperti dulu.” Ridwan membicarakan hal yang ia perbicangkan tadi dengan istrinya. “Hah, kau ini ada-ada saja. Dengan siapa?” Alfi menyunggingkan senyum, merasa geli dengan tawaran punggawanya. “Pilihlah satu di antara para gadis itu, Bang. Tidakkah engkau sadar mereka memperhatikanmu setiap hari? Kurasa banyak diantara mereka yang memendam perasaan padamu.” “Begitukah, ha, ha, lucu sekali. Dalam keadaan seperti ini memikirkan pernikahan itu lebih tidak masuk akal, Bang Ridwan. Itu tak masuk dalam hal yang harus sesegera mungin dikerjakan.” “Masuk akal, Tuanku. Tidak ada dosa didalamnya. Kecuali engkau bersenang-senang tanpa ikatan itu baru salah. Peperangan ini sudah ratusan tahun, tapi tetapi saja sanak saudara kita menikah termasuk aku tentunya. Karena kalau ditunggu selesai ya kita tidak tahu kapan akan berakhir.” “Iya, benar, aku mengerti apa maksudmu. Hanya saja, aku masih belum bisa melupakan Putri Naqi. Dulu aku mengatakan pada diriku sendiri kalau aku tak terlalu mencintainya. Bahkan kau ingat? Kita pernah membicarakan mengambil gadis lain sebagai istri ketika sudah menikah dengannya nanti. Nyatanya, ketika aku ditinggal olehnya, hatiku terasa hampa. Aku tak terima mengapa takdir tak memperkenankan kami menikah dulu.” Alif menjatuhkan batang kayu kecil yang ia gunakan untuk menggambar dari tadi. “Kau tahu, kurasa aku sedang patah hati yang sangat hebat. Dan sulit untuk diobati. Harga yang pantas karena sempat meremehkan ketulusan Putri Naqi. Semoga Allah memberikan jodoh yang layak untuknya di sana. Aku tak ada sebanding dengannya.” Alif menulis nama Putri Naqi menggunakan telunjuknya. Ia tersenyum seorang diri, meski tak sempat menikah tetapi mereka sempat bersentuhan tangan saat dirinya sakit. “Ya sudah kalau begitu, Bang. Aku tak akan mengganggu lagi. Tapi suatu hari nanti aku yakin engkau akan bertemu dengan jodoh yang tepat. Pada saat itu menikahlah dan jangan dilepas lagi, kalau sudah mengerti makna dari sudah tiada baru terasa.” Ridwan berdiri lalu memilih bergabung bersama pemuda lainnya. Sebagian dari mereka kembali dengan membawa beberapa batang kayu. “Mudah bagimu untuk mengatakannya. Sulit bagiku untuk melakukannya.” Sang pangeran yang terbuang itu menghapus nama Putri Naqi yang ia tulis di tanah. Hanya di situ saja, di hatinya tentu tak mudah dan butuh waktu. Alif memperhatikan gambar yang ia buat dari tadi. Sayangnya ia tak punya tinta untuk memindahkannya dalam sehelai kain. Jika begitu saja dibiarkan akan terhapus dengan mudah oleh embusan angin. Benar saja, tak lama kemudian angin kencang datang, menyapu semua daun kering dan memudarkan gambar yang Alif buat. Tak lama setelah itu rintik-rintik hujan turun perlahan. Yang lain masih melanjutkan pekerjaan. Dan saat deras semuanya berhenti dan berteduh di dalam pondok yang sudah selesai dibuat. Mereka bersempit-sempitan agar bisa berbagi. Alif tak ingin bergabung, biarlah pakaian dan tubuhnya basah terkena air hujan. Ia mulai embiasakan diri dengan semua kesusahan yang kedepannya bisa jadi lebih sulit. Lelaki berwajah Arab itu berteduh di sebuah pohon besar. Ia menghirup dengan sangat dalam aroma tanah basah yang terus terkena tetesan air hujan, begitu berbeda dengan yang ia rasakan ketika tinggal di dalam istana. Tetesan air langit belum juga berhenti sampai beberapa waktu lamanya. Gambar benteng yang Alif buat telah terhapus sejak tadi. Perlahan-lahan berubah menjadi rintik lagi, lalu rasa ngantuk pun menyerang. Pangeran Pesisir itu tertidur dengan menyandarkan kepala di dahan pohon. Rasa dingin tak lagi ia pikirkan sejak ia sudah melepas gelar pangerannya. Alif terkejut ketika tubuhnya diguncangkan oleh Ridwan. Punggawa setianya itu menyodorkan ubi kayu yang baru saja dibakar. Asap yang membawa aroma wangi itu membuat perut sang pangeran keroconcongan. “Apa aku tertidur sangat lama?” Alif menyeka wajah dengan kedua tangannya. “Tidak juga, Pangeran. Hari juga belum masuk Dzuhur. Ini dari dalam hutan, makanlah. Kita perlu tenaga untuk terus melanjutkan hidup.” Ridwan menyodorkan ubi bakar yang dilapisi daun basah. Pangeran memakannya dengan perlahan. Ia memperhatikan satu per satu pengungsi yang juga sedang melakukan hal yang sama. Mereka saling berbagi di tengah kesedihan yang masih melanda. Lalu terbersit suatu rencana di pikiran Alif. Demi terjaminnya kebutuhan makan untuk rakyatnya. Ia harus membuka lahan baru untuk ditanami beberapa tanaman pokok yang bisa diolah menjadi makanan. Sebab untuk membeli pun rasa-rasanya mereka tak membawa uang. Lelaki itu dengan cepat menyudahi makannya. Ia mengambil batang kayu lalu meruncingkannya. Sedikit demi sedikit ia gali dan gemburkan tanah yang masih lunak terkena air hujan. Agar pekerjaannya sedikit ringan, sebab jika kering tanah menjadi keras. “Sudah, kalian beristirahat saja. Pasti lelah setelah menebang kayu di dalam hutan,” ucap Alif ketika beberapa pemuda ingin membantunya. “Akan lebih cepat jika kami ikut membantu. Seberapa besar yang harus dibuat, Bang?” tanya yang lain. “Sejauh mana kita mampu membuka lahan. Semakin besar semakin banyak yang bisa ditanam. Kalau begitu sebagian dari kalian sebaiknya mencari bibit, baik itu ubi, jagung atau apa saja yang bisa ditanam dan tumbuh menjadi pengganjal perut.” Pangeran Alif membuka bajunya yang basah dan bekerja membiarkan peluhnya terus turun. Ia terus menggali dengan ujung kayu tajam yang kokoh itu. Perlahan-lahan beberapa baris tanah yang telah digemburkan akhirnya membuahkan hasil. Ia tahu sebab pernah mempelajarinya di istana serta melihat guru mengajinya melakukan hal demikian. Batang ubi kayu yang ditemukan di dalam hutan dipotong pendek dan mulai ditancapkan di tanah yang telah gembur. Begitu terus sampai persediaan habis. Tak banyak memang, tapi setidaknya mereka tak hanya mengharapkan hasil buruan saja untuk makan. “Di sungai itu apa ada ikan yang berenang dalam jumlah yang besar?” Alif mengutarakan sesuatu hal yang tiba-tiba muncul di kepalanya. “Tidak banyak tapi adalah untuk makan. Apa Bang Alif ingin makan ikan?” Ridwan menatap ke arah sungai yang aliran airnya lebih deras terdengar. “Aku sedang memikirkan membuat kolam, agar kita lebih mudah menangkap ikan.” “Bisa dipertimbangkan, tapi apa bisa ikan sungai dipindahkan ke kolam?” Punggawa setia itu mengerutkan keningnya. Ia tak terlalu paham dengan hal demikian, karena saat tinggal di pesisir ia hanya makan ikan dari tangan para nelayan. “Tak tahu. Ya sudahlah, sebaiknya kita istirahat dulu. Pikiranku mulai berkelana tak jelas.” Alif undur diri dari kumpulan pemuda itu. Ia kembali menyendiri menyandarkan tubuhnya di batang pohon besar. Membesarkan hatinya sendiri agar tak terus-terusan merasa bersalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN