Sepasang Malaikat Pencabut Nyawa

1847 Kata
Adrian, lelaki bengis itu masih menyerang desa-desa lain yang tak punya pertahanan lebih. Ia menandai peta di tangannya dengan gambar bendera Belanda, mana saja wilayah yang berhasil dikuasai. Mantili turut membersamai penyerangan itu. Dua sejoli yang tak ubahnya pasangan malaikat pencabut nyawa itu sama sekali tak memiliki rasa belas kasihan ketika mendengar pekik tangis wanita dan anak-anak. Satu demi satu wilayah kekuasan Adrian bertambah. Hal demikian tak luput dari bantuan para bangsawan pengkhianat yang turut menyumbangkan apa saja yang dibutuhkan lelaki bengis itu. Sebagai imbalannya mereka diberikan jalan untuk memonopoli perdagangan di wilayah Pesisir. Dan imbas dari semuanya, harga-harga kebutuhan utama menjadi kian mahal. Rakyat semakin menderita, sudahlah ancaman kematian yang tak kenal waktu, ditambah susahnya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menanaman pun hasilnya sering direbut paksa oleh serdadu yang ditugaskan menjaga wilayah setempat. Ujian besar tengah melanda wilayah pesisir dan juga lainnya yang tak ingin Belanda berkuasa di sana lama-lama. Para ulama yang mengobarkan semangat juang rakyat turut ditangkap. Mereka dieksekusi hukuman gantung di depan semua orang sebagai efek jera agar tak ada lagi perlawanan. Namun, semakin diperlakukan seperti itu semakin pula naik semangat para pejuang untuk menuntut kebebasan, walau masih bisa ditekan oleh Belanda. Pundi-pundi harta kekayaan Adrian bertambah sejak ia terus memenangkan pertempuan. Seperti malam itu, ia melemparkan beberapa lembar gulden ke tubuh Mantili yang sedang santai berbaring di ranjang empuknya. “Kupikir uang kertas ini lemah, karena mudah terbakar. Bukankah jauh lebih berharga kepingan emas, Meester?” Mantili memandang uang yang bergambar lelaki berambut keriting dengan senyum yang pelit. “Memang. Rencananya emas akan jadi milik kami. Lalu kalian akan kuberi uang kertas saja sebagai alat tukar sehari-hari. Awalnya mungkin kalian menolak, tapi lama-lama setelah monopoli kami makin luas, kalian tak bisa berbuat apa-apa. Dunia sedang dikuasai pihak barat, terima saja.” Adrian mengembuskan asap cerutunya di udara. Ia sedang mengistirahatkan tubuhnya setelah serangan besar-besaran di banyak tempat. Meski demikian Alif belum juga tertangkap. “Kalian, kami?” Gadis kejam itu menautkan alis tipisnya. “Kalian itu rakyat yang terus-terus menerus aku injak kepalanya. Kami, Belanda dan serikat dagangnya VOC. Kau tak tahu, Sayangku, seberapa kayanya serikat dagang itu. Hasil mengeruk bumi nusantara selama ratusan tahun, lalu untuk membangun negeri yang kami tinggali. Andai saja banyak dari kalian yang mengalah dan tak melawan. Tentu aku sudah pulang dan berkumpul dengan anak istriku karena pembangunan di Belanda tak terhambat. Membiayai perang juga butuh modal yang besar.” “Cih! Kupikir kau manusia tak punya hati, ternyata masih ingat istri dan anakmu juga.” Mantili menyunggingkan senyum, meniru gambar lelaki Belanda di uang kertas yang ia genggam. “Semua yang kulakukan demi mereka. Anakku di sini juga ada jadi aku harus bekerja keras agar mereka tak hidup kekurangan. Suatu saat nanti jika kau melahirkan anak untukku, tentu juga akan kuberikan fasilitas yang tak kalah mewahnya dengan mereka di Belanda sana.” “Jangan mimpi kau! Aku tak mau hamil dan punya anak, merusak tubuhku saja. Kau carilah wanita lain yang mau menampung benihmu untuk terus dibesarkan.” “Sampai berapa lama kau bisa menahannya. Suatu saat nanti benih yang kutanam pada rahimmu akan membuahkan hasil tentunya. Yang aku tahu wanita-wanita di nusantara ini begitu subur. Mudah sekali hamil, tak seperti di negaraku perlu bertemu dengan dokter. Buang-buang uang saja!” “Hanya itu yang kau tahu? Wanita di sini memang mudah hamil, tapi untuk membuang juga mudah, tak perlu pula harus mendatangi dokter seperti yang kau katakan.” “Apa jangan-jangan kau ....” Adrian menerka-nerka perbuatan yang dilakukan oleh boneka cantik peliharaannya. Ia walaupun kejam tetapi saja menyukai tangisan bayi jika itu anaknya. Tidak termasuk pekik tangis anak-anak kecil di wilayah yang Adrian serang. “Ada banyak hal yang tak kau ketahui tentangku, Meester. Jadi jangan terlalu berharap. Aku memang menyukai uang dan perhiasan. Tapi aku lebih suka kebebasan. Tinggal dengan satu pria berlama-lama itu membosankan. Jangan dipikir hanya laki-laki saja yang suka berpaling, perempuan pun sama. Hanya saja sebagian dari kami yang lemah memilih menahan hati. Tapi tidak denganku, aku tak hidup dengan cara seperti itu. Aku melakukan apa yang kumau. Sebab meniru ayahku yang suka bergonta-ganti perempuan. Ibuku banyak, semuanya setan yang suka emas dan juga dibelai. Jadi jangan heran perangaiku juga seperti ini, Meester. Setali tiga uang. Aku butuh uangmu, aku butuh belaianmu juga butuh kebebasan.” Jelas Mantili panjang lebar. Adrian menggeleng, ia mengembuskan lagi asap cerutanya sampai nyeri di kepalanya berhenti berdenyut. Mantili, memang satu dari wanita yang amat sulit diatur. Ia hanya menurut ketika akan disentuh saja. Itu pun mereka lebih sering seimbang daripada gadis itu hanya diam saja dan pasrah seperti babu yang pernah ia tiduri dulu. Namun, Adrian pun seolah-olah candu dengan perlakuan Mantili. Layaknya menemukan tantangan baru yang membangkitkan geloranya. Ia merasa muda kembali seperti dulu, ketika berada tanpa jarak sehelai benang pun dengan Mantili. Mereka sama-sama membutuhkan. “Lakukanlah apa yang kau sukai. Karena dicegah pun kau pasti akan melawan, bukan?” tukas Adrian. “Tentu. Tapi sekarang aku ingin bersenang-senang dulu di sini. Nanti saatnya tiba akan kukejar Pangeran Alif sampai dapat dan kubawa kepalanya untukmu. Sekarang aku kedinginan dan butuh kehangatan, Meester. Apa kau tidak keberatan?” Mantili melempar uang kertas itu hingga berserakan di lantai. Ia menatap Adrian yang duduk dengan melebarkan kakinya. Sudah hampir sepekan mereka tak bersama, sebab terlalu sibuk mengurus peperangan. “Kemarilah. Aku juga merindukanmu.” Adrian menyambut boneka cantiknya. Dua tangannya terbuka lebar mempersilakan kedatangan gadis itu dalam pelukannya. Mantili duduk di atas pangkuannya. Ia membuang cerutu Adrian yang masih setengah lagi. Gadis itu menyesap bau asap yang juga membuatnya candu. “Kehangatan ini yang tak pernah kudapatkan dari lelaki lain. Rasamu berbeda dibandingkan mereka yang pernah jadi teman tidurku.” Mantili mendengar detak jantung Adrian yang berpacu lebih dekat ketika mereka berdekatan. “Oh, ya? Aku lelaki yang keberapa buatmu?” Adrian mulai tak bisa menahan geloranya ketika Mantili mulai membuka pakaiannya. “Berapa ya? Aku tak pernah menghitungnya? Pentingkah itu? Kurasa tidak. Karena kalau ada cermin kau pasti penasaran wajahmu sekarang seperti apa. Kemerahan, karena tak kuat menahan godaanku.” Gadis itu tertawa dan mulai melepaskan ikatan rambut Adrian. Sepasang malaikat pencabut nyawa itu terus bersama menghangatkan malam yang dingin di dalam benteng. Uang kertas yang berserakan di ranjang berjatuhan akibat pergerakan mereka berdua. Harta, takhta dan wanita telah berada dalam genggaman Adrian. Lelaki berusia kepala empat itu bukannya semakin takut dengan kematian. Justru setiap hari menambah laporan di agendanya dengan banyaknya nyawa yang telah ia hilangkan. Adrian dan Mantili terlelap sampai siang. Mereka bangun ketika salah satu serdadu terpaksa mengetuk pintu tuannya, sebab ada beberapa hal penting yang harus dilaporkan langsung. “Mengganggu saja!” gerutu Mantili. Ia malah menaikkan selimut menutupi seluruh tubuhnya dan membiarkan Adrian bekerja sendirian. Lelaki bengis itu melilit tubuh bagian bawahnya dengan kain. Ia mengambil laporan itu dan langsung menutup pintu. Adrian memaksa matanya terbuka dengan menenggak wiski segelas penuh. Kesadarannya langsung bangkit ketika melihat lukisan wajah Alif terselip di sana. Tangan Adrian terulur mengambil kemeja yang berserakan di lantai. Tak lupa pula ia menyalakan cerutunya. “Luar biasa, kau memang seperti kucing. Memiliki sembilan nyawa. Tapi aku tak akan pernah lelah mengejarmu.” Adrian meniup gambar wajah Alif dengan asap cerutunya. “Sayang, bangunlah. Kau akan menyukai berita ini.” Adrian melempar Mantili dengan salah satu penanya. Gegas Mantili beranjak, sebab ia tahu kekasihnya tak akan pernah mengusik tidurnya jika bukan karena berita penting. Ia melilit tubuhnya dengan selimut dan berjalan menginjak lembaran gulden yang masih berserakan di lantai. “Si Pangeran lemah ini. Di mana dia sekarang?” Mantili menyanggul rambutnya asal-asalan agar tak mengganggu pandangan matanya. “Kabar hilangnya tujuh orang serdadu yang mengawasi wilayah yang sangat subur datang bersama gambarnya. Kurasa ia ada di sana. Membawa serta rakyatnya yang masih hidup.” Adrian menuliskan beberapa hal penting dalam buku agendanya. Penanya terus menggores huruf yang begitu indah ia mainkan. Mantili hanya menatap saja, sebab ia tak bisa baca dan tulis. Belajar pun ia enggan. “Apa benda ini bisa digunakan untuk membunuh?” tunjuk Mantili pada pena berujung tajam yang terus mengeluarkan tinta berwarna hitam. “Tergantung siapa yang menggunakannya. Denganmu aku tak yakin. Denganku, aku lebih suka menggunakan senapan.” Adrian menjelaskan sembari menandatangani laporan yang baru saja ia lengkapi. Tak lama kemudian, telepon kabel di meja Adrian berbunyi. Ia mengangkatnya dan berbicara dalam bahasa Belanda yang tak semuanya dipahami oleh Mantili. “Ada kabar baik dan kabar buruk. Mana yang ingin kau dengar terlebih dahulu?” Adrian membuka peta kecil di atas mejanya. Ia barusan mendapatkan telepon gari Gubernur Van Daalen, atasannya yang lebih tinggi. “Sama saja denganku tak ada bedanya.” “Rumahku hampir selesai. Aku sudah bisa menghuninya.” Mantili diam di tempatnya. Artinya ia akan dituntut untuk memenuhi janjinya pada Adrian untuk menikah dan menetap lama serta berkelakuan baik sebagai seorang Nyonya Meener. Sedangkan dirinya masih suka terbang bebas layaknya gagak yang terus memakan bangkai. “Terdengar buruk untukku. Lalu kabar baiknya?” “Itu kabar baik, kabar buruknya, kita harus segera meninggalkan benteng ini. Akan ada petugas yang menggantikanku. Aku harus mengejar buronan lain yang meresahkan gubernur sebab terus merampas persedian makanan dan senjatanya.” “Kapan?” “Mungkin tiga hari selesai membereskan semuanya, kau ikut denganku, Sayang?” Adrian mengelus pipi Mantili yang tadi malam puas ia cium. “Ehm, aku lebih tertarik untuk menebas kepalanya. Berikan padaku emas yang kau janjikan. Aku berjanji segala cara akan kutempuh untuk membawanya ke hadapanmu.” Mantili menunjuk gambar Alif di meja Adrian. “Kau benar-benar tak suka dikekang. Tapi, baiklah, setelah tugasmu membunuh pangeran ini selesai, kutunggu kau di rumahku. Seperti janjiku kita akan menikah.” Lelaki itu menggenggam dan mengecup tangan Mantili yang telah banyak membunuh orang. “Di mana dia?” tanya Mantili pada Adrian. “Wilayah di dekat bukit kecil.” “Bukit Gayo, tak mungkin secepat itu mereka sampai.” Mantili berdecak mencemooh Adrian. “Bukit Gayo baru selesai digempur Tuan Van Daalen. Bisa jadi Alif ada di sana turut membantu para pejuang. Ini kuserahkan petanya padamu. Carilah dia sampai dapat.” “Baik, nanti malam aku berangkat.” “Mengapa terburu-buru. Aku masih tiga hari lagi ada di sini.” Adrian belum sanggup ditinggal oleh boneka cantiknya. “Kami lebih kuat saat malam datang. Jadi tak ada waktu yang boleh disia-siakan. Selama menunggukku kau carilah gadis lain untuk bersenang-senang. Kuperkirakan perjalanan akan sangat lama, dan sepeti emas ini akan kumanfaatkan dengan baik. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, Messter. Aku janji tak akan melupakannya begitu saja.” Mantili bergerak dan mengecup bibir Adrian. Lelaki itu serasa mendapatkan serangan mendadak tanpa persiapan apa pun. Gadis kejam itu pergi dari kamar Adrian usai mengenakan pakainnya yang serba tipis. Ia membawa serta peti emas itu dan mengunjungi dua saudaranya yang lebih memilih tinggal di luar benteng. Adrian hanya memandang kepergian bonekanya tanpa bisa melarang. Entah kapan mereka akan bertemu lagi. Satu nama perampok itu berhasil menarik perhatian Adrian. Razi diketahui sebagai pemimpin pergerakan ilegal tersebut. Lelaki yang dari laporannya diketahui sebagai pandai besi yang berasal dari Bukit Gayo. Tempat di mana akan menjadi benteng terakhir Alif untuk bertahan jika tak ada lagi wilayah yang bisa ia datangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN