Mengungsi

1791 Kata
Alif bersama tiga punggawa setianya turun ke wilayah pesisir. Menyusuri tempat-tempat yang telah dibumi hanguskan oleh Belanda. Tempat itu benar-benar menjadi ajang pembantaian. Ada sekitar dua atau tiga serdadu yang berjaga, lalu mereka ringkus. Dan setelahnya tubuh-tubuh yang berserakan tersebut dimakamkan semampunya. Sebab tak elok membiarkannya membusuk begitu saja. “Lelah sekali. Entah berapa banyak yang akan kita temui sepanjang perjalanan.” Malik duduk dengan napas tersengal-sengal. Dari pagi sampai siang mereka tak ada yang berhenti bergerak. “Istirahatlah dulu. Istana tak jauh lagi. Ingat, aku tak pernah memaksa kalian. Hanya saja apa nurani kalian tidak terketuk ketika melihat jasad saudara-saudara kita dibiarkan seperti ini?” Alif menancapkan sebatang kayu pada makam yang baru saja selesai ditutup. “Maaf, bukan hamba bermaksud demikian, Tuanku.” Malik merasa tak enak hati sebab salah bicara. “Aku bukan tuanmu lagi, juga kau jangan menghamba lagi padaku. Sudah kukatakan berulang-ulang. Aku sama seperti kalian.” Pemuda itu menyeka wajahnya yang dibanjiri keringat. Dari tadi sejak menguburkan tubuh-tubuh yang telah kaku. Ia tak mencium bau busuk, bahwa wangi pun merebak dari para pejuang yang telah tewas. Baik laki-laki atau perempuan. “Apa para pemuda benar-benar tewas semuanya? Mengapa tempat ini begitu sunyi?” gumam Ridwan. Di tempat pengungsian di dalam hutan bisa dihitung jari anak laki-laki yang masih hidup. Sedangkan tubuh-tubuh yang baru dikubur juga kebanyakan wanita, anak-anak dan orang tua. “Aku masih berusaha berpikir baik, Bang Ridwan. Mungkin mereka mengalihkan perhatian Belanda ke suatu tempat, tapi tak cukup waktu dan tenaga. Hingga jadi seperti ini. Atau mereka ditawan, bisa jadi.” Alif pun merasa ada yang tak beres dengan hilangnya para pemuda yang sepantaran dirinya di desa yang sedang ia singgahi sekarang. “Di dalam benteng Adrian, tidak ada lagi tawanan. Sudah kami bebaskan semuanya, Bang Alif,” ujar Ibrahim, “rasanya kalaupun ada itu juga masih wanita dan orang tua. Kenapa dua orang lemah ini selalu jadi sasaran? Aku tak kuasa menanggung malu besok di akhirat jika tak bisa membebaskan mereka semua dari kurungan Belanda.” “Lalu bagaimana, Bang. Kita lanjutkan mencari para pemuda itu atau mengubur terlebih dahulu jasad keluargamu. Kita tak punya banyak waktu. Pengungsi kita tinggalkan tanpa keamanan yang baik. Aku takut mereka dijamah Belanda. Lagi-lagi di sana masih banyak wanita yang akan mereka manfaatkan.” Ridwan menengok ke arah hutan. Istrinya yang paling ia khawatirkan sebab masih sangat belia dan berparas cukup manis walau berkulit gelap. “Aku ke istana dulu. Kalau kalian masih mau ikut itu terserah kalian saja. Setelah itu kita cari di mana keberadaan para pemuda ini. Jika sampai mereka yang menjadi pengkhianat yang menikam ibu dan saudari mereka sendiri dari belakang. Tak ada ampun, kita bunuh saja mereka semuanya. Sebagai balasan akibat perbuatan mereka.” Alif tetap melangkah dengan tenang memasuki istananya yang telah habis-habisan digempur Belanda. Bendera tiga warna itu ia tumbangkan tiangnya. Setiap langkah yang ia tempuh hanya berisi deretan kenangan indah sedari kecil. Termasuk taman mawar yang dulu ia perintahkan untuk dibuat. Demi memenuhi kelopak bunga mawar permintaan Putri Naqi. Kini semuanya sudah hancur berantakan. Cipratan darah di mana-mana, mewarnai kayu-kayu yang telah tumbang. Tak banyak lagi jasad yang terbengkalai, sebagian telah dihanyutkan ke laut atas perintah Adrian. Alif hanya menemukan keberadaan kedua orang tuanya, Putri Naqi dan beberapa pelayan serta hulubalang yang telah membersamai hidupnya sedari kecil. Lelaki berwarjah separuh Arab itu tak lagi bisa menangis. Semuanya telah ia luapkan di hari sebelumnya. Ia hanya membawa tubuh orang-orang yang ia sayangi dalam gerobak kayu dan menguburkannya dengan layak lengkap dengan baju yang berlumurah darah. Tiga lubang kuburan telah Alif gali. Sedangkan punggawanya yang lain mengurus jenazah yang lain pula. Satu demi satu tubuh Sultan Zulkarnain, Permaisuri Syafitri serta Putri Naqi ia makamkan dengan layak. Ditutup dengan tanah sesempurna mungkin agar tak dicari binatang buas yang andaikata turun mencari makan. Selanjutnya beberapa bait doa ia ucapkan. Agar mereka yang telah menjadi korban diterima di syurga kelak. “Kalian semua sudah tenang. Sedangkan aku sudah risau memikirkan jalan hidupku di dunia ini.” Alif duduk kembali, menyeka lagi keringatnya yang bercucuran. Lunas sudah hutangnya untuk memberikan yang terbaik pada orang-orang yang ia sayangi. “Semoga engkau mendapatkan jodoh yang baik di akhirat, Putri Naqi. Aku tak layak untukmu. Engkau pasti jadi salah satu bidadari surga yang berwajah cantik. Sedangkan aku hanya manusia biasa yang kini mengais makan dengan tanganku sendiri. Entah berapa lama aku bisa bertahan. Tapi menyusul kalian pun rasanya tak berani.” Usai berkeluh kesah sejenak dengan tiga orang yang telah terkubur dengan layak. Pemuda yang dulunya bergelar pangeran itu menghampiri tiga punggawanya. Mereka beranjak dan harus segera kembali ke pengungsian sebab matahari terus turun menjelang ashar lalu disambut maghrib. Sepanjang perjalanan kembali, mereka memungut apa saja yang masih bisa diselamatkan. Entah itu baju, kain panjang atau peralatan memasak yang masih layak pakai. Di sana para pengungsi membutuhkannya. Kabur hanya dengan baju di badan saja membuat pergerakan mereka serba terbatas. Sejauh mata empat pemuda pesisir itu memandang, hanya ada kehancuran di mana-mana. Belum lagi hasil tanaman yang diinjak-injak sampai hancur sayuran yang sebentar lagi dipanen. Peperangan memang membawa kesengsaraan bagi rakyat biasa. “Kita ambil yang masih bisa dibersihkan dan diolah. Mereka butuh makan juga. Tak mungkin kita bisa tidur sementara anak-anak menangis kelaparan.” Alif menunduk, ia memungut sayuran yang masih utuh atau koyak daunnya sebagian. Dulunya ia tak harus seperti itu untuk makan. Para pelayan selalu sigap memenuhi piringnya dengan makanan mewah. Hasil mereka berjalan dari pagi sampai hampir menjelang ashar cukup banyak untuk keberlangsungan hidup para pengungsi. Pakaian dan selimut dibagi rata sesuai kebutuhan. Sedangkan sayuran dimasak seadanya saja. Bahkan mencucinya pun sangat jauh ketika mencari sumber air. Namun, mereka harus menerima keadaan itu. Sebab jika ingin hidup enak sudah tidak mungkin. Bisa jadi sebentar lagi para serdadu Adrian akan menguasai wilayah itu lagi, dan membuat koloni-koloni baru sebagai tanda daerah itu sudah berada dalam kendali mereka. “Kita tak bisa di sini terus, Bang Alif.” Ridwan menyambangi tuannya ketika ia sudah selesai menidurkan putri kecilnya. “Iya, aku paham. Sebab sumber air di sini terlalu jauh. Juga aku khawatir dengan serangan binatang buas, hutan ini masih sangat lebat. Siapa tahu mereka akan membawa gerombolannya kemari lalu mencabik-cabik kita di saat tidur.” “Lalu kita harus bagaimana?” “Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat selesai Shubuh. Semoga masih ada wilayah yang menerima kita dengan baik. Kalau tidak kita buat sendiri saja. Tempat ini dan seluruh dunia masihlah milik Allah. Selagi kita manfaatkan dengan baik tentu akan menemukan jalannya.” Alif kembali memanjat pepohonan ketika malam terus beranjak naik. Ia mulai terbiasa dengan dengungan suara nyamuk di telinganya. Tak ia pikirkan lagi dingin yang mulai merayap naik ke tubuhnya. Ia harus menerima semuanya dengan hati dan pikiran yang terbuka. Pagi harinya, semuanya bersiap untuk mengungsi lagi. Beberapa dari para wanita menyarankan untuk terus turun ke bawah hutan dan mengarah ke daerah yang jauh sekali dari pantai. Mereka masih takut jika sewaktu-waktu serdadu Belanda datang dan memporak-porandakan semuanya lagi. “Maksudnya wilayah Bukit Gayo?” Alif melirik Ridwan yang sedang bercengkrama dengan putrinya. “Jauh sekali, Bang. Berapa bulan kita sampai di sana. Bisa-bisa kita tewas satu per satu. Pun kita tidak tahu bagaimana keadaan saudara-saudara kita di bukit. Kudengar perlawanan di wilayah sana juga tak kalah mematikan.” “Ya, baiklah kalau begitu. Kita ikut saja ke mana kaki ini melangkah. Kita berangkat sekarang. Kalian berdua berjaga dari belakang saja. Awasi jangan sampai ada yang tertinggal,” pinta Alif pada Malik dan Ibrahim. Rombongan itu mulai meninggalkan tempat yang telah mereka tinggali selama beberapa hari. Langkah demi langkah mereka tempuh demi sampai ke wilayah yang lebih baik. Namun, sama saja, banyak yang sudah hancur. Bahkan rombongan itu terus bertambah beberapa orang ketika menemukan para pengungsi yang tak punya siapa-siapa lagi. Semakin banyak beban di pundak Alif. Semakin banyak pula perut yang harus dipikirkan untuk diberi makan. Tak hanya itu saja, para pemuda lain pun turut bergabung. Mereka tadinya berpencar demi menghalau musuh dan mulai kehilangan temannya satu per satu. Ulah siapa lagi kalau bukan pengkhianat yang melakukannya demi uang dan sepasang seragam. Sampai siang hari belum ada wilayah yang aman untuk ditinggali. Alif pun meminta semuanya beristirahat di rumah-rumah yang masih bisa ditinggali. Begitu juga dengan dirinya yang kakinya sudah lelah berjalan. Pemuda itu, usai Dzuhur langsung berbaring di papan yang tergeletak begitu saja. Ia abaikan sejenak perutnya yang lapar. Sebab tak mau kakinya mati rasa karena kebas. Dan pada akhirnya para pengungsi itu bermalam di sana selama dua hari. Mengutip apa saja yang bisa dibawa untuk dimanfaatkan sebagai perbekalan. Saat akan melanjutkan perjalanan yang tertunda. Empat pemuda pesisir dan yang lainnya menemukan sebuah lubang besar. Di sana terkubur tubuh para pejuang yang telah mulai membiru. Bercampur menjadi satu dengan para serdadu. Tak ingin timbul penyakit akibat jenazah-jenazah itu dibiarkan begitu saja. Mereka pun menimbunnya begitu saja, kemudian ditinggalkan. Parit-parit kecil sepanjang para pengungsi berjalan telah berubah warnanya menjadi merah darah. Betapa dahsyat peperangan yang berlangsung selama berhari-hari. Alif yakin tak hanya pasukan milik Adrian saja yang bergerak menyerang wilayah pesisir dan sekitarnya. Ada pasukan yang lebih utama serta serdadunya berkali-kali lipat lebih kejam. “Jika mungkin. Akan kubunuh Adrian dengan tanganku sendiri.” Alif berucap, ia fokus pada pemandangan di depan matanya. Sebuah tanah kosong yang dekat dengan sungai kecil. Cocok untuk beristirahat di sana atau mungkin membangun sebuah pemukiman baru. “Bisakah kita periksa dulu. Memastikan tempat itu tak dikuasai Belanda?” Alif mengajak teman-temannya yang lain. Sementara itu pemuda yang tersisa ia suruh untuk menjaga para pengungsi. “Bang Alif, lihat, itu para serdadu yang sedang berjaga.” Malik memberi kode dengan pergerakan kedua matanya. “Ada sekitar tujuh. Kita harus memastikan mereka mati terlebih dahulu kalau ingin hidup aman di sini. Apa ada bedil yang berisi?” Alif melirik Ridwan. Punggawa setianya itu paling mahir dalam urusan tembak-menembak. “Ada, tapi tak banyak. Hanya lima butir peluru saja.” “Sudah cukup. Dua lagi kita tajamkan pisau terlebih dahulu.” Ridwan membidik dari dekat batu. Lima butir peluru itu harus tepat sasaran jika tak ingin semuanya sia-sia. Dor! Satu demi satu timah panas dilesatkan. Meski tak mengenai organ tubuh bagian vital. Setidaknya cukup membuat serdadu yang sedang duduk santai itu roboh. Tembakan balasan tak sempat mereka layangkan sebab tak sedang dalam keadaan siaga. Ditambah Alif yang bergerak cepat menghunuskan pedanngya pada tentara Belanda yang masih hidup. “Sempurna! Bawa para pengungsi turun kemari. Kita bisa membangun pemukiman di sini untuk sementara waktu.” “Sampai berapa lama, Bang Alif?” “Tak tahu. Mungkin sampai kita merdeka kembali seperti tulu. Dan itu bukan aku yang bisa menjaminnya. Yang terpenting para pengungsi itu tak kelelahan berjalan lagi.” Alif berjongkok, ia memandang pantulan wajahnya di aliran air sungai. Rupa itu sudah mulai gelap. Ia telah bersahabat sangat erat dengan terik matahari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN