Pangeran Alif mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Lelah melanda usai peperangan yang berkobar tanpa perikemanusiaan. Terutama hatinya, yang kini telah hancur tak berbentuk. Kehilangan ayah, ibu dan calon istri sekaligus begitu memukul nuraninya yang paling dalam. Ia hanya menarik napas saja, sebab malu menangis di depan banyak pengungsi yang didominasi wanita dan anak-anak.
Pandangan mata itu beralih pada kedatangan Ridwan beserta istri dan anaknya. Keluarga kecil itu termasuk yang beruntung karena masih utuh tanpa harus kehilangan. Alif tak berniat beranjak. Ia hanya menyodorkan makanan pada Ridwan, Malik dan Ibrahim agar dibagikan pada para pengungsi. Pemuda itu sedang tak ingin diganggu siapa pun. Ia ingin menyendiri di balik pohon besar. Bukan untuk meratap, hanya untuk membesarkan hati ketika keadaannya berubah dalam sekejap mata. Dari seseorang yang bergelar pangeran menjadi orang yang tak punya apa-apa selain baju yang melekat di badan. Itu juga milik orang.
Rumahnya sudah tak bersisa lagi. Takhtanya? Alif tak berharap apa-apa. Diam-diam lelaki berdarah Arab itu bertanya pada takdir di dalam hatinya. Mengapa harus Kerajaan Pesisir yang ditimpa musibah. Mengapa harus menjelang hari pernikahannya. Mengapa dan mengapa lainnya yang terus timbul dari pikirannya yang belum bisa berbaik sangka.
“Apa Tuan Pangeran baik-baik saja?” tanya Malik dari api sela-sela nyala api yang baru saja dihidupkan.
“Pertanyaan yang benar itu. Apa dia masih Pangeran seperti yang dulu, kau lihat sendiri tak ada yang tersisa.” Ibrahim mengatakan hal yang pahit, tetapi memang itu kenyataannya.
“Bagiku dia tetaplah Pangeran. Aku tetap mengikutinya selama jalannya lurus dan benar. Seberat apa pun. Aku terikat sumpah setia. Kalau kalian berdua tidak mau ya terserah saja. Lagi pula kalian tak akan mendapat apa-apa lagi dari istana yang sudah roboh.”
“Bukan begitu maksud kami, Bang,” sanggah Malik.
“Tak apa, aku paham. Memang begini keadaannya. Pangeran sedang terpukul dan terluka. Aku yang termasuk bernasib baik karena masih sempat menyelematkan istri dan anakku.” Ridwan melirik keluarganya yang mulai tertidur pulas berselimutkan kain panjang. Tidak ada yang bisa marah, karena hanya akan memperburuk keadaan.
“Lalu kita harus bagaimana? Orang-orang sebanyak ini mau diapakan?” Malik melirik para pengungsi yang mulai tertidur.
“Beri Pangeran waktu sebentar saja. Setidaknya sampai dia siap bicara dan menemui kita. Dia bahkan tak makan sedikit pun. Aku akan mengantarnya setelah itu kembali kemari. Kalian tunggu di sini, jangan ada yang mengikutiku.” Ridwan menyisihkan makanan sedikit di atas dedaunan, tak luput pula air bersih di dalam wadah sebatang bambu.
Tak ada lagi semangkuk sayur kesukaan Alif, begitu juga sekerat daging yang biasanya disantap ketika hatinya sedang tak senang. Kini semuanya sama saja. Ada makanan sudah sangat bersyukur. Punggawa setia itu meletakkan makanan di dekat Alif duduk sembari meninggalkan pesan singat, walau tak ditanggapi oleh tuannya.
Dengan perasaan berat sang pangeran yang terbuang mengunyah makanan itu. Ia masih harus menyambung hidup. Tak boleh menyerah dan putus asa, sebab masih diberi kesemapatan untuk menebus kesalahannya. Ya, kesalahan karena terlalu memikirkan dirinya sendiri dibandingkan rakyatnya.
Hambar rasa makanan tersebut, bukan karena ia tak suka, melainkan lidah Alif kebas karena hatinya sedang dilingkupi kesedihan. Padahal malam itu jika semua berjalan sesuai dengan rencana mendiang Permaisuri Syafitri, seharusnya ia sedang berdua dengan Putri Naqi sebagai suami istri yang sah.
‘Telan saja. Aku tak punya pilihan lain. Bertahan menyakitkan, mundur pun tak ubahnya seperti pengecut,’ ucap Alif dalam hati.
Ia kemudaian menancapkan pedangnya di tanah. Lalu merebahkan dirinya di atas tanah yang ditutupi dedaunan basah. Tak ia hiraukan Ridwan ketika memberikan api unggun kecil agar tuannya tak diganggu binatang melata. Alif butuh istirahat, meluruskan semua isi kepalanya yang kusut masai, tak beraturan dan nyaris kehilangan kewarasan.
Bergantian tiga orang punggawa itu tidur untuk mengawasi barangkali ada serdadu yang mengincar mereka, sampai Shubuh masuk. Aman, wilayah itu untuk sementara waktu belum dijejaki Belanda. Mungkin karena medannya yang terjal dan lebatnya pepohonan di dalamnya.
Alif bangun, ia yang biasanya disiapkan segalanya oleh pelayan jadi canggung harus berbuat apa. Tak ada air hangat, kain bersih serta sisir untuk merapikan rambutnya. Ingin meminta pada Ridwan, Alif juga harus tahu diri, bahwa ia bukanlah pangeran seperti dulu lagi. Bagaimana jika dia memberi perintah lalu Ridwan membantahnya di depan banyak orang? Sudahlah jatuh derajadnya ditambah malu pula lagi.
Ia ikut saja ketika para lelaki menunaikan ibadah wajib di shaf belakang. Berbekal tayamum sebab sumber air masih belum ditemukan.
Alif bertafakur seorang diri. Ia memohon petunjuk dan kekuatan menghadapi semuanya sendirian. Berharap pada punggawanya ia tak berani, sedangkan keluarganya sudah tiada semua. Pun pihak Kerajaan Malaka pasti akan mengirim utusan untuk meminta pertanggung jawabaan atas tewasnya Putri Naqi.
Entah sudah berapa kali Alif mengembuskan napas panjang dan mengusap wajahnya. Dari semua orang yang mengungsi, ia memang yang paling bersedih. Beban sebagai putra satu-satunya dan yang bertanggung jawab pada hajat hidup rakyat pesisir menjadi asbab utama. Ia bimbang harus melangkah ke mana terlebih dahulu.
Para punggawa hanya saling sikut saja. Belum ada yang berniat mengusiknya sampai matahari sedikit lebih tinggi dan persediaan makanan telah habis. Ridwan memberanikan diri untuk menghampiri Alif.
“Tuanku, ki—“ Belum selesai Ridwan berucap, tangan Alif telah naik sejajar dengan bahu, pertanda ada hal lain yang harus ia utarakan lebih dulu.
“Aku bukan tuanmu lagi, Ridwan. Kau bebas ingin pergi ke mana saja yang kau mau. Aku tak punya apa-apa lagi untuk diberikan. Aku tak bisa membayar kesetiaanmu dengan harga yang pantas.” Dengan berat hati Alif harus mengatakan hal demikian. Bukan ia tak menghargai Ridwan selama menemaninya. Namun, hidup harus terus berjalan dan juga butuh modal untuk hidup.
“Hamba tidak pernah berpikir seperti itu, Tuanku,” jawab Ridwan dengan nada rendah.
“Jangan menghamba lagi padaku. Aku tak pantas menerimanya. Kita dari dulu sama-sama manusia. Aturan kerajaan saja yang membuat seolah-olah ada perbedaan kasta di antara kita.”
“Ehm, baiklah kalau begitu. A-a-aku.” Terbata-bata Ridwan mengakukan diri di depan tuannya.
“Aku hanya ingin mengingatkan Tuanku. Kita tak bisa di sini berlama-lama, takutnya Belanda datang dan membunuh rakyat yang tersisa. Kita harus segera pergi, Tuanku.” Ridwan menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa aneh bicara dengan gaya seperti dengan teman-temannya.
“Sudah kubilang jangan panggil Tuan lagi.”
“Iya, Bang Alif kalau begitu. Tolong jangan disalahkan lagi. Aku tak bisa memilih yang lebih baik.”
Alif hanya mengangguk mendengar pilihan punggawa kepercayaannya. Kini baginya tak ada bedanya antara Ridwan dan Alif sendiri. Semuanya harus bersama-sama memikirkan bagaiamana nasib rakyat pesisir yang tersisa. Mereka perlu tanah baru untuk melanjutkan hidup.
“Bang Alif, silakan pimpin perjalanan, kami akan ikut jika jalan itu masih lurus dan benar,” ujar Ridwan tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun.
“Aku juga ingin pergi Bang Ridwan.” Alif juga ingin menghormati Ridwan, “Tapi aku punya satu hajat khusus. Aku masih ingin mengubur jasad kedua orang tuaku dan Putri Naqi. Apa itu mungkin?” Alif menunjuk ke arah lautan, tempat di mana semuanya berakhir.
“Bisa kita coba, Bang. Kapan?” Ridwan memanggil Ibrahim dan Malik dengan gerakan sebelah tangannya.
“Sekarang, jika tak mengganggu kalian.” Pemuda itu meneguhkan keinginannya. Demi memberikan hak-hak terakhir pada para jasad yang terbujur kaku di medan perang.
***
Adrian menatap kehancuran di depan matanya dengan pongah. Ia bangga dengan hasil kerja keras dan kejamnya. Kini semuanya telah rata dengan pasir di lautan. Mayat-mayat yang bergelimpangan, didorong oleh anak buahnya ke tepi pantai lalu terus ke lautan sampai hanyut sendiri.
“Sudah, tak perlu repot-repot. Biar saja mereka membusuk dimakan belatung. Simpan tenaga kalian. Kita masih harus menggempur satu wilayah lagi, baru kembali ke benteng!” perintah Adrian.
Lelaki bengis itu masuk ke dalam tendanya. Ia melihat Mantili yang sedang ditangani oleh pihak medis. Terlihat sekali gadis itu mengambil kesempatan, untuk mengenal dokter dari Belanda yang dikirim oleh pemerintah. Adrian kemudian menyuruh petugas medis itu untuk ke luar.
“Genit sekali. Bahkan dalam keadaan terluka kau masih sempat mengedipkan sebelah matamu. Kau tak takutkah dengan murkaku?” Adrian menuang wiski dalam dua gelas kaca. Satu untuk dirinya satu untuk Mantili. Mereka bersulang sebagai tanda bahagia atas kemenangan menggempur Kerajaan Pesisir.
“Kau tak terlihat menakutkan bagiku, Sayang.” Mantili, gadis itu tak terlihat kesakitan dengan luka yang diberikan Alif padanya. Oh, iya, dia di malam hari menjadi lebih kuat dari biasanya.
Adrian tak menanggapi sahutan boneka cantiknya. Ia lebih fokus pada agenda yang harus ia isi. Tentang penyerangan, persediaan amunisi termasuk siapa-siapa saja yang tewas. Bosan menunggu Adrian membuka suara, Mantili merebahkan diri di ranjang darurat dalam tenda itu.
Beberapa waktu kemudian salah satu serdadu rendahan datang dan menyerahkan laporan pada lelaki bengis itu. Ia membaca nama-nama bangsawan yang tewas. Sultan Zulkarnain, Permaisuri Syafitri, Putri Naqi dan sederet bangsawan setia lainnya. Tak tertinggal pula nama pelayan dan punggawa. Hanya ada satu nama yang belum dicatat.
“Lalu Pangeran k*****t itu selamat dari serangan mematikan tadi siang. Hebat. Dia punya sembilan nyawa rupanya,” tukas Adrian sembari memainkan penanya.
“Tidak. Harusnya dia yang mati terlebih dahulu.” Mendengar nama Alif masih dinyatakan hidup, membuat Mantili bangun dari tidurnya. “Bagaimana cara anak buahmu bekerja. Membunuh satu beruk saja tidak bisa!” Gadis itu meraih belatinya. Segera Adrian mencegahnya.
“Hei, kau tenangkan amarahmu. Semuanya sibuk, mungkin mereka tak perasan dengan masih hidupnya Alif. Lagi pula dia bisa kumasukkan dalam daftar buronan. Akan kuhadiahkan sekotak emas bagi siapa pun yang bisa membawa kepalanya ke hadapanku.”
“Hah, sekotak emas?” Mantili terperanjat. “Berikan saja padaku. Aku yang akan membawa kepalanya padamu secepatnya!”
“Jangan. Kau masih terluka. Juga kau harus ingat janjimu, menemaniku di rumah baru sebagai boneka mainan.”
“Agh, membosankan! Setidaknya biarkan aku berkenalan sekali lagi sebelum kau mengurungku sehari semalam. Atau di sana aku akan membuat kekacauan dan kau akan kewalahan mengatasinya, bagaimana?
Lama Adrian berpikir. Mantili, jika menginginkan sesuatu memang tidak pernah main-main. Setidaknya satu kali petualangan lagi sebelum gadis itu menjadi istrinya yang resmi dan tercatat dalam hukum Hindia Belanda.
“Deal. Sekali lagi saja. Puas?”
“Terima kasih, Meester. Andai aku sedang tidak terluka ... pasti aku sudah melayanimu. Sekarang kau lewati saja malammu yang dingin bertemankan wiski. Aku ingin tidur dulu melepas ngantuk.”
Adrian mengambil selembar kertas putih. Dengan telaten ia menggambar sketsa wajah Alif. Ia sudah hafal sebab beberapa kali telah berhadapan langsung. Gambar itu akan diperbanyak oleh bawahannya. Pangeran yang tersisa itu menjadi buronan Pemerintah Hindia Belanda karena terbukti bersalah melawan hukum yang bahkan belum ditegakkan. Tak hanya itu saja, Alif sempat menghadiahkan goresan pisau di wajahnya yang kini dibalut perban tipis. Adrian akan menanggung bekas luka itu seumur hidupnya. Ia jadi terlihat lebih bengis dari biasanya.
“Aku tak akan melepaskanmu. Sekali pun kau punya anak dan cucu. Mereka juga akan diburu oleh anak dan cucuku. Dendam kita tak akan pernah tuntas sebelum maut menjemput salah satu di antara kita.” Adrian menggoreskan tintanya pada sehelai kertas bergambarkan wajah Alif itu.
“Teuku Alif Muda, kau buronan dengan harga paling tinggi. Aku tunggu kau di penjara. Di sana akan kuselesakan perhitungan kita.” Lelaki bengis itu menenggak sebotol wiski langsung. Tetesan minuman keras itu jatuh ke gambar Alif tepat di bagian mata.
“Oh, lihatlah, kau bahkan menangis sebelum kusiksa denga kejam. Tahu begini aku koyak kesucian calon istrimu terlebih dahulu. Lumayan untuk menghangatku tubuhku yang mulai kedinginan diterpa angin pesisir.” Adrian membuka sebotol wiski lagi. Ia minum sampai tak sadarkan diri dan terlelap di atas meja kerjanya.