"Abang tunggu Kenanga di sini, ya? Aku akan pergi cari makanan dulu. Sekalian lihat-lihat, ke mana perginys orang-orang kampung ini," ujar Ridwan. Namun, dengan cepat Alif berdiri. "Tidak, biar aku saja yang pergi. Abang jaga Kenanga baik-baik." Alif langsung melompat, bukan ia tak mau menjaga Kenangan. Namun, ia takut kalau hanya berduaan saja. Takut ia kalah dan malah jadi ancaman bagi gadis yang sedang terluka itu. Sang pangeran memasuki rumah demi rumah. Memungut apa saja yang bisa dimakan. Anehnya, dari tadi tak ia lihat satu pun orang lain. Luar biasa sunyinya kampung ini. Bahkan suraunya saja sudah habis atapnya. Terdapat beberapa bercak darah yang terciprat di dinding. Perlawanan yang luar biasa lagi. Kantong bekalnya sudah lumanya terisi buah-buahan yang masih bisa dimakan. Sa

