Percobaan Pembunuhan

1901 Kata
Sampai di istana, Permaisuri Syafitri langsung memeluk erat Alif. Wanita yang tetap terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu risau bukan kepalang. Hampir dua pekan putra semata wayangnya tak ada kabar berita. Wanita berdarah Arab tersebut takut kalau Alif menyusul dua putranya yang telah berpulang terlebih dahulu. “Kau terlihat kurus, Putraku. Apa kau tak makan selama jauh dari istana?” Permaisuri Syafitri menyentuh pipi Alif yang terdapat goresan luka. “Ananda sedang dalam peperangan, Bunda. Jadi semua kesulitan sudah Ananda alami. Bersyukur masih diberi napas oleh Rabb. Jadi kami kembali walau sebagian punggawa ada yang tewas.” Alif melirik Sultan Zulkarnain yang terlihat kesusahan bangkit dari duduknya. Terlihat penyakit yang diderita sang raja semakin bertambah parah saja. “Kalau begitu istirahatlah, makan yang banyak. Setelah itu besok pagi ada yang harus kita bicarakan dan amat sangat penting,” tutur wanita itu dengan penuh kasih sayang. Alif pergi menuju kamarnya yang senantiasa dirapikan walau pangeran itu tak ada di tempat. Terlihat ia sangat kelelahan dalam beberapa waktu mengurus sebuah desa yang dikuasai Belanda. Tak lupa pula ia titipkan pesan pada kedua orang tuanya agar memberi santunan yang layak pada keluarga punggawa yang ditinggalkan. Mereka para istri dan ibu yang kehilangan tulang punggung dalam mencari nafkah. Sekali lagi, pemuda pesisir itu tak nyenyak tidurnya. Namun, kali ini ia tak memimpikan istana yang hancur dan luluh lantak dibakar Belanda. Melainkan rintihan meminta tolong dari sahabatnya Teuku Firdaus. Sang Pangeran teringat dengan kelamnya langit di sekitar pantai saat ia akan kembali. Entah itu berupa pertanda atau hanya perubahan alam biasa. “Semoga saja tak terjadi apa-apa dengan sahabatku,” gumam Alif seorang diri. Demi menenangkan diri ia membaca beberapa lembar kain yang bertuliskan ayat suci Al Qur’an. Namun, kantuk tak jua datang menyapanya. Pemuda berdarah Arab itu pun kembali menurunkan peta lukisannya yang tergantung di dinding. Ada beberapa wilayah ia beri warna lebih gelap dari biasanya. “Bukit Gayo. Tempat ini adalah benteng terakhir jika pesisir sampai hancur. Jika di sana juga sudah tidak aman. Maka aku tak tahu wilayah mana lagi yang bisa berdamai dengan semua peperangan ini. Kuharap barisan bukit raksasa di sana mampu menyembunyikan orang-orang yang memang membutuhkan pertolongan.” Pemuda Pesisir itu teringat dengan perkataan bundanya. Bahwa ada hal penting yang harus dibicarakan. Tebakan Alif pasti tak jauh melenceng dari pernikahannya bersama Putri Naqi. Sang pangeran juga sejak tadi belum bertemu dengan calon istrinya. Dikatakan rindu juga tidak terlalu, tetapi untuk melepaskan juga Alif tak rela. Saat masuk waktu Shubuh, pemuda berwajah khas Arab itu berjalan sembari memperhatikan mawarnya yang kini telah mulai bermekaran. Seharusnya itu menjadi mahar untuk Putri Rindu Naqi. Namun, semua hanya rencana saja. Ia sendiri tak menyangka pernikahannya harus diundur terus-menerus sebab peperangan. Andai ia hanya orang biasa mungkin perkawinan itu lekas terjadi, sebab tak perlu harus menuruti semua adat istiadat. Akan tetapi, lain hal karena ia seorang pangeran, contoh bagi semua lelaki di wilayah Pesisir. Meski ucapan Permaisuri hanya pernikahan sederhana. Nyatanya ia bisa rasakan sendiri persiapan yang mulai diatur oleh pihak kerajaan. Mungkin jika menuruti semua adat bisa tujuh hari tujuh malam baru acara selesai. Ketika ia sudah bersiap sangat rapi, terlebih dahulu Alif mendatangi ayahnya yang masih duduk lemas. Batuk yang semakin parah menjadi penyebabnya. Permaisuri Syafitri tak ada di sana. Ia sedang mengunjungi calon menantunya, menanyakan kabar kedatangan utusan dari Kerajaan Malaka. Alif menyusul sang bunda sampai ke balai pertemuan istana, tempat beberapa perudingan diambil keputusannya. “Kudengar kabar, terjadi permasalahan di lautan, Permaisuri. Armada perang Belanda semakin meluaskan sayapnya di negeriku juga. Jadi mungkin utusan dari Kerajaan Malaka akan sedikit datang terlambat.” Putri Rindu Naqi sedikit mencuri pandang ke arah Alif yang baru saja tiba. Hati gadis suci itu berdebar kencang. Hampir dua minggu tak berjumpa calon suaminya walau sedikit legam Alif jadi terlihat lebih .... matang. “Bukankah perbatasan wilayah laut kita dengan Kerajaan Malaka tak jauh, Putraku?” Permaisuri Syafitri memastikan pada Alif. Ia yang melepas keberangkatan laskar di bawah pimpinan Teuku Firdaus. “Benar. Dengan kekuatan yang dimpimpin oleh Teuku Firdaus, Ananda yakin bisa mengimbangi kapal lawan. Mungkin saja karena pengaruh cuaca, hingga kedatangan utusan dari Kerajaan Malaka sedikit terlambat.” Begitu pikir Alif. “Tapi cuaca di sini baik-baik saja. Jika arah angin laut berubah, pasti di sini pun kurang lebih sama.” Kekhawatiran Permaisuri Syafitri beralasan. Ia tak melihat sama sekali tanda-tanda gemuruh di kerajaannya. “Tentu di tengah laut dan di tepi pantai berbeda, Ibunda. Jangan Bunda risaukan hal seperti itu. Bila perlu Ananda sendiri yang akan menjemput utusan dari Kerajaan Malaka. Sebagai bukti kesungguhan kita dalam mempererat hubungan persahabatan dua dinasti besar, bagaimana?” tawar Alif pada Permaisuri Syafitri. Putri Rindu Naqi sedikit semringah, tetapi ia mengkhawatirkan jika calon suaminya pergi ke tengah laut juga. “Kau yakin dengan perkataanmu?” tanya kembali sang ratu. “Tentu,” jawab Alif penuh keyakinan. “Baik. Bawalah beberapa punggawa setiamu. Bentangkan layar kapal khusus bangsawan yang masih bersandar di tepi pelabuhan. Kau kuberi izin untuk pergi, dan berjanjilah untuk kembali hidup-hidup seperti kemarin.” “Daulat, Ibunda.” Alif memberi hormat. “Eh, nanti dulu. Kalian berdua nikmati saja tari saman yang sedang diperagakan jelang pernikahan kalian. Anggap saja ini untuk menenangkan hati Putri dan Pangeran yang sebentar lagi memasuki hidup baru. Sedikit santai, tepatnya.” Permaisuri berdiri, dan langsung menggamit tangan Putri Naqi di sisi kanan, lalu tangan Alif di sisi kiri. Mereka berdua tak bisa mengelak dari situasi yang membuat sepasang insan itu canggung. Di halaman istana, beberapa hulubalang sedang berlatih silat, sebagai iring-iringan saat pernikahan Alif nanti. Lalu dilanjutkan dengan tarian saman yang dilakukan oleh para dayang wanita. Gerakan mereka serempak dan teratur. Penuh semangat dengan lantunan lagu yang diciptakan para pendahulu. Pangeran Alif dan Putri Naqi duduk sembari memperhatikan semua persembahan untuk mereka nanti. Awal mulanya pemuda pesisir itu memperhatikan gerakan tarian yang ritmenya menjadi lebih cepat. Lalu matanya sedikit berbayang, dan tak lama kemudian ia seperti melihat bayangan seorang penari yang bangkit sembari menatapnya dengan nyalang. Pangeran itu mengerjapkan mata berkali-kali. Ia lebih memilih memperhatikan para hulubalang yang sedang berlatih silat. Tak lama kemudian entakan gerakan yang begitu tegas, berubah menjadi halus dan lemah gemulai, khas gerakan seorang w*************a. Alif takut ia hanya mengkhayal yang tidak-tidak saja. Namun, satu pergerakan dari w*************a itu membuatnya bangkit dari kursi. Ya, penari itu tak lain adalah Widuri. Ia menyusup masuk dan kini mengarahkan pedangnya tepat ke leher Alif. Kali ini sang pangeran tak salah lihat lagi. Pembunuh itu memang dikirim langsung untuk melenyapkan nyawa seseorang yang menjadi sandungan dalam bekerjasama dengan pihak Belanda. Kursi yang tadinya diduduki Alif sampai terbelah dua berkat tajamnya pedang Widuri. Punggawa yang ada langsung sigap menyelamatkan Permaisuri Syafitri dan Putri Naqi. Para dayang wanita menyelamatkan diri masing-masing dari amukan sang pembunuh bayaran. Pangeran Pesisir itu berhasil menahan laju pedang Widuri. Ia sengaja mengulur waktu demi keselamatan ibunda dan calon istrinya. Ketika dua perempuan itu sudah tak terlihat lagi, baru Alif mengepalkan tangan dan menghantam perut wanita pembunuh tersebut. Meski terkena tenaga yang cukup kuat, nyatanya Widuri merupakan pembunuh yang pilih tanding. “Siapa yang membayarmu?” tanya Alif penasaran. Sudah tiga kali ia berjumpa dengan Widuri. Awal mulanya pemuda itu mengira wanita di depannya hanya fatamorgana saja. “Orang tentunya. Dia membencimu sampai mati.” Widuri melempar sebuah belati ke arah wajah Alif. Akan tetapi satu lemparan balasan dari Ridwan mampu menghalaunya, hingga nyawa sang pangeran masih bisa diselamatkan. “Tuanku. Engkau tidak apa-apa?” Ridwan memegang tameng, melindungi majikannya. “Siapa wanita ini? Rasanya aku tak memiliki urusan apa pun dengannya.” Peluh Alif berjatuhan. Matahari telah meninggi tepat di atas kepala, hingga bayangan siapa pun jadi terlihat sangat jelas. Pada saat itulah Ridwan bersiul. Ia memberikan isyarat agar Akbar dan Malik melemparkan tali kekang untuk mengikat Widuri. Dapat, wanita itu meronta dan ingin melepaskan diri. Namun, waktu sedang tidak memihak padanya. Dua tanduk setan yang sedang menyinarinya membuat wujudnya kembali ke bentuk asli, hanya manusia biasa. Widuri sesak napas sebab ikatan itu semakin lama semakin kuat. Ridwan, tanpa aba-aba lagi maju dan menanyakan siapa yang mengutus dirinya. Belum sempat tanya itu memperoleh jawaban. Tenaga Widuri telah kembali sepenuhnya. Ia meronta bahkan nyaris menggigit Ridwan dengan gigi serinya. Kemudian, demi keselamatan semua pihak. Punggawa setia Alif itu akhirnya melayangkan pedangnya langsung memotong urat leher Widuri. Seketika darah mengalir deras. Sampai wanita pembunuh bayaran itu kejang dan jatuh di tanah tanpa meninggalkan sedikit petunjuk pun. Sang pengirim tentu merasa kecewa karena kegagalan boneka suruhannya. “Semua aman terkendali, Pangeran.” Ridwan membersihkan darah yang terciprat di wajahnya. “Kalau kalian merasa repot menguburkannya, buang saja ke laut, beri makan ikan-ikan kelaparan. Dan sebaiknya kalian bertiga bersiap lagi. Aku berencana akan melakukan sebuah perjalan di tengah laut. Kita memang belum bisa beristirahat dengan tenang.” Alif meninggalkan tempat latihan itu. Ia sedikit melirik ke arah Putri Naqi yang memperhatikannya dari jendela kamar. Gadis jelita itu juga takut luar biasa jika calon suaminya sampai terluka. Ridwan mengemas tubuh Widuri yang telah tak bernyawa. Ia sempat menggeledah baju tipis itu. Bukan bermaksud apa-apa. Hanya ingin mencari bukti siapa yang mengirim pembunuh untuk mencelakakan tuannya. Lalu di leher pembunuh itu ada kalung yang terbuatt dari emas. Mata kalung yang berbentuk kepingan. Dan hanya dimiliki oleh bangsawan yang sudah hidup makmur di dalam Kerajaan Pesisir. “Selain Sultan dan Ratu, hanya ada satu orang saja yang memiliki tanda pengenal seperti ini. Aku ingin menduga-duga, tapi takut salah.” Ridwan mengambil kalung milik Widuri dan menyimpannya sebagai barang bukti. Sesuai permintaan tuannya, ia mengirim tubuh pembunuh bayaran itu ke tengah lautan dengan menggunakan sampan milik pelayan. Tubuh tersebut dilempar begitu saja, sisanya serahkan pada ikan-ikan bergigi tajam di tengah lautan. *** Punggawa setia itu bergerak seorang diri. Pulang ke rumahnya, sebab pelayaran akan dilaksanakan esok hari. Ia tidur seperti biasa bersama istri dan anaknya. Ketika tengah malam tiba, Ridwan meninggalkan rumah dengan perlahan agar tak mengganggu siapa pun. Ia berlari dengan cepat, menuju sebuah rumah panggung yang cukup besar dari yang lainnya. Rumah yang dijaga beberapa punggawa dengan kemampuan jauh di bawahnya. Ridwan memanjat atap rumah tanpa meninggalkan suara bising. Ia membuka atap rumbia yang masih baru itu, lalu melompat ke kamar di mana sang pemiliknya masih belum tidur. Lelaki yang kini mengenakan tutup wajah itu nyaris mencabut belatinya. Namun, pemilik rumah itu membuka suara. “Menyerahlah. Kalian tak akan mampu melawan gempuran Belanda. Jumlah dan persenjataan kita tak banyak,” ujar bangsawan sepuh itu. “Lebih baik mati merdeka daripada hidup menjadi b***k!” tegas Ridwan. “Tak selamanya menjadi b***k itu hina. Kalau sang tuan mampu memberi kita kesejahteraan apa salahnya?” Ridwan tak menyahut lagi, ia langsung mengangkat belatinya hendak menikam bangsawan tua tersebut. “Alif yang mengutusmu kemari?” “Tidak, ini perbuatanku sendiri, jika pun ada yang ingin dipersalahkan, aku tak akan menunjuk siapa pun.” “Tak perlu repot-repot, Nak. Aku sendiri yang akan mencabut nyawaku. Pergilah, selagi orang-orang belum menemuk—“ Perkataan bangsawan tua tersebut tercekat. Mulutnya telah berbusa. Ia roboh dan tangannya menyenggol cawan emas hingga menimbulkan bunyi berisik. Gegas Ridwan melompat ke atap rumah yang menjadi jalan masuknya. Ia menutup lagi dengan rapat tanpa ada jejak telah dibuka. Ridwan menunggu para hulubalang yang lain masuk ke rumah, sebab jerit suara wanita yang terus menggema. Lalu ia melompat dengan sangat tenang. Dan tak ada satu pun orang-orang yang mengetahui kujungannya malam itu. “Bangsawan gila. Bisa-bisanya mati membunuh dirinya sendiri,” gumam lelaki itu ketika ia kembali berbaring di sebelah istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN