Lelah, serasa lawan tak ada habis-habisnya dari tadi. Alif bahkan nyaris tertembak sebelum seorang gadis sengaja datang dan menjadi tameng bagi dirinya.
Dor!
Satu letusan bersarang di punggung gadis pemberani yang Alif tolong tadi. Sang pangeran terperanjat. Lalu mendadak para wanita yang tadinya dikurung dan telah lepas membantu memukul mundur marsose dengan senjata ala kadarnya. Sementara itu gadis yang telah bernapas dengan cepat kini berada di pangkuan Alif. Darahnya tak bisa dihentikan, tak ada yang bisa menolong satu pun di sana.
“Adik, bertahanlah. Aku akan membawamu ke istana.” Alif menggenggam tangan gadis itu berusaha memberinya kekuatan.
“To-tolong, kuburkan aku bersebelahan dengan keluargaku.” Lalu ia pun terkulai, napas terakhirnya telah berembus. Gadis itu meninggalkan dunia setelah lelah berjuang membela harga dirinya.
Tak ada kata lain yang terucap dari bibir Alif selain untaian doa mengembalikan semuanya pada Rabb-nya. Ia menghapus air matanya yang menetes. Pemuda itu jarang-jarang menangis. Jika air mata telah jatuh tandanya ia sudah tak sanggup lagi menanggung semuanya sendirian.
Alif melihat sekeliling. Pasukan Belanda tersisa sedikit, rumah-rumah yang menjadi markas mereka telah dibakar, bahkan sebagian pasukan pribumi pengkhianat tak sedikit yang dilahap si jago merah sebab kencangnya angin laut yang berembus. Dari pagi sampai siang hari, penyerangan terus menerus berlangsung, tanpa lelah, tanpa rasa takut mati dan tanpa tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Semuanya berakhir dengan kekalahan pihak Belanda dan perampasan sebagian hasil perang oleh pihak Alif. Ya, mereka menang walau hanya sementara. Pasukan yang berada di bawah kepemimpinan Adrian masih sangat banyak bahkan terus bertambah dari hasil rekrutan setiap harinya.
Para punggawa termasuk Alif dan penduduk yang tersisa duduk sejenak melepas lelah. Bau hangus semakin mengusik perut mereka yang lapar sejak tadi pagi. Belum ada yang bisa dimakan, sebab tak ada yang sempat memasak di tengah perang yang terus berkobar.
“Tuanku. Akan kucarikan makanan untuk Tuan. Engkau pasti lapar.” Ridwan bangkit walau ia juga tak kalah lelahnya. Banyak luka yang ia derita tetapi tak terlalu ia hiraukan.
“Nanti saja. Kau pun pasti lapar. Sebagai pemimpin aku harus merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatku. Jika pun kalian masih mampu mencari makanan, carikan juga untuk para wanita, anak-anak dan orang-orang yang telah lanjut usia. Mereka juga sama, hanya segan untuk mengatakannya langsung,” lanjut Alif sembari memegang kepalanya yang sakit akibat hantaman bedil.
Dengan segera, hulubalang yang tersisa bergerak. Namun, baru beberapa langkah para ibu telah datang menghampiri mereka. Wanita-wanita pesisir itu memasak makanan ala kadarnya dari dapur yang masih bisa dipakai.
“Kami harap para tuan berkenan dengan masakan ini,” ujar seorang ibu yang rambutnya telah beruban semua. Meski demikian ia masih gesit bergerak, memindahkan umbi-umbian yang direbus dari tempayan ke dedaunan bersih.
Tak ada lagi perbedaan antara pangeran, hulubalang atau rakyat biasa di sana. Semua orang makan dengan tanpa berbicara, sebab mereka masih memiliki satu tugas besar. Yaitu mengubur tubuh korban perang baik dari pihak kawan ataupun lawan.
“Rasanya, tak layak mayat pengkhianat ini kita kubur dengan baik, Pangeran,” ujar Ridwan memandang tumpukan jenazah yang telah terbujur kaku.
“Aku pun sama. Tapi kalau dibiarkan mereka akan jadi penyakit yang berbahaya bagi rakyat di desa ini. Sudahlah lagi pula kita hanya perlu menguburkan saja. Tidak ada doa apalagi sholat jenazah, sisanya biar malaikat Munkar dan Nankir yang memberi mereka pelajaran. Kita gali lubang besar saja, tumpuk para pengkhianat ini jadi satu. Setidaknya mengurangi sedikit pekerjaan kita,” perintah Alif jelas terdengar.
Cangkul-cangkul yang ada dilayangkan untuk menggali sebuah liang besar. Di sana tubuh para pengkhianat dikubur dengan cara disusun begitu saja. Ada sekitar puluhan. Cukup kewalahan para punggawa yang tersisa termasuk Alif yang harus turun tangan langsung. Usai diletakkan di bumi, mereka menutup liang itu dengan tanah yang digali. Sampai rapat dan padat, setelahnya ditinggalkan begitu saja, menyerahkan semuanya pada penguasa alam kubur.
Belum cukup sampai di situ saja, sore harinya rombongan Kerajaan Pesisir bergerak lebih cepat. Menggali liang lahat satu demi satu, meletakkan jenazah tersebut ke arah kiblat. Tak ada sholat ataupun pemandian jenazah yang diselenggarakan. Ketidak cukupan waktu menjadi alasanya. Kepedihan terbesar Alif ketika ia meletakkan mayat gadis yang menjadi tameng keselamatannya. Andai ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk balas budi.
“Aku yakin, kau akan menjadi bidadari surga yang paling cantik. Berbahagialah dengan keluargamu di sana. Kau beruntung tak lagi merasakan kepelikan penjajahan yang tak pernah berhenti selama ratusan tahun belakangan.” Alif memandang gundukan tanah di mana jenazah itu telah berbaring.
Doa-doa dipanjatkan oleh semua rakyat yang tersisa. Menjelang Maghrib penyelenggaraan jenazah semuanya usai sudah. Letih dan lelah jangan ditanya lagi. Namun, mereka tetap berjaga menanti Isya masuk, sekaligus waspada terhadap serangan balasan yang datang.
“Pantas saja kedua abangku telah berpulang terlebih dahulu. Rupanya perang memang semenyedihkan ini,” gumam Alif usai menunaikan ibada wajibnya.
Tak kuasa lagi menahan kantuk, ia merebahkan kepalanya di mana saja. Tak ia cari mana ranjang empuk yang biasanya menjadi tempat melepas lelah. Ia tertidur di luar rumah seorang ibu yang sedang menjaga anaknya. Pemuda itu yang dahulunya nyaris di kendalikan penuh sang bunda, kini telah beranjak dewasa. Kemudian sang pemilik rumah keluar, menutupi tubuh Alif dengan kain panjang, sebab angin laut yang berembus di malam hari jauh lebih dinging dari siang.
Sang pangeran dalam tidurnya pun tak tenang. Padahal tak kurang rasanya ia membaca doa-doa perlindungan. Pemuda keturunan Arab itu kembali dihadapkan dengan pemandangan pilu. Saat hampir mengucapkan ijab qabul untuk mengikat Putri Naqi, Adrian datang menyerang kerajaannya. Tak tangung-tanggung semua pasukan lelaki bengis itu dikerahkan untuk menggempur istananya yang sebagian telah luluh lantak dilalap api.
“Rabb. Apakah ini pertanda untukku?” Alif mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Lelahnya belum sirna tetapi ia telah dipaksa sadar oleh mimpi buruk.
Lama pemuda itu merenung, kemudian ia mencari sumber air di luar rumah, walau sedikit payau, ia berwudhu lalu sholat Tahajjud dua raka’at demi ketenangan jiwanya. Kembali ia memanjatkan doa yang sedikit panjang dari biasanya. Pemuda itu meminta semuanya agar baik-baik saja. Namun, apa mungkin ditengah rencana besar Adrian semuanya akan biasa-biasa saja?
Lalu lamunan itu buyar ketika sang pemilik rumah menghidangkan minuman jahe hangat dan sedikit makanan yang bisa dimasak.
“Istirahatlah, Nak. Matamu sangat merah, jangan pikirkan kami? Ini zaman perang, kematian sudah menjadi tetangga kita yang sangat dekat.” Ibu dua anak itu memberi sedikit nasehat untuk Alif.
“Lalu, apa rencana Ibu selanjutnya setelah ini? Suami Ibu?” tanya Alif walau sedikit tak enak hati.
“Kau mengubur tubuhnya tadi. Selanjutnya, ya, seperti biasa. Membesarkan anak-anakku dan bekerja sebagai pencari nafkah.”
Perbincangan itu terhenti ketika sang pemilik rumah memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Rumah itu masih sedikit layak ditinggali walau bagian depan papannya copot karena perbuatan para penjajah. Tak bisa juga terpejam lagi. Alif tetap berbaring, menanti matanya lelah dan tertidur. Namun, sampai waktu Shubuh kembali masuk ia masih terjaga dengan kepenatan luar biasa dan waswas yang tak terkira. Pemuda itu mencemaskan istana yang ia tinggalkan selama beberapa hari.
***
“Tak elok rasanya kita membiarkan desa ini begitu saja. Baiknya kita merapikan apa yang kita bisa. Tidak sopan jika meninggalkan para ibu dan adik yang masih kecil tanpa bantuan sama sekali.” Alif memandang satu demi satu rumah yang masih bisa diperbaiki. Ia tak tahu bagaimana caranya bertukang. Namun, ia harus belajar dari keadaan. Tak selamanya ia mungkin hidup dengan gelar pangeran di sisa hidupnya. Waktu yang lebih tajam daripada pedang, terkadang memaksa manusia untuk menerima semua takdir yang telah digoreskan. Tak ada waktu untuk kembali ke belakang, hanya bisa menjalani dengan lapang d**a sepahit apa pun yang dirasakan sanubari.
Bahu membahu para punggawa yang tersisa memperbaiki semuanya. Tak cukup hanya sehari, bahkan mereka telah tinggal hampir seminggu di sana. Alif tak mengutus satu orang pun untuk memberi kabar ke istana. Ia hanya berharap kedua orang tuanya maklum dengan keputusannya. Pemuda itu sudah sangat dewasa dalam mengambil keputusan. Dan sebentar lagi ia akan dinobatkan sebagai Sultan setelah menikahi Putri Naqi.
Memikirkan pernikahan dengan putri dari Kerajaan Malaka itu membuat hati Alif sedikit berdebar. Ia memang menyimpan sedikit rasa pada gadis berwajah secerah rembulan itu. Hanya saja ia belum menemukan hal yang berbeda darinya. Iya, gadis itu layaknya putri bangsawan lain. Cantik, pintar dan bertata krama. Putri Naqi tahu bagaimana cara menempatkan diri di dalam istana. Itu sebabnya ia yang diutus untuk mengeratkan hubungan persahabatan dengan Kerajaan Pesisir. Dalam hal itu perjodohan dengan sang pangeran.
“Entah mengapa aku lebih mengagumi wanita yang telah tiada itu. Dia bisa hidup dengan bebas di luar istana, sementara kita harus terpasung dengan segala macam aturan. Beban sebagai contoh bagi pemuda lain membuat hidupku jauh lebih berat daripada yang lain.” Alif berbicara sendirian sembari memandang bulan yang telah sirna. Pertanda purnama sebentar lagi akan terbentuk.
“Atau mungkin kulanjutkan saja pengembaraanku ini sendirian, demi mencari jati diriku?” Pemuda itu menghela napas panjang. Menimbang keputusan berikutnya yang harus ia ambil. Di luar sana memang jauh lebih menarik jika tidak sedang perang. Namun, jika Alif pergi, lalu siapa yang akan mengisi takhta Kerajaan Pesisir andaikata Sultan Zulkarnain berpulang terlebih dahulu.
“Jika Tuanku pergi. Hamba juga harus ikut. Hamba telah didaulat untuk menjaga Tuan seumur hidup. Permaisuri sendiri yang mengambil sumpah diatas kepalaku.” Ridwan datang membuyarkan lamunan Alif.
“Tak usah pergi, hiraukan saja istri dan anakmu yang telah menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya. Aku lelaki yang bisa menjaga diri sendiri.” Alif menyunggingkan senyum.
“Lelaki yang diberi beban sejak dari dalam kandungan. Yang tak boleh mengambil keputusan demi kesenangan diri sendiri. Yang tak boleh mendahulukan keinginan sendiri demi kemaslahatan rakyat. Bahkan tak boleh memilih sendiri pendamping hidupnya. Juga masalah tanggung jawab di hari akhir nanti. Katakan padaku, Tuan. Engkau ingin mangkir dari semua itu, bukan?”
“Apa yang harus kututupi darimu? Kau lihat dua tanganku begitu kecil untuk menggenggam dunia. Bahkan mengurus diri sendiri saja aku masih memerlukan bantuan orang lain.”
“Tekanan dari pihak bangsawan membuat Tuanku muak, itu salah satunya. Lalu ketidak mampuan untuk menikahi gadis yang dipilih dari dalam hati juga menjadi penyebabnya. Bersabarlah, Tuan, barangkali setelah Putri Naqi nanti akan ada gadis lain yang mampu membuatmu mengorbankan segalanya, termasuk jiwa dan raga. Gadis biasa-biasa saja yang bahkan kau tak percaya bisa jatuh hati padanya. Sampai waktu itu tiba engkau terima saja semua yang telah diatur oleh Permaisuri Syafitri.”
“Ada benarnya juga. Andai aku ditakdirkan memiliki seorang gadis dari kalangan rakyat jelata. Seperti apa wajahnya? Semoga saja dia cantik dan tidak membuatku malu jika harus berbaur dengan sesama bangsawan lain.”
“Tuanku, satu hal yang harus engkau ketahui. Cinta terkadang di luar kendali akal kita. Kita lelaki konon diberi sembilan akal. Tapi kesembilan akal itu bisa hancur terkena satu senyuman manis yang tak pernah kita duga. Aku salah satu contohnya. Gadis yang kunikahi nyaris membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak sebelum aku memilikinya dengan utuh.”
“Tidak berlaku buatku, Ridwan. Darah bangsawan yang mengalir deras di dalam tubuhku tak akan mengizinkan itu terjadi. Walau tidak setara, setidaknya tak terlalu jauh dibawahku.”
“Iya, kita lihat saja, Tuanku. Semoga engkau bisa mempertahankan ucapanmu itu. Sudah banyak contoh orang yang melenceng karena tersapa oleh cinta.”
Ridwan kemudian undur diri sebab harus melanjutkan pekerjaan menanam bibit umbi-umbian yang tanahnya baru saja ia gali. Punggawa itu begitu setia menemani tuannya sesuai dengan sumpah yang telah ia ikrarkan.
***
Usai menunaikan janji kepada para penduduk yang tersisa. Alif dan rombongan kerajaan meninggalkan desa itu secepatnya. Tak banyak kuda yang tersisa. Satu ekor dikendarai dua orang, sebab sebagian turut menjadi korban peperangan juga.
Sepanjang perjalanan Alif sangat suka menoleh ke belakang. Ia merasa gadis berselendang merah bernama Widuri masih mengikutinya. Ditambah aroma menyengat kemenyan yang terus melintasinya.
Alif turun dari kuda terlebih dahulu. Ia berada di tepi pantai untuk membasuh tubuhnya yang terasa lengket. Pemuda keturunan Arab itu memandang ke tengah lautan, ia teringat dengan sahabatnya Panglima Laot Teuku Firdaus. Kembali perasaannya waswas berlebihan.
“Apa mereka di sana baik-baik saja menjaga perairan kerajaan kita?” Alif memandang debur ombak yang terus berkejaran.
“Tuanku, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Permaisuri Syafitri pasti sudah cemas menunggu di istana,” tegur Ridwan dengan perlahan.
“Tapi firasatku tidak enak. Aku merasa Teuku Firdaus membutuhkan pertolongan. Kau lihat langit, tiba-tiba saja mendung. Padahal dari tadi sinar matahari sangat menyengat, bukan?”
“Hamba paham, Tuanku. Tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada kapal besar untuk menyusul. Dengan sampan rasanya tidak mungkin. Bisa-bisa kita tenggelam di tengah lautan.”
Alif mendongak ke langit bersamaan dengan Ridwan. Mereka melihat burung gagak hitam beterbangan dengan bergerombolan di langit. Aneh, biasanya elang lebih mendominasi wilayah di sekitar pantai. Mengapa firasat Pangeran Pesisir itu semakin tak keruan saja?”