Hanya ada sekitar dua puluh orang hulubalang, itu pun sudah termasuk dengan Alif. Jelas mereka sangat kalah dalam hal jumlah. Namun, misi di depan mata tak bisa lagi dielakkan. Keselamatan rakyat pesisir menjadi taruhannya. Hidup atau mati dalam pertempuran sudah menjadi tawar menawar lumrah dalam peperangan. Tak bisa memilih, hanya dipilih.
Senjata ala kadarnya telah dikumpulkan, berbagai tombak runcing dari kayu-kayu hutan yang bisa dibuat secepatnya. Lalu sebelum pertempuran di mulai, rombongan pemuda pesisir itu hanya makan serangga yang ditemukan saja dan meminum air sungai yang masih jernih.
Sebelum penyerangan dimulai, mereka menunaikan shalat Shubuh terlebih dahulu. Sang pangeran menjadi imam sebab ia yang paling fasih di sana. Dua rakaat yang terasa sangat panjang dari biasanya. Lama mereka semua memanjatkan doa, memohon diberikan kekuatan dan perlindungan oleh Rabb yang Maha Perkasa.
“Menyebar!” perintah Alif dengan jelas. Para hulubalang membagi diri menjadi empat bagian. Mereka memiliki tugas masing-masing. Sementara itu Alif tetap bersama dengan Ridwan, Malik dan Ibrahim. Tujuan mereka adalah tempat di mana wanita dan anak-anak disekap. Mereka memang takut, bukan dengan kematian. Melainkan khawatir datang terlambat sedangkan para gadis telah dijamah terlebih dahulu oleh para marsose.
“Gadis pesisir terkenal memiliki darah pejuang. Setidaknya mereka akan melawan terlebih dahulu walah berujung pada kematian!” Alif menarik pedangnya. Ia menunjuk ke sebuah rumah, lalu tiga orang hulubalang setianya langsung bergerak, menyusul kemudian sang pangeran yang tak mau ketinggalan dalam perjuangan.
Mereka berlarian sesuai irama dahan pohon yang tertiup angin. Begitu sunyi tanpa menimbulkan suara-suara berisik. Ridwan memantau rumah yang semakin dekat jaraknya. Ada sekitar sepuluh tentara pribumi pengkhianat yang berjaga di sana.
“Artinya satu dari kita harus melawan dua orang. Sisanya melawan tiga. Tak peduli siapa itu, langsung bunuh saja tanpa ampun.” Alif mengatur kembali rencananya.
“Dua orang itu sepertinya mabuk berat. Ini akan memudahkan penyerangan kita,” tunjuk Ridwan pada marsose yang teler di atas kursi kayu.
Belum sempat perintah diucapkan. Akbar dan Malik bergerak terlebih dahulu. Mereka menarik paksa dua pemabuk itu, membekap mulutnya sampai mati kehabisan napas. Cara yang sangat menyakitkan untuk mati.
“Bedil tambahan.” Malik memberikan pada temannya.
“Kalian berdua lindungi Pangeran. Aku akan menembak dari jarak dekat. Tuanku, masuklah ke rumah itu secepatnya. Insya Allah kita selamat. Tiga, dua, satu.” Ridwan menghitung mundur. Kemudian dengan sigap tiga orang itu berlari menerobos kerumunan marsose yang terkejut dengan penyerangan tiba-tiba.
Dor!
Satu demi satu peluru dimuntahkan Ridwan, meski tak langsung mati, korban yang tertembak setidaknya mampu meluluhlantakkan perlawanan. Kegaduhan tak bisa lagi dihindari. Saling serang, terjang, tembak, seketika menggema di pagi hari langit wilayah pesisir. Mulai terdengar jeritan kematian yang membahana, entah dari pihak mana.
Alif nyaris tertusuk belati ketika ia sedang membidik sasaran. Akbar datang menjadi tameng, menangkap dengan kedua tangannya. Meski berdarah dan terluka, punggawa itu bisa menahannya asal tuannya selamat.
“Tuanku. Cepatlah, biar di luar kami yang tangani.” Malik menembak beberapa tentara tambahan yang datang melawannya. Dari arah depan, para hulubalang yang masih hidup turut maju berperang. Mereka membantu sang pangeran yang terpojok sebab kalah dalam persenjataan.
Alif mendobrak pintu kayu usai melumpuhkan dua penjaga dengan hantamannya. Di dalam sana terlihat pemandangan yang sedikit aneh. Seorang gadis dengan pakaian yang lusuh terlibat adu raga dengan marsose pribumi. Beberapa goresan pisau bersarang di tangan gadis itu. Ketika sang pangeran masuk dan menembakkan bedilnya ke atas. Semua perhatian tertuju padanya. Miris Alif melihat wajah gadis yang masih sangat belia itu lebam di bagian mata. Hebatnya, ia masih bertahan melindungi harga dirinya yang akan dicabik-cabik.
“Diam atau dia mati!” Tentara pribumi pengkhianat bergerak dengan gesit dan licik. Menggunakan gadis lawannya tadi sebagai tameng. Sebuah senapan laras pendek diarahkan ke pelipisnya.
“Cuih. Laknat dan busuk. Itu gelar yang pantas kalian sandang!” hina gadis itu walau ia sudah diancam. Ia sama sekali tak takut, justru berharap kematian menyapanya agar dapat berkumpul kembali dengan keluarganya yang terlebih dahulu mati dibantai.
“Lepaskan. Aku beri kau satu kesempatan. Menyerahlah, setelah itu hukumanmu akan diringankan, sedikit,” ujar Alif sembari turut menodongkan bedilnya.
“a*u! Mati dia sekarang!” Pengkhianat itu semakin menekan pelipis gadis tersebut.
“Baik, baik. Aku menuruti perkataanmu.” Alif merunduk dan meletakkan senapannya di tanah. Ia sedang mengatur penyerangan dengan taktis dan cepat agar gadis itu tak terluka.
“Ha ha ha. Baiknya aku nikmati kau sekarang ya. Supaya kau tak lupa denganku seumur hidup.” Tentara itu mulai memeluk tubuh gadis tersebut dari belakang. Napasnya terasa panas, membangkitkan naluri membunuh gadis pesisir itu. Seketika ia bergerak maju dengan cepat ke arah dinding kayu. Menaikkan dua kakinya hingga menyentuh dinding. Lalu dengan daya dorong ia berhasil menjatuhkan pribumi tersebut ke tanah dengan bantingan yang cukup keras.
Gadis pesisir itu meraih senapan lawan, lalu melemparnya ke sembarang arah. Kaki gadis tersebut kemudian ditarik dan ia pun jatuh juga. Saat pribumi yang tergeletak nyaris menikamkan pisaunya, Alif langsung melepaskan timah panas tepat di kepala tentara itu. Seketika bagian tubuh paling penting berlubang besar, dan kejang beberapa saat sebelum kaku tak bergerak.
“Kerja bagus. Syukurlah kau selamat.” Alif mendekati gadis pesisir itu untuk memastikan rakyatnya baik-baik saja, lalu mereka berdua melepaskan gembok besi yang dipasang sebagai kerangkeng.
“Di mana para lelaki?” tanya Alif pada gadis pesisir di depannya.
“Sudah mati, Bang, sisa yang tua saja, itu pun kami tak tahu ada di mana,” jawab gadis yang tak Alif ketahui namanya.
“Sudah cukup. Tunggulah di sini sampai aku pastikan semuanya baik-baik saja. Tidak perlu ke luar. Ini menjadi urusan kami para lelaki. Jaga saja semua yang di dalam sini dengan baik. Mengerti?” Alif menyentuh kepala gadis yang usianya jauh di bawahnya. Ia salut dengan gigihnya perlawanan tadi. Terbukti rakyat pesisir tidak pernah takut dengan peperangan.
Alif ke luar dari rumah itu. Ia turut membantu para hulubalang yang tersisa melawan para penjajah yang terus berdatangan. Lengan bagian atasnya terluka, sebab terkena pisau dari pihak lawan. Mereka telah sangat kelelahan, hingga tak sedikit yang tersudut.
Dari sisi kiri beberapa hulubalang tubuhnya berlubang terkena bedil. Dari sisi kanan pun tak kalah mereka dilukai dengan tangan dari ras yang sama. Tentara pribumi pengkhianat kejamnya melebihi serdadu Belanda asli.
Terdesak. Tak ada cara lain untuk selamat. Maju mati, mundur pun mati. Maka mati sebagai syuhada tak akan memalukan di hadapan manusia terutama Rabb pemilik alam. Alif memejamkan mata, kemudian mengucapkan takbir. Maju menyerang lawannya satu per satu dengan berani.