Adrian dan Mantili menikmati malam dari balik selimut tebal di dalam benteng tinggi itu. Mereka sama-sama tak peduli suara-suara berisik yang keluar hingga terdengar oleh para serdadu, asalkan puas. Setelahnya dua tubuh itu tergeletak tak berdaya ketika telah mencapai puncak perjalanan. Tak bisa lelaki bengis itu pungkiri bahwa kemampuan gadis yang usianya jauh di bawahnya amat luar biasa, ia saja hampir kewalahan.
Usai mereguk madu tersebut, Adrian bangkit dan meminum segelas wisky mahal asal negaranya. Ia memejam sebab sensasi rasa yang sedemikian kuat langsung menyerang kepalanya. Adrian mengetatkan baju tidurnya. Ia berjalan menuju ruang kerjanya, melihat kembali susunan rencana dalam menggempur Kerajaan Pesisir. Misi puncak mereka adalah memurtadkan penduduk yang sudah tak berdaya.
“Akan kupastikan kerajaan kalian hancur. Dulu kakekku sebelum mati telah membuatku berjanji untuk meneruskan cita-citanya. Kini perlahan demi perlahan akan kuwujudkan hal itu,” gumamnya sendirian sembari memandang peta wilayah yang digelar di atas mejanya.
Lelaki bengis itu kembali ke kamarnya. Ia sedikit terperanjat ketika melihat Mantili tak lagi ada di ranjang itu. Dan yang lebih membuatnya emosi ketika emasnya di dekat rak baju hilang begitu saja. Adrian ke luar kamar, menanyakan pada bawahannya, perihal kepergian Mantili. Namun, tak ada satu pun yang melihatnya.
“Wanita licik. Tapi tak apa, pergerakanmu begitu senyap sampai-sampai bawahanku tak tahu. Kau bisa kuandalkan dalam membunuh semua lawanku. Kau juga boleh datang lagi kalau merindukanku.” Ketika ingin kembali ke kamarnya, sebuah anak panah menancap di pintu Adrian, ada sebuah pesan yang tertulis dalam selembar kain yang diikat.
“Setelah misi laut itu tuntas. Aku akan kembali ke kamarmu. Aku mau mengulangi malam liar denganmu lagi, siapkan emas karena tubuhku tak gratis untukmu.” Pesan yang diberikan Mantili pada Adrian.
“Hah. p*****r rupanya. Kupikir hanya penghamba kenikmatan. Datanglah setelah kau berhasil. Akan kubayar dengan harga lebih mahal lagi jika kau bisa membuatku kewalahan dan menyerah terlebih dahulu.”
***
Di dalam markas perkumpulan gagak hitam, mereka memanggil ahli nujum untuk meramal cuaca. Bertujuan untuk penyergapan besar-besaran yang akan mereka lakukan pada armada maritim Kerajaan Pesisir. Seorang wanita tua, dengan punggung bongkok jari-jemarinya bergerak menari di atas asap kemenyan. Sesekali ia meludah ke kiri ketika mulutnya komat-kamit seperti berbicara dengan setan peliharaannya.
“Mana bayaranku?” Tangan berkuku hitam itu menadah di hadapan Mantili. Gadis penggoda itu melemparkan sebanyak dua keping, hasil menjarah di kamar Adrian.
“Kurang,” sahut sang dukun.
“Cih. Dasar perhitungan!” Mantili melempar satu keping lagi.
“Hmm, bau laki-laki. Kau pasti habis melacur, bukan?”
“Tutup mulutmu atau kupotong lidahmu itu. Jalankan saja tugasmu!”
“Tiga hari lagi, badai akan datang menghantam kapal-kapal Kerajaan Pesisir. Tak terlalu besar tapi cukup membuat penghuni kapal kelimpungan. Atau kau perlu bantuanku membuat kapal itu gaduh lagi, seperti saat kau menghanguskan perkampungan lain?” tanya dukun itu.
“Lakukan, selama mempermudah jalanku,” jawab Mantili.
Beberapa waktu lamanya sang dukun komat-kamit lagi membaca mantra. Lalu ia menyemburkan air ke dalam gentong yang sedari tadi bergerak-gerak sendiri. Benda dari tanah liat itu pecah, lalu keluar seekor ular seukuran tangan lelaki dewasa. Binatang itu menggeliat tetapi tak menyerang. Ia tunduk pada perintah sang dukun.
“Lepaskan binatang ini di geladak kapal. Ini ular setan, walau dia tak bisa membunuh setidaknya cukup membuat keributan dan saat itulah kalian bisa beraksi. Racunnya cukup kuat untuk membunuh tiga lelaki dewasa sekaligus.” Sang dukun memasukkan ular itu ke dalam kain hitam dan menyerahkannya pada Mantili.
“Kerja bagus.” Mantili pergi setelah menambahkan sekeping emas lagi di meja persembahan itu. Ia masih memiki banyak persediaan dari hasil mencuri di kamar Adrian. Rupa yang cantik itu tak pernah dibarengi dengan baiknya akhlak. Mantili, iblis yang bersembunyi di balik raga halus seorang wanita. Sekali ia menebar rayuan, sulit lelaki berpaling darinya, kecuali yang masih memiliki iman di dalam dadanya.
***
Sudah hampir dua hari Alif berkuda bersama tiga punggawa setianya. Lalu tak lama kemudian, puluhan hulubalang lain menyusulnya. Mereka utusan dari Permaisuri Syafitri yang khawatir dengan keselamatan putra semata wayangnya.
“Apa ketika kita sampai, desa itu masih baik-baik saja?” Alif meragukan keputusannya sendiri, lagi.
“Tidak ada yang tahu, Tuanku. Kita manusia hanya bisa berusaha saja.” Ridwan meyakinkan keputusan tuannya. Sebenarnya lelaki itu berat juga meninggalkan istana, sebab istri dan anaknya juga tak ada yang menjaga. Namun, demi panggilan nurani ia pun pergi, setelah menitipkan keluarganya pada penduduk sekitar.
“Kalau kita sampai terlambat. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri,” gumam Alif perlahan tetapi tetap terdengar di telinga Ridwan.
“Serahkan semua pada Allah, Pangeran. Terkadang takdir sudah tak bisa kita elakkan lagi. Peperangan yang berlangsung hampir 300 tahun ini telah banyak memakan korban jiwa. Saudara-saudara kita yang wafat, Insya Allah syahid jika mereka masih memiliki iman.”
Rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan, mereka mengentak kudanya lebih kencang ketika melihat kepulan asap dari balik pepohonan. Firasat Alif semakin tak keruan. Ia takut desa itu telah dibumi hanguskan oleh Belanda.
Benar saja, mereka memelankan laju kuda ketika terlihat bendera tiga warna itu telah menancap di tiang bambu dan berkibar dengan angkuhnya. Alif turun dari kudanya dan diikuti oleh hulubalang yang lain. Tak ada tanda-tanda pergerakan, semuanya begitu senyap seperti heningnya air danau.
Beberapa punggawa lain berpencar memeriksa wilayah itu. Mereka telah siap dengan senjata masing-masing. Baik panah, pedang atau tombak. Hanya Ridwan dan Alif yang bersenjatakan bedil hasil rampasan dari Belanda.
“Tuanku, jangan jauh-jauh dari hamba. Takutnya ini hanya perangkap.” Naluri Ridwan sebagai penjaga terbaik bekerja dengan cepat, sebab terlalu aneh rasanya sebuah wilayah yang baru dikuasai ditinggal begitu saja.
Alif menangkap sebuah pergerakan ketika dahan pohon di hadapannya mulai bergerak. Ia berlari dengan cepat ke arah sana. Pangeran Pesisir itu melihat sebuah selendang merah yang bergerak dengan sigap bahkan menutup matanya.
“Jangan bermain-main kau denganku!” Alif merobek kain itu. Tak ia jumpai Ridwan dan punggawa lainnya. Ke mana perginya semua orang. Bukankah mereka harusnya menjaga tuannya?
“Akhirnya kita bertemu juga, Pangeran,” ucap sebuah suara merdu dan melenakan. Gegas Alif mengucap istighfar berkali-kali, takut jatuh dalam rayuan yang sudah pasti pemilik suara itu seorang wanita.
Alif memalingkan wajah, wanita di depannya sengaja memakai baju dengan belahan d**a rendah dan kain tipis. Memamerkan seluruh lekuk tubuhnya yang molek.
“Aku tak mengenalmu. Apakah kau penduduk di sini. Kalau iya, ke mana perginya semua orang?” Alif membaca ayat qursi berkali-kali diulang dalam hatinya. Ia takut sendiri dengan wanita itu.
“Aku bukan penduduk sini. Hanya saja, aku diutus untuk membunuhmu. Sekarang saksikan sendiri kematianmu.” Wanita itu melompat dan langsung menendang punggung Alif. Pangeran itu terjatuh dan tubuhnya menghantam bumi. Belum sempat ia bangkit, rambutnya ditarik dengan sangat kuat, kemudian ia diseret ke arah pohon besar. Kepala Alif nyaris dihantam oleh wanita itu.
“Aku tak mengenalmu, mengapa kau ingin membunuhku?” Alif sempat menghalau tangan itu, kemudian bangkit dan mencabut pedangnya.
“Aku, Widuri. Pembunuh dengan bayaran darah dan perak.” Wanita itu mencabut pedangnya, ingin menembus perut Alif. Namun, sang pangeran menangkisnya dan berhasil memukul mundur pergerakan Widuri.
Perlahan-lahan, pemandangan di sekitar Alif berubah menjadi padang pasir gersang, lalu lautan darah dan sungai lumpur. Pangeran itu sedang di hadapkan oleh ilusi yang dikirim oleh seseorang padanya. Ilusi yang jika tidak mampu bertahan maka mampu merenggut nyawanya sendiri, sebab kiriman itu juga bertujuan untuk mencabut nyawa Alif.
Terdengar suara jeritan yang menyayat hati pangeran pesisir itu. Ia bagai dihadapkan dengan mimpi buruk yang kerap kali datang dalam tidurnya. Di sana tergeletak mayat bunda, ayah, orang-orang dalam istana serta Putri Naqi yang bersimbah darah. Lalu tubuh-tubuh itu diseret begitu saja dan dibuat berbentuk gunungan, dan dibakar sampai hangus. Tak tahan dengan pemandangan itu Alif menjerit sekuat tenaga. Perih, hatinya tak kuasa menahan derita itu. Ilusi itu kian kuat merasuk dalam jiwanya.
“Matilah kau!” Widuri menaikkan pedangnya. Sedikit lagi akan menghujam kepala Alif. Pangeran itu sudah terduduk lemas seperti tak merelakan kematian orang-orang tercintanya.
Dor!
Letusan peluru mengentakkan kesadaran Alif. Widuri jatuh seketika begitu saja. Kemudian tubuhnya menghilang tanpa jejak. Semua ilusi itu telah sirna. Para punggawa pun mulai terlihat di mata Alif.
“Tuanku, apakau engkau baik-baik saja?” Ridwan memapah tubuh Alif yang sedikit lemas.
“Tak apa. Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kurasa ada yang mempermainkan kita dari tadi. Tempat ini hanya tanah kosong saja. Bendera Belanda itu hanya pengalihan agar perjalanan kita kian lambat. Hamba mencurigai ada orang dalam yang mengetahui pergerakan kita lalu berkhianat.”
“Itu kita cari tahu nanti. Huh, kepalaku pusing, tadi itu seolah-olah nyata.”
“Mungkin perbuatan dukun.”
“Kita lanjutkan perjalanan. Peristiwa tadi sudah membuang waktu kita sangat banyak.” Alif melompat ke kudanya lagi dan begitu pula punggawanya yang lain. Mereka terus bergerak sampai larut malam dan hanya istirahat untuk shalat dan makan saja. Ketika desa yang dituju benar-benar telah di depan mata, pemandangan serupa pun dijumpai lagi. Sebuah bendera Belanda terpancang dengan tegak dan angkuh. Alif mengambil pedangnya, menebas batang bambu dan merobek kain tiga warna itu sampai tak berbentuk.
“Menyebar. Cari tahu apa yang terjadi!” perintah Alif. Ia pun turut bergerak mengawasi sunyinya malam di desa itu.
Bau hangus tercium di hidung Alif. Ia melihat sendiri tiga tentara Belanda sedang asyik tertawa, membakar ikan serta meminum bir dan tertawa menjijikkan. Ridwan lantas menghampiri tuannya.
“Bunuh dan rampas bedilnya,” ujar Alif perlahan. Dua pendekar itu kemudian bergerak dengan sangat senyap, mengendap-endap dan pada saat yang tepat, Alif dengan sigap memegang salah satu kepala serdadu Belanda lalu memutarnya hingga urat napas itu putus. Dua lainnya terkejut, mereka menoleh ke belakang. Namun terlebih dahulu Ridwan menghunus perut itu dengan belatinya. Hanya tinggal salah satunya. Ia gamang menyiapkan senapan, sebab sedang mabuk, kemudian ia berlari dan akhirnya mati juga ketika pedang Alif dilempar dan menancap di punggungnya.
“Neraka jahanamlah tempat kalian!” umpat Alif dengan lantangnya.
Botol-botol minuman tersebut dipecahkan agar tak ada yang meminum minuman haram itu. Beberapa saat kemudian para punggawa berkumpul di tempat Alif berdiri. Mereka melaporkan kejadian buruk yang baru saja mereka lihat.
“Marsose telah menguasai tempat ini. Ada banyak rumah yang hangus. Di beberapa tempat para serdadu pengkhianat dari kaum pribumi berjaga-jaga. Surau telah dibakar terlebih dahulu,” ucap salah satu hulubalang itu.
“Lalu orang-orangnya?” Alif memandang dengan tajam pada orang yang memberinya kabar.
“Banyak yang tewas dan mayatnya digeletakkan begitu saja, tak peduli pria, wanita atau anak-anak sekalipun.”
Mendengar kabar itu, Pangeran Pesisir tersebut memejamkan matanya. Ia terlambat, bahkan sangat lambat dalam bergerak.
“Apa semuanya tewas?”
“Ada satu tempat yang dijaga beberapa marsose, Pangeran. Kurasa di sana mungkin ditempatkan orang-orang yang masih hidup tapi tidak bisa lagi melawan.”
“Baiklah. Tugas kita kali ini menyelamatkan mereka. Membunuh tentara Belanda, lalu mengubur tubuh-tubuh saudara seiman kita sesuai syariat. Memang kita kalah jumlah, tapi kita harus atur siasat agar tak kalah untuk yang kedua kalinya.” Alif menarik napas panjang, untuk pertama kalinya ia akan memimpin peperangan, yang walaupun kecil tetapi tak bisa dianggap sepele. Nyawa orang-orang tak berdosa menjadi taruhannya.
“Siapkan semua senjata kalian. Tebang pohon lalu tajamkan menjadi tombak. Rampas bedil yang bisa dicuri tanpa menimbulkan keributan. Setelahnya kita bergerak. Cepat, ba’da Shubuh kita berkumpul lagi di sini.” Ridwan membagi tugas para hulubalang. Sementara Alif memandang pada langit yang purnamanya mulai habis berganti menjadi tsabit. Perang pertamanya, ia harus menang, agar tak dipadang rendah oleh bangsawan lainnya. Juga ia mengingat pesan kedua orang tuanya untuk berusaha tetap hidup.