Pangeran yang terbuang itu tertidur selama beberapa waktu. Kemudian sebuah ledakan meriam membuatnya terpaksa sadar. Bergegas pemuda pesisir itu berdiri dan mencari di mana keberadaan musuh. Suara itu membuat detak jantung Alif berpacu lebih cepat. Ia teringat dengan kejadian beberapa waktu silam saat kerajaannya runtuh.
Ingin rasanya Alif langsung melompat dan menebas musuh yang berhamburan dan menginjak sawah-sawah yang sebentar lagi panen. Namun, letusan peluru yang terus menyasar pagar-pagar itu membuatnya sulit bergerak. Kemudian, ia merayap melewati tanah-tanah basah itu, mencari celah untuk menyerang, sampai hitam wajah Alif terkena tanah.
Alif menarik paksa kaki salah seorang marsose yang berdiri di dekatnya. Serdadu itu terjatuh, dengan cepat Alif memutus jalan pernapasan. Ia memutar leher pribumi pengkhianat itu hingga bunyi patahan tulangnya terdengar sangat memuaskan.
Senapan laras panjang dengan beberapa buah bedil diraih Alif. Ia pun merunduk mencari tempat yang baik untuk melepaskan timah panas. Namun, tangannya bergetar hebat. Ia tetap mengabaikannya lalu melesatkan peluruh itu. Hingga menyasar beberapa musuh yang menyerang dengan beringas.
Sayangnya, kemampuan Alif menembak tak sebaik Ridwan. Beberapa kali pelurunya hanya mengenai tanah, bebatuan dan pepohonan saja. Sampai ia tak memiliki senjata apa-apa lagi. Alif harus keluar, bergabung dengan pejuang lain yang mulai berguguran.
“Regu penembak, bersiap!” Lantang terdengar suara seseorang memberi perintah.
Sepuluh orang serdadu Belanda bersiap dengan bedilnya. Alif sadar, mereka menyasar tempat persembunyiannya.
“Mungkin ini saatnya aku mati. Setidaknya aku telah berusaha.” Kemudian Pangeran Pesisir itu mengucapkan dua kalimat syahadat.
“Tembak!” Satu perintah yang begitu pasti membuat beberapa peluru lepas ke tempat Alif bersembunyi. Pemuda itu hanya melindungi kepala dengan dua tangannya. Tak mungkin untuk lari sebab hujan timah panas masih terus datang. Lalu pohon di sekitarnya, juga pagar yang dibuat dari kayu-kayu berukuran besar berjatuhan. Salah satunya menimpa kaki ALif. Selanjutnya Alif tak lagi mampu bergerak. Ia merasa sakit yang luar biasa. Bisa pemuda itu rasakan tarikan pada bagian kakinya. Mungkin malaikat pencabut nyawa telah mulai menjalankan pekerjaannya. Lalu, semuanya gelap.
***
Alif membuka matanya, semuanya terasa sangat sunyi. Ia merasa seperti di alam kubur. Hanya menunggu kedatangan malaikat Munkar dan Nankir.
“Kenapa tidak ada yang datang, ya? Apa aku benar-benar sudah mati?” gumam Alif asal. Ia mencoba menggerakkan kakinya. Masih bisa walau terasa sakit.
“Berarti aku belum mati. Siapa yang menolongku?” Pemuda itu mencoba untuk duduk walau nyeri luar biasa di beberapa bagian tubuh. Ia memindai sekeliling. Sadarlah Alif ia berada di sebuah tenda tanpa penerangan. Dengan kaki pincang, Alif membuka tutup tenda itu. Semuanya gelap, tak ada api unggun. Hanya mengandalkan sinar rembulan saja.
“Sudah sadar, Bang?” Seseorang menepuk bahu Alif. Suara yang amat sangat ia kenali.
“Bang Ridwan. Apa yang kau lakukan di sini? Jangan bilang kalau ....” Alif tak ingin prasangkanya benar.
“Iya, kami menyusulmu. Aku sudah menjadi pengawalmu sejak masih kecil. Jadi jejakmu sangat mudah ditelusuri.” Ridwan menyodorkan bambu berisikan air bersih pada Alif.
“Kami? Siapa saja?” Heran Alif mendengar pengakuan punggawanya.
“Malik, Ibrahim dan sebagian pemuda lain yang turut mengikutimu.”
“Kau!” Amarah timbul di hati Alif, “Bagaimana mungkin kalian meninggalkan warga begitu saja. Mereka butuh perlindungan.” Jika tak mengingat kalau Alif sudah menjadi orang biasa. Bisa ia hempaskan bambu itu di muka Ridwan sebagai hukuman karena telah membangkang.
“Masih banyak yang tinggal untuk berjaga-jaga. Jadi semua langkah telah kami perhitungkan. Ditambah sehari sejak engkau pergi, beberapa orang lelaki dewasa juga datang dari tempat lain.” Ridwan menjelaskan sebelum Alif bertambah kecewa dengannya.
“Ya sudah, terserah kalian saja. Kupikir dua bujangan itu akan menikah setelah aku pergi. Nyatanya mereka meniru langkahku.”
Alif duduk di atas batu. Ia butuh udara segar untuk meluruskan pikirannya yang semrawut bak benang kusut.
“Apa yang terjadi dengan penduduk desa. Apa mereka selamat, atau kalah juga?” Alif menggosok dua tangannya. Dingin, ditambah tidak adanya api unggun. Agar Belanda tak mudah mengetahui tempat persembunyian mereka.
“Sudah jatuh ke tangan Belanda. Penduduk yang tersisa dipaksa menurut dan menyerahkan semua hasil panen.”
“Lalu, Rahmat dan putrinya?”
“Aku tak mengenal mereka. Lagipula tidak semua hal bisa kita selesaikan. Tangan kita terlalu pendek untuk menyelamatkan semuanya.”
“Tapi lari dari peperangan juga merupakan hal yang memalukan dan sangat pengecut, Bang Ridwan.”
“Kita bukan lari, kita hanya mengatur rencana yang lebih baik. Bukankah katamu sangat ingin ke Bukit Gayo. Kenapa kita tidak ke sana saja. Kudengar kabar yang beredar tempat itu mulai dijajah Belanda.”
“Bukan mulai lagi. Menurut Rahmat bahkan telah hancur luluh lantak!”
“Aku yakin tidak semua. Sehebat apa Belanda sampai sanggup meruntuhkan bukit-bukit itu. Kalaulah benar runtuh, berarti kiamat sudah di depan mata. Hanya Allah saja yang sanggup menenggelamkan paku-paku bumi yang amat kuat tertancap ke dalam tanah itu.”
“Benar juga. Tapi kita tetap harus waspada. Sekarang saja kita sembunyi-sembunyi dari Belanda. Dan ada baiknya kita tetap bersembunyi. Pergerakan kita secara bergerilya. Bukan terang-terangan menantang mereka yang jelas dipersenjatai dengan sangat modern.”
“Modern?” Ridwan tak tahu apa maksud kata itu.
“Artinya jauh lebih baik dari persenjataan kita. Aku sedikit mempelajari bahasa Inggris dan Belanda. Jelas kita tertinggal jauh dari segala hal oleh mereka.”
Sejak dua orang sahabat itu terus berbincang-bincang membicarakan rencana mereka. Malik dan Ibrahim datang dengan mendorong gerobak dan sebuah lembu yang amat gemuk. Di dalam gerobak itu berisi kebutuhan yang diperlukan selama gerilya berlangsung.
“Jangan katakan lembu ini untuk kita sembelih dan makan dagingnya. Tak cukup waktu untuk mengolahnya,” ujar Alif. Ia tak akan menyetujui jika memang itu rencana dua punggawanya.
“Bukan, Bang. Tapi lembu ini untuk menarik beras-beras yang berhasil kami curi dari gudang yang dijaga Belanda. Lumayan, cukup untuk persediaan makan kita selama berjalan. Kita juga butuh bahan pokok meski tak punya emas untuk membelinya,” jawab Malik.
“Memang seberapa banyak rombongan kita? Kupikir tak sampai belasan.” Alif mengerutkan keningnya. Ia semakin ragu dengan rencana lamanya.
“Memang bukan belasan. Tapi puluhan. Abang lihat saja, itu, sebagian dari mereka datang. Tempat mereka sudah terbakar. Tunduk dengan Belanda pun tak sudi.” Ibrahim menimpali perkataan temannya.
“Sudah kuduga. Rencanaku untuk menyendiri gagal sudah. Hmm, kalau laki-lakinya semua di sini. Lalu bagaimana dengan perempuan dan anak-anak? Apa mereka sudah diamankan.”
“Sudah, Bang, jangan khawatir. Mereka sudah aman bersama dengan Rabb kita. Tak akan terluka dan kesakitan lagi.” Ridwan mengatakan berdasarkan apa yang ia lihat sepanjang perjalanan.
“Entah mengapa mereka selalu menyasar yang lemah terlebih dahulu. Cuih. Pengecut.” Alif meludah ke kiri sebagai bentuk penghinaan pada Belanda.
Malam terus bergulir meski jumlah pemuda yang ingin bergerilya terus berdatangan. Alif yang masih terluka memilih untuk beristirahat. Selama tiga hari mereka sembunyi di satu tempat. Hingga ketika luka Alif sudah mulai membaik, rencana perjalanan pun disusun kembali.
Satu buah gerobak ditarik oleh lembu yang berisikan bahan makanan. Senjata hasil rampasan dari Belanda dibagi rata. Mana yang mahir menembak diberikan. Ridwan salah satunya. Alif lebih memilih menggunakan pedangnya. Andai ada senapan laras pendek tentu ia juga akan memegangnya.
“Pimpinlah perjalanan, Bang. Jangan mengelak lagi. Ini sudah takdirmu.” Ridwan menepuk pundak Alif, meyakinkan tuannya yang kerap kali meragu.
“Bismillahhirrahmanirrahim.” Alif melangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu. Ridwan berada di sampingnya. Malik dan Ibrahim mendorong gerobak ketika benda itu tersangkut di batu. Rombongan gerilyawan itu lebih memilih jalan yang masih lebat hutannya. Mereka menghindari konflik terang-terangan dengan Belanda. Namun, tak ragu untuk membunuh ketika musuh terlihat di depan mata.
Begitu terus selama beberapa hari lamanya. Hingga mereka menjejakkan kaki di negeri seribu bukit. Tempat yang rasanya dalam mimpi tak akan mereka datangi jika hidup aman damai sentosa. Bukit Gayo. Perjuangan mereka yang lebih keras lagi dimulai.