Rombongan gerilyawan itu berteduh ketika hujan turun dengan lebatnya. Jumlah mereka sudah mulai berkurang sejak beberapa minggu yang lalu. Satu demi satu mati karena melawan penjajah. Beruntung saja lembu untuk menarik bekal masih selamat. Satu anugrah yang harus disyukuri.
Rambut Alif juga terlihat mulai memanjang. Ia tak berencana untuk memotongnya. Sudah tak berminat untuk tampil rapi di depan siapa pun. Juga tak ada gadis yang sedang ia incar. Cambangnya juga ia biarkan tumbuh berserakan. Namun, ia justru terlihat semakin matang, ditempa oleh keadaan.
“Dingin sekali dari tadi hujan turun tak berhenti juga,” keluh Malik. Sekujur tubuhnya telah basah begitu juga yang lain.
“Sabar saja. Tak boleh mengumpat dengan hujan. Barangkali di depan sana ada musuh berbahaya karena itulah kita diminta beristirahat terlebih dahulu.” Alif memeras bajunya yang mulai berat menampung air.
Ridwan menoleh ke arah lembu itu duduk. Terlihat binatang tersebut tiba-tiba saja menoleh, dan ketakutan. Empat kakinya bahkan berusaha untuk berlari, hanya saja jatuh berkali-kali dan menimbulkan suara yang amat menyakitkan.
“Kenapa, apa ada musuh?” Gegas Alif menyiagakan pedangnya.
Naluri binatang itu tajam. Lebih peka dengan peristiwa alam. Bukan kehadiran orang lain. Beberapa dari gerilyawan itu langsung berdiri ketika merasakan tanah sekitar mereka bergetar.
Ibrahim berusaha menolong lembu tersebut. Namun, baru beberapa langkah ia mendekat. Binatang itu telah bersuara lantang. Ridwan langsung menarik tangan temannya, lalu tak beberapa lama kemudian. Lembu itu terjatuh seiring dengan tanah di tepi tebing yang terus melunak.
“Astaghfirullah. Ini bencana. Selamatkan diri masing-masing.” Perintah Alif. Mereka kemudian berhamburan. Sayangnya tanah tersebut terus merosot ke bawah akibat diguyur hujan dari pagi. Alif dan tiga punggawanya belum pernah melihat kejadian seperti itu sebab tinggal di wilayah pesisir.
Tangan sang pangeran langsung menggenggam rumput atau apa saja. Ia memanjat tebing untuk naik ke bagian yang lebih tinggi. Begitu juga dengan gerilyawan lainnya. Salah seorang yang mencoba menyelamatkan diri, kakinya terlepeset, tangannya terlepas dari tautan hingga terus terjauh dan ditelan tanah yang makin mengamuk.
“Bang, ayo cepat. Ini bukan hal yang bisa kita atasi.” Ridwan mengingatkan Alif yang terus menatap korban yang mulai berjatuhan.
Langkah demi langkah mereka terus berusaha untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Empat orang pemuda pesisir itu telah sampai di atas. Mereka menolong yang tersisa, lalu sama-sama berlari menyelamatkan diri. Hujan yang tak berhenti turun menyebabkan tanah licin dan beberapa di antara mereka jatuh lagi dan ditelan gulungan tanah.
Ibrahim melirik ke sisi kiri, terdengar suara aliran sungai yang begitu deras, lalu di depannya tanah yang turun terus. Tak ada pilihan lain pula. Punggawa yang setia itu lantas mengajak yang lain untuk menceburkan diri.
“Tapi katanya di sana banyak buaya.” Alif memang takut dengan sungai di Bukit Gayo. Termakan dongeng waktu kecil.
“Kita berburu buaya saja daripada kita diburu tanah longsor. Tak ada waktu lagi. Aku pergi dulu, Pangeran.” Ibrahim melompat ke sungai meski jaraknya sangat jauh dari permukaan. Disusul dengan Malik dan yang lain.
“Ayolah, daripada kita mati.” Ridwan langsung menggenggam tangan Alif dan tak meminta izin, ia langsung membawa tuannya untuk melompat. Sensasi luar biasa Alif rasakan ketika tubuhnya menyentuh air sungai yang amat dingin. Bahkan rasanya lebih menyengat dibandingkan sungai di tempat pengungsian.
Rombongan itu terus hanyut. Sesekali di antara mereka menoleh, melihat tempat yang tadinya dijadikan peristirahatan harus hilang akibat tanah longsor. Beruntung saja ada yang masih bisa diselamatkan meski jumlah mereka terus berkurang.
Rombongan gerilyawan itu berusaha berenang ke tepi sungai. Mereka menarik napas berat tak terhitung entah keberapa kali ketika duduk di batu. Kejadian tadi benar-benar di luar perhitungan. Justru menjadi sebab banyaknya rombongan mereka berkurang dibandingkan saat bertempur dengan Belanda.
“Apa masih ada bedil yang layak pakai?” tanya Alif pada siapa pun.
Tidak ada yang memegang senjata lagi selain pedang atau belati. Kepanikan membuat mereka semua tak sempat memikirkan hal lain. Pemimpin gerilyawan itu hanya mengela napas saja. Berharap saat di jalan menemukan serdadu yang bisa dirampas senjatanya. Peperangan tak hanya butuh tekad yang kuat saja. Melainkan peralatan yang lebih memadai pun bisa menjadi sebab kemenangan. Seperti saat Kerajaan Pesisir runtuh, semua karena meriam Belanda daya ledaknya telah lebih dahsyat dibandingkan dengan milik kerajaan tempat Alif bernaung.
Hujan akhirnya berhenti setelah beberapa saat lamanya. Namun, rombongan gerilyawan itu belum ada yang mau beranjak. Begitu pula dengan Alif. Kakinya sangat letih luar biasa lebih dari biasanya. Berkejar-kejaran dengan kejadian alam yang sangat mematikan. Mereka pun akhirnya memilih melepas penat, usai menunaikan Ashar yang baru saja masuk.
“Tempat ini cukup menyimpan banyak rahasia. Tahu-tahu sudah ketemu sungai. Tahu-tahu sudah ketemu tebing. Bukitnya juga tak terhitung lagi jumlahnya saat kutemui.” Ridwan memijit kakinya sendiri yang kelelahan.
“Ada hikmahnya juga dari peristiwa yang menimpa Kerajaan Pesisir. Kita diberi kesempatan untuk menjelajahi tempat-tempat lain yang ternyata lebih indah.” Alif membuka bajunya. Ia meletakkan di atas batu dan menjemurnya sampai kering. Tak tahan tubuhnya ketika harus mengenakan pakaian basah. Sejak dalam perjalanan panjang tubuhnya semakin kuat dan kekar meski belum seberapa jika dibandingkan lelaki di Bukit Gayo. Mungkin jika Putri Naqi masih hidup, gadis itu akan semakin terpesona dengannya.
Para pemuda yang juga sibuk dengan pikiran masing-masing turut menceburkan diri ke tepi sungai. Mereka mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tak tanggung-tanggung, udang berukuran besar mudah sekali ditemukan.
“Alhamdulilah. Rezeki dari Allah.” Terbelalak mata Malik melihat hasil tangkapan sore hari itu. Meski tak lagi memakan nasi sebab persediaan beras sudah lama habis. Setidaknya rezeki yang ada saat itu jumlahnya lebih dari cukup.
“Rasanya jauh lebih baik ya daripada makanan di pesisir,” gumam Alif ketika ia mengunyah daging udang tersebut.
“Mungkin ini jadi tempat tinggal kita sampai hari akhir nanti,” celetuk Ridwan.
“Lalu anak dan istrimu akan kau tinggalkan?”
“Maksudku sampai kita tewas di tangan Belanda. Jujur saja kita ini sedang menanti undian kematian yang tak lama lagi sampai pada kita, bukan? Banyak dari kita yang dipaksa siap.”
“Aku salah satunya. Aku tak siap dengan semua kejadian yang bertubi-tubi menimpaku. Tapi aku bisa apa. Marah dengan Rabb kita, justru aku takut dia akan lebih murka dan mengadzab kita lebih pedih lagi. Jadi tak ada cara lain, hanya sabar dan sholat yang menjadi penolong bagi kita. Sisanya biar Allah yang menunjukkan jalannya. Suatu hari nanti aku yakin kita akan hidup dengan tenang. Jika pun tidak di dunia ya di akhirat nanti. Insya Allah.” Alif semakin bijaksana selama perjalanan. Luka hatinya sedikit membaik seiring berjalannya waktu.