Cempaka dan Kenanga

1048 Kata
Bukit Gayo, wilayah yang dijuluki negeri seribu bukit oleh para penjajah. Tak sedikit pejuang tangguh yang berasal dari sana. Ketika penyerbuan di wilayah pesisir sedang berlansung. Maka wilayah itu pun demikian adanya. Juga sedang digempur habis-habisan selama setahun penuh. Tak tanggung-tanggung jumlah yang dicatat oleh Gubernur Van Daalen—atasan dari Adrian. Tangannya terus mencatat jumlah-jumlah penduduk yang tewas oleh tangan dinginnya. Sekitar empat ribu orang selama kurun waktu yang amat singkat. Gubernur gendut dan berkumis tebal itu tak peduli. Ia bahkan mengincar wanita dan anak-anak terlebih dahulu. Mereka dijadikan sandera lalu dibunuh tanpa ampun. Bahkan ibu hamil pun tak luput dari kebiadabannya. Kini ia sedang membawa tangkapan yang telah meruntuhkan hatinya yang teramat keji. Seorang gadis pejuang yang seluruh keluarganya telah mati dibantai Belanda. Gadis itu telah beberapa bulan berada dalam kurungan anjing. Ia tak pernah sudi untuk menjadi gundik dari Daalen. Tubuhnya teramat suci untuk para pecundang yang senantiasa berbuat onar. Mata gadis itu terus melihat ke belakang. sungguh ia berharap seseorang menolongnya, tetapi ia juga takut jika yang ia harapkan justru terluka parah dan menjadi sandra juga seperti dirinya. Ia pun mengembuskan napas panjang lagi. Lalu berharap hanya pada Rabbnya saja. Agar dirinya selamat atau lebih baik mati daripada dijadikan penghangat ranjang para b*****h itu. “Kenanga. Baik-baiklah engkau di masa yang akan datang. Jangan mencariku, hiduplah bahagia, bahkan jika mungkin lupakan saja aku,” gumam gadis bernama Cempaka itu. Ketika ia menaikkan dua tangannya untuk berdoa, saat itu juga sepotong roti dilemparkan ke kakinya. Ia diperlakukan bak anjing selama dalam tawanan. Jika tak ingat ia butuh tenaga untuk melakukan perlawanan, sudah ia buang roti tersebut. Wajah gadis itu serasa dilempar kotoran. Terutama ketika ia perhatikan para serdadu yang ternyata juga orang pribumi. Pengkhianat selalu ada dari dalam tubuh sendiri. “Suatu saat nanti, babi dan anjing seperti kalian akan kukirim ke neraka. Sekarang kalian bisa tertawa. Tapi nanti kalian akan menangis memohon ampun padaku.” Cempaka menelan roti itu dengan penuh dendam sekaligus kebencian. Tak akan ia lupakan peristiwa yang menghancurkan seluruh desanya. “Apa kalian sudah meneruskan pesanku pada Adrian. Bawahanku yang paling hebat itu harus segera sampai di rumahku yang baru. Ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan,” tanya Van Daalen pada bawahannya. Dan dijawab ia oleh serdadunya. Dua orang petinggi Belanda itu akan berkumpul, setelah itu mereka akan merancang penyerangan besar lagi untuk meruntuhkan keangkuhan Bukit Gayo. “Nona manis. Apa kau tak ingin menyerah saja padaku. Akan kuberikan pakaian cantik dari negeriku. Kau tahu, bagian bawahnya terkembang dan kau pasti akan terlihat cantik dan lebih pintar. Dibandingkan sekarang, kau terlihat seperti monyet kelaparan.” Van Daalen menghampiri penjara Cempaka dan membelai rambut panjang gadis itu yang kerudungnya telah lepas entah ke mana. “Aku tak mau tidur dengan babi sepertimu, apalagi yang memelihara banyak anjing-anjing kelaparan.” Cempaka menepis tangan Daalen. Ia haramkan lelaki itu untuk menyentuh dirinya. Murka mendengar hinaan gadis itu, Van Daalen menarik rambut panjangnya dan mengantukkan kepala Cempaka berkali-kali di dinding penjara kayu. Darah membasahi lagi pelipis Cempaka. Sudah tak terhitung entah kali keberapa ia diperlakukan seperti itu. “Bunuh saja aku sekalian, b******n!” umpat Cempaka. “Oh, enak sekali bibirmu bilang begitu. Kematian terlalu mudah bagi gadis tangguh sepertimu. Akan kubuat kau mengelak terlebih dahulu ketika kusentuh. Lalu akhirnya menyerah dan ketagihan sendiri. Percayalah sudah banyak kulihat wanita-wanita macam kau yang akhirnya terlena.” “Ini Bukit Gayo, Tuan. Kau tak tahu wanita di sini jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Kau belum saja bertemu adikku, bisa mati berdiri kau ketika tak sadar dalam minumanmu itu diletakkan racun.” Ucapan Cempaka barusan membuat Daalen menyemburkan minuman yang baru saja ia teguk. “Merasa ketakutan? Padahal adikku saja tidak ada di sini. Pengecut, sampah!” umpat Cempaka. “Diam! Kau tunggu saja apa yang akan kulakukan padamu. Adikmu itu, akan kuutus beberapa orang untuk membunuhnya!” Daalen membentuk sebuah regu khusus beranggotakan perwira pangkat menengah dan sepuluh serdadu berpangkat rendah. “Kalian kejar seorang gadis yang mirip dengannya. Tangkap lalu bawa kepalanya ke hadapannya. Biar mati berdiri dia karena telah angkuh menantangku.” “Kau benar-benar b*****h. Penghuni neraka j*****m!” Cempaja mencoba menggoyahkan pintu penjara. Namun, beberapa kali tubuhnya dihantam oleh pangkal senapan hingga ia terjatuh dan tak berdaya lagi. Van Daalen melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukau rintihan kesakitan gadis yang akan ia jadikan gundiknya. *** Di lain tempat, seorang gadis yang wajahnya mirip dengan Cempaka tengah melakukan perjalanan panjang seorang diri. Dengan berat hati ia tinggalkan kampung halamannya yang telah hangus terbakar. Atas petunjuk dari temannya yang hidup dengan sisa napas terakhir. Ia tahu bahwa kakaknya—Cempaka sedang berada dalam tawanan Belanda. Gadis kecil sepertinya seolah-olah sedang menantang angkuhnya Bukit Gayo. Meski telah tinggal di sana dari lahir, Kenanga—nama gadis itu, belum pernah bepergian sampai sejauh itu. Sudah beberapa hari ia berjalan, melewati derasnya aliran sungai, memasuki gua-gua yang amat sunyi dan gelap. Hingga ia memutuskan bermalam seorang diri di sana. Ia yakin kakaknya bisa menyelamatkan diri. Namun, ia pun tak bisa diam begitu saja hanya menunggu tanpa teman di kampung halamannya. Seorang diri gadis itu termenung dalam kesunyian gua. Ia tak seperti gadis lainnya yang sempurna. Kenanga memiliki dua kekurangan besar dalam hidupnya. Dan menjadi penyebab ia tak pernah menaruh harapan pada lelaki mana pun, meski orang tuanya berjanji untuk mencarikan jodoh untuknya usai pernikahan Cempaka digelar. Sayangnya, sebelum pernikahan terjadi, semuanya telah hangus tak bersisa. Dingin di dalam gua Kenanga tahan dengan menghidupkan api unggun. Ia membuka kerudungnya ketika tidak ada seorang pun di sana. Ia hanya merebahkan diri dan memandang langit-langit gua yang terlihat berubah menjadi kristal. Dalam kesendiriaannya Kenanga memikirkan peristiwa beberapa tahun ke belakang. Saat itu desa mereka memang mendengar kabar tentang kejamnya penjajah Belanda. Memang mereka mengira tak akan sampai para serdadu ke sana sebab tempat mereka tinggal amat sulit medannya dilalui. Namun, persiapan terus dilakukan. Salah satunya melatih anak-anak agar siap menghadapi penjajah. Tidak peduli laki-laki atau perempuan. Ia dan Cempaka pun turut ambil bagian. Hanya saja, Kenanga lebih tertarik pada ilmu pengobatan. Meski tak sehebat para dokter dari negeri Belanda, setidaknya ia bisa memanfaatkan hasil alam sekitar, baik sebagai obat atau pun racun. Kenanga sendiri tak menampik kemungkinan menggunakan rumput liar yang diyakini beracun untuk membunuh para serdadu, nantinya. Semua cara boleh dilakukan untuk mengusir para penjajah, apa pun itu, kecuali melacurkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN