Bertemu Gadis Bisu dan Tuli

2076 Kata
Rombongan gerilyawan itu terus berkurang jumlahnya. Jika kemarin karena bencana alam, kini disebabkan penyakit yang tidak mereka ketahui apa obatnya. Awalnya hanya demam ringan saja, kemudian berlanjut pada bintik-bintik merah dan demam tinggi di sekujur tubuh. Lalu demamnya hilang dan esoknya yang sakit tiba-tiba saja tiada. Tidak ada yang tahu harus berbuat apa. Sebab rombongan gerilyawan itu tidak menemui desa sepanjang mereka berjalan. Hanya hutan yang nyamuk luar biasa besar saja. Satu demi satu tiada dan akhirnya dikuburkan di tempat mereka meregang nyawa. “Kebanyakan dari kita mati karena alam. Sungguh hal yang tak pernah kuperhitungkan.” Alif duduk. Ia lelah usai mengubur lagi temannya entah untuk kali keberapa dalam beberapa bulan ini. “Benar, kupikir kita hanya akan mati karena musuh saja. Ternyata alam memiliki caranya sendiri. Siapa sangka nyamuk kecil dan berkaki panjang yang sekali tepuk mati, bisa juga membunuh kita.” Ridwan menghitung jumlah rombongan yang tersisa. Hanya tinggal tujuh orang, empat diantaranya merupakan rombongan asli dari awal mula di pesisir. Nafsu mereka untuk bergerilya seketika turun kadarnya. Mereka hanya duduk di sana, termenung tanpa tahu kapan akan meneruskan perjalanan. Alif merasa tak mampu menjadi pemimpin. Namun, Ridwan menerangkan bahwa hal-hal yang mereka alami selama perjalanan memang bukanlah yang bisa dielakkan. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan berdoa saja. Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini para gerilyawan memasuki sebuah desa. Sepi, sunyi dan terbakar. Bekas pertempuran di mana-mana. Bedil, pedang, tombak berserakan tak tentu arah. Sedangkan tubuh para pejuang tak mereka lihat. “Lihat itu!” tunjuk Malik. Mereka menemukan tanah besar yang baru saja digali dan digemburkan. Seperti dugaan Alif. Mayat para pejuang dan serdadu mungkin dijadikan satu kuburannya. “Carilah, siapa tahu ada yang masih hidup dan senjata yang masih bisa digunakan.” Rombongan itu kemudian berpencar usai mendengar perintah Alif. Bendera tiga warna berkibar dengan angkuhnya. Alif mengintip dua orang serdadu Belanda yang sedang menggali tanah sekitar desa. Mereka tak mengetahui kedatangan para gerilyawan saking asyiknya mencari harta desa atas perintah Van Daalen. Alif menyiagakan belatinya, ia lemparkan tepat di punggung salah satu serdadu. Tubuh itu langsung mengalirkan darah dan tumbang. Lalu salah satunya menyiagakan bedilnya. Mencari siapa yang berani menusuk mereka dari belakang. Keringat dingin mengalir deras. Para serdadu itu suka membunuh orang tapi takut mati. Pengecut. Dari arah lain, Ridwan mengambil tombak yang tertancap di tanah. Tak perlu menunggu lama, ia layangkan tombak itu hingga menancap di perut serdadu yang masih hidup. Mati sudah keduanya. Alif dan Ridwan sama-sama mencari tahu apa yang mereka gali. Kosong, tanah itu tak berisi apa-apa. “Bernafsu memiliki harta dan takhta. Tapi lupa menyelamatkan para wanita. Tak paham aku bagaimana cara mereka berpikir.” Alif menendang tubuh dua marsose itu ke dalam lubang yang mereka gali sendiri. Ridwan pula membantu menutupnya dengan tanah. Sebab jika dibiarkan begitu saja bisa menjadi penyakit bagi yang hidup. Siapa tahu ada warga yang mengungsi dan suatu saat akan kembali. “Kita istirahat di sini saja, Bang. Hari juga hampir malam,” ajak Ridwan pada tuannya. “Boleh juga. Semoga pemiliknya ikhlas rumah mereka kita tempati. Dan semoga ada makanan yang tertinggal di rumah-rumah itu,” sahut Alif. Perut mereka memang belum berisi makanan dari pagi, sulitnya binatang buruan di temui di hutan itu. Entah mengapa pula, mungkin binatang pun diburu juga oleh pihak Belanda. Alif memasuki salah satu rumah yang masih layak pakai meski terbakar di beberapa sisi. Ia membaringkan tubuhnya di dipan yang masih terjaga kebersihannya. Sesaat kemudian ia hampir saja terpejam. Ingat belum shalat Maghrib, ia pun bergegas mencari tempat bersuci. Di bagian belakang rumah yang ia tempati terdapat sumur. Ia ambil tempat penampung air. Kemudian membersihkan sekujur tubuhnya hingga penatnya sedikit hilang. Dari sekian banyak hari mereka bergerilya, baru kali ini Alif bisa mandi dengan leluasa. Kemarin ia takut auratnya dilihat lelaki lain. Rambut pemuda itu semakin panjang. Tak ia potong, hanya ia ikat saja. Begitu juga dengan cambangnya, malas sekali ia rapikan. Alif juga mengganti baju lamanya yang sudah robek dan terkena cipratan darah dengan yang tertinggal di rumah itu. Meski pendek, tak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Setidaknya ia merasakan sedikit kenyamanan. Alif memandang wajahnya sendiri di depan cermin. Ia mengelus pipinya sendiri yang amat kasar. Dulu, ia pernah membayangkan pipi itu akan sering dibelai oleh Putri Naqi. Kini hanya sering dibelai oleh nyamuk hutan. Tertawa geli pemuda itu. Sempat-sempatnya ia memikirkan hal demikian ketika perjalanan kian terasa berat. Namun, wajar saja, siapa pun jika masih ada hati, dan juga nafsu pasti memerlukan pendamping di dunia ini. Bahkan para tuan dari Belanda saja tak pernah puas denga satu gundik. Tak terhitung jumlah wanita yang akhirnya melacurkan diri dengan mereka. Sebab kekuatan lembaran gulden yang sanggup membeli apa pun. “Entah aku berjodoh dengan seorang wanita dulu atau dengan kematian.” Alif mendesah. Usai menunaikah shalat fardhu, kini ia menambahkan doa agar diberikan jodoh jika masih diberikan kesempatan untuk hidup. Rombongan gerilyawan itu tingal di rumah yang terpisah, meski tak terlalu jauh jaraknya. Mereka beristirahat sampai penat di tubuh itu hilang. Cukup lama mereka terlena dibandingkan tempat-tempat yang para gerilyawan itu kunjungi. Rindu dengan rumah menjadi salah satu alasan. Terutama Ridwan yang meninggalkan istri dan anak perempuannya. Dalam keheningan malam mereka terlelap dengan tenang, tak terganggu meski suara jangkrik cukup nyaring berbunyi. Lelah tubuh itu menjadi alasan mereka mendengkur tanpa rasa malu. Redup lampu minyak yang dihidupkan sampai padam pun tidak ada yang sadar. Para pejuang juga manusia biasa yang memerlukan tidurnya sebagai pelepas lelah. Saat Shubuh menjelma. Alif bangun dan merasakan perutnya lapar luar biasa. Ia tunaikan kewajibannya terlebih dahulu, lalu mencari buah-buahan yang masih bisa disantap. Tak hanya sendiri saja tentu ia bagikan pada teman-temannya. Kini wajah para gerilyawan itu sedikit lebih cerah dari haris biasanya. Namun, ada satu hal yang baru saja mereka sadari. Mengapa rombongan itu kini hanya bersisa empat orang saja? Tiga lagi tak kelihatan sedari tadi. Padahal mereka ingat, semuanya memasuki desa itu. “Sudah dicari, Bang, ke mana pun mereka tidak ada. Apa, jangan-jangan diterkam binatang buas?” Ibrahim menerka-nerka. “Pasti terdengar jeritannya kalau memang itu,” sanggah Malik. “Sudahlah, mungkin mereka mencari jalan sendiri yang dirasa lebih baik. Kita tak bisa memaksa siapa pun. Kadang diri sendiri saja ingin berkhianat. Tapi tak ada tempat yang layak.” Ridwan menyeka keringat ketika sinar mentari menyapa wajahnya. Walau bukit itu sejuk, tapi hangat sinar mentari masih terasa. Walau tak seterik di pesisir. “Kita lanjutkan perjalanan. Bismillah saja, semoga Allah meridhoi langkah kita.” Alif berjalan terlebih dahulu. Lalu diikuti oleh para punggawanya. Sepanjang perjalanan kembali terasa sunyi dan sepi. Di jalan-jalan terdapat bekas peperangan besar. Kini, empat pemuda pesisir itu melewati desa-desa yang tak terlalu jauh jaraknya. Semuanya suram seperti di pesisir dulu. “Sehebat apa armada perang mereka sampai sanggup menembus Bukit Gayo ini. Ternyata kabar burung itu bisa jadi tak selalu bohong.” Alif tak berminat untuk memasuki desa yang sudah hancur. Ia takut melihat pemandangan yang memilukan. Lalu rombongan itu hanya melanjutkan perjalanan tanpa arah yang jelas saja. Hari demi hari mereka tempuh tanpa hambatan berarti. Keterlambatan mereka datang ke Bukit Gayo menjadi penyebab. Musuh sudah menang dan desa sudah hancur. Paling hanya satu atau dua serdadu yang ditemui. Itu pun mudah untuk diringkus. “Baiknya kita istirahat dulu, Bang. Malik dan Ibrahim terlihat lelah dari tadi. Mungkin mereka segan denganmu.” Ridwan menepuk bahu Alif yang berjalan lurus saja dari tadi. “Oh, mengapa tak bilang dari tadi. Biarkan mereka meluruskan kaki kalau begitu. Aku akan pergi sebentar mencari binatang buruan. Siapa tahu ada yang bisa ditemukan.” Alif pergi sedikit jauh, ia melihat sekeliling, terdapat banyak jambu yang mulai matang. Ia pun petik satu demi satu hingga kantong bekalnya penuh. Tak hanya itu saja, ia melihat beberapa biji kopi yang mulai ranum. Sayangnya pemuda itu tak tahu cara mengolahnya. Bunyi berisik di semak belukar menarik perhatian Alif. Ia menuju ke arah sana. Alif melihat seekor kelinci bertubuh gemuk. Gegas pemuda itu mengejarnya. Namun, binatang berbulu dan menggemaskan itu lari dengan cepat. Tanpa perhitungan terlebih dahulu, pangeran pesisir itu terus melaju hingga tak terasa lengan sebelah kirinya terkena goresan duri tanaman beracun. Tak alif hiraukan luka itu, ia kembali dan membagi bekalnya untuk teman-temannya. Awal mulanya hanya terasa panas saja, lalu lambat laun menjadi gatal luar biasa. Digaruk terus hingga kulit itu mulai lecet. Alif hanya merobek kain bajunya, dan ia ikat asal-asalan luka yang terus menghitam itu. Racun tersebut sedikit demi sedikit mulai memasuki aliran darahnya. Tanpa ingin mencari tahu apa obatnya. Rombongan pemuda pesisir itu terus berjalan tanpa arah lagi. Mereka menaiki bukit yang sedikit lebih tinggi. Di sana pula terdapat tempat yang layak untuk berteduh. Luka Alif, jangan ditanya lagi semakin menjadi gatalnya. “Aku takut lukamu semakin parah, Bang. Lihat saja tanganmu selalu saja ingin menggaruknya, dan warna kulitmu hitam hangus begitu bahkan sampai ke atas.” Ridwan mengkhawatirkan keadaan tuannya. “Memang. Tapi salah satu di antara kita tidak ada yang paham pengobatan, sepanjang jalan juga tidak ada desa yang berpenghuni. Mau bagaimana lagi, terima saja bagaimana takdir berpihak padaku.” Alif sekuat tenaga menahan godaan tangannya. Ia ingin menggaruk dengan sangat kuat hingga kulitnya mengelupas. Tak hanya itu saja, tubuhnya perlahan-lahan mulai meriang. Tak jelas antara panas dan dingin ia rasakan. ‘Mungkin ini menjadi musabab kematianku,’ ucap Alif dalam hati. “Atau kita ambil saja sembarang daun, lalu tumbuk dan balurkan di lukamu, bagaimana, Bang?” Malik asal bicara. “Kalau tambah parah, kau mau tanggung jawab?” tanya Alif padanya. Punggawanya itu hanya menggeleng saja. “Sudahlah, jangan khawatirkan aku. Ini hanya satu ujian dari ujian lainnya,” balas Alif lagi. Memasuki waktu Dzuhur mereka pun menunaikan shalat berjamaah. Tiba giliran Alif pula sebagai imam. Ia sedikit tak memusatkan pikiran pada ibadahnya. Lukanya kian nyeri dan meriangnya semakin menjadi. Ingin menggaruk tapi takut ibadahnya batal. Ia tahan saja sampai sholatnya selesai. Ketika mengucapkan salam ke arah kanan, Alif sedikit melihat penampakan lain. Ia lanjut salam ke kiri, dan penampakan itu tak kunjung hilang. Pemuda itu mencoba abai saja. Alif takut mulai berhalusinasi sebab meriang di tubuhnya. Mereka tetap berdzikir dan berdoa seperti biasanya. Lalu saat semuanya menoleh ke belakang. Ada makmum tambahan yang mengikuti mereka shalat dari tadi. Seorang gadis dengan kerudung cokelat dan berparas cukup manis. Empat pemuda itu saling mendekat satu sama lain. Lama tak melihat wanita membuat mereka merasa aneh, terutama Alif, hatinya sedikit berdesir. Ia sangka semua perempuan di Bukit Gayo telah tewas di bunuh Belanda. Baru saja dalam doanya tadi ia bertanya perilah jodoh dan kematian mana yang akan lebih dahulu ia jumpai. Nyatanya ada seorang gadis di hadapannya. Namun, secepat itu pula Alif menggeleng. Ia tak mau sampai terbawa suasana dan perasaan. Gadis di depannya terlihat sedang merapikan diri. “Tanyalah, Bang. Kau kan ketua?” sikut Malik pada Alif. “Ya, kau saja, apa salahnya. Kalau tidak Bang Ridwan saja,” balas Alif menyikut punggawa setianya. “Aku sudah punya anak istri, Bang. Takut khilaf, lagi pula ia terlihat seumuran denganmu,” bisik Ridwan pula. Empat gerilyawan pesisir itu yang begitu pemberani melihat musuh langsung ciut nyalinya melihat kehadiran seorang gadis. Tak dipungkiri tiga orang lelaki bujangan itu juga hatinya mulai berdesir. “Ehm. Assalammualaikum, Adik,” ucap Alif dengan penuh keraguan, “sedang apa Adik di sini dan mengapa seorang diri saja? Apa tak takut dengan sendirian?” Alif bingung memilih bahan pembicaraan. Gadis itu tak menjawab. Ia hanya meletakkan ibu jarinya di kening, sebagai pertanda ia menjawab salam. Kemudian gadis yang belum Alif ketahui namanya itu hanya menunjuk dirinya sendiri di bagian bibir, telinga, dan menggerakkan lima jarinya. “Maksudnya apa?” tanya Alif pada yang lain. Tidak ada yang tahu apa yang diisyaratkan oleh gadis itu. Mengapa pula ia tak langsung menjawab saja. Semuanya jadi bingung. Paham jika tak ada yang tahu dengan maksudnya, gadis itu pun mendekat ke arah pemuda tersebut. Ia menunjuk dirinya sendiri, di bagian telinga dan bibir lagi. Pertanda ia tak bisa bicara dan mendengar. Alif hanya manggut-manggut saja walau tak mengerti. Gadis itu terus saja berbicara dengan bahasa isyarat, empat pemuda itu tak ada yang paham dengan maksudnya. Walau demikian mereka segan untuk membantah. Gadis bisu itu mengeluarkan beberapa buah bunga dari kantong bajunya. Terlebih dahulu ia menunjukkan bunga cempaka yang telah mengering. Sebagai isyarat ia mencari kakaknya yang telah lama hilang. Lalu ia mengeluarkan bunga kenanga, menunjuk dirinya sendiri dan menunjuk bunga di tangannya. Gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai Kenanga. Kemudian bunga itu ia berikan begitu saja pada Alif. Tiga pemuda pesisir saling memandang tuannya. Gadis di depan Alif memberikan bunga itu sembari tersenyum lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN