Alif menerima bunga pemberian Kenanga dengan tangan gemetar serta sedikit salah paham. Ia merasa gadis di depannya terlalu berani untuk mengutarakan sebuah rasa. Padahal mereka baru pertama kali berjumpa. Sedangkan tiga pemuda lainnya tersenyum geli melihat raut wajah Alif bak orang bingung.
Kenanga memegang pipinya sendiri lalu menunjuk diri Alif. Sebagai pertanda ia suka memandang raut wajah lelaki itu yang rupawan. Tak mengerti apa yang dikatakan gadis tersebug, sang pangeran hanya tersenyum saja.
“Dia ini bisa bicara, tidak, ya?” gumam Alif pada yang lain.
“Tak tahu. Mungkin tidak, tapi aku juga tak mengerti apa isyaratnya,” jawab Ridwan.
“Apalagi aku, Bang. Bunga ini apa coba maksudnya. Aku jadi salah paham.”
“Terima sajalah, Bang. Anggap saja kau memiliki seseorang yang memujimu.”
Kenanga, gadis bisu dan tuli itu membaca pergerakan bibir dua orang yang sedang berbincang di depannya. Dari sana ia tahu apa yang mereka perbincangkan. Gadis itu melihat salah satu dari mereka memegang perutnya yang berbunyi. Ia tahu semuanya sedang kelaparan. Hawa dingin di bukit memang mudah membuat siapa saja cepat merasa lapar. Kenanga mengajak semuanya untuk makan. Ia membawa bekal yang baru saja selesai ia masak tadi sebelum bergabung dengan Alif.
Gadis bisu itu membuka empat buah bungkusan daun besar. Berisikan keong yang aromanya membuat semuanya semakin menjadi laparnya. Sekali lagi Kenanga memanggil empat pemuda itu. Ia tahu mereka malu. Namun, tak masalah bagi gadis itu untuk membagi bekalnya, sebab di bukit, jika tahu cara mencari makanan maka tidak akan ada yang kelaparan.
“Duluanlah, Bang, kau, kan, ketua. Segan aku dengannya.” Ridwan menyenggol bahu Alif.
“Ah, dari tadi, ketua, ketua, terus. Kalian kira aku paham apa maksudnya?” Meski demikian Alif beringsut maju juga. Ia duduk dan segera Kenanga menyodorkan bekal miliknya, yang lain pun menyusul. Jadilah di siang hari itu empat pemuda dari pesisir ketiban rezeki yang sangat membahagiakan. Makanan ketika lapar, serta doa Alif ketika bertanya tentang jodohnya. Mau tak mau sang pangeran jadi kepikiran bunga yang diberikan Kenanga tadi. Kalau di pesisir hal demikian sudah dianggap sebagai tanda kalau seseorang ingin serius pada yang diberi bunga. Sedangkan Kenanga sudah biasa memberi bunga pada orang lain jika ingin memperkenalkan diri.
Satu demi satu keong bakar itu ditelan Alif sembari menahan luka di tangannya. Pikirannya pun jadi berpikir yang bukan-bukan. Memang gadis bisu di depannya amat manis, meski jauh lebih cantik Putri Naqi. Namun, pangeran sendiri ragu sebab gadis yang tengah tersenyum seorang diri itu sepertinya memiliki kekurangan besar. Sedangkan dari kecil Alif sudah diajarkan untuk memilih pendamping yang sempurna.
Sang pangeran menepuk dahinya sendiri, lalu yang lainnya pun melirik. Ia kemudian lanjut makan. Alif teringat dengan perbincangan isengnya dulu saat masih dikawal Ridwan. Punggawa setianya itu mengatakan jika bisa saja suatu hari nanti, Alif akan mencintai seorang gadis yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebab cinta seringkali mematikan akal seseorang terutama laki-laki. Tak terhitung berapa banyak raja-raja yang takluk dalam rayuan maut seorang wanita cantik. Bahkan sampai memicu peperangan besar. Alif mendengkus kesal, andai saat itu ia tak asal bicara.
“Ini gara-gara kau, Bang Ridwan,” gumam Alif perlahan.
“Maksudnya?” Punggawa itu bingung, tak ada angin maupun hujan tuannya langsung menuding dirinya.
“Sudahlah, makan saja. Setelah itu kita pergi. Ucapkan saja terima kasih dengannya.” Alif melipat daun yang telah kosong. Sigap, Kenanga langsung menyodorkan bekal minumnya. Dibungkus dengan kulit binatang yang memang dipergunakan untuk perjalanan jauh.
“Lalu dia kita tinggalkan begitu saja?” tanya Ridwan memastikan perkataan Alif.
“Ya, bukan urusan kita juga.” Alif hanya tak mau rasa dalam dirinya yang terlanjur menerima bunga kenanga itu semakin dalam. Bukan seperti Kenanga jodoh yang ia minta.
Saat semuanya telah selesai makan, dan Kenanga memberikan buah-buahan miliknya. Alif meringis kesakitan. Gadis bisu yang mahir pengobatan itu langsung menangkap perubahan raut wajah lelaki rupawan di depannya. Matanya langsung melihat luka yang asal-asalan dibebat dengan kain, tak bersih pula. Ada bagian kulit yang telah menghitam. Sigap, tabib muda itu langsung berdiri dan menyentuh kulit Alif yang terluka.
“Eh, apa-apaan kau ini, main pegang-pegang saja.” Alif menepis langsung tangan Kenanga. Ia mengira gadis itu akan berbuat tak senonoh padanya. Berdebar luar biasa jantung Alif.
Kenanga menunjuk luka yang dibalut alif. Dengan isyaratnya ia meminta agar kain itu dibuka, ia ingin mencari tahu sejauh mana lukanya. Geram dengan lambatnya pergerakan Alif, gadis itu langsung saja membuka kain tanpa seizin pemiliknya. Muka pangeran andai cambangnya tak ada sudah ketahuan memerah seperti apa.
Kenanga terperanjat, ia melihat luka itu terus menjalar warna hitamnya. Sudah bisa ditebak Alif terkena duri beracun. Sudah pernah gurunya Kenanga dulu mengobati seseorang dengan cara yang cukup menyakitkan. Warna kehitaman itu bahkan mulai merambat naik ke kulit yang lain. Sang pangeran sendiri mulai merasakan meriangnya semakin menjadi.
Gadis bisu berparas manis tersebut mengisyaratkan Alif agar membuka pakaiannya. Ia harus tahu sejauh mana sudah racun itu menjalar. Alif yang tak mengerti hanya diam saja. Begitu juga yang lain, tidak ada satu pun yang paham apa yang diisyaratkan Kenanga.
Bosan menunggu, Kenanga sendiri menarik pakaian Alif, sebab luka itu jika dibiakan akan berbahaya. Namun, sigap pula Alif langsung berdiri dan langsung mendorong Kenanga hingga gadis itu terjatuh. Pemuda pesisir itu salah paham lagi.
“Sabar, Bang. Jangan gampang marah, dia hanya perempuan.” Ridwan mencegah tuannya bertindak lebih jauh.
“Ada perempuan macam ini. Tak tahu diri, main pegang-pegang saja. Takut aku dibuatnya, mau apa dia di tempat seperti ini.” Alif kembali salah tangkap maksud Kenanga.
“Biar aku saja yang bicara dengannya,” ujar Ridwan.
Kenanga berdiri. Ia ingin melihat lagi luka itu, tetapi Ridwan menahannya. Punggawa setia itu mencoba berbicara secara hati-hati dengan gadis di depannya. Gadis bisu itu menunjuk luka Alif, lalu menunjuk lehernya sendiri dengan gerakan dicekik. Pertanda jika dibiarkan pemuda itu bisa mati kehabisan napas. Pelan-pelan Ridwan memahaminya. Sekali lagi Kenanga mengulang gerakan yang sama.
“Kau bisa mengobati luka Abang kami?” tanya Ridwan memecah kebuntuan.
Kenanga menepuk dua tangannya sendiri. Lega, akhirnya ada yang paham dengan maksudnya.
“Adik ini seorang tabib?”
Kenanga mengangguk setelah membaca pergerakan bibir Ridwan.
“Oh, kau salah paham, Bang Alif. Dia bukan ingin berbuat macam-macam denganmu. Tapi ingin menolongmu. Sudah buka saja bajumu. Ada kita di sini. Tak akan ada yang berbuat macam-macam.”
“Ya apa susahnya bicara, coba? Mana aku tahu maksudnya apa.” Penuh kekesalan Alif membuka pakaiannya.
Kenanga menilai Alif sekilas. Bentuk tubuh pemuda itu biasa-biasa saja. Di desanya banyak yang lebih kekar daripada seorang pemuda yang ia nilai angkuh. Secepatnya gadis itu kembali pada tujuannya. Ia melihat sendiri luka kehitaman itu perlahan-lahan terus menjalar sampai ke leher. Pertanda sudah beberapa hari racun itu didiamkan begitu saja.
Kenanga mengambil belati yang ia selipkan di pinggangnya. Ia goreskan di kulit Alif yang menghitam. Pemuda itu meringis dibuatnya.
“Kau ini, kasar sekali, Ya Allah. Bilang dulu kalau mau main pisau,” gerutu Alif sambil memejamkan mata.
Tidak ada yang menetes dari luka sayatan tersebut. Darah yang menghitam itu telah beku. Jika dibiarkan dalam beberapa hari kemudian Alif bisa saja tewas. Kenanga harus melakukan hal yang pertama kali dalam hidupnya. Mengeluarkan racun dengan racun juga, sebab kebekuan itu harus dicairkan oleh sesuatu yang panas. Ia harus menggunakan racun dari ular berbisa.
“Sepertinya gadis ini memang tak bisa berbicara, Bang.” Malik akhirnya buka mulut juga. Ia sedari tadi diam sebab mengagumi paras manis Kenanga. Jika Alif tak ingin dengan gadis itu, ia pun suka rela menyambutnya.
“Sepertinya, iya, kalau tidak untuk apa dia repot-repot sampai berulang kali mengulang maksudnya, bukan?” balas Ibrahim.
Alif memandang Kenanga, ia sedikit ragu dengan kemampuan gadis itu. Pasalnya terlalu muda untuk dipercaya bisa mengobati seseorang. Di pesisir kebanyakan tabib sudah tua dan tak menarik lagi. Kenanga lebih cocok dijadikan pendamping. Alif menggeleng, menepis pikirannya yang mulai beracun.
Gadis bisu itu mengusap dua tangannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa melalui semuanya. Daripada pemuda rupawan di depannya mati tanpa diberi pertolongan.
Kenanga menarik tangan Malik. Punggawa itu terkesiap di buatnya, jantungnya berdebar lebih kencang. Pelan-pelan gadis bisu itu berbicara dengannya. Meminta untuk dicarikan ular berbisa.
“Apa katanya?” Sikut Ibrahim.
“Kau meminta dicarikan ular yang berbisa, begitu?” Malik mengulang apa yang dimaksud Kenanga tadi. Gadis itu hanya mengangguk saja.
“Untuk apa?” Ibrahim heran.
“Sudah, ikuti saja apa katanya. Aku percaya dengannya.” Malik langsung berjalan disusul Ibrahim di belakangnya.
“Ya, kau ini, sudah suka dengannya sejak pertama kali melihat, beginilah jadinya.”
“Itu salah satunya, yang lain, kalau kita tidak mencoba kita tak tahu apa Bang Alif bisa sembuh atau tidak.”
Dua punggawa itu menuruni bukit dan masuk ke semak belukar, mencari ular berbisa sesuai permintaan Kenanga.
Di tempat peristirahatan itu pula. Kenanga meminta Ridwan agar mencari air bersih sebanyak-banyaknya. Punggawa setia itu menurut saja asalkan tuannya sembuh. Gadis bisu tersebut membuat api unggun yang lebih besar. Ia bakar belatinya hingga panas. Kenanga memperhatikan wajah Alif yang kini berubah pucat. Racun itu pasti sudah mulai menyebar lebih jauh lagi. Sebentar lagi pemuda di depannya akan mulai sesak napas.
Lama sekali dua orang itu menunggu kedatangan ular berbisa dan air bersih yang diminta sang tabib. Tak tahan menunggu, Alif terjatuh dari tempatnya duduk, racun itu menyebar lebih cepat dari dugaan Kenanga.
Gadis bisu itu memegang dahi Alif dengan punggung tangannya, kulit pemuda itu terasa dingin bagai air bukit. Cemas, ia takut sebentar lagi Alif akan menggigil kedinginan.
Yang ditunggu Kenanga akhirnya datang juga. Ular berbisa itu dibungkus kain oleh Malik dan Ibrahim. Pun dengan air bersih yang dibawa Ridwan.
Kenanga menegakkan tubuh Alif yang mulai lemas tapi terasa berat. Ia meminta Ridwan untuk menahannya agar tak jatuh. Sebelah tangan Alif bahkan diminta Kenanga untuk terus digenggam agar tak berontak saat diobati.
Dengan penuh kesadaran gadis itu mengeluarkan ular berbisa dari dalam kain. Ular berwarna belang hitam kuning dengan ujung kepala sedikit runcing. Gadis itu memegangnya dari ekor, terus perlahan-lahan sampai ia bisa mengendalikan kepala ular itu.
Tidak ada satu pun dari pemuda pesisir tersebut yang tak menahan napas.
“Subbahanallah sekali gadis ini. Menakutkan di antara parasnya yang manis. Aku jadi semakin kagum,” ujar Malik.
Tangan Alif yang terluka ditahan oleh Ibrahim. Pada saat yang tepat, seusai membaca bismillah di dalam hatinya. Kenangan menekan kepala ular itu hingga dua taringnya ke luar. Langsung ia tancapkan ke kulit Alif yang paling pekat warna hitamnya.
Sang pangeran menjerit luar biasa hingga suaranya menembus rimbunan pohon di Bukit Gayo. Sebelah tangannya serasa ingin mengakhiri cara Kenanga mengobatinya. Beruntung ditahan Ridwan sekuat tenaga. Racun ular itu terus dipaksa ke luar oleh sang tabib, setelah beberapa saat, gadis itu lemparkan binatang melata menjauh dari mereka. Ular yang sudah kehabisan racun itu langsung melata menjauh dari sana.
Tabib muda tersebut mengambil pisaunya yang telah dipanaskan. Beberapa saat menunggu, kira-kira racun ular itu telah menyatu dengan racun di dalam kulit Alif. Ia goreskan belatinya sepanjang warna kehitaman itu menjalar. Alif menutup kedua matanya, ia tak tahan dengan cara Kenanga mengobatinya. Namun, hanya itu yang bisa dilakukan gadis bisu tersebut.
Akhirnya, darah yang tadinya beku mencair juga. Perlahan-lahan menetes mengeluarkan dua racun yang bertarung dalam aliran darah Alif. Pemuda itu lemas. Kenanga membiarkannya berbaring. Lalu ia membersihkan luka dengan kain bersih yang telah ia potong-potong dari tadi.
Ridwan memberikan minum pada tuannya sebab rasa haus yang luar biasa melanda. Sementara itu Kenanga menumbuk daun obat yang ada di dalam perbekalannya. Untuk mengeringkan dan membuang semua sisa racun di tubuh Alif. Tiga pemuda yang lain tak ikut campur lagi. Mereka hanya duduk dan memperhatikan dari jauh saja. Ridwan membuka kelapa muda yang baru selesai ia petik dari atas pohon, sesuai perintah Kenanga.
Kenangan menaburkan tumbukan daun obat di sepanjang luka Alif. Rasa perih luar biasa menjalar dengan cepat. Lagi, sebelah tangan Alif ingin membuang semua daun oba itu. Namun, Kenanga memukulnya. Ia tak ingin pengobatan yang sudah sedemikian jauh berjalan sia-sia belaka jadinya.
Alif tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekujur tubuhnya semakin lemas saja. Kenanga membalut luka itu dengan kain dan diikat lebih rapi tidak asal-asalan lagi. Setelahnya ia menyentuh kepala Alif. Membaringkan pemuda itu di tempat yang telah dibersihkan dan diberi alas. Tahap pertama sang pangeran akan menggigil kedinginan. Lalu, Kenanga membuka perbekalannya lagi, mengambil kain kerawang yang ia tenun sendiri dengan pola yang rumit. Ia tutup tubuh Alif dari ujung kaki sampai ke leher. Pemuda pesisir itu meringkuk di siang hari yang seharusnya hangat.
Kenanga hanya bisa menunggu sampai demam Alif turun. Ia duduk tak jauh dari Alif berbaring. Menjaga seseorang yang masih dalam pengawasannya. Dalam hatinya, ia sedikit ragu, jika ia terus di sana menunggu sampai Alif sembuh, maka pencarian Cempaka akan semakin tertunda. Namun, ia tak sampai hati pula untuk pergi begitu saja.
‘Bertahanlah, Kak. Aku yakin kau mampu menyelamatkan diri,’ ucap gadis bisu itu dalam hati.