Sang Tabib

1068 Kata
Bagian 37 Tubuh Alif masih menggigil kedinginan. Kenanga tak pernah lepas dari sisi pemuda pesisir itu. Setiap sebentar, gadis tersebut akan menyentuh kening Alif untuk memastikan ia baik-baik saja. Tiga orang pemuda lainnya hanya memperhatikan dari kejauhan. “Sepertinya, diam-diam mereka saling memandang, jika kulihat dari jauh,” tukas Ridwan. “Semoga tidak. Aku sungguh berharap Pangeran tak menyukai gadis itu,” sahut Malik. “Lalu?” “Akan kupinang dia, kalau Pangeran terlalu lambat bergerak. Kesempatan emas di depan mata jangan disia-siakan,” lanjut Malik. “Macam betul saja kau ini. Memang gadis itu menyukaimu juga. Dari awal dia sudah menatap Alif dengan cara yang berbeda,” bantah Ibrahim pula. “Usaha dulu, dan berharap dan berdoa jangan lupa. Semoga Pangeran tak menyukainya. Bukankah seorang keturunan bangsawan kalau mencari jodoh harus yang sempurna. Tidak, tak mungkin Pangeran mau dengannya. Semoga saja, aaaamiiin.” Dua tangan Malik naik ke langit dan memanjatkan doa. “Ya terserah kau saja, asal jangan timbul keributan.” Ridwan telah selesai mengupas kelapa muda sesuai permintaan Kenanga. Ia berjalan lalu memberikannya pada gadis bisu itu. Perlahan-lahan Kenanga meminumkannya pada Alif, ketika air itu tumpah ia lap dengan kain bersih. Ridwan hanya tersenyum memperhatikan bagaimana telatennya gadis itu merawat tuannya. Mungkin, Kenanga pengobat hati yang dikirim Rabb pada Alif. Hanya saja yang jadi pertanyaan apa Alif mau dengan gadis yang memiliki dua kekurangan sekaligus? Hari berikutnya, tubuh Alif dari dingin jadi panas. Lekas Kenangan menitipkannya pada tiga orang punggawa setia yang masih duduk diam menanti kesembuhan tuannya. Gadis bisu dan tuli tersebut turun ke bawah bukit. Ia memetik daun obat untuk dijadikan penurun panas. Saat dalam perjalanan tanpa mengenakan alas kaki, Kenanga melihat ular yang semalam ia keluarkan racunnya. Binatang melata tersebut mati dan tergeletak begitu saja. Pertanda jika racun semalam tidak di keluarkan dengan cepat. Maka Alif bisa jadi sudah meregang nyawa hari ini. Gadis itu membuka balutan kain yang dibaluri daun obat. Bekas luka kehitaman tersebut telah berubah menjadi biru. Ada pula yang sudah berwarna kemerahan. Setidaknya kulit di sekitar yang terluka tak lagi mati aliran darahnya. Kenanga kemudian tak membalut lagi luka itu dan membiarkannya kering sembari tetap dibersihkan. Dahi Alif dibalurkan tumbukan daun yang bisa menurukan panas. Beberapa kali Alif mengigau meski tak didengar Kenanga. Ia bisa membaca gerak bibir pemuda tersebut. Sedang menggumamkan beberapa nama yang gadis itu tak ambil pusing siapa orangnya. Tiga orang punggawa tersebut tertidur dalam penantiannya. Kenanga pula, menanti Alif sembuh menempelkan wajahnya dengan daun anting-anting. Supaya wajahnya lebih halus, sebagai tabib ia tahu cara merawat dirinya sendiri. Saat memeriksa kembali demam Alif, tangan pemuda tersebut tiba-tiba saja memegang tangan Kenanga. Pemuda itu seperti ketakutan. Bahkan cengkeramannya sangat kuat hingga Kenanga terpaksa duduk di sebelahnya. Gadis itu paham, hal demikian merupakan tahapan dari sembuhnya sang pesakitan. Hanya saja ia jadi salah tingkah terlalu dekat dengan Alif, apalagi ketika tiga orang punggawa itu juga memperhatikannya dari jauh. “Kena kau, gadis itu menyukai Pangeran, semoga saja sebaliknya.” Ridwan mencemooh Malik. “Belum tentu. Lihat saja nanti. Aku pergi dulu, ya, mencari buah untuknya. Tak ada yang memperhatikan kebutuhan makannya. Dia pasti lapar. Sebagai calon suami yang baik aku harus mengerti tentangnya mulai dari sekarang.” Malik pergi seorang diri saja, demi gadis yang ia sukai. “Percaya diri sekali dia.” Ibrahim sebenarnya juga memendam rasa pada Kenanga. Namun, ia abaikan demi sahabatnya Malik. Apalagi jika sempat Pangeran Alif juga menyukainya. Malas ia bersaing memperebutkan wanita. “Aku berharap Kenanga yang bisa mengisi hatinya. Memang selama ini Pangeran hanya diam saja. Tapi aku paham luka hatinya saat kehilangan Putri Naqi belum sembuh sampai sekarang. Jika ia mau pasti sudah menikah saat di pengungsian. Tapi malam memilih pergi. Lagi pula gadis itu manis juga parasnya. Meski kalah cantik dari Putri Naqi. Kecantikan akan luntur jika kita menikahi seseorang hanya karena rupanya saja.” Ridwan mengutarakan pendapatnya tentang Kenanga. “Aku merasa gadis ini masih menyimpan misteri lainnya. Sepertinya dia bukan orang sembarangan. Semuda ini saja sudah jadi tabib hebat. Didikan orang tua yang membuahkan hasil. Jika tak berjodoh dengan Pangeran atau Malik, aku pun mau juga.” Ibrahim tersenyum malu. “Lah, kau pun sama ternyata.” “Jujur sajalah. Banyak perempuan mati dibunuh Belanda. Menemukan seperti Kenanga bagai mendapatkan mutiara indah walau harus menyelam ke dasar lautan. Tapi, ya, itu tadi, aku mengalah pada Pangeran.” Malik datang dan membawa beberapa buah-buahan yang telah matang. Ia sodorkan pada Kenanga. Gadis itu mencucinya dengan air bersih, ia potong kecil-kecil jambu yang bijinya berwarna kemerahan. Lalu ia suapkan pada Alif. Perlahan-lahan pemuda itu membuka mulut dan memakannya. “Aku mencari demi dia. Dia malah memberikan pada Pangeran.” Malik mengelus dadanya sendiri yang berdesir. Sulit memang menandingi pesona seorang Alif. Ia harus sadar diri juga. Ketika malam menjelma. Kenanga yang kelelahan tidur di sembarang tempat, bersandar pada sebuah pohon besar. Alif yang sudah mulai membaik mencoba untuk duduk. Ia terbatuk beberapa kali. Gadis tersebut tak merespon sebab pendengarannya yang tuli. Pangeran Pesisir itu meraih tempat minum Kenanga. Segar air di dalam kulit binatang itu membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Nyeri terasa di bagian kulitnya yang tersayat. Namun, setidaknya, tidak ada lagi lebam kebiruan di sana. Tangan Kenanga begitu cekatan merawatnya. Tubuh pemuda itu tak lagi dingin. Ia berjalan perlahan menuju tempat Kenanga berbaring. Ia tutupi tubuh gadis itu dengan kain kerawang yang diberikan padanya beberapa waktu lalu. Alif memperhatikan wajah yang disinari rembulan yang redup. Begitu teduh ketika tertidur, tapi jika terbangun ia yang paling grasa-grusu mengurus semuanya. Tak sempat ia berlama-lama tenggelam dalam perasaannya. Alif takut ada sebuah rasa yang tumbuh untuk Kenanga. Ia masih membawa nama Putri Naqi dalam hatinya. Sang pangeran duduk diam dan mengamati sekelilingnya. Sudah beberapa hari mereka diam di atas perbukitan. Dan selama itu pula ia merenung, untuk memulai hidup baru dan lebih merelakan semua yang telah lepas dari genggaman tangannya. Agar ia bisa menggenggam sesuatu yang baru pula. Pemuda itu tak lagi seorang bangsawan apalagi putra raja. Lalu apa yang akan ia banggakan pada Kenanga andai ia menyatakan perasaannya langsung. “Astaghfirullah. Sempat-sempatnya aku berpikir seperti ini. Aku harus memikirkan tujuan utama perjalanan ini. Masih banyak musuh di depan mata. Iya, itu saja dulu baru pikirkan yang lain.” Alif membantah kata hatinya sendiri. Sisi hatinya yang lain menyukai Kenanga. Namun, sisi hatinya yang lain mengharapkan gadis yang lebih sempurna seperti dirinya. Padahal ia tak tahu saja kemampuan lain yang dimiliki Kenanga. Gadis itu jauh lebih peka dibandingkan mereka berempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN