Seiring Sejalan

1536 Kata
Demam alif sudah lebih membaik dibandingkan beberapa hari yang lalu. Bekas sayatan di tangannya juga sudah mulai mengering. Pemuda itu bahkan sudah bisa duduk berlama-lama seperti biasanya. Pagi itu, ia hanya melihat tiga orang punggawanya saja, sedangkan Kenangan tak ia lihat dari tadi. Tiba-tiba saja gadis bisu itu muncul dan membawa beberapa ikan yang diikat dengan akar pepohonan. Entah kapan ia pergi, dan tahu-tahu sudah muncul saja. “Baru kusadari pergerakan Kenangan seperti hantu saja.” Ridwan melirik Kenanga yang membungkus ikan dengan dedaunan. Setelahnya gadis itu letakkan di dekat bara api. Tak ia bakar langsung. Dengan serapan daun rasa ikan akan lebih nikmat dari biasanya. “Bukan cuma itu saja. Kalau diperhatikan dari jauh. telinganya memang tak bisa mendengar. Tapi bagaimana caranya dia bisa tahu kalau kita ada dibelakangnya. Seharusnya, secara akal sehat dia tak akan tahu, bukan?” turut pula Ibrahim mengatakan kecurigaannya. “Dari gerak-geriknya dia sepertinya bukan gadis sembarangan. Coba kalian pikir, kenapa dia berani berjalan seorang diri di bukit yang sunyi seperti ini. Pasti kemampuannya sama seperti kita. Kecil-kecil pemberani juga Kenanga ini.” Malik tak lepas menatap punggung Kenanga. “Dan masih tak tertebak seperti apa dia. Tujuannya berjalan jauh sampai tak pulang-pulang di sini terus untuk apa juga kita belum tahu.” Ridwan yang paling ingin tahu seberapa jauh kemampuan Kenanga. Memang di pesisir wanita pemberani ada banyak. Hanya saja ini yang paling berbeda di antara yang pernah ia jumpai. “Tak salah, kan, kalau aku—“ Malik menghentikan ucapannya, ketika Alif menatapnya sedikit tidak suka. Ia tahu isyarat itu, bertahun-tahun melayani sang pangeran, ketiga punggawa itu tahu mana yang Alif sukai mana tidak. “Kalah lah kau. Pangeran menunjukkan ketertarikannya pada Kenanga.” Ibrahim menyikut Malik. Sahabatnya itu hanya mengelus d**a saja. “Kita harus melanjutkan perjalanan. Tak boleh berlama-lama di sini. Bisa timbul fitnah di mata orang lain,” ujar Alif. Tubuhnya sudah jauh lebih baik. “Baik, Bang. Tapi sebaiknya tunggu kau benar-benar sehat saja. Takutnya tumbang lagi di jalan.” Ridwan menyodorkan lagi padanya kelapa muda. Isyarat Kenangan diminum sampai sembuh dan tak boleh dibantah. “Besok. Aku sudah sangat lebih baik. Berkat dia.” Antara malu dan ragu Alif ingin mengakui kemampuan Kenanga. Bukan tak mau, hanya saja hatinya masih sibuk berdebat sendirian. Kenanga mengemas beberapa barang yang ia sembunyikan di dalam lubang pohon besar. Ada bedil yang ia rampas dari dua serdadu Belanda. Ia bunuh, sebab mereka melakukan perbuatan kotor sesama jenis di tanah Bukit Gayo. Namun, ia tak tahu cara menggunakannya. Ia simpan saja siapa tahu ada yang bisa mengajarkannya. Ketika yang lain masih tertidur pulas. Kenanga melangkah seorang diri, menuju sungai yang ia temukan kemaren. Alirannya cukup deras walau kecil. Ia yakin tempat itu aman dari binatang buas. Gadis bisu itu meilirik ke sana kemari. Memastikan tidak ada yang mengintip dirinya. Lalu, ia buka kerudungnya. Hingga rambut hitam panjang dan lebat tergerai sudah. Tak hanya itu saja, ia gulung kain celananya sampai ke atas lutut. Kulitnya yang cokelat terlihat halus sebab ia merawatnya sendirian. Kenanga mengambil batu dan menggosok kulitnya, untuk meluntukan sisa-sisa racun yang barangkali menempel pada kulitnya. *** “Jadi bagaimana, kita tanyakan saja dia mau ke mana?” Alif melirik temannya satu per satu. “Kau tanya pada kami, Bang? Lalu kami tanya pada siapa? Baiknya kau tanyakan saja langsung padanya?” Ridwan memberikan air kelapa terakhir pada Alif. Pesan Kenanga tadi seperti itu. dengan jelas harus dikerjakan. “Aku tak paham harus bagaimana berbicara dengannya. Pergerakannya cepat sekali.” “Kau harus berterima kasih dengannya. Tak bisa main pergi begitu saja, sebagai keturunan bangsawan Abang harus menunjukkan tata krama lebih daripada kami,” sahut Malik. Lama menunggu, Kenanga tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Alif memutuskan untuk mencari keberadaannya. Ia juga harus banyak bergerak untuk melemaskan ototnya yang terasa kaku karena beberapa hari hanya berbaring saja. *** Sesekali Kenanga menoleh ke kiri dan kanan, khawatir ada yang melihatnya sebab ia tak pernah memamerkan rambut panjangnya pada lelaki lain selain dengan ayahnya saja. Benar firasat Kenanga, ketika ia menoleh ke arah kanan, tak sengaja matanya bertatapan dengan Alif yang kini berada tak jauh darinya. Alif sendiri hanya terpaku saja. Ia tak juga sadar telah menatap terlalu lama. Hingga Kenanga menatapnya sekali lagi dan saat itu juga membalikkan tubuh. Lelaki itu mengaduh, kepalanya dilempar batu dari belakang. Ia tahu itu perbuatan siapa. Sekali lagi ia rasakan lemparan yang sama. Tak ingin terjadi keributan Alif kembali ke tempat teman-temannya berkumpul. “Tak sengaja, maaf. Semoga tak dosa,” gumamnya perlahan sambil berjalan. *** Ridwan, lelaki yang telah menjadi sahabat serta punggawa Alif sejak kecil membuka suara. Ia menanyakan ke mana Kenanga akan pergi atau apa tujuan dari perjalanannya, siapa tahu mereka satu tujuan. Sejauh beberapa hari ini bersama tak terlihat oleh mereka Kenanga ingin kembali ke suatu tempat. Gadis itu berdiri, ia mengambil senapan Belanda yang disembunyikan di antara akar pohon. Pahamlah para pemuda itu bahwa Kenanga punya urusan dengan serdadu Belanda. Senapan itu ia serahkan pada Ridwan karena ia tak tahu cara memakainya. “Masih bisa digunakan?” Alif yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. “Masih. Kita dapat tambahan senjata kalau begini.” “Ehm, maaf, bisakah kau jelaskan perlahan-lahan ke mana kau akan pergi. Dengan bahasa yang bisa kami pahami dengan mudah?” lanjut Alif sambil berusaha menahan detak jantungya. Ia masih terbayang kulit cokelat Kenanga tadi. Gadis itu mengerti dengan ketidak pahaman mereka, Kenanga berdiri dan mengambil sebatang kayu. Membersihkan tanah dari dedaunan kering yang jatuh. Rangkaian huruf Arab Melayu tertulis di sana. “Aku berasal dari Kampung Rikit Gaib. Tanahku sudah hangus terbakar karena ulah penjajah. Tak ada yang tersisa bahkan ternak pun mereka rampas.” Usai menulis itu dan dibaca oleh para pemuda ia menghapusnya lagi. “Orang tuaku juga turut serta menjadi korban. Kakak perempuanku mereka culik dan sekarang entah ke mana Kak Cempaka akan dibawa. Aku melakukan perjalanan panjang beberapa hari ini. Tapi, tak aku jumpai jejak di mana kakakku sampai aku bertemu kalian.” Tulisnya lagi. “Oh, jadi dia mengalami nasib yang sama juga dengan kampung kita, Bang. Apa kita harus membantunya mencari Kak Cempaka?” Ridwan menatap ke arah Alif yang mana ia masih memandang Kenanga menuliskan sesuatu di tanah. “Namaku Kenanga. Putri kedua Gecik Rikit Gaib.” Gadis itu mengakhiri penjelasannya. ‘Jadi bunga waktu itu bukan untukku? Maksudnya dia ingin memberitahu namanya Kenanga lalu kakaknya, Cempaka, begitu? Aku yang salah mengira atau dia yang kelewat batas?’ Rasa tak terima bergejolak di dalam hati Alif. “Jangan melamun, Bang. Cepat putuskan, kita bantu dia atau tidak? Memang kau tega membiarkannya menghadapi marsose itu sendirian. Kita yang laki-laki saja banyak yang tewas.” Malik menepuk bahu sang ketua yang tak menjawab pertanyaan Ridwan. “Tidak! Kita tak ikut campur urusannya. Lebih baik pisah saja, kita akan tetapi bergerilya dari satu wilayah ke wilayah lainnya,” jawabnya tanpa pikir panjang. Tanpa basa-basi lagi, Alif berdiri mengucapkan beberapa patah kata ucapan terima kasih karena telah menolongnya, serta mengucapkan beberapa untaian maaf karena tak bisa ikut serta mencari keberadaan kakaknya. Sang pangeran malas untuk berlama-lama berjalan bersama dengannya. Lebih tepatnya menghindar. Gadis itu paham, ia memang tak pernah memaksa siapa pun untuk menolongnya. Kenanga sama sekali tak pamrih, sudah tugasnya untuk menolong orang yang terkena racun. Secepatnya gadis itu berdiri juga, mengucapkan salam perpisahan dengan isyaratnya. Usai mengemas sisa-sisa barang yang masih bisa dibawa ia menoleh sekali lagi lalu tersenyum dengan ramah. Selanjutnya Kenanga menuruni bukit lagi melanjutkan perjalanan mencari Cempaka yang entah dibawa ke mana oleh penjajah. *** Tak ada yang berani membuka suara. Empat pemuda itu hanya berjalan tanpa arah yang pasti. Sejujurnya tiga orang yang lain juga tak setuju dengan keputusan Alif. Namun, mereka hanya mengikuti perintah pangeran saja. Tak ada satu pun dari Ridwan, Malik dan Ibrahim yang paham bahwa pemimpin mereka hatinya sedang meragu antara melanjutkan perjalanan tanpa tujuan atau menyusul Kenanga. “Bukan aku bermaksud tak sopan wahai keturunan bangsawan yang dimuliakan.” Ridwan sebagai punggawa memberanikan diri membuka suara, “Aku hanya ingin mengingatkanmu kejadian beberapa bulan lalu. Tentu masih segar di benakmu bagaimana Putri Naqi calon istrimu tewas mengenaskan. Apakah Tuan rela hal itu terulang lagi padanya sedangkan nyawamu sudah ditolong olehnya.” Penuh kesopanan ia berujar agar Alif tak tersinggung. Hening, tak ada yang membuka suara. Alif kemudian membalikkan badannya, menuju tempat di mana mereka beristirahat beberapa hari yang lalu. Tiga kawan yang lain hanya mengikutinya dari belakang sambil tersenyum. *** Kenanga menoleh kebelakang ketika telapak kakinya merasakan getaran dari dekat. Itulah kemampuan yang ia miliki. Dilatih sedari kecil oleh ayahnya agar peka sebagai pengganti telinga yang sudah tuli dari lahit. Kenanga menautkan dua alisnya, heran mengapa empat pemuda itu berlarian menyusulnya. “Ken,” panggil Alif sambil menyerahkan kain hitamnya yang tertinggal, “Aku, ehm, maksudnya kami, ehm, bermaksud menolongmu untuk mencari Kak Cempaka.” Gadis di hadapannya hanya mengangguk saja. “Biarkan aku, eh, maksudnya kami yang memimpin perjalanan. Kami, maksudnya aku, jauh lebih tahu daripada kau. Kau ikut saja dari belakang.” Terbata-bata Alif berbicara Gadis itu mengangguk lagi sambil menarik napas panjang. Ia merasakan sedikit kesombongan Alif yang bercampur dengan keraguan. Lima orang itu kini berjalan bersama untuk melakukan perjalanan panjang menyelamatkan Cempaka walau arah jalan yang diambil salah dan membawa langkah mereka semakin jauh dari tujuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN