Wajah Baru

1672 Kata
Mantili berdiri di dalam kamar Adrian. Selama masa penyembuhan ia dirawat dengan sangat baik oleh kekasihnya. Dendamnya dengan Alif kian hari kian membara. Dua kali dilukai, maka gadis itu berjanji akan membunuh Alif dengan cara yang paling keji sekali pun. Adrian datang dan memeluk boneka cantiknya dari belakang. Lama berada dalam perawatan ia tak menyentuh kekasihnya sama sekali agar cepat sembuh. Dan kini ia menuntut pembayaran atas semua jasa-jasanya. Mantili memenuhi dahaga Adrian yang membuncah tanpa rasa sama sekali. Ia hanya memikirkan bagaimana cara yang tepat membunuh sang pangeran yang telah mempermalukannya. Mantili berjanji akan membuat lelaki itu mati berdiri dengan racun paling mematikan di dunia ini. “Kau tak apa-apa, Sayang. Apa aku terlalu kasar denganmu tadi?” Adrian menyentuh dagu Mantili. Bonekanya terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu. “Aku membencinya. Dari kecil aku diperlakukan baik oleh ayahku, juga kau. Baru kali ini ada yang berani melukaiku. Akan kukejar dia sampai ke ujung dunia sekali pun.” Memerah wajah Mantili mengingat Alif. Adrian lantas menuangkan segelas wisky dan menyodorkan pada Mantili. Gadis itu pun meneguknya dengan sekali napas. “Kau masih ingin mengejarnya?” tanya Adrian. “Tentu. Setelah aku benar-benar pulih aku akan pergi. Kau tak keberatan, bukan?” “Memang kalau aku keberatan kau akan tetap tinggal?” Lelaki itu menuangkan kembali gelas Mantili yang kosong. Ia sering dalam situasi seperti itu dan minum adalah cara terbaik menenangkan pikiran. “Tetap pergi. Dan setelah itu akan kupenuhi janjiku untuk menjadi istri yang baik untukmu. Ah, bahkan kita selama ini sudah lebih dari suami istri. Mengapa pula harus merisaukan hal itu. Kau hanya kehilangan satu penghangat ranjangmu. Masih banyak babumu yang lain yang bisa kau tiduri, bukan.” “Beda, Sayang. Denganmu tak hanya masalah tidur berdua saja. Ada sejenis perasaan asing yang terus tumbuh di dalam hatiku. Dengan babu-babu itu ya hanya sekadar melepas hasrat saja, tidak lebih.” “Itu urusanmu, hatiku tak terasa apa-apa lagi sekarang. Pakai tak pakai cinta yang namanya pelampiasan sama saja. Yang penting puas.” Mantili memijit kepalanya sendiri yang mulai terasa pusing. Ia kembali beristirahat selama beberapa hari di rumah Adrian. Lelaki itu bahkan menunda segala tugasnya demi memastikan kekasihnya baik-baik saja. Ketika tubuhnya sudah benar-benar pulih, Mantili pergi dari rumah Adrian. Tatapan mata biru lelaki itu sedikit berembun ketika melepas boneka cantiknya. Sulit sekali menaklukkan keliarannya termasuk ketika di atas ranjang. “Kutunggu kau di sini saat kembali. Kau punya janji denganku,” gumam Adrian sembari memandang punggung Mantili yang mulai menjauh. Gadis itu pergi bersama dua gagak lainnya. Ia mengenakan pakaian serba tipis lagi. Semangat hidupnya telah kembali membara. Ia tak perlu membawa lukisan Alif, sebab gadis itu sangat mengingat wajahnya dengan baik. “Kalian yakin dia pergi ke Bukit Gayo?” tanya Mantili pada dua saudara lelakinya. “Yakin. Sebab di pengungsian itu dia tak ada lagi. Di pesisir juga nihil.” “Pengecut itu memilih tempat yang baik untuk mati.” Mantili membuka sumpit bambu yang sangat beracun. Ada lima jarum yang sekali tertancap bisa merenggut nyawa gajah dalam waktu singkat. Apalagi manusia. “Kali ini kupastikan kau menyesal karena menolak tubuhuku dulu. Sekarang aku sudah tak lagi menginginkanmu. Harga kepalamu dinaikkan sepeti emas lagi. Sungguh beruntung kalau aku yang menebasnya,” ujar gadis bengis itu. Tiga orang gagak tersebut terus berjalan, berlari, melompat dari bukit demi bukti. Menyusuri hutan, lembah, rawa demi mencari sasarannya. Sementara itu Adrian kembali menuju rumah Van Daalen. Lama ia menunda pekerjaannya, ia tak takut tuannya meradang, sebab hanya dirinya sendiri saja yang sangat mumpuni menaklukkan beberapa kerajaan yang tangguh. Saat mengunjungi gubernurnya, lelaki itu memperhatikan sebuah rumah megah nan luas tetapi hangus terbakar. “Apa yang terjadi, Meener?” Adrian menyayangkan istana itu hancur begitu saja. Jika dengannya tentu sudah menjadi sebuah markas yang amat berguna. Gubernurnya memang sedikit ceroboh. Hanya karena usia lebih tua dan memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak Ratu Belanda saja ia diberikan segala kemewahan. “Seorang gadis bernama Cempaka. Monyet buruk rupa yang kupungut dari Bukit Gayo. Yang aku beri pakaian cantik, parfum mewah dan makan roti enak dari negara kita yang membakarnya. Bahkan aku belum sempat menyentuhnya karena harus pergi ke satu tempat. Pulang-pulang malah jadi seperti ini. Gadis itu harusnya kubunuh dia dari dulu.” Van Daalen menarik napas berat berulang kali. Entah bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan semuanya. Bisa-bisa gaji bulanannya dipangkas sangat banyak dan ia tak bisa berfoya-foya lagi. “Ahahahahaha,” tawa Adrian sangat keras, “kau dipecundangi oleh sekuntum bunga beracun, Meener. Verdome, menjijikkan sekali. Seorang gadis menelanjangimu sampai hilang rasa malumu. Kalau Ratu tahu sudah habis kau dikuliti sampai kering darahmu.” “Jangan menghinaku kau, Adrian! Aku masih gubernurmu.” “Ya kau memang layak ditertawakan. Bahkan bau cat baru rumah ini masih terhirup sudah hangus saja. Kau harus kusebut apa di depan para serdadu, ha?” “Diam! Lakukan saja tugasmu.” “Ya aku tahu. Akan kuburu gadis itu dan kubawa dia ke hadapanmu.” Adrian memanggil beberapa serdadu yang mengetahui raut wajah Cempaka. Perburuan lelaki bengis itu menjadi bertambah. Selain Alif, meski ia sudah percayakan pada Mantili. Namun, hasilnya belum kelihatan. Ada juga Razi komplotan pencuri yang bergerak layaknya belut, dan Cempaka gadis desa yang menghanguskan rumah tuannya. Lelaki itu memerintahkan semua serdadunya untuk menyebarkan gambar tiga orang buronan itu ke segala penjuru Aceh. Ia sendiri kembali ke rumahnya untuk menyusun rencana baru. Untuk menggempur sisa-sisa pejuang di Bukit Gayo yang masih saja angkuh tak mau takluk di bawah kaki Belanda. “Jika berhasil aku akan menjadi gubernur menggantikan si gendut bodoh itu.” Adrian membayangkan segala kemewahan yang akan terbentang di karpet merah atas kemenangannya. Ia sudah berhasil menghancurkan Kerajaan Pesisir. Maka baginya tak sulit pula menghancurkan Bukit Gayo. Netra biru lelaki itu terus berkedip memandang alam Aceh yang sangat hijau. Ia betah tinggal di negeri ini lama-lama. Tempatnya begitu subur bahkan melempar kayu saja bisa tumbuh. Berbeda dengan negaranya. Apalagi ketika musim salju turun akan terasa sangat dingin sampai giginya bergemeretakan. Aceh begitu hangat, sehangat tubuh Mantili yang baru saja meninggalkannya. Segala cara akan ia lakukan untuk tetap tinggal di Aceh. Bahkan ia ingin mati dan dikenang sebagai orang besar di negeri ini. Satu impian yang bertolak belakang dengan keinginan para pejuang. Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang mati demi membela harga diri yang diinjak-injak. Darah yang mengalir sudah layaknya sungai yang deras. Peperangan selama ratusan tahun yang terus berlangsung belum menemukan titik akhir. Semua pejuang berupaya untuk memukul mundur Belanda. Termasuk lima orang pejuang Bukit Gayo yang kini masih terus menyisiri keadaan, memantau musuh dan mencari Cempaka juga. Alif duduk di atas batu besar, seharian berjalan tanpa arah memang sangat melelahkan. Rasanya mencari Cempaka bagai mencari jarum di antara tumpukan jerami. Tidak ada gambar wajah yang menjadi petunjuk keberadaan gadis itu. Hanya Kenanga saja yang tahu. Gadis bisu itu tak pernah memaksa siapa pun untuk ikut. Ia mempersilakan Alif dan teman-temannya untuk pergi. Namun, tak sampai hati pemuda pesisir itu membiarkannya pergi sendirian. Bahkan para lelaki saja berguguran satu demi satu terkena timah panas. Apalagi wanita yang seharusnya dilindungi dengan baik. Kenanga duduk bersenda gurau dengan Malik. Satu pemandangan yang cukup membuat hati Alif berdesir panas. Ia selama ini memang menjaga jarak dengan tabib itu. Sebab ia masih menghindar dari perasaannya yang kian tumbuh pada gadis berparas manis itu. Ia antara ragu-ragu mau atau tidak dengan Kenanga. “Kalah saing, Bang, dengan Malik. Dia jadi lebih dekat dengan Kenanga.” Ridwan meluruskan kakinya setelah lelah berjalan. “Aku tak bersaing dengan siapa pun. Lagi pula gadis itu bukan siapa-siapa buatku,” ucap Alif. “Jangan berkata seperti itu, Bang. Nanti kalau Kenanga hanya tinggal kenangan saja engkau pasti menyesal. Beberapa kali Malik menyatakan minatnya untuk mempersunting gadis itu.” “Di tengah gerilya seperti ini?” Alif menautkan dua alis tebalnya. “Ya apa salahnya, menikah kan ibadah. Berjuang bersama jauh lebih baik.” Alif berdiri dan menatap dua orang itu yang terlihat begitu asyik bicara. Kenanga menggunakan bahasa isyarat sedangkan Malik berusaha memahaminya. Jika tak mau melihat pemandangan seperti itu Alif memang harus berbuat sesuatu. Pemuda pesisir tersebut mengambil belatinya yang baru saja diasah. “Apa yang akan kau lakukan, Bang?” Ridwan khawatir tuannya khilaf dan menikam Malik. Ia tak ingin rombongan itu hancur hanya karena seorang wanita saja. “Tenang saja. Aku tak akan berbuat macam-macam. Jangan mengikutiku.” Alif berjalan menuju sungai. Di atasnya ada air terjun kecil yang menempel di tanah. Lalu tak jauh dari sana ada genangan air bersih yang bisa digunakan sebagai cermin. “Memang aku terlihat sangat berantakan sekali.” Alif menyentuhnya cambangnya yang sangat lebat. Ia jadi terlihat lebih tua dari usianya yang belum 20 tahun. Ia mengasah belatinya lagi. Lalu perlahan-lahan memotong cambangnya yang panjang. Setelah itu ia kerik sisa-sisa yang pendek sampai bersih. Pipi itu kembali halus seperti dulu saat masih di Kerajaan Pesisir. Saat ia begitu dipuja oleh Putri Naqi. Tak hanya sampai di situ saja, rambutnya yang mulai menyentuh bahu ia potong pendek lagi. Ia rapikan sampai penampilannya kini serupa dengan dirinya saat masih menjadi seorang pangeran. Rupa itu kini terlihat lebih muda dan tampan. Hanya kadar gagahnya saja yang sedikit berkurang. Alif mengelus pipinya sendiri. Ia cuci rambutnya yang baru dipotong dengan air bersih agar tak ada bekas yang tertinggal. Tubuhnya jadi jauh lebih segar dari biasanya. “Tak mungkin bukan jika Kenanga tak tertarik denganku. Ada alasan mengapa aku dilahirkan menjadi pangeran, selain takdir juga karena wajahku yang lebih tampan.” Alif mulai merasa angkuh ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Alif pun bergabung bersama dengan yang lain. Ridwan melongo melihat tuannya kembali seperti dulu. Ia paham sang pangeran sedang berusaha mengejar gadis incarannya. Malik sampai tak bisa berkata apa-pa melihat tuannya kembali tampan begitu pula dengan Ibrahim. Berbeda dengan Kenanga, keong yang ada dalam genggaman tangannya sampai jatuh ketika Alif muncul dengan wajah baru. Jujur saja ia lebih menyukai Alif yang lama, lebih jantan di matanya. Lalu gadis bisu itu menutup mulutnya, tertawa membelakangi sang pangeran, sebab kini lelaki tersebut terlihat lucu di matanya. “Astaghfirulah, kenapa dia malah seperti itu,” gumam Alif sedikit dengan kekecewaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN