Kenanga melompat ke dalam sungai, mereka semua masih enggan untuk beranjak dari sana. Gadis bisu itu melihat ikan-ikan yang berenang. Lalu berusaha menangkap dengan kedua tangannya. Ia jadi basah karena terciprat air dari tangannya sendiri. Alif hanya tertawa memperhatikannya dari jauh.
Kenanga terjatuh, gegas pangeran pesisir itu turut menceburkan diri dan menolongnya. Alif menarik tangan gadis bisu itu untuk berdiri. Namun, justru pemandangan lain pula yang terlihat. Lekuk tubuh gadis itu tercetak dengan jelas. Segera saja Alif berpaling, ia takut khilaf dan kelewat batas. Kenanga merasa heran, ia tak merasa berbuat salah apa-apa hingga harus tak diperhatikan seperti demikian. berkali-kali ia menyentuh bahu Alif dengan telunjuknya. Lalu Alif akan menggeleng dan tak mau melihat dirinya.
Dari jauh, tiga orang punggawa tersebut mulai datang, mereka berhasil menangkap kelinci hutan. Alif pun berlari ke arah mereka. Berusaha mencegah agar teman-temannya tak melihat yang bukan hak mereka. Sadar ada yang aneh, Kenanga melihat dirinya sendiri, dan benar saja bajunya jadi terlihat transparan karena basah. Ia pun bergegas sembunyi di belakang dahan pohon besar sampai bajunya kering atau setengah kering terkena angin.
“Beginilah susahnya kalau perjalanan ada wanitanya,” tukas Alif. Ia masih membayangkan hal yang baru saja ia lihat tadi. Jujur saja sebagai laki-laki yang pernah hampir menikah ia jadi terbawa ke arah sana. Berkali-kali sudah ia istighfar dalam hatinya, tapi bayangan gadis itu masih saja melintas. Tak bisa ia bayangkan bagaimana jika tiga temannya ikut melihat pula.
“Bukan cuma itu saja, bukan?” Ridwan tahu isi hati Malik dan juga tuannya, dan mereka hanya mengangguk saja mengiyakan apa yang tersirat dari perkataan salah satu temannya.
Ibrahim mencuci daging kelinci yang baru saja dikuliti, sebisa mungkin ia menghindar dari melihat ujung kaki Kenanga. Gadis itu meringkuk di dekat pohon, perlahan tapi pasti suhu tubuhnya mulai berubah. Tadinya baik-baik saja, sekarang jadi antara panas dan dingin. Memang selama dalam perjalanan ia tersiksa dengan rindu untuk berjumpa dengan Cempaka dan keluarganya yang sudah tiada.
Daging kelinci itu sudah selesai dibakar, empat orang pemuda tersebut saling pandang untuk memberikannya pada Kenanga. Alif pun memlilih maju daripada gadis itu dilihat orang lain. Ia mengulurkan daging pada gadis bisu yang mulai merasakan demamnya menjalar. Kenanga meraihnya, ia perlu makan agar meriangnya tak semakin menjadi. Meski lidahnya sudah mulai terasa pahit.
Gadis itu jadi terbawa kenangan masa lalunya. Kerap kali ia dititipkan tangkapan seekor kelinci gemuk dari Razi untuk diberikan pada Cempaka—kakaknya. Razi ketua pencuri yang juga masuk dalam daftar incaran adrian. Ia akan memberikannya pada Cempaka sebab Razi segan untuk berhadapan dengan kedua orang tua gadis itu sebab kedudukan ayah dan ibu Cempaka sebagai gecik.
Air mata pun ikut meleleh ketika Kenanga mengunyah daging kelinci. Sudah beberapa waktu ia berjalan, rasanya menemukan Cempaka begitu melelahkan dan tak berujung. Bukit Gayo begitu luas untuk ia tapaki. Meski tak sendiri lagi, tetap saja terasa melelahkan. Ia jadi tak enak hati membawa empat pemuda itu meraih tujuannya yang tak tentu arah. Terutama perasaannya pada Alif yang terus tumbuh.
Kenanga cukup sadar diri siapa dirinya. Gadis bisu dan tuli. Rasanya ia tak layak untuk menyukai siapa pun. Menjadi tabib dan menolong siapa saja yang membutuhkan dirinya, adalah impian terbesarnya. Meski menikah pun ia ingin juga, hanya saja sudah ia pendam di bagian hatinya paling dasar. Ia tak mau dua kekurangannya dijadikan alasan bagi lelaki yang akan menikahinya nanti sebagai alat untuk mencari-cari kekurangannya.
Daging kelinci itu Kenanga telan meski mulai terasa pahit, diiringi air matanya yang masih mengalir. Ia hanya mampu menangis untuk saat ini. Menceritakan pada para pemuda itu bukanlah hal yang tepat, belum tentu juga mereka paham dengan bahasa isyaratnya. Meski Malik berusaha sekuat tenaga untk mengerti, tapi tetap saja sering tak tepat tebakannya.
“Kenapa menatap pohon itu terus, Bang?” tanya Malik pada Alif. Dua orang pemuda yang sama-sama memendam rasa pada Kenanga. Sama-sama tak bisa lepas dari pantulan bayangan Kenanga yang sedang mengusap pipinya.
“Ada sebuah benda yang begitu indah terpahat di sana, membuat mataku enggan berpaling,” jawab Alif. Paham sudah Malik apa maksud tuannya. Punggawa itu hanya berusaha saja, selebihnya ia serahkan pada takdir. Lagi pula di zaman peperangan begini umur manusia tidak ada yang tahu.
Tiba-tiba saja Kenanga berdiri dan menunjuk ke belakang Alif. Telapak kakinya merasakan ada beberapa orang yang datang. Gegas saja para pemuda itu berdiri dan Alif menarik Kenanga untuk segera bersembunyi. Terlihat beberapa orang serdadu Belanda datang. Mereka mandi dan membersihkan diri di tepi sungai. Tanpa sadar telapak tangan Alif terus menggenggam tangan Kenanga. Para serdadu yang bersenjata lengkap.
“Kita pergi saja dari sini. Untuk sementara hindari pertikaian dulu. Mundur.” Alif dapat merasakan tubuh Kenanga panas. Jika pun menyerang ia tak akan fokus pada tujuannya.
Perlahan-lahan mereka beranjak. Melompat melewati aliran sungai kecil. Ketika Alif sudah sampai di salah satu sisi pandangan mata Kenanga seperti kabur, gadis itu mematung di sana. Segera saja Alif mengulurkan tangannya. Kenanga meraihnya, ia kemudian melompat dan seketika kepalanya serasa berputar disertai pandangan matanya yang menggelap. Tabib muda itu terjatuh begitu saja dalam pelukan Alif. Hal demikian membuat sang pangeran terpaku di tempatnya berdiri.
“Kenang, bangun. Kenapa kau ini.” Alif menyadarkan gadis itu yang kini sudah terkulai lemas.
“Kelelahan mungkin. Cepat baringkan saja, Bang. Kita tak bisa berjalan terus kalau begini. Tak mungkin memapah orang sakit. Berat perjalanan nantinya,” ujar Ridwan menenangkan tuannya yang terlihat gelagapan. Memang tertimpa beban seorang gadis itu antara senang dan takut bagi Alif.
Malik gegas membersihkan tanah dan membentang kain agar sang tabib yang akhirnya jatuh sakit dapat dibaringkan. Sementara itu yang lain sedang merudingkan sesuatu.
“Sepertinya kita harus merampas barang bawaan serdadu tadi. Siapa tahu di dalamnya ada perbekalan untuk Kenangan. Orang sakit butuh makan, begitu juga kita. Pergi berburu sekarang takutnya malah semakin memperpanjang waktu. Kita tak tahu kapan Kenanga akan sembuh.” Ibrahim melirik Kenanga yang berbaring, di sebelahnya Alif sedang berusaha menghidupkan api unggun. Namun, pangeran itu akhirnya urungkan. Takutnya malah memberi tanda pada Belanda bahwa mereka ada di sini.
“Kita bertiga saja yang pergi. Biarkan Pangeran yang menjaga Kenanga.” Ridwan tahu bagaimana risau hati tuannya melihat gadis yang ia sukai jatuh sakit.
“Apa tak bahaya meninggalkan mereka berdua di sini?” risau Malik.
“Tenang saja. Tak mungkin Pangeran berbuat macam-macam pada gadis yang sedang sakit. Kalau mau sudah dari tadi saat kita sedang berburu dan mereka hanya berdua saja. Sisanya kita titipkan pada Allah. Kita berangkat sekarang, selagi belum malam.” Tiga orang punggawa itu beranjak meninggalkan Alif yang menjaga Kenanga yang dahinya mulai berkeringat karena demamnya.