Malik melompat dari satu batu ke batu lainnya. Ia menyasar pada salah satu serdadu yang sedang asik berendam. Marsose itu begitu terlena dalam segarnya air sungai di Bukit Gayo. Segera saja punggawa itu menaikkan belatinya, membekap mulut penjajah itu dan menggoreskan senjatanya di bagian leher. Sesaat serdadu itu menggelepar. Sungai itu jadi merah darah tapi tak menarik perhatian para marsose lain, sebab mereka sedikit berjarak dari temannya yang sedang mandi. Ketika tubuh itu tak lagi kejang, Malik melepaskannya begitu saja, biarkan menjadi santapan buaya yang bisa jadi bersembunyi di antara batu-batu besar.
Tersisa lima orang lagi serdadu yang masih hidup. Ibrahim kini mengambil giliran. Ia mengikuti penjajah yang membawa serta sebuah benda persegi untuk dicuci. Punggawa itu melompat dan tiba di depan penjajah tersebut. Tak ada waktu yang diberikan Ibrahim untuk lawannya menjerit. Gegas ia putar leher itu sampai patah dan aliran napas penjajah itu terhenti. Sama dengan temannya, serdadu tersebut tubuhnya dihanyutkan begitu saja.
Tiga orang penjajah yang tersisa mulai mencari keberadaan temannya. Dua dari mereka berpencar. Ridwan menjulurkan kakinya hingga marsose itu jatuh. Punggawa setia Alif itu langsung menarik rambut pirang lelaki tersebut dan mengantukkan kepalanya dibatu berulang kali sampai tubuh itu berhenti melawan dan diam saja. Sisanya dua orang penjajah lagi telah diringkus oleh temannya.
Tiga orang punggawa yang memenangkan pertempuran barusan, langsung mengemas tenda dan apa saja yang mampu mereka bawa. Ada tiga tas ransel yang mereka pilih isinya untuk dibawa ke tempat Alif dan Kenanga menunggu.
Sampai di sana terlihat Alif sedang merenung. Tak tahu harus melakukan apa. Ia meragu untuk menyentuh Kenanga, selain bukan tabib ia takut terjadi hal yang tak diinginkan.
“Bagaimana, Bang?” tanya Ridwan ketika baru saja sampai.
“Apanya?” tanya balik Alif, ia tak mengerti apa yang ditanyakan padanya.
“Ya keadaan Kenanga. Baik-baik saja atau semakin menjadi.”
“Mana aku tahu. Aku tak paham. Kalau kau paham periksalah.” Alif berkata demikian pada punggawanya. Ridwan hanya menggeleng saja, ia pun tak mengerti sama sekali. Seingatnya ketika anak gadisnya demam hanya diberi tumbukan daun saja di dahinya. Itu pun ia tak tahu daun apa.
Mereka membangun tenda yang dicuri dari para serdadu tadi. Mau tak mau Alif diminta untuk mengangkat Kenanga ke dalam tenda tersebut. Agar tubuh gadis bisu itu tak terkena terpaan angin sore yang semakin dingin.
“Kenapa harus aku lagi. Astaghfirullah.” Alif menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Karena engkau pernah ditolong oleh Kenanga sampai sembuh, Bang. Jadi sekarang timbal baliknya,” sahut Ibrahim. Sebenarnya Malik pun tak masalah diberi tugas itu, hanya saja ia mendahulukan tuannya yang masih terlihat meragu.
“Iya, iya, baiklah.” Alif memandang tenda yang sudah dikemas bagian dalamnya. Ada kain tipis yang terbentang serta ransel yang dijadikan bantalan. Ragu-ragu tangan itu ingin menyentuh Kenanga yang masih tidur. Hingga akhirnya ia mengucap bismillah dalam hati. Gadis bisu itu begitu ringan terasa dalam genggaman Alif.
Saat membaringkan Kenanga di dalam tenda. Alif sempat memperhatikan raut wajah tersebut. Begitu manis dan memiliki daya tarik tersendiri bagi dirinya. Termenung sang pangeran lama, hingga ketika Ridwan berdehem barulah ia segera menyelimuti gadis itu dengan selimut hasil rampasan.
“Harus berapa kali aku beristighfar karena menatap wajah Kenanga.” Alif menyugar rambutnya. Ia akui hatinya mulai melemah terus-menerus bersama gadis bisu itu.
“Bang, coba baca ini. Bukan tulisan Arab. Apa halal untuk dimakan?” Ibrahim menyodorkan beberapa kotak ransum pada Alif. Pemuda itu membacanya dengan teliti tak ia jumpai bahan-bahan haram di dalam sana. Hanya ada daging sapi, kentang, wortel dan nasi yang dihaluskan menjadi satu.
“Halal. Cukup dipanaskan saja. Direbus dalam air sebentar.” Alif menjelaskan sesuai instruksi yang tertera dalam kemasan.
“Kalau ini?” Ridwan memberikan sekotak s**u segar pada tuannya.
“Ya sudah pasti halal, pasti dari s**u sapi, tak mungkin babi.” Tanpa membaca petunjuk Alif sudah tahu. Ia sudah pernah meminumnya di istana dulu.
Ransum itu sudah selesai dimasak. Terendus aroma yang begitu lezat. Mereka membagi rata perbekalan. Sisanya buat esok hari, masih ada beberapa kotak yang sekiranya cukup sampai Kenanga sembuh.
“Siapa yang akan memberi Kenanga makan?” Ridwan melirik tiga orang temannya satu per satu.
“Jangan bilang aku lagi?” Alif mulai melihat tatapan tiga orang itu padanya.
“Ya, aku harus mengemas semua ini. Lalu membentang satu tenda lagi untuk kita beristirahat. Kalau Abang tak mau, biar Malik saja.”
“Tidak, biar aku saja. Kalian perhatikan dari luar. Kain tenda tak akan kututup.” Alif meraih ransum itu. Lagi ia dihadapkan pada situasi yang menyulitkan.
Terlihat Kenanga berusaha seorang diri berjuang melawan meriangnya yang semakin menjadi. Gadis itu melihat kedatangan Alif. Dalam keadaan sakit, kesadaran seseorang akan seperti diambang antara kenyataan dan khayalan. Dan kini Kenangan merasa Alif sedang menatapnya dengan penuh nafsu. Perlahan-lahan gadis itu menurunkan selimutnya. Ia mencari apa saja yang bisa digunakan untuk melawan Alif.
Ingin rasanya Kenanga menjerit memanggil nama Cempaka. Jika kakaknya tahu ada laki-laki yang berani menyentuhnya sudah dipastikan lelaki itu akan merasakan hantaman Cempaka yang begitu kuat. Namun, tubuh gadis bisu itu serasa lemah luar biasa. Ia bahkan tak sanggup untuk duduk. Kepalanya serasa berputar-putar. Kenanga hanya diam saja ketika Alif mulai meraih selimutnya, dan menutup tubuhnya sampai ke leher.
Antara ragu-ragu Alif menyuapkan ransum itu pada Kenanga. Sekali, dua kali gadis itu tak mau makan. Sang pangeran menarik napas panjang. Ia lalu menyodorkannya lagi, barulah Kenanga mau membuka mulutnya. Itu pun gadis tersebut memejam karena rasa yang aneh bagi lidahnya.
“Anggap saja ini sebagi balas budi karena kau merawatku saat sakit beberapa waktu lal.” Alif dengan sabar mengurus Kenanga yang masih tak berdaya. Ia pun membantu gadis itu untuk duduk dan menahan punggung itu dengan sebelah tangannya. Sang pangeran memberikan Kenanga minum s**u agar yang sakit cepat sembuh. Tanpa Alif sadari tangannya terulur membersihakan bibir sang tabib muda yang sedikit kotor.
Baik Kenanga atau Alif sama-sama terperanjat. Lalu sang pangeran membaringkan tubuh tersebut dan menutupnya dengan selimut. Ia ke luar dari tenda membiarkan gadis bisu itu beristirahat, dan ia pun menenangkan detak jantungnya yang berlebihan luar biasa.
“Mengapa malah jadi seperti ini. Aku takut berbuat dosa nantinya.” Alif mengusap dadanya sendiri yang masih berdesir. Sentuhan singkat tadi memberikan gelenyar aneh pada alirah darahnya. Sebagai lelaki yang tegap dan sehat. Tak bisa ia pungkiri berada dekat dengan seorang gadis tanpa ikata sah membuat dirinya takut. Lebih berbahaya daripada berhadapan dengan Belanda dengan bedilnya. Tak terhitung sudah berapa kali ia beristighar karena dosa dari tatapan mata, hati dan pikiran yang selalu tertuju pada Kenanga.