Pengacau

2138 Kata
Sudah satu minggu lebih Kenanga jatuh sakit. Empat pemuda pesisir itu pun tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu. Mereka hanya memberi makan dan minum saja untuk sang tabib, dan tetap melalui tangan Alif. Hingga perasaan keduanya semakin tumbuh tanpa ada yang bisa mencegah. Sang pangeran hanya menyembunyikannya saja. Ia masih tak yakin dengan dirinya sendiri. Begitu juga Kenangan, ia takut dengan dirinya sendiri yang serba kekurangan. Sembari menunggu Kenanga sembuh, Alif dan teman-temannya membuat panah dan tombak. Mereka gunakan untuk berburu atau menghadapi ancaman musuh yang bisa datang sewaktu-waktu. Sebab kapan saja penyerangan bisa terjadi tanpa menunggu mereka siap. Sang tabib telah mulai membaik. Ia bangun dari tidurnya dan menutup kepalanya dengan kerudung. Ia harus ke luar dari tenda dan mencari udara segar. Sakit karena rindu dengan keluarga benar-benar menyiksa dirinya. “Sepertinya dia sudah mulai membaik.” Alif membuang wajahnya saat beradu pandang dengan Kenanga. Ia takut sendiri dengan degup jantungnya yang luar biasa kencang. “Semoga saja. Kita bisa meneruskan perjalanan. Terlalu lama di satu wilayah juga tidak baik.” Ibrahim menghitung jumlah panahnya. Kenanga menjauh dari para pemuda itu. Ia berjalan kaki menuju sebuah aliran air berupa terjun kecil di dinding bukit. Wanita itu mencuci muka, dan sebagian tubuhnya yang terasa lengket. Ia menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan. Ia butuh udara segar sebanyak-banyaknya. Lalu telapak kakinya seperti menangkap sebuah pergerakan yang sangat halus. Kenanga menoleh dan mencari tahu siapa yang mengikutinya. Namun, tidak ada apa-apa di sana. Melainkan ... “Dari sekian banyak waktu kita berjalan, gadis itu yang baru kita temui,” ujar salah satu gagak hitam yang memburu kepala Alif. “Harus kita apakan dia. Kita culik lalu robek-robek bajunya?” “Inginnya begitu. Sudah lama sekali tak merasakan kehangatan tubuh wanita.” Mata jalang dua lelaki itu tak lepas menatap Kenanga yang sedang merapikan kerudungnya. Merasa gemerisik semak belukar semakin aneh. Wanita itu mengambil beberapa batu lalu melemparnya ke arah yang ia curigai. Dahi dua orang gagak itu terkena. “b*****h! Sepertinya dia bukan gadis biasa-biasa saja.” Dahi mereka mengalirkan darah sebab lemparan Kenanga tak pernah main-main. Melihat tak adanya pergerakan semak belukar lagi. Kenanga pun pergi dari sana. Walau firasatnya semain tak baik saja. Ia merasa ada yang ingin menerkamnya dari jauh. Tangan gadis bisu itu merogoh kantongnya. Sebuah bandul hitam masih setia menemaninya. Sebuah perjanjian gaib yang sempat ia buat dulu sebelum melakukan perjalanan mencari Cempaka. “Sudahlah, kita culik saja dia.” Salah satu gagak berdiri dan ingin menerkam Kenanga. Merasa tanah di sekitarnya bergetar. Gadis itu pun berlari terlebih dahulu. “t***l. Kalian begitu tidak sabaran. Yang harus kita lakukan adalah mengikutinya. Siapa tahu dia bisa membawa kita ke satu tempat!” bentak Mantili. Para gagak baru saja sampai di sana. Sudah banyak hari yang mereka lewati untuk mencari Alif. Gadis bisu itu terus berlari sembari melihat ke belakang. Matanya semakin menyipit ketika pergerakan semak belukar itu telah berhenti. Dan ia seperti melihat bayangan yang bergerak begitu cepatnya. Seolah-olah seperti hantu di malam hari. Kenanga terus berjalan hingga tanpa sadar ia menabrak Alif yang juga sedang tidak lurus memperhatikan sekeliling. “Maaf,” ucap Alif sebelum Kenanga salah paham padanya. Gadis itu hanya mengangguk saja. Ia pun jadi salah tingkah jika setiap sebentar ada saja yang terjadi dengan dirinya dan Alif. Ia tak boleh berpikir ke mana-mana dulu, harus mencari kakaknya yang hilang. “Kau baik-baik saja?” tanya Alif ketika melihat Kenanga yang seperti kebingungan. Lagi gadis itu hanya mengangguk saja. Lalu berjalan meninggalkan Alif sendirian. Sang pangeran memperhatikan sekeliling. Tidak ada yang aneh di sana. Kenanga bergabung bersama yang lain. Para punggawa sedang merebus dedaunan untuk makan. Sang tabib mengambil sebatang kayu dan menuliskan beberapa pesan di tanah lalu ia hapus lagi sebab ragu belum ada bukti apa-apa, tetapi ia tulis lagi ketika yakin. “Kenapa dia?” tanya Malik yang memperhatikan Kenanga terlihat bingung. “Mungkin ingin mengutarakan isi hatinya pada Bang Alif. Terima kasih karena telah merawatku selama sakit. Tanpa sadar benih-benih cinta telah tumbuh di hatiku, ha ha,” goda Ibrahim hingga Alif merasa malu di buatnya. “Tidak mungkin!” bantah Alif. Ia sendiri mencuri pandang pada Kenanga yang terlihat gelisah. Ketidak mampuan berbicara dan mendengar dari Kenanga membuat gadis itu sulit untuk dikenali wataknya, selain hanya teguh pendirian dan berparas manis. “Kalau iya bagaimana?” Malik mencari tahu. Ia memang harus rela untuk mengalah. “Ya sudah, ijab qabul saja sekalian. Cukup sudah dua mempelai dua saksi dan wali. Ya sudah sah, untuk apa ditunda-tunda lagi.” Ridwan yang selesai merajang daun melemparkannya ke dalam tempayan. “Tidak semudah itu, Bang. Memang setelah menikahi anak gadis orang kita tak wajib memberikan makan, pakaian dan tempat tinggal.” “Dan kasih sayang jangan lupa.” Ridwan menambahkan. “Ya, itu dia. Sementara aku sendiri tidak memiliki apa pun di dunia ini.” Alif mengucapkan keraguaannya. “Berarti di dalam hatimu nama Kenanga sudah mulai tertanam akarnya. Alhamdulillah, setidaknya engkau mulai melupakan Putri Naqi yang suda lama tiada.” Turut senang Ridwan mendengar pengakuan tak langsung tuannya. “Ya tidak begitu juga maksudku. Tapi, itu tadi aku tak memiliki apa-apa andai memang dia ada, ya, begitulah, susah sekali mengatakannya.” “Tidak. Tuanku masih memilik Allah yang Maha Besar dan kami selaku para punggawa yang setia mendampingi Tuan. Jangan berkecil hati. Menikah itu membuka pintu rezeki, siapa tahu saat bersama Kenanga justru engkau bisa mendirikan kerajaan baru lagi. Atau menjadi orang yang sangat disegani banyak orang. Pengaruh istri itu besar dalam kehidupan seorang suami, sangat. Karena itu pilihlah pasangan yang benar-benar baik. Aku katakan ini pada Pangeran dan kalian berdua yang masih lajang. Jangan hanya karena cantik saja lalu lupa dengan hal yang paling utama, yaitu akhlak dan kecerdasannya. Kulihat pada diri Kenanga dua itu ada padanya. Jika tak cepat dipinang Bang Alif, takutnya dia direbut pejuang lain.” Ridwan menepuk lutut Alif agar tuannya bergerak cepat. Namun, pemuda pesisir itu hanya menggeleng saja. “Apa karena dia bisu dan tuli, Bang?” Malik mencoba mencari tahu alasan tuannya yang selalu mengelak. “Bisa jadi,” jawab Alif jujur. “Dua kekurangannya itu bisa ditutupi oleh kelebihannya yang banyak. Kalau tak ada dia, Bang Alif bisa saja sudah menyusul keluarga yang lain. Kenanga gadis yang tak bisa dijabarkan keindahannya dengan kata-kata.” Malik mengucapkan sebuah kalimat yang mampu membakar api cemburu Alif. Namun, yang dikatakan punggawanya memang benar tanpa dibantah oleh Alif. *** Kenanga telah selesai menulis pesan di tanah, dan ia pun tunjukkan pada para pemuda pesisir tersebut. Di sana tertulis agar mereka semua segera meninggalkan tempat ini karena gadis itu seperti merasakan ada yang mengintai mereka. “Siapa yang mengintai kita?” Alif seperti tak percaya dengan apa yang Kenanga tulis. “Mungkin akan kucoba untuk memeriksanya dulu.” Ibrahim berdiri dan disusul oleh Malik, mereka berjalan mengawasi sekitar tempat menginap selama beberapa hari. Dari atas pohon para gagak memperhatikan buruan mereka. Mantili begitu bernafsu untuk membunuh orang yang telah melukainya sebanyak dua kali. “Kita beri muqadimah dulu pada pangeran berwajah tampan bernama Alif.” Gadis kejam itu merentangkan busurnya dan membidih anak panah tepat pada Alif yang sedang duduk. Firasat Kenanga yang dari tadi tak baik langsung menatap ke arah semak belukar yang gemerisiknya timbul lagi. Dengan matanya sendiri ia lihat sebuah anak panah meluncur. Cepat ia ambil belatinya lalu lemparkan senjata itu hingga terjatuh dan tak mengenai Alif yang sedang lengah. “Gadis kecil pengganggu. Dia memang harus disingkirkan terlebih dahulu,” gerutu Mantili dari atas pohon. Ia terus memperhatikan rombongan pemuda pesisir itu yang mulai waspada. “Sepertinya pesan yang ditulis Kenanga memang benar. Kita harus segera pergi dari sini, Bang.” Ridwan berdiri dan mencoba melindungi tuannya. Kenanga datang dan menyentuh bahu Ridwan. Gadis itu mengajak mereka untuk pergi secepatnya. Perbekalan ditinggalkan saja dan hanya membawa yang bisa dibawa oleh dua tangan. “Ayolah kita pergi. Susul Malik dan Ibrahim.” Alif pun bergegas, ia hanya membawa pedangnya saja. Begitu juga dengan Ridwan dan Kenanga. Gadis itu menoleh ke belakang. Kain kerawangnya tertinggal, tapi untuk melangkah ke tenda itu ia akan membuang-buang waktu saja. Tiga orang itu gegas bergabung dengan Ibrahim dan Malik. Mereka pun melanjutkan perjalan meski belum ada tujuan yang jelas. Sesekali Kenanga melihat ke belakang. Ia bisa rasakan getaran yang begitu halus mengikuti langkah mereka dari tadi. Namun, wujudnya tidak terlihat. Tiga orang gagak itu bergerak secara perlahan mengikuti mangsanya ke mana pun mereka melangkah. Pergerakan mereka sedikit lebih lambat sebab kepekaan Kenanga yang setiap sebentar serasa mengawasi Mantili dan dua temannya. Sampai akhirnya setelah berjalan selama seharian, para gerilyawan itu berisitirahat juga. Sebab sebentar lagi hari akan gelap. “Baiknya dua orang dari kita berjaga bergantian. Agar tidak ada yang terluka. Kenanga saja begitu awas setiap sebentar. Sepertinya gadis itu merasa tidak baik-baik saja,” tukas Alif. “Aku saja dulu dengan Malik, Bang. Kami akan berjalan sedikit lebih jauh.” Ibrahim tak sempat duduk lagi, ia langsung pergi bersama temannya. Kenanga memperhatikan kepergian dua orang itu. Kaki gadis bisu itu terasa sedikit nyeri sebab perjalanan yang sedikit berbatu. Ia pun duduk di dekat batus besar dan memijit tungkainya perlahan-lahan. Alif dan Ridwan sedang membuat api unggun untuk menghangatkan malam yang sebentar lagi datang. “Kau tak apa-apa, Bang, kalau aku tinggal bersama Kenanga saja?” “Engkau mau kemana Bang Ridwan?” Pemuda itu seperti mencegah kepergian punggawanya. “Mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tunggu saja di sini. Tak baik meninggalkan gadis itu sendirian.” Tanpa izin dari tuannya Ridwan tetap pergi. “Kau pikir baik meninggalkan kami berdua di sini. Aku lebih takut bersama dengannya daripada musuh. Macam kau tak paham saja,” gerutu Alif dari jauh. Pemuda itu melirik Kenanga. Gadis bisu itu lamunannya seperti sedang terbang ke satu tempat. Telapak kakinya yang sedang tak menyentuh bumi membuat kepekannya berkurang, hingga tak sadar dua lelaki beringas tengah mengincar raganya. “Lumayan, malam kita tak akan dingin lagi di bukit ini,” ucap salah satu gagak dengan menggenggam sebuah tali hitam. “Kalian ringkus dulu dia, baru kita habisi Alif.” Mantili menutup wajahnya dengan kain. Salah satu gagak melompat, ia mengarahkan kain hitam itu ke kepala Kenanga yang sedang terlena. Sedikit lagi lelaki itu berhasil membekap mulutnya. Namun, sigap pula gadis bisu itu menghalangi dan menarik kain tersebut. Kenanga mengambil batu dengan sebelah tangannya. Lalu, ia menghajar siapa lelaki di belakangnya dengan batu tersebut. Gagak hitam itu mundur. Luka di dahinya yang tadi saja belum kering kini sudah ditambah yang baru. Alif mendengar keributan. Ia langsung membantu Kenanga yang menarik kain milik seseorang. Pemuda itu melihat dua lelaki yang ia kenali sejak dulu. Mantili yang tadinya ingin menyerang kemudian undur diri. Rencana mereka gagal sebab Kenanga begitu peka dengan lingkungan sekitar. “Pergi dulu.” Perintah Mantili. Tanpa banyak menunggu tiga orang itu pergi sebelum Alif sampai di sana. “Ken, kau baik-baik saja. Siapa mereka?” Alif masih mencari di mana keberadaan dua orang lelaki tadi. Gadis bisu itu hanya menganguk saja. Benar firasatnya, mereka diikuti sejak tadi. “Ayo, jangan jauh-jauh dariku. Bisa saja mereka menunggu kita lengah lalu menangkapmu.” Lekas Alif menggenggam tangan Kenanga yang masih tak mau melepaskan tatapan matanya dari arah yang ia curigai. Ia berjalan dengan penuh keraguan mengikuti Alif yang menariknya agar tak jauh darinya. Tautan tangan itu kemudian Kenanga lepas ketika baru sadar ia bersentuhan lagi dengan seorang laki-laki. Dua orang itu menunggu kedatangan Ridwan yang tak kunjung kembali juga. Alif khawatir punggawa setianya itu tertangkap atau tertimpa kejadian lain. Ia ingin mencari, tapi tak mungkin pula meninggalkan Kenanga sendirian. Gadis yang baru saja sembuh dari sakitnya itu pun mulai tertidur pulas. Ia tak kuat jika harus melek semalam suntuk karena tubuhnya masih setengah lemas. “Dalam tidur saja kau terlihat begitu manis. Ya Allah, sampai kapan aku harus terus menerus seperti ini?” Alif meraup wajah dengan kedua tangannya. Menghilangkan jejak-jejak air yang muncul begitu saja akibat dinginnya angin bukit. Lelaki itu menambah besarnya api unggun ketika Kenanga memeluk dirinya sendiri yang kedinginan. Mereka tak membawa perbekalan yang layak. Semuanya ditinggalkan begitu saja. Tak beberapa lama kemudian Ridwan datang dengan membawa buah-buahan saja. Tak ia temukan binatang yang mudah diburu dalam kegelapan. “Ada yang menyerang Kenanga tadi.” Alif memberitahu Ridwan yang baru saja sampai. “Benarkah? Lalu?” tanya punggawa itu dengan rasa khawatir. “Dia tangguh, bisa melindungi dirinya sendiri. Hanya saja aku bisa mengenali siapa dua lelaki yang ingin menyerang Kenanga. Mereka itu dua orang yang menyerang kita saat di pengungsian. Kau ingat, kan, Bang Ridwan?” “Iya, aku ingat. Artinya sebenarnya mereka mengincarmu, Bang. Dan menggunakan Kenanga sebagai tameng. Tempat ini tak baik, kita harus pergi saat pagi sudah masuk.” Alif pun heran siapa yang mengutus mereka berdua sampai begitu niat unuk menyusul dirinya ke Bukti Gayo. Pangeran Pesisir itu hanya tak tahu saja wajah dirinya telah disebar luaskan dan ia pun menjadi buronan dengan harga yang pantas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN