Ledakan Dahsyat

2108 Kata
Mantili masih setia mengikuti ke mana pun Alif pergi. Mereka melewati sawah, lembah dan gua untuk mengincar kepala pangeran tersebut. Namun, keberadaan Kenanga memang sangat menganggu misi terpendam para gagak itu. Berkali-kali sudah coba dibunuh meski menggunakan racun sekalipun, gadis tersebut justru mampu melawan. “Kita mundur dulu sebentar. Aku akan muncul sebagai wanita tak berdaya saja. Sepertinya itu jalan terakhir!” Mantili memperhatikan pantulan dirinya di air. Ia masih lebih cantik daripada Kenanga. Pasti dengan Mudah Alif berpaling padanya. Begitu pikir Mantili. Ia pun melepaskan rombongan pesisir itu dan menepi sebentar mencari beberapa pakaian tertutup agar berpenampilan sama seperti gadis bisu tersebut. Kenanga tak lagi menoleh ke belakang setiap sebentar. Getaran tak lagi ia rasakan dari beberapa saat yang lalu. Setidaknya ia tak lagi berjalan dalam keadaan waswas dan bisa lebih tenang mencari Cempaka. Tabib muda itu ingin sekali berpisah dengan Alif dan teman-temannya. Namun, terkadang ia tak tega, ada banyak hal yang menjadi pertimbangannya. Alif salah satunya, pemuda itu cenderung lengah dengan ancaman. Seringkali Kenanga harus memperingatkan agar sang pangeran lebih mawas. Sebab Bukit Gayo terdapat banyak tempat untuk bersembunyi. Bisa saja musuh mengintainya dari jauh. Entah Alif yang tidak paham dengan maksudnya atau Alif tak pernah berhasil mencoba. Lalu berakhir dengan kekesalan Kenanga yang harus lebih waspada dibandingkan yang lainnya. Kini mereka berlima duduk di tepi sungai yang mereka ikuti selama sehari semalam. Kenanga tak tahu sudah memasuki wilayah mana, apalagi Alif dan yang lain. Perjalanan yang semakin menjauhkan tujuan gadis bisu itu untuk mencari kakaknya. Lelah berjalan sekian lama, mereka beristirahat terlebih dahulu. Kenanga merendam kakinya di tepi sungai dan membiarkan ikan-ikan kecil mengerubunginya. Ia bersantai sejenak dari segala kepenatan yang sudah berlangsung lebih dari dua purnama. Alif hanya memperhatikan dari jauh saja. Tak bisa ia jabarkan dengan kata-kata bagaimana jadinya jika takdir tak mempertemukan dirinya dengan Kenanga. Sudah banyak kali gadis bisu itu menyelamatkannya. “Lama-lama aku jadi berpikir dia yang menjaga kita. Bukan kita yang menjaga dia,” gumam Alif bertopang dagu. Ia perhatikan gemericik air yang terus menyebar dimainkan oleh kaki Kenanga. “Sepertinya memang begitu. Kita terlalu sering terluka tak terhitung sudah yang keberapa. Lalu dia akan sigap menolong meski harus mencari daun obat ke dalam hutan. Kita banyak berhutang dengannya.” Akbar mengatakan hal yang sama. “Sudah ketentuannya seperti itu. Maksudku sudah takdir, kita jalani saja.” Ridwan menyugar rambutnya yang berantakan. “Bang Alif, engkau tak ada rencanakah untuk meminangnya. Sebelum terlambat, mana tahu hal yang sama menimpa Kenanga seperti Putri Naqi.” Malik begitu kesal. Lambatnya pergerakan Alif membuat dirinya seperti ingin menikung tajam dan menikahi Kenanga terlebih dahulu. Walau hanya dalam angan-angan saja. “Aku tak punya harta benda untuk diberikan pada Kenanga. Aku malu sebab kini benar-benar menjelma seperti rakyat biasa yang tak punya apa-apa. Seumpama meminangnya pun aku butuh tempat untuk berteduh. Tak mungkin kami berjalan terus-terusan seperti ini. Hal itu saja tak bisa kuberikan untuknya, belum lagi yang lain.” Kerisauan Alif akhirnya tertuang juga. Menikah bukan hanya perkara cinta. Lagi pula ia masih bisa menahan gejolak dirinya ketika terperangkap dalam pesona seorang gadis bisu. “Pasti Kenanga paham kalau engkau memang tak memiliki semua itu.” Ridwan menguap terkena embusan angin sejuk. “Yang jadi masalah, apakah Kenanga memiliki perasaan yang sama sepertiku. Takutnya ia malah memilih satu diantara kita tapi bukan aku, ha ha.” Alif tertawa membayangkan kekonyolan itu, “Jangan-jangan dia memilihmu Bang Ridwan. Kalau iya bagaimana?” “Pulang-pulang aku bawa istri baru. Sedangkan istriku kuminta menjaga diri dan anak kami baik-baik. Lalu dia akan menangis sepanjang hari dan berlarut-larut dan aku ditekan perasaan bersalah. Tidak bisa. Aku tak mau menambah masalah hidupku lagi. Ini saja rasa rindu pada keluargaku sudah tak terbendung lagi sepertinya. Sedang apa mereka di sana. Apa baik-baik saja atau malah dikejar musuh?” Ridwan menutup mata. Ia membayangkan istrinya yang penyayang sedang menunggu dirinya dari hari ke hari. “Apa kita sudahi saja gerilya ini. Dan kembali ke kampung halaman?” tanya Akbar. “Kita sudah janji untuk mencari Cempaka. Penuhi dulu janji itu pada Kenanga setelahnya kita kembali saja. Istirahat sejenak baru lanjutkan perjuangan lagi,” ucap Alif. Seorang pangeran pun butuh waktu untuk mengistirahatkan raganya. Baru Alif sadari Kenanga tak ada di tepi sungai. Ia kembali lengah dan tak memperhatikan ke mana gadis bisu itu melangkah. Segera saja ia mengejar Kenanga meski tanpa berkata apa-apa pada para punggawanya. Tak lama kemudian ia melihat Kenanga yang menggenggam begitu banyak daun dalam tangannya. Kegiatan yang selalu dilakukan gadis bisu itu ketika pikirannya sedang kusut. Memilah racun dan obat sebagai kebutuhan yang sewaktu-waktu ia perlukan. Senyum Kenanga merekah hingga Alif terpaku memandangnya. “Kau memang membuatku kecanduan untuk terus memandangmu.” Alif berjalan di depan Kenanga, sebab jika di belakang, ia bisa membayangkan hal lain pula yang menyebabkan dosanya bertambah. Tak bisa ia pungkiri perasaannya terus tumbuh besar selama berjalan bersama. Sang pangeran menemani gadis itu memilah antara racun dan yang bisa digunakan sebagai obat. Semakin lama pemuda pesisir itu perhatikan, wajah Kenanga justru terlihat begitu manis dalam pandangan mata lelakinya. Hatinya terkadang berdesir ketika melihat setiap kedipan mata gadis bisu itu. Lalu ketika Kenangan menoleh padanya Alif pun salah tingkah. Tangan gadis itu terulur padanya, ia meminjam pisau pada Alif. “Sampai kapan seperti ini terus. Jujur saja aku jadi tak keruan dibuatnya.” Alif mengelus dadanya sendiri yang terasa berdesir. Ia teringat dengan pesan guru ngajinya. Wanita memang ujian yang paling bisa melemahkan iman laki-laki. Tak peduli setertutup apa mereka berpakaian, akan tetap terlihat indah di mata lelaki. Karena itu pula antara laki-laki dan perempuan tak dibolehkan berdekatan jika tidak ada udzur syar’i. Lalu para lelaki jika sudah menemukan wanita menutup auratnya maka wajib bagi mereka untuk menjaga pandangan. Namun, hal itu pula yang tak bisa dilakukan Alif. Sebagaimanapun Kenanga telah memenuhi syarat berpakaian yang benar. Ia tetap tak bisa menjaga matanya. Gadis itu terlalu indah untuk dilewatkan setiap hari. Sudah tak terhitung berapa banyak istighfar yang diucapkan Alif. Kemudian, ia ulangi lagi jika ada kesempatan memandang Kenanga. Ia hanya takut tak bisa menahan diri lalu Kenanga menjadi korban atas hawa nafsunya. Alif pun jadi tak ada bedanya dengan para serdadu. “Kenanga, maukah kau menjadi istriku?” tanya Alif dalam keheningan. Ia memang mengutarakan isi hatinya walau gadis itu tak bisa mendengar. Sengaja, sang pangeran takut ditolak langsung. Sang tabib terus memisahkan antara racun dan obat. Tak lama setelah itu, ia berdiri lagi. Meraih tangan Alif dan menunjuk ke satu arah. Gadis itu bisa rasakan kehadiran orang lain dalam jumlah besar. Baik Alif, dan tiga punggawanya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Kemunculan beberapa orang yang membawa beban di pundaknya. Namun, yang membuat mereka sedikit aneh, bahwa yang memimpin perjalanan justru seorang lelaki Belanda yang berpakaian sama seperti mereka. Tak ada seragam serdadu, hanya saja bedil tetapi tergantung di pundaknya. “Asssalammualaikum, Tuan dan Nona sekalian,” ucap lelaki berambut pirang yang diikat rapi tersebut. Panggilan itu dijawab oleh Alif. Sang pangeran menelisik penampilan lelaki Belanda di depannya. Terlalu menawan jika ingin disebut musuh. Namun, bukankah orang seperti dia yang terus menerus menggempur wilayahnya. Kenanga pun demikian, ia ingat beberapa serdadu yang ia bunuh dengan tangannya. Kini ia ragu-ragu mengambil tindakan. Jika menyerang langsung Kenanga mengingat rombongan yang dibawa lelaki Belanda itu. Jika diam saja, justru ia takut diserang terlebih dahulu. “Kalian mencurigaiku?” tanya lelaki Belanda itu. “Tentu. Siapa kau dan mau apa kemari. Siapa pula mereka. Jangan bilang akan kau bawa untuk jadi pekerja paksa.” Alif mulai menunjukkan kepemimpinannya. “Jangan salah paham dulu, para tuan. Oh iya, perkenalkan dulu namaku Dirken. Sudah setahun ini aku diam di Bukit Gayo,” ucapnya dengan bahasa setempat ditambah dialeg khas Belanda. “Untuk?” tanya Ridwan. “Belajar agama. Aku muallaf para tuan sekalian. Aku tertarik mempelajari agama ini. Semoga para tuan percaya dan tak berniat menyerangku. Sebab aku juga bertanggung jawab membawa mereka ke satu tempat yang cukup aman. Desa kami sudah hangus digempur oleh ...” Dirken tak bisa meneruskan perkataannya. “Orang-orang dari negaramu sendiri bukan?” sahut Alif. “Ya, dan dibantu oleh orang-orangmu juga. Jadi bukan masalah negara atau warna kulit. Masalah keberpihakan pada hal yang benar saja.” Dirken mengajak rombongan gerilyawan itu untuk bergabung dengan orang-orangnya. Lelaki berambut pirang tersebut melihat Kenanga yang berjalan paling belakang. Ia menunjukkan ketertarikannya. “Nona, kau perempuan sendiri dalam rombongan ini.” Dirken bergerak cepat mengenal Kenanga. Begitu memang lelaki di negaranya ketika sudah melihat wanita yang menarik hati. Bergerak cepat tak ingin diambil oleh orang lain nantinya. Kenanga tak membalas apa-apa, ia hanya tersenyum saja. sebab kesulitan membaca gerak bibir Dirken. Bahasanya masih bercampur aduk. “Dia tak bisa bicara. Jika ada kepetingan dengannya katakan saja pada kami.” Malik mendekati Kenanga dan membawa gadis itu dekat dengan rombongan awal. Meski demikian Alif tak ingin merusak tawaran Dirken untuk bergabung bersama orang-orangnya. Setidaknya hanya sebentar untuk melepas rasa sungkan. “Baru kali ini aku jumpai seorang Belanda muallaf. Biasanya mereka paling terdepan mencemooh kita.” Akbar memperhatikan Dirken yang jauh lebih tampan dibandingkan Alif. Dirken jauh lebih tinggi daripada tuannya. Dan merupakan ancaman bagi Alif yang menyukai Kenanga. “Bisa jadi memang ada tapi kita saja yang tidak tahu, bukan? Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.” Ridwan juga tak lepas memandang Dirken, lelaki Belanda itu berupaya untuk mengenalkan para pengungsi pada Kenanga yang duduk manis di atas daun kering. “Habislah, Bang, kalau tak cepat bergerak,” sindir Malik. Rasanya ia tak ada apa-apanya jika bersaing dengan Alif dan Dirken. Kenangan tersenyum lebar melihat masih banyak orang bukit yang hidup. Ia sempat menyangka semuanya telah mati dibunuh Belanda. Gadis itu seperti menemukan obat hatinya yang terluka. Meski demikian ia sedikit risih dengan cara Dirken yang ingin terus dekat dengannya. Bahkan lelaki itu kini menyodorkan bekal miliknya. Saat seperti ini justru Alif tak bisa diandalkan. “Manis sekali. Mungkin seperti inilah bidadari di dalam surga, ya?” gumam Dirken memandang Kenanga. Lelaki Belanda yang baru belajar agama itu belum belajar untuk menjaga sikap pada yang bukan haknya. Kenanga tersenyum menerima apa yang diberikan Dirken padanya. Sebagai rasa terima kasih, tidak lebih. Lalu ia pun bergabung lagi bersama empat pemuda lainnya. Membagi bekal yang diberikan lelaki Belanda itu padanya. Gadis bisu itu memilih untuk duduk di belakang Ridwan, tubuhnya tertutup oleh punggung punggawa setia Alif tersebut. Ia tak suka dengan cara Dirken menatapnya. Berbeda dengan Alif yang terkadang ia lihat mencuri pandang ke arahnya. Dirken terlalu tepat sasaran hingga gadis bisu itu merasa terancam. Jujur saja naluri membunuh Kenanga jadi naik ke ubun-ubun. Namun, ketika ia melihat lelaki Belanda itu begitu baik dengan orang-orang Gayo yang ia bawa, keinginan Kenanga pun dikubur dalam-dalam. “Apa kita ikut mereka?” Malik duduk di sebelah Ridwan, agar Kenanga semakin tak terlihat oleh Dirken. “Tidak. Jelas tujuan kita mencari kakaknya,” bantah Alif. Baru saja diucapkan, lelaki bernama Dirken itu telah berjalan ke arah mereka duduk. Sembari membawa seikat bunga untuk diberikan pada Kenanga. Namun, baru beberapa langkah, sebuah ledakan timbul dari dalam tanah yang diinjak lelaki Belanda itu. Tubuh Dirken terpental jauh dan langsung tewas detik itu juga. Para gerilyawan itu tercengang. Ada sebuah alat peledak yang ditanam di bawah tanah. Kenanga berdiri, ia injak kakinya untuk mencari tahu tanah sekitar. Dan bisa ia rasakan di dalam tanah ada benda-benda aneh bukan akar pohon yang cukup berat ditanam. “Aku pernah mempelajarinya di istana, ini disebut ranjau darat. Salah injak bisa melayang nyawa. Jangan sembarangan bergerak. Bisa jadi tempat ini sudah dipenuhi oleh ranjau darat.” Alif menarik napas cepat berkali-kali. Akibat dari ranjau darat itu memang sangat dahsyat. Tidak demikian dengan sisa rombongan yang dipimpin Dirken. Mereka bergerak sembarang arah dan asal injak. Panik dan takut bercampur menjadi satu. Beberapa ranjau darat yang ditanam jadi meledak. Sebagian rombongan itu telah tewas dan sebagian lagi berhasil melarikan diri. Alif dan para punggawa serta Kenanga belum berani untuk bergerak. Naluri seorang tabib di dalam diri gadis bisu itu sempat meronta ketika melihat ada yang terluka. Ia ingin segera melompat, tapi tak tau apa masih banyak ranjau di dalam tanah. Tak tahan dengan darah yang mengalir di tubuh orang yang tak bersalah, membuat Kenanga bertindak nekat. Beruntung Alif masih sempat menangkap tangannya. “Jangan, kita tak tahu apa yang akan terjadi walau sedetik kemudian,” cegah Alif. Kenanga berontak, ia ingin menolong yang terluka. Namun, Alif tak melepaskannya. Hingga akhirnya pemuda itu menarik paksa tangan Kenanga dan memberi sebuah pukulan yang tepat di leher bagian belakang Kenanga hingga gadis itu tak sadarkan diri. “Maaf, aku hanya tak mau apa yang menimpa Putri Naqi juga menimpamu.” Kenanga jatuh dalam genggaman Alif. Kini mereka semua tinggal memikirkan bagaimana caranya ke luar dari sarang ranjau darat tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN