Danau Lut Tawar

2100 Kata
“Masih belum sadarkan diri juga?” Alif melihat Kenanga yang tertidur sangat pulas setelah ia pukul di bagian leher tadi. “Mungkin dia kelalahan, jadi sekalian beristirahat,” jawab Ridwan. “Ya, sudah, biarkan saja kalau begitu.” Alif tadi bersusah payah membawa Kenanga di punggungnya agar selamat dari dentuman ranjau darat. Ia memanjat pohon dan melompat agar sampai di sebuah daratan baru yang lebih aman. Dan kini sudah beberapa waktu berlalu, gadis bisu itu masih saja terlelap. Tepatnya, ia terlena dalam mimpinya. “Mengapa, sudah semalam suntuk dia tak sadar juga?” Heran Alif dengan Kenanga yang biasanya peka dengan situasi sekitar. “Iya, ya. Biasanya dia yang paling cepat bergerak di antara kita,” ucap Malik pula. “Bang Ridwan, kau kan pengalaman di luar sana, daripada aku yang di dalam istana. Kenapa Kenanga bisa seperti ini?” tanya Alif pada punggawanya. “Entahlah, Bang Alif. Mungkin saja dia benar-benar tidur atau sakit barangkali.” Empat pemuda itu pun meninggalkan Kenanga yang masih terlelap. Mereka sholat Shubuh berjama’ah. Tak luput Alif mengangkat kedua tangannya agar gadis itu segera sadarkan diri. Ia tak mau Kenanga sampai terluka atau mengalami hal-hal aneh, sebab Alif tak ingin kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Alif memperhatikan sang tabib yang tersenyum dalam mimpinya. Manis sekali raut wajah itu jadinya. Jika tak ramai orang di sana, bisa jadi Alif khilaf dan mengecup bibir itu. Sekali lagi sang pangeran beristighfar entah untuk yang keberapa kalinya. Dalam mimpinya, Kenanga di bawah oleh sosok gaib Datok Panglima. Lelaki tinggi besar dengan pakaian serba hitam. Makhluk gaib yang konon disebutkan sebagai penjaga Bukit Gayo. Kenanga telah membuat perjanjian dulu dengan Datok Panglima. Saat desanya dibantai dan mayat bergelimpangan di mana-mana. Gadis bisu tersebut memanggil makhluk yang dapat mengubah wujudnya menjadi banyak rupa itu. Kenanga meminta bantuan Datok Panglima untuk mengubur jasad-jasad tersebut dengan baik. Dan sebagai imbalannya, jika gadis bisu itu sudah meminta tiga permintaan maka Kenanga rela dirinya dibawa dan ditawan sebagai istri makhluk gaib tersebut. Baru satu kali Kenanga menggunakannya. Jangan sampai tiga kali. Sebab Kenanga tak ingin mempunya suami seorang hantu. Begitu pikirnya. Kenanga sedang berada dalam kehidupannya yang dulu saat masih lengkap bersama dengan orang tua dan kakaknya. Sangat membahagiakan, karena itulah ia enggan untuk bangkit. Di tambah ia melihat pernikahan Cempaka yang seharusnya diselenggarakan sebelum semuanya digempur Belanda. “Setelah ini kau yang menikah, ya?” Cempaka menyentuh wajah adiknya yang halus terawat. Tabib muda itu begitu memperhatikan dirinya sendiri. Kenanga hanya menggeleng saja. “Kenapa?” Cempaka menggerakkanya telunjuknya sebagai isyarat. Dijawab Kenanga dengan menunjukkan bibir dan telinganya. Dua kekurangan yang sampai mati pun tak akan pernah sembuh. “Kakak yakin akan ada yang bisa menerimamu apa adanya. Hingga saat itu tiba bersabarlah. Dan jaga diri dari perbuatan maksiat.” Pesan Cempaka. Kenanga hanya mengangguk saja. Maksiat? Jangankan berpikir ke arah sana, ada lelaki yang tersenyum padanya saja ia sudah sangat bersyukur. Ia sendiri merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya. Padahal dibalik semua itu ada beberapa lelaki yang ingin meminangnya. Hanya saja untuk masalah perasaan, gadis bisu itu memang sedikit tidak peka. Mimpi indah itu terus digulirkan oleh Datok Panglima. Makhluk gaib itu menyukai Kenanga yang pemberani dan tangguh. Bisa ia bayangkan bagaimana jika menyentuhnya, gadis bisu itu pasti tak diam mematung seperti istri-istrinya yang berjumlah sudah ribuan. Sangat menyenangkan memiliki seseorang yang berbeda di antara yang lainnya. Sudah berhari-hari Kenanga jadi tak sadarkan diri. Alif pun risau luar biasa, tidak ada demam dan tidak ada igauan. Hanya senyum saja yang terus merekah. Lelaki itu pun tak bisa bergerak ke mana-mana dan gerilya mereka semua tertunda. “Kita harus melakukan sesuatu. Bahaya jika Kenanga tidur terlalu nyenyak sampai berbulan-bulan lamanya.” Alif duduk dan bersila, ia membaca beberapa ayat perlindungan diikuti oleh Ridwan dan yang lainnya. Perlahan-lahan lantunan ayat suci itu menembus batas Mimpi Kenanga yang sedang berbincang dengan seorang lelaki tampan, perwujudan dari Datok Panglima. Lalu dinding mimpi itu runtuh perlahan-lahan. Lelaki tampan di hadapan Kenanga ikut menghilang. Api membara membakar semua khayalan yang dibuat oleh Datok. Kenanga merasa ketakutan luar biasa. Satu demi satu, ayah, ibu dan kakaknya menghilang jadi abu dari hadapannya. Hanya Kenanga saja yang tertinggal. Kemudian sebuah sinar terang datang dan menariknya hingga ia terbangun dengan napas cepat luar biasa dan tubuh yang berkeringat. Dan didepannya, kebetulan pula Alif sedang berusaha membasuh wajah Kenanga dengan air yang telah ia doakan. Dua pasang mata itu bertemu dan saling pandang sesaat. Kemudian, Kenanga mendorong Alif sebab mereka berdua seperti tanpa jarak. Gadis itu menyilangkan dua tangan di depan dadanya. Ia takut sang pangeran akan berbuat hal tak senonoh padanya. “Tenang, jangan salah paham. Kau sudah tertidur selama empat hari. Aku sedang berusaha membangunkanmu dengan air doa.” Alif berdiri dan menjelaskan semuanya pada Kenanga. Diiyakan pula oleh tiga punggawanya yang lain. Napas gadis bisu itu sedikit demi sedikit teratur. Akbar segera menyodorkan air minum untuknya. Entah mengapa pula Kenanga jadi terlena sedemikian berlarut-larut sampai lupa waktu. Sudah berapa banyak sholat yang ia tinggalkan pula jadinya. “Ken, kau baik-baik saja?” tanya Malik yang heran dengan Kenanga yang masih termenung. Meski demikian gadis bisu itu bisa menangkap maksud Malik. Ia hanya mengangguk saja. Sedikit kesal sebenarnya ketika mimpinya saat dilamar oleh pemuda tampan sirna begitu saja. Namun, pertolongan datang di saat yang tepat. Jika dibiarkan begitu saja bisa-bisa Datok Panglima menjamah Kenanga di dalam mimpi dan gadis itu pun tak mau berpisah dengan makhluk halus tersebut. Kenanga mengucapkan terima kasih pada semuanya. Terutama Alif yang sempat ia dorong. “Benar-benar banyak sekali cobaan kita selama dalam perjalanan.” Alif melirik Kenanga yang sedang menunaikan shalat Shubuh. Gadis itu tak luput mengqadha sholatnya yang tertinggal selama empat hari. Sebab ia lalai dalam keadaan tidak sengaja. ‘Rab, jauhkanlah hamba dari maksiat sampai diri ini benar-benar ada yang memiliki. Jika pun engkau tak takdirkan hamba memiliki jodoh, biarkanlah kematian menjemput hamba dalam keadaan masih suci,’ ucap Kenanga dalam hatinya. Tak ia sangka tadi bisa terlena oleh sosok pemuda tampan yang baru pertama kali berjumpa. Betapa mudah hati manusia berpaling, padahal selama dalam perjalanan ia kerap mencuri pandangan pada Alif. Pemuda pesisir yang diam-diam telah mengurung hatinya dalam penjara yang tak terlihat. Hingga ia tak mampu menahan degup jantungnya ketika berdekatan. Namun, Kenanga cukup sadar dirinya siapa dan tak akan berharap lebih. Lagi pula tujuannya adalah untuk mencari Cempaka, bukan mencari suami. Gadis itu menyudahi sholatnya, ia kemudian menuju parit-parit kecil di sekitar sawah. Mencuci sebagian auratnya setelah memastikan para gerilyawan itu tak melihatnya. Tak luput pula Kenanga mengutip keong berukuran besar yang ia letakkan dalam sebungkus daun besar. Saat daun itu sudah penuh, ia berikan pada para pemuda yang tengah menunggunya. “Kupikir kenapa lama sekali. Ternyata mencari keong untuk dimakan,” ujar Alif yang turut membantu menghidupkan bara api. Keong itu akan dibakar sebagai pengganjal perut di pagi hari. “Calon istri yang baik, Bang. Belum disuruh sudah bergerak. Kemarin ada lelaki Belanda yang terang-terangan menyukainya. Bukan tak mungkin nanti ada yang lain pula menyerobot langkahmu. Menangislah engkau nanti saat Kenanga hanya jadi kenangan saja.” Ridwan menakut-nakuti Alif yang menyimpan perasaan pada gadis bisu itu. “Ya, tunggu sajalah. Sampai ada waktu yang tepat untukku menikahinya. Tidak mungkin juga di sini. Lalu setelah menikah kami bergerilya juga, begitu? Tentu aku juga mendambakan kehidupan seperti yang lain. Tidak usah mewah, cukup untuk kami berdua bernaung saja.” “Itu juga kalau Kenanga mau ya, Bang? Kalau tidak mimpi itu pun tak terwujud, bukan?” seloroh Akbar. Mereka pun tertawa tanpa menggangu Kenanga sama sekali. Gadis itu membungkus keong dengan daun pisang agar saat dibakar aromanya saat dibakar menjadi lebih lezat. *** Para gerilyawan itu terus melanjutkan perjalanan, mereka melewati pematang sawah. Di sana padi-padi yang hampir dipanen itu hancur berjatuhan. Ragam bedil, meriam, tombak dan darah bercecerah di sawah. Pertempuran dengan Belanda telah menghancurkan semuanya. Kenanga memetik buah-buahan kecil yang ia temui sepanjang jalan. Banyak sekali sampai kantong bekalnya penuh. “Tak berperikemanusiaan.” Malik melihat darah yang mengering di sebuah meriam. Pertempuran yang dahsyat baginya. Lima orang itu ke luar dari pematang sawah dan melihat sebuah danau biru yang terbentang begitu luas dari banyak danau yang pernah mereka temui. Orang-orang menyebutnya Danau Lut Tawar. Tempat itu pernah dilewati Cempaka saat ditawan Daalen. Entah perjalanan mereka semakin dekat untuk bertemu kakak Kenanga atau sebaliknya. Sebab Cempaka sendiri sudah berhasil meloloskan diri dari terkaman Daalen. “Dulu waktu kecil, aku pernah mendengar cerita kalau Danau Lut tawar penghuninya sangat cantik. Seorang wanita berpakaian serba hijau.” Ridwan mencuci tangannya di danau itu dan menyebutkan sebuah legenda usang. “Cantik mana dengan Kenanga, Bang?” tanya Malik, dan ia dilirik oleh Alif. “Mana Abang tahu, bertemu saja tidak pernah. Yang jelas cantik istriku.” Ketika empat pemuda itu sedang membahas wanita cantik. Lain pula yang dirasakan oleh Kenanga. Dengan berbekal kalung bandul hitam yang diberikan oleh Datok Panglima. Ia bisa melihat wujud seorang wanita cantik yang sedang berenang ke arah empat pemuda tersebut. Penghuni Danau Lut Tawar itu merasa terpanggil ketika namanya disebut berulang kali. Kenanga berlari menuju Alif duduk. Gadis itu berdiri di tepi danau, ia lihat sendiri wanita itu tangannya bergerak-gerak memanggil salah satu dari pemuda tersebut, dan kebetulan pula Akbar menatapnya dengan tatapan kosong. “Ken, ada apa kau ini?” Alif menegur Kenanga yang terus menerus menujuk ke arah danau. Gadis bisu itu lantas menunjuk Akbar. Lelaki tersebut mulai menanggalkan baju bagian atasnya dan menceburkan diri ke dalam danau. Kenanga menari napas cepat. Tak ada yang paham dengan maksudnya. Akbar dipengaruhi oleh makhluk gaib di dalam sana. “Biarkah saja, Akbar cuma mandi. Kau tenanglah.” Alif tak melihat apa pun di danau seperti halnya Kenanga. Kesal, gadis bisu itu lalu mendorong Alif hingga pemuda itu jatuh ke dalam danau, beruntung ia bisa berenang dan segera ke tepian. “Kau ini kenapa?” Alif meninggikan nada bicaranya walau tak didengar Kenanga. Gadis bisu itu memejamkan matanya. Ia kesal lagi, mengapa Alif bukannya menolong Akbar, malah naik ke daratan. Di mata Kenanga, Akbar terus mendekat pada wanita cantik berbaju hijau. Ia takut Akbar akan dibawa ke kedalaman danau lalu bisa saja di makan oleh penghuni di sana. Kenanga ingin meminta bantuan Datok Panglima. Namun, ia pun takut. Sebab sisa permintaannya hanya dua kali saja. “Tenanglah, Ken. Kali ini kau kumaafkan, sekali lagi kau mendorongku, aku nikahi kau langsung.” Alif memeras bajunya yang kuyup terkena air danau. Tak ada juga yang paham dengan maksud Kenanga, gadis itu pun akhirnya nekat. Ia menceburkan diri dan seketika berenang menarik Akbar yang semakin terpikat dengan pesona wanita di dalam danau. “Bang Alif, kau apakan Kenanga?” teriak Ridwan. “Heh, tak tahu aku. Dari tadi dia marah-marah tak jelas.” Mau tak mau Alif pun turut menceburkan dirinya lagi, berenang menyusul Kenanga yang berusaha menyelamatkan Akbar. Sosok wanita penghuni Danau Lut Tawar itu memandang sang tabib muda dengan tatapan tak suka. Sungguh ia ingin melumat daging gadis itu jika saja ia tak memiliki pendamping sekuat Datok Panglima. Kenanga berhasil menarik paksa Akbar yang masih memandang dengan tatapan kosong. Gadis itu ngos-ngosan di dalam air, sebab salah satu punggawa Alif tersebut benar-benar berada dalam ilusi yang dibuat wanita cantik di dalam danau. Kenanga membaca bismillah di dalam hatinya, lalu menepuk kepala Akbar berulang kali hingga akhinya punggawa itu sadar dari lamunannya. Gegas Kenanga menunjuk tepi danau dan meminta Akbar untuk berenang ke sana. Namun, kaki Kenanga merasa kebas, ia terpaku sesaat dan tubuhnya jatuh ke dalam air yang sangat dalam dan jernih. Kesempatan itu bisa saja digunakan oleh penghuni danau untuk menggerogoti tubuh Kenanga. Sayangnya, Alif menyusul dan segera menariknya ke permukaan. Pemuda pesisir itu mendorong tubuh Kenanga dari belakang agar mereka tidak panik dan akhirnya sama-sama tenggelam. Sampai di permukaan sang tabib menarik napas berulang kali. Matanya memerah dan hidungnya terasa perih. Yang paling membuatnya lega yaitu Akbar yang tak jadi ditarik ke dalam danau, dan ternyata Alif yang begitu peduli dengannya. “Lain kali, kalau kau berbuat nekat lagi, aku tak akan menolongmu.” Alif berkata sambil memalingkan wajahnya. Lagi, lekuk tubuh Kenanga tercetak sangat jelas. Walau tak mendengar, Kenanga paham Alif merisaukannya. Ia hanya tersenyum saja. “Kau juga kenapa berenang sampai ke dalam sana,” tegur Alif pada Akbar. “Cantik sekali, Bang, wanita di dalam sana. Matanya seperti menyihirku, bibirnya merah merona dan rambutnya ada makhkota di atasnya. Kecantikan yang luar biasa.” Akbar menggigil setelah berendam sesaat di dalam danau. “Sudah, yang penting kita semua selamat. Lain kali jangan mudah terlena dengan pesona wanita. Mereka kelihatannya saja lemah, padahal berbahaya.” Alif memperingati yang lain termasuk dirinya sendiri. Iya, sang pangeran pun semakin lama tenggelam dalam pesona yang dipancarkan oleh Kenanga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN