Kenanga berjalan dengan rasa waswas. Ia pun menarik tangan Alif agar tak meneruskan perjalanan. Lelah melanda sebab pikiran Kenanga terus terganggu. Jadilah perjalanan pagi itu berhenti setiap sebentar karena gadis bisu tersebut merasa ada yang mengikuti mereka.
“Aku merasa ada yang tidak beres. Tidak biasanya Kenanga bersikap seperti ini.” Alif memperhatikan punggung Kenanga yang menghilang masuk ke dalam semak belukar. Ia sudah paham, gadis itu akan memetik beberapa daun untuk dipilah lagi, meski tak terpakai tetap saja ia kerjakan.
“Semoga saja tidak ada apa-apa.” Ridwan membaringkan kepalanya di atas batu besar. Matanya yang mengantuk langsung terlelap terkena embusan angin bukit. Pun dengan yang lain, hanya Alif saja yang masih menanti kapan Kenanga akan kembali. Ia tak berani menemani gadis itu, takut saat hanya berdua saja ia justru yang akan menjadi hewan liar bagi gadis itu.
Pemuda itu mengerjakan shalat Duha sejenak sembari menunggu Kenanga kembali. Lalu ia rasakan sebuah tangan menepuk bahunya berkali-kali. Kenanga di sana, ia menggenggam beberapa daun, dan gadis bisu itu menarik tangan Alif agar segera menjauh dari tempat itu. Sang pangeran gegas membangunkan yang lain. Mereka percaya Kenanga tak pernah main-main untuk urusan yang amat penting.
Lima orang itu sembunyi di dalam semak belukar yang ditutupi rimbunnya pepohonan. Lalu, tak lama setelah itu beberapa serdadu Belanda lebih dari lima orang datang dan membuat api unggun. Mereka terlihat bahagia setelah menjarah beberapa harta benda entah milik siapa.
Alif dan Ridwan ingin maju meringkus mereka. Namun, Kenanga menahan sang pangeran. Gadis bisu itu mengisyaratkan agar mereka membakar daun beracun yang baru saja ia petik. Cara yang lebih mematikan daripada turun tangan langsung.
Akbar dan Malik bergerak, dua orang itu memastikan ke mana arah angin bertiup lalu mengambil tempat dan menghidupkan api, menyusun ranting kering untuk dinyalakan. Menumpuk tumbuhan beracun di atas bara api.
Kenanga mengikat separuh wajah dengan kerudungnya, diikuti dengan Alif dan Ridwan yang menggunakan ikat kepala mereka sebagai penutup muka bagian bawah. Mereka berlima mengamati dari kejauhan, kepulan asap mulai menebal dan bergerak mengikuti arah angin menuju tempat di mana para marsose beristirahat.
Beberapa waktu menunggu, serdadu Belanda itu mulai batuk, awalnya mereka hanya mengabaikan saja, tapi lama kelamaan para marsose itu muntah hebat. Beberapa bahkan mulai mengejang dan mengggelepar layaknya ikan kekurangan air. Setelahnya para penjajah itu satu demi satu tumbang dan mulutnya mengeluarkan busa. Beberapa orang itu tewas karena asap tanaman beracun yang dipetik Kenanga.
Alif ingin pergi mengambil senapan laras panjang milik marsose. Namun, tangannya ditahan oleh Kenanga. Gadis itu menggeleng, ia menunjuk asap beracun yang belum hilang, bisa-bisa pemuda itu juga mati di sana.
Mereka menunggu beberapa waktu lamanya, Kenanga bergerak cepat terlebih dahulu hingga membuat jantung para pemuda pesisir itu nyaris copot. Gadis itu kembali dengan satu buah senapan panjang. Matanya sedikit memerah terkena sisa-sisa asap yang belum mereda.
“Ayo, kita pergi dari sini. Aku khawatir marsose lain akan menemukan kita,” perintah Alif sambil menerima senapan dari Kenanga. Sang Pangeran Pesisir risau luar biasa, gadis bisu tersebut terlampau nekat dan bergerak tanpa meminta pendapatnya.
***
Wakil Daalen yang diperintahkan untuk menangkap Kenanga datang tepat pada waktunya. Ia bersama puluhan serdadunya menemukan bawahannya mati terbujur kaku begitu saja tanpa sebab yang jelas.
“Cari terus di sekitar hutan ini. Aku yakin ini bukan perbuatan binatang berbisa.” Sersan itu mengobrak-abrik tumpukan daun yang telah mengering. Ada sedikit bau yang membuatnya sesak napas.
Serdadu yang berjumlah puluhan itu mulai bergerak, mereka menyiagakan masing-masing bedilnya. Terus melangkah mengikuti jejak-jejak kaki yang tercetak di tanah. Anjing-anjing pelacak itu juga mulai menyalak dan berlari kencang.
Kenanga menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang. Terasa oleh telapak kakinya tanah yang ia pijak bergetar sangat kuat. Ia memejamkan mata lagi dan semakin lama tanah itu semakin banyak orang-orang berlarian di atasnya.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa berhenti, cepat jalan!” Alif menarik tangan Kenanga yang terus memandang ke belakang.
Gadis itu menunjuk ke arah semak. Tak lama kemudian terdengar suara beberapa ekor anjing. Alif dan yang lain bergerak lebih cepat. Mereka terus melaju menghindari pertempuran dengan musuh.
Dor!
Satu tembakan telah dilepaskan. Mereka berlima menunduk lalu jalan jongkok menuju sebuah pohon besar. Pertempuran yang tak bisa mereka hindari lagi.
“Tembak terus, sampai mereka mati kehabisan darah!” perintah Sersan yang sedang menghisap cerutu.
Ridwan mengintai dari belakang pohon tempat Alif dan Kenanga bersembunyi. Ia menyiagakan senapannya, memicingkan mata. memandang lurus pada lawannya dan satu timah panas berhasil menumbangkan tubuh serdadu dari pihak pribumi pengkhianat.
Satu tembakan dari Ridwan di balas beberapa kali tembakan oleh pihak Belanda. Ridwan terus menembakkan timah panasnya hinga persediaan pelurunya habis. Namun, pihak lawan masih terus menggempur mereka.
Malik juga melontarkan anak panahnya satu demi satu dari atas pohon. Rentetan tembakan dari pihak Belanda bahkan melubangi pepohonan tempat mereka bersembunyi. Akbar melemparkan tombak panjangnya, ia menargetkan pada seorang lelaki dengan cerutu di bibirnya, sayangnya meleset, hanya serdadu rendahan saja yang terkena serangannya.
Kenanga tak punya persediaan tanaman beracun lagi. Ia ingin menolong tapi tangannya digenggam erat oleh Alif. Pemuda itu menyiagakan pedang panjangnya.
“Regu penembak, bentuk formasi!” teriak wakil Daalen.
Sepuluh orang bersenjatakan bedil berbaris menghadap tempat para penjuang itu bersembunyi. Alif, Kenanga dan yang lain kini terdesak. Disusul dengan sepuluh serdadu lainnya yang mengarahkan senapan ke atas pohon. Mereka menargetkan pemanah yang bersembunyi di balik dahan besar.
Tak ada kata terucap. Hanya gema takbir yang terus berulang di dalam hati masing-masing. Bagi lima orang itu ajal mereka sudah sangat dekat. Kenanga bahkan belum menyelesaikan tugasnya mencari Cempaka.
“Tembak!”
Satu perintah yang diiringi dengan menguarnya bau mesiu dan desingan peluru. Juga ditambah dengan suara jatuh dari atas pohon. Malik terkena tembakan di bagian punggung. Alif bergerak menolong punggawanya.
“Isi ulang peluru!”
Sedetik kemudian senapan kembali disiagakan. Akbar, Ridwan dan juga Alif menggapai tubuh temannya yang terus mengeluarkan darah.
Senapan telah siap sedia, satu perintah dari wakil Daalen telah diteriakkan lagi. Kenanga menyusul Alif ingin menolong Malik, satu peluru juga menyasar kakinya. Gadis bisu itu terjatuh, Alif bimbang antara menolong temannya atau Kenanga.
Namun, sedetik kemudian peluru yang bersarang di kaki gadis itu keluar begitu saja, tak ada setitik pun darah yang menetes, benda pemberian Datok Panglima membuat Kenanga kebal dengan berbagai senjata tajam. Kepala Alif menggeleng, ia sangat tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
Wakil Daalen maju lebih dekat sambil tak putus mengembuskan asap cerutu dari bibirnya.
“Habiskan semuanya, bawa kepala mereka, setelah itu kita akan dapat hadiah besar dari Gubernur.”
Puluhan marsose maju serentak dengan senapan yang telah diisi ulang.
“Een, twee, drie. Schieten!”
Terdesak, tak ingin ada yang terluka lagi, Kenanga melanggar janji pada dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang ia hentakkan kakinya tiga kali di tanah, memanggil makhluk bunian yang bisa menolongnya dari situasi berbahaya itu. Ia lupa dengan pertolongan Allah yang maha kuat.
‘Datok Panglima, datanglah!’ ucap Kenanga dalam hati sambil mengentakkan kakinya.
Timah panas diletuskan dari masing-masing bedil para marsose. Angin kencang datang menghadang puluhan peluru yang sedikit lagi menembus tubuh Kenanga dan yang lainnya. Besi-besi panas itu hanya berputar-putar di udara.
Alif berdiri dan menarik paksa tangan Kenanga, ia meminta penjelasan pada gadis itu.
“Kau memakai ilmu kebal?”
Tanya itu belum mendapatkan jawabnya, tapi mereka telah dibuat takjub terlebih dahulu. Timah panas yang melayang di udara mulai berpendar. Benda itu menyasar pemiliknya sendiri. Terbirit-b***t para marsose berlarian, sebab peluru tersebut, sebagian telah menembus jantung yang lain. Tak menunggu waktu lama semua serdadu tewas dengan lubang menganga di bagian tubuh yang paling penting, termasuk wakil yang diutus Daalen.
Angin kencang membentuk pusaran datang menyapu seluruh mayat dengan seragam biru. Pusaran itu semakin kencang dan besar. Satu per satu anggota tubuh mayat yang berterbangan terlepas, lalu angin berembus semakin kencang, hingga para pemuda pesisir dan Kenanga sampai berpegangan pada batang pohon.
Pusaran angin itu berputar di satu titik, terus membawa daun dan ranting yang berserakan terhisap ke dalamnya. Sedetik kemudian tubuh-tubuh yang telah tak utuh itu hancur dan menjadi abu. Pusaran hilang dan butiran abu tersebut berpendar di udara.
Empat orang yang masih hidup memandang kejadian tadi dengan gema takbir berkali-kali.
Rintihan kesakitan keluar dari bibir Malik, lelaki itu terkena tembakan di bagian punggung. Kenanga berlari cepat ingin menolong, tapi siku tangannya terlebih dahulu ditahan oleh Alif.
“Jelaskan padaku apa yang terjadi?”
Kenanga tak menjawab, ia malah mendorong tubuh Alif agar tak menghalangi jalannya. Malik harus terlebih dahulu diselamatkan. Gadis itu bergerak cepat, ia melihat luka tembak yang bersarang tepat di bagian tulang belakang tubuh Malik, darah terus mengucur deras.
Gadi tersebut mengoyak kain celana Malik. Ia menekan luka agar darah tak terus keluar, sebab jika dibiarkan temannya itu bisa mati kehabisan darah. Kenanga meminta Ridwan menggantikan tugasnya menekan luka Malik. Rintihan kesakitan itu semakin lama semakin terdengar pelan.
Bergegas Kenanga pergi ke mana saja agar ia menemukan tumbuhan yang bisa dijadikan obat-obatan. Ia abaikan kakinya yang tergores ranting atau terinjak duri. Keringat terus menetes dari dahinya, ia gugup tak ingin kehilangan teman lagi, sebab sudah banyak orang yang ia kenal telah meninggalkannya.
Alif menghidupkan api unggun atas permintaan Kenanga. Ia bergantian menekan luka temannya, bahkan kini tangan Ridwan telah digenggam oleh Malik, pertanda luka itu begitu menyiksanya. Akbar pergi mencari air bersih serta mencuci beberapa helai kain.
“Tadi itu menurut Abang apa? Tak mungkin peluru itu terbang begitu saja, bukan?” Ridwan terus menekan luka sambil memandang Alif yang sedang berpikir keras.
“Sepertinya, gadis bisu itu bermain-main dengan hal gaib. Saat kakinya mengentak di tanah pada hitungan ketiga, angin dingin itu datang begitu saja. Aku harus minta kejelasan padanya,” jawab Alif, pemuda itu mengeluarkan sebilah pisau dan membakarnya di atas bara api.
Beberapa waktu menunggu Kenanga datang dengan membawa ragam tanaman obat yang bisa ia temukan. Seketika sampai bergegas gadis itu menumbuknya sampai halus. Gadis bisu tersebut mengambil pisau yang dipanaskan di atas bara api, merendamnya sejenak di dalam air.
Ia menarik napas, menenangkan gejolak di hatinya, gadis itu sedang berpacu dengan waktu menyelamatkan nyawa Malik. Kenanga memandang ujung pisau itu dengan penuh keraguan, lalu ia tusukkan ujungnya terus menembus kedalaman kulit Malik.
Lelaki itu berteriak kencang meski mulutnya telah diberi lipatan kain agar tak menggigit lidahnya sendiri. Kenanga terus menggerakkan ujung pisaunya, mencongkel sejauh peluru itu bersarang dan menariknya keluar.
Napas Malik naik turun dengan cepat. Nyeri, pedih, juga sakit ia rasakan bersamaan. Gegas Kenanga menutup luka menganga itu dengan tumbukan daun obat. Alif, dan Ridwan mendudukkan Malik agar sang tabib lebih mudah membalut lukanya dengan kain.
Setelahnya, Malik dibiarkan berbaring dengan wajah menghadap tanah. Hanya itu pengobatan yang bisa diberikan oleh Kenanga. Walau telah ditutup oleh daun obat, tetes demi tetes darah terus turun dari punggung Malik.
Ridwan tak putus mengajak sahabatnya terus berdzikir. Punggawa itu sudah sering melihat kejadian seperti ini di depan matanya, jumlah mereka yang terus berkurang juga sebabnya karena terkena bedil marsose.
Kenanga mondar-mandir ke sana kemari, ia risau melihat wajah Malik yang semakin pucat. Juga telapak tangannya yang semakin ... dingin. Sesekali pula Ridwan mentalqinkan kalimat tauhid di telinga sahabatnya.
Hening beberapa saat, Malik tiba-tiba muntah. Perutnya terus bergejolak mengeluarkan apa saja, sebab panas timah itu membuat lambungnya panas. Kenanga terus menggosok telapak kaki Malik agar tubuhnya yang dingin sedikit menghangat.
Lelaki itu tak lagi muntah. Kepalanya lunglai di tangan Ridwan, tubuhnya semakin dingin. Kenanga bangkit dan memeriksa denyut nadinya. Gadis itu menggeleng.
“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji'un.” Ridwan mengusap wajah Malik yang terlebih dahulu menghadap Illahi.
Kenanga duduk diam, ia merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan nyawa temannya. Peluru itu melukainya terlalu dalam.
Akbar, Ridwan, dan Alif menggali kuburan sedalam kira-kira binatang buas tak akan membongkarnya. Tubuh itu dibaringkan menghadap kiblat dan ditutup tanah. Ia menyusul teman-temannya yang telah syahid terlebih dahulu.
Kenanga menatap makam Malik yang baru saja ditutup oleh tanah. Sebatang kayu ditancapkan sebagai tanda di dalam sana ada tubuh yang sudah terbujur kaku. Gadis bisu itu ingat bagaimana baiknya Malik dengan dirinya. Ia menyayangkan kepergian Malik tanpa Kenanga sempat mengucapkan terima kasih padanya. Sebongkah hatinya masih merasa bersalah. Ia juga merasa beruntung bertemu dengan orang-orang baik di tengah peperangan. Gadis itu berbalik, dan saat itu terkejut dengan kedatangan seseorang yang tak pernah ia harapkan.