Khilaf

1174 Kata
Di keheningan malam, Kenanga berdiri menghadap aliran sungai. Angin yang semakin dingin menyapa tengkuknya. Mata itu terpejam ketika embusan yang sangat kencang menyapu wajahnya. Saat netranya terbuka ia dapati kehadiran seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan mengenakan pakaian serba hitam. “Satu permintaan lagi kau akan menjadi milikku, selamanya! Kau akan jadi peliharaanku yang menyenangkan.” Makhluk bunian itu menyentuh kepala Kenanga. Gadis itu mencoba melawan, ia berkali-kali mencoba menepis tangan Datok Panglima. Juga mencoba menendang kaki yang begitu kuat berpijak di tanah. Namun, serangannya seolah-olah tak berarti. Datok pergi dari hadapannya dengan seringai yang begitu menakutkan. Wujudnya semakin lama terlihat semakin kecil dan ia menghilang dari hadapan Kenanga. “Jelaskan padaku kejadian tadi?” Kenanga terperanjat, ketika ia berbalik Alif telah ada di belakangnya. “Kau berurusan dengan yang gaib, bukan? Pusaran angin tadi, apa kau yang memanggilnya?” Alif menahan tangan Kenanga yang berusaha menghindari pembicaraan. Enggan berdebat, gadis itu mengempas genggaman di tangannya dan berusaha lari. Namun, terlebih dahulu bahunya ditahan oleh pemuda pesisir itu. “Kau tak boleh pergi sampai semuanya jelas!” Kenanga mendorong Alif, tetapi lelaki itu bergeming. Ia tahu gadis bisu itu pasti tak akan memberi penjelasan sedikit pun. Tabib muda tersebut mengepalkan tangannya, ia mengarahkan tepat ke d**a Alif, tetapi terlebih dahulu berhasil diempaskan oleh sang pangeran. “Aku tak mau mencari keributan denganmu. Aku hanya minta kau menjelaskan semuanya. Mengapa kau tak terluka saat tertembak? Mengapa selama kita berjalan bersama kau juga tak pernah terluka walau hanya sedikit?” Gadis itu tahu apa yang ingin Alif cari tahu darinya. Hanya saja ia sedang tak ingin membahas perihal perjanjian gaibnya dengan Datok Panglima. Namun, ia juga bimbang jika satu lagi meminta pada makhluk bunian itu maka ia akan berpindah alam ke tempat yang sama sekali belum pernah ia tahu seperti apa. Tak menjawab dengan bahasa isyarat, Kenanga malah berjalan lagi meninggalkan pemuda pesisir itu. Kesal karena diabaikan, Alif menarik tangan gadis itu dan menekan salah satu titik syarafnya hingga ia terjatuh di tanah. Dahi Kenanga berkeringat akibat rasa nyeri yang ditimbulkan karena tekanan di telapak tangannya. Napasnya naik turun karena jantungnya berdegup kencang. “Berikan padaku, jimat, rajah atau benda apa saja yang kau gunakan untuk memanggil hantu-hantu itu.” Kenanga merogoh kantong bajunya, ia mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul berwarna hitam yang diberikan Datok Panglima padanya. Alif mengambil dan menatapnya lurus. “Kau tahu dalam agama kita tak boleh meminta bantuan pada mereka.” Telunjuk lelaki itu menunjuk kening Kenanga hingga kepala gadis itu terdorong ke belakang. Alif melangkah menjauhi Kenanga, ia ingin melakukan sesuatu pada benda yang dibawa Kenanga. Ia tak mau gadis yang diam-diam mengisi hatinya terlibat urusan dengan sesuatu yang tak kasat mata. Namun, lelaki itu terjatuh ketika langkahnya dihalangi oleh kaki Kenanga. “Kalaulah Sultan masih hidup, mereka pasti sudah kena hukum di Kerajaan Pesisir.” Ridwan melirik Akbar yang juga memerhatikan dua orang yang sedang terlibat pertikaian kecil. “Benar, bahkan bisa jadi Bang Alif akan dicambuk karena dia harus menjadi contoh bagi pemuda lain.” Dua orang itu salah paham dengan keributan yang terjadi antara Alif dan Kenanga. Kenanga berhasil merampas kembali kalung hitam pemberian Datok Panglima. Ia ingin lari, tetapi bajunya ditarik kembali oleh Alif hingga ia mundur beberapa langkah ke belakang. Pemuda pesisir itu lalu merampas kalung dari tangannya. Keturunan bangsawan tersebut menaikkan tangannya tinggi-tinggi agar Kenanga yang melompat berkali-kali tak berhasil meraihnya. Alif hanya tertawa melihat kegigihan usaha gadis itu untuk mengambil miliknya kembali. Pemuda pesisir itu mengaduh ketika tapak kakinya diinjak oleh Kenanga. Gadis itu berkacak pinggang seolah-olah menantangnya. Alif melepaskan ikat kepalanya, ia bergerak cepat meraih dua tangan Kenanga lalu mengikatnya dengan erat meski harus mengelak berkali-kali dari terjangan kaki gadis tersebut. Satu tendangan dari gadis bisu itu bisa Alif tepis. “Lumayan juga perlawananmu. Kau memang tak bisa dipandang sebelah mata.” Alif menarik paksa gadis itu ke sebuah pohon yang tak jauh dari tempat mereka membuat api unggun. Ia mengikat tubuh Kenanga dengan akar pohon yang menggantung. Agar gadis itu tak melakukan perlawanan ketika jimat dari alam bunian itu ia bakar. “Lain kali, berpikirlah dua kali sebelum meminta bantuan dari alam gaib. Kau pikir ilmu kebal ini jalan yang diridhoi. Kau tak lihat beberapa pejuang rela terluka parah bahkan ... tewas. Cara seperti ini sesat, kau paham! Bahkan Rasul saja terluka saat perang, padahal jika mau dia bisa meminta bantuan pada malaikat untuk menimpakan gunung pada musuh-musuhnya,” jelasnya panjang lebar. Tak ada reaksi apa-apa dari Kenanga, sebab tangan gadis itu telah diikat. “Jangan entakkan kakimu di tanah lagi,” ucap Alif perlahan. Sementara tangannya membersihkan serpihan daun yang mengotori wajah Kenanga. Jemarinya tertahan ketika merasakan halusnya kulit wajah gadis yang ia ikat di pohon. Pikirannya terbawa mundur beberapa minggu lalu, ketika ia tak sengaja memandang Kenanga yang sedang membersihkan diri di dekat sungai. Tanpa bisa menahan diri, jemarinya terus turun menelusuri pipi Kenanga, sedangkan gadis itu menarik napas cepat karena tak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya. Sebagai putri gecik ia sangat dihargai dan dihormati. Kini jemari lelaki itu telah beralih ke tepian bibir Kenanga. Gadis itu menahan matanya agar tidak berkedip. Alif tak juga sadar dengan kesalahan yang ia kerjakan, dua temannya telah terlelap hingga tak ada yang menegurnya. Tak ingin terjadi hal-hal di luar kendali Kenanga menggigit ibu jari Alif yang sekarang telah berani menyentuh bibirnya dengan kuat. Lelaki itu tersentak sekaligus menahan sakit. Kesadarannya seolah dikembalikan begitu saja. Ia tatap gadis yang ia ikat di pohon. Hampir saja ia bertindak di luar batas. Satu sentuhan yang ia lakukan tadi hampir membuka pintu dosa yang lebih besar lagi. Kenanga kini membuang wajah, tak ingin memandangnya. Pemuda itu berdiri, berusaha bersikap seperti biasa seolah-olah tak terjadi sesuatu. “Kau renungkanlah semua perkataanku tadi. Jangan kau ulangi lagi dosa bermain-main dengan yang gaib,” ujarnya, “aku juga akan merenungi kesalahanku sendiri. Astagfirullah, hampir saja kau menjadi mangsaku sendiri,” lanjutnya sambil menarik napas panjang. Alif membaca untaian ayat suci dan membuang kalung hitam milik Kenanga dalam kobaran api unggun. Rangkain ayat perlindungan ia baca agar hubungan gaib Kenanga dan makhluk yang ia tak tahu wujudnya terputus. Keturunan sultan itu memandang kayu yang perlahan menjadi abu karena dilahap api, serupa dengan pertahanan dirinya tadi jika menuruti hawa nafsunya. “Lalu apa bedanya aku dan para serdadu itu jika tadi tak juga sadar dengan kesalahanku?” gumamnya perlahan. Ia memutuskan tak tidur dan mengulangi beberapa ayat AL qur’an yang ia hapal. Berusaha mengurangi bisikan hatinya yang terus tertuju pada Kenanga. *** Pagi harinya mereka berjalan berempat dengan perasaan yang lain. Tewasnya Malik membuat semuanya bermuram durja. Bukan karena tak bisa menerima kematian. Melainkan kebaikan lelaki itu yang begitu tulus pada semuanya. Kenanga seperti berhutang rasa terima kasih pada salah satu punggawa Alif tersebut. Bahkan, Malik yang paling baik di antara yang lain. Alif, ia kerap plin plan dalam mengambil keputusan. Gadis bisu itu menarik napas panjang berulang-ulang. Ia bacakan untaian doa di makam Malik. Sesaat kemudian matanya bertatap dengan pandangan Alif. Kenanga ingat bagaimana pemuda itu hampir melakukan hal yang tak baik padanya. Gadis itu ingin memisahkan diri dari rombongan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN