Alif memandang Kenanga dengan rasa penuh penyesalan. Hampir saja tadi malam ia berubah menjadi serigala kelaparan dan hendak menerkam gadis yang tubuhnya terikat itu.
"Maaf," gumam Alif perlahan tanpa didengar oleh siapa pun.
"Ayolah, kita lanjutkan perjalanan. Takutnya marsose itu masih memiliki pengikut di belakangnya," ucap Ridwan. Punggawa itu tak tahu peristiwa apa yang terjadi antara Alif dan Kenanga tadi malam.
Ragu-ragu sang tabib ingin berpisah dengan rombongan itu. Masalah mencari Cempaka biar ia selesaikan sendiri saja rasanya. Sudah terlalu lama bersama dengan para pemuda pesisir itu rasanya hasil tak kunjung ia gapai. Namun, Alif, Akbar dan Ridwan terus saja berjalan melewati hutan dan sungai. Hingga Kenanga harus mengurungkan keinginannya. Jujur ia memang menyukai Alif diam-diam, tapi tadi malam ia seperti dipecundangi oleh pemuda itu.
Hening, tak ada yang ingin memulai pembicaraan, semuanya masih terpukul dengan peristiwa kematian Malik. Entah siapa lagi yang akan pergi terlebih dahulu.
Mereka melewati lembah-lembah kecil yang tak berpenghuni, lalu mendaki bukit kecil demi mencari tempat berteduh. Sesekali Kenanga pergi agak jauh, perlahan-lahan, ia ingin meninggalkan rombongan gerilyawan tersebut. Nyatanya, Ridwan mencarinya kembali.
"Jangan pergi sendiri, Ken, kau tahu, kan, marsose ada di mana-mana. Kita harus saling menjaga satu sama lain." Ridwan membersihkan tempat duduk dan mempersilakan Kenangan di sana.
Alif tahu apa yang ingin dilakukan Kenanga. Sayangnya, ia cukup pengecut untuk minta maaf langsung.
"Sebenarnya kita ini ada di wilayah mana? Sekian lama berjalan rasanya perbukitan terlihat sama saja." Akbar menoleh ke sebelah. Biasanya Malik yang akan menimpali dan kini tak ada lagi sahabatnya di sana.
"Kita memasuki wilayah seribu bukit. Mungkin 100 pun belum ada kita tapaki." Alif buka suara setelah sekian lama terdiam. Kenanga membuang wajah. Akbar dan Ridwan saling melirik satu sama lain.
"Terjadi sesuatukah dengan mereka berdua tadi malam?" bisik Akbar pada Ridwan.
"Sepertinya. Tadi malam kita, kan, sama-sama tidur." Ridwan dapat menangkap kegelisahan di wajah Alif dan Kenanga.
"Apa, jangan-jangan ...." tebak Akbar.
"Tak mungkin. Pangeran masih teguh memegang ajaran agamanya. Kenanga juga gadis yang teguh hati."
"Bisa saja, Bang, di dunia ini hanya Nabi Yusuf yang selamat dari godaan yang satu itu."
"Kita berpikir yang baik-baik saja. Sudahlah, musuh kita jelas-jelas Belanda. Jangan bertengkar dengan prasangka sendiri. Bisa gila nanti." Ridwan menyudahi tebak-tebakan itu.
"Bang Ridwan, aku pergi cari makanan dulu." Alif berlalu menjernihkan pikirannya yang terasa kusut masai.
"Tiba-tiba sekali," gumam Akbar.
Tak lama setelah itu, Kenanga juga mengisyaratkan untuk pergi sebentar. Ia butuh menenangkan hatinya sejenak.
Akbar dan Ridwan melirik bergantian dua temannya yang pergi saling berlawanan arah.
Kenanga berjalan sedikit menurun. Ia memetik sari-sari bunga yang bisa diminum. Untuk mengembalikan pikirannya yang tak selalu berprasangka. Gadis bisu itu duduk di balik pohon besar. Menikmati terpaan angin bukit kemudian membuka kerudungnya. Sang tabib membiarkan rambut panjangnya diterpa angin. Andai Alif melihatnya, ia benar-benar akan lupa diri.
'Aku tahu, hanya aku yang berharap di sini. Tapi bukan berarti kau semena-mena denganku seperti tadi malam,' ucap gadis itu dalam hatinya.
'Tapi tadi malam itu, apa artinya kau memiliki harapan yang sama denganku? Atau hanya mengikuti naluri lelakimu saja? Ah, sudahlah, sepertinya hanya aku yang mengharap di sini. Lupakan. Aku bisu dan tuli, tak akan sudi kau denganku,' gumam Kenangan terus-menerus. Hingga akhirnya ia tertidur di dekat pohon itu.
Alif menemukan air terjun kecil mengalir di dinding perbukitan. Ia basuh wajahnya berkali-kali. Berusaha mengembalikan kesadarannya agar kakinya kembali berpijak ke bumi. Semalam ia terbang terlampau jauh.
Selama menutup mata, wajah Kenanga kembali membayang di ufuk matanya. Semakin coba Alif hapus justru bayangan itu semakin nyata adanya.
"Aku bisa gila disiksa perasaanku sendiri." Alif membasahi rambut pendeknya. Supaya isi kepalanya waras lagi.
"Gadis itu pasti membenciku setelah peristiwa semalam. Bodohnya aku bisa sekhilaf itu." Alif memukul kepalanya sendiri.
"Kalau tahu begini, saat Malik masih hidup aku paksa saja dia menikah denganku." Jadilah sore itu sang pangeran mandi di bawah guyuran air terjun kecil tersebut. Ia menganggapnya mandi wajib untuk membersihkan diri dan juga hatinya. Seusai mandi, tak bergegas Alif untuk kembali. Melainkan, membiarkan bajunya kering diterpa angin. Sambil pula mencari buah-buah kecil yang kerap kali dipetik Kenanga.
"Ya Allah, semakin dilupakan semakin datang dia dalam pikiranku." Alif berjongkok, membenamkan kepalanya di dia lutut. Kemudian pandangan matanya beralih pada bunga mawar yang sedang mekar, mengingatkannya akan Putri Naqi.
"Kau pasti sudah mendapatkan jodoh yang baik di surga, bukan?" Alif mendongak, menatap langit, seolah-olah sedang berbincang bersama Putri Naqi.
"Tinggal aku yang masih melajang dan tak tentu arah. Hai, Kenanga, Kenanga, gadis biasa-biasa yang luar biasa mengacaukan hatiku." Alif memetik beberapa kuntum bunga mawar merah, entah untuk apa nanti.
Pemuda itu kembali ke tempat Akbar dan Ridwan, tak ia lihat di mana Kenanga.
"Engkau bisa mencarinya, Bang Alif. Tanggung, kami sedang membakar burung." Ridwan membolak-balikkan hasil tangkapannya.
"Aku?" tunjuk Alif pada dirinya sendiri, "kalau dia tak mahu pulang bagaimana?"
"Dibujuk, Bang, sampai mau. Perempuan itu kalau merajuk seperti anak kecil. Nah, sebabnya merajuk kami tak tahu. Kan, tadi malam kau yang mengikatnya di pohon." Akbar memberikan saran.
Mau tak mau Alif berjalan ke arah yang ditujukkan oleh Ridwan. Perlahan-lahan ia jalan menurun, mencari di mana Kenanga. Ia temukan, gadis itu sedang terlelap tanpa mengenakan kerudungnya.
"Astaghfirullah. Cobaab apa lagi ini." Alif membalikkan dirinya.
Sadar ia tak hanya sendiri di sana. Kenanga bangun dan melihat sosok Alif dari belakang. Gegas gadis bisu itu memakai kerudungnya. Ia berdiri dan berjalan tanpa menyapa Alif.
"Kau ini, meninggalkanku begitu saja." Alif menyusul Kenanga. Ia tak mau berjalan di belakang gadis itu. Takut khilaf memeluknya dari belakang.
Tabib muda itu memungut batu-batu kecil. Ia mempiaskan kekesalannya pada Alif. Kenanga lemparkan batu itu hingga mengenai Alif. Pemuda itu menoleh, dan Kenanga menaikkan dagu seperti menantangnya.
"Seperti bocah saja kau ini." Alif tak membalasnya. Namun, semakin didiamkan, lemparan batu itu justru semakin menjadi.
Alif menangkap batu itu dan melemparkannya kembali pada Kenanga. Dan tepat mengenai dahi gadis itu.
Tabib muda itu tak mengaduh, ia hanya jongkok saja dan mengelus jidatnya yang terasa perih.
"Ken, maaf-maaf, aku tak sengaja." Alif mendekati Kenanga yang masih tak mau beranjak.
"Ayo kita kembali. Sebentar lagi malam, Ken." Pemuda itu mengulurkan tangannya. Kenanga justru mendorongnya hingga jatuh. Gadis itu berkacak pinggang, ingin menggerutu pada Alif. Namun, justru Kenanga tinggalkan Alif begitu saja tanpa pesan apa pun.
"Huuh, sabar-sabar," ujar Alif. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan berlari menyusul Kenanga.