Razi, Ketua Perampok Merah

1011 Kata
Cempaka bangun ketika merasa begitu dingin. Ia melirik ke sekitar, kini dirinya berada di dalam sebuah tenda. Seingat gadis itu, tadi ia berkejar-kejaran dengan marsose setelah membakar rumah Van Daalen. Ia melangkah ke luar setelah menutup kepalanya dengan kerudung. Hendak mengucapkan terima kasih pada orang yang menolongnya. Namun, saat itu juga ia terpaku. Wajah itu begitu ia rindukan. Lelaki yang meninggalkannya sebab tak percaya diri untuk meminangnya dua tahun lalu. Kini mereka dipertemukan kembali. Cempaka memalingkan wajahnya. Masuk kembali ke dalam tenda. Tak keruan rasa hatinya, ia kira lelaki itu sudah lama mati, ternyata takdir membawanya bersua kembali. "Bang Razi, kenapa kita harus bertemu kembali," gumam Cempaka di dalam tendanya. "Tidak. Dia pasti menolongku hanya karena haru saja. Bukan karena masih menyimpan perasaan padaku. Saat perang begini, mana sempat memikirkan cinta. Sudahlah, aku harus mencari Kenanga. Apa dia masih hidup atau baik-baik saja?" Cempaka bergegas mengemas dirinya sendiri. Ia tetap mengenakan jaket yang diberikan padanya. Gadis itu membuka tenda. Saat itu juga Razi telah menunggunya. Tak ingin mengulang perasaan yang sama, kakak Kenanga itu kemudian berlalu saja. Baginya semua telah selesai. "Kau mau ke mana, gadis keras kepala bernama Cempaka? Kau pikir kau menguasai tempat ini?" "Pergi. Kembali pulang. Aku tahu atau tidak wilayah ini, bukan urusanmu juga!" ketus gadis itu. "Beritahu aku bagaimana kau selamat dari rumah gubernur itu?" "Aku membakarnya sampai hangus." "Kalau begitu selamat. Kau buronan sekarang, seperti halnya aku!" Razi menunjukkan lembaran wajah dirinya selaku ketua perampok merah. Cempaka dan Alif, mereka bertiga memang diburu oleh Adrian. "Lalu. Persetan dengan semua ini." Cempaka mengempaskan kertas-kertas itu. Tetap berjalan meninggalkan Razi. "Ikutlah denganku. Setelah kuantar beberapa pesanan. Akan kuantar kau kembali pulang. Aku janji." "Pulang. Janji. Aku tak percaya lagi denganmu." "Maaf. Kupikir kau akan menemukan yang lebih baik dariku." "Memang. Selamat tinggal Bang Razi." "Saat dijalan nanti kau akan bertemu para marsose dan pembunuh bayaran yang memburumu. Iya kalau kau langsung mati. Kalau mereka menyiksamu lalu mereka mencoba menodaimu, bagaimana?" Razi memberitahu semua kemungkinan yang terjadi. "Jangan mengada-ngada!" "Aku tak berbohong. Semua kemungkinan itu sangat mungkin terjadi. Dunia di luar kampung itu sangat keras, Cempaka." "Kampung kita? Kau tahu tidak, Bang, apa yang terjadi dengan rumah kita. Tempat kau menempa senjata dan membuatkanku panah? Tempat kau berjanji akan menikahiku lalu pergi begitu saja. Kau tahu apa, ha?" Cempaka menggerutu pada lelaki di hadapannya. "Aku tak tahu. Jika terjadi sesuatu beritahu aku." "Si k*****t Daalen itu membakar desa kita semuanya sampai hangus. Ayah, ibu dan tetua adat tewas. Hanya adikku yang sedang tidak ada di tempat. Itu juga aku tidak tahu dia selamat atau tidak. Jadi aku harus pergi mencarinya." Razi menagkap tangan Cempaka. Gadis itu terlampu keras kepala hingga tak bisa diberitahu. "Aku berjanji akan membantumu. Sekarang tenangkan dirimu dulu!" "Aku tak percaya janji manismu. Pendusta." "Aku memang meninggalkanmu tapi aku tak pernah bisa melupakanmu. Kau tahu? Dua tahun ini aku tersiksa karena selalu memikirkanmu." Razi menarik tangan Cempaka, hingga kini jarak mereka begitu dekat antara wajah dengan wajah. Gadis itu sampai terdiam di depan Razi. "Maaf, aku terbawa perasaan." Razi melepaskan cengkeraman tangannya, "Bisakah kita duduk tenang dulu dan tak melibatkan amarah ketika berbicara, Cempaka." Penuh kelembutan lelaki pandai besi itu mengucapkannya dan kakak Kenanga hanya mengangguk saja. Razi dan Cempaka sama-sama menuju api unggun. Tempat rombongan perampok merah sedang beristirahat. "Aku tak menyangka para marsose akan menggempur bukit. Ternyata mereka memang berniat menguasai semuanya." Razi menuangkan air panas di dalam cangkir berisikan kopi, dan memberikannya pada Cempaka. "Kau masih mengingat kesukaanku?" ujar Cempaka ketika menghirup aroma kopi tersebut. "Tak ada satu pun hal yang kulupakan tentang dirimu." "Sudahlah. Kau masih sempat menggombal di tengah keadaan sekarang!" Cempaka tak ingin mengakui hatinya yang terasa menghangat dirayu Razi. "Mengapa kau ingin kembali? Bukankah desa kita katamu sudah dibakar?" "Kenanga, satu-satunya keluargaku yang tersisa. Aku harus menemukannya. Apa pun yang terjadi." "Ikutlah denganku. Sampai kuantar pesanan senjata ini, lalu kita kembali bersama." "Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" Cempaka masih berkeras hati. "Iya, tapi aku yang membutuhkanmu. Terutama mereka, lihatlah, nasib mereka begitu buruk di tangan penjajah." Razi menunjuk sekumpulan gadis muda yang menderita penyakit kulit. Saat terkena angin kulit itu terasa begitu gatal. "Siapa mereka?" Cempaka memperhatikan wajah-wajah yang tertunduk lesu dan putus asa. "Korban kebiadaban Belanda. Ditempatkan di satu markas, mereka bergantian digilir oleh para serdadu. Sampai akhirnya sakit. Aku membakar tempat itu dan menyelamatkan mereka." Razi menjelaskab semuanya pada Cempaka. "Malang sekali. Aku jauh lebih beruntung daripada mereka." "Karena itulah, temani mereka. Kami para lelaki tidak tahu harus bagaimana. Barangkali kau bisa berbicara dari hati ke hati sesama wanita." "Layak dipertimbangkan. Tapi ... sekali lagi kau berdusta denganku. Aku tak akan mau mengenalmu lagi, Bang." "Tempat yang kutuju di atas bukit. Tempat di mana pasukan hantu bermukim. Mereka bergerak begitu cepat dan gesit. Bahkan Kenanga yang perasa saja tak akan mampu mengetahui keberadaan pasukan hantu itu." "Urusannya denganku apa" "Ya Allah, Cempaka, aku hanya memberitahumu ke mana tujuan kita." "Ya sudah. Apa kau hanya punya bedil saja. Tidak adakah senjata lain untukku misalnya." Razi membongkar peti berisikan biji besi dan senjata pesanan para pasukan hantu. Ia memberikan sebuah panah yang dibuat lebih modern. Sudah lama ia ingin memberikan pada Cempaka. Dan kini ia serahkan secara sukarela sekaligus dengan hatinya yang sangat bahagia melihat senyuman gadis itu. "Wah, seperti bedil saja?" Cempaka menelisik senjata itu. Ia mencobanya langsung dan panah itu tepat menyasar dahan yang baru saja berguguran. "Kau semakin hebat saja." Razi memuji gadis itu. "Kau pun semakin mahir merayu. Katakan berapa wanita yang sudah jatuh dalam dekapanmu, Bang." "Demi Allah tidak ada. Dua tahun aku bekerja keras mengumpulkan emas. Walau ya harus terhalang peperangan." "Oh begitu?" cemooh Cempaka. "Kau masih tak percaya juga?" "Tak semuda itu meyakinkanku. Tapi terima kasih atas panahnya. Aku mau ke sana dulu, Bang. Berkenalan dengan mereka." Cempaka meninggalkan Razi sendirian. Lelaki pandai besi itu mengembuskan napas panjang. Sulit memang meyakinkan Cempaka. Namun, ia pun bersyukur bahwa gadis itu selamag dan ia pun memiliki kesempatan untuk mendekatinya. "Dua tahun aku menanggung rindu. Tak akan kusia-siakan kesempatan kedua ini." Razi menatap Cempaka dengan penuh harap. Gadis itu tak boleh lagi pergi jauh darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN