Mantili membuka seluruh bajunya tanpa rasa malu di depan dua gagak hitam lainnya. Lalu ia kenakan pakaian serba panjang persis yang seperti Kenanga kenakan. Tak lupa pula selembar kerudung ia lilit di kepalanya. Gadis bengis itu menjelma menjadi perempuan baik-baik. Namun, ia tak luput mengenakan minyak wangi sebagai pemikat.
"Beruntung sekali Pangeran itu tak pernah melihat wajahmu," ucap salah satu gagak hitam.
"Tapi dia juga termasuk yang merugi. Sudah kuberikan tubuhku dia masih saja mengelak. Baru kali ini ada lelaki yang berpaling dari pesonaku." Mantili menyelipkan sebatang bambu berisikan lima buah jarum beracun. Ia berencana saat Alif lengah maka benda itu akan ditiupkan ke lehernya. Selesai, dan ia pun bisa kembali ke pelukan Adrian.
"Kami berdua akan menunggu dari atas sana. Kau pandai-pandailah merayunya. Sisanya kami yang akan membunuh yang lainnya." Rombongan gagak hitam itu berpisah. Mantili menunggu Alif lewat, dua yang lain menyiagakan panah mereka.
Mata tajam Mantili memandang Alif beserta teman-temannya memasuki wilayah itu. Gadis bengis itu begitu tak sabar ingin menghabis sang pangeran. Lalu Kenanga akan ia lemparkan pada dua saudara lelakinya.
"Tunggu saja. Kali ini aku tak akan gagal lagi." Nekat, Mantili menggoreskan betisnya sendiri dengan belati. Ia bersandiwara agar Alif mengasihaninya. Perlahan-lahan ia menjerit demi mencari perhatian para gerilyawan itu.
"Kalian dengar suara rintihan wanita tidak?" tanya Akbar pada dua temannya.
"Iya, samar-samar, tapi ... coba kalian lihat Kenanga. Biasanya kalau seperti itu dia merasakan ada yang tak beres," balas Ridwan. Lalu Alif melihat Kenanga yang langkahnya berhenti tiap sebentar.
"Mungkin salah satu di antara kita akan ada yang mati," ucap Alif. Ia seperti terhubung dengan isi hati Kenanga. Gadis bisu itu memang merasa ada yang sedang mengintai dia dan teman-temannya. Jujur saja, Kenanga takut kehilangan lagi.
"Dengar, suaranya semakin jelas, bukan. Sepertinya ada yang membutuhkan pertolongan kita." Akbar pun berlari menelusuri arah suara. Diikuti Ridwan dan Alif. Kenanga masih enggan. Firasatnya semakin tak enak.
Akbar dan dua temannya melihat seorang gadis yang terluka dan menangis sendirian. Alif melihat betisnya terluka.
"Bang Ridwan, bawa gadis itu kemari. Dia membutuhkan pertolongan." Alif memperhatikan wilayah sekitar. Ia takut jika masih ada rombongan penjahat yang mengikuti mereka.
"Adik ini siapa? Kenapa bisa terluka, sendirian pula di sini?" tanya Alif pada Mantili.
"Dirampok, Bang, beruntung kalian lewat sini. Kalau tidak entah apa yang akan mereka perbuat padaku. Takut satu-satunya milikku diambil." Mantili bersandiwara dengan rasa takutnya.
"Akbar, bawalah dia ke tempat yang sedikit lebih aman." Perintah Alif. Pangeran itu tak mau bersentuhan dengan sembarang wanita lagi. Dengan Kenanga saja sudah cukup menguras hatinya.
Mantili dipapah oleh Ridwan. Dibawa ke tempat yang lebih teduh. Perlahan-lahan tangan gadis bengis itu terulur ingin menembakkan jarum beracun. Namun, Akbar tiba-tiba saja meliriknya dan Mantili pun kembali diam. Kenanga datang tepat pada waktunya. Ia langsung melihat luka gadis yang tengah bersandiwara itu.
Jelas sekali di mata tabib itu, luka yang dibuat sangat disengaja dan mengenai bagian-bagian yang tidak berbahaya.
"Bagaimana, Ken, apa dia baik-baik saja?" Ridwan memperhatikan cara Kenanga menatap gadis itu.
'Kau pasti pendusta ulung. Bau minyak wangimu seperti perempuan yang menjual diri saja,' kata Kenanga dalam hatinya.
Tabib muda itu berdiri. Ia menarik tangan Ridwan lalu menuliskan beberapa pesan di tanah.
Jaga diri baik-baik. Aku merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu. Aku pergi sebentar mencari daun obat. Jangan lengah.
Setelah menuliskan hal demikian Kenangan pun berlalu. Sebelum jauh ia melirik para gerilyawan itu sekali lagi. Tadi malam Kenanga telah berpikir panjang dan matang-matang. Keputusannya untuk memisahkan diri rasanya tidak bisa ditunda lagi.
Ia pun berjalan ke bukit yang lebih tinggi sembari memetik beberapa daun obat. Malas rasanya kembali. Tak ada alasannya untuk ke sana. Alif hanya pemuda yang tak tergapai untuknya.
Kenanga berputar-putar di dekat pohon besar yang akarnya menjuntai sampai ke bawah. Lalu duduk di sana. Bisa ia perhatikan bagaimana keadaan Alif dan yang lain dari atas sana.
"Tuan, mengapa wajahmu amat tampan?" Mantili mulai melontarkan rayuannya.
"Apa kau sudah baik-baik saja? Kalau iya, dan tak ada yang harus ditunggu. Lebih baik kita berpisah di sini saja." Alif mulai curiga dengan gadis yang terluka itu. Mana bisa ketika kulit koyak sempat-sempatnya merayu orang.
"Selain tampan kau juga angkuh, Tuan Ulebalang." Mantili mengerlingkan sebelah matanya.
"Dari mana kau tahu aku ulebalang?" Semakin menjadi kecurigaan Alif.
"Tuan, ikat kepala dan kepingan emas ini hanya dimiliki para bangsawan. Aku tahu sebab sudah sering melayani mereka."
Terbukti sudah kecurigaan Alif. Wanita di depannya bukan orang baik-baik. Ditambah pesan Kenanga di tanah yang baru saja ia baca. Semakin risau Alif mengapa gadis bisu itu tak juga kembali.
"Ayolah, Tuan. Jangan dingin padaku seperti ini." Mantili berdiri dan bergelayut manja di tangan Alif. Sebelah tangannya mulai meraih jarum beracun.
"Kita berpisah di sini saja." Alif melepaskan tautan tangan Mantili. Ia mencari di mana keberadaan Ridwan yang juga menghilang.
"Sudah. Kita selesaikan saja di sini." Mantili membuka kerudungnya, lalu meraih bambu dengan jarum beracun. Alif menoleh ke belakang. Jarak jarum itu begitu tepat di dahinya. Akbar bergerak cepat mendorong tubuh Alif hingga mereka berdua jatuh.
"Matilah kau Teuku Alif Muda!" Mantili menembakkan jarum beracunnya. Ligat Alif dan Akbar menghindar.
"Siapa kau? Dan bagaimana kau tahu namaku?"
"Aku ... salah satu orang yang menghancurkan Kerajaan Pesisir. Teman tidur Adrian, kekasihku menginginkan kepalamu." Mantili meraih batang bambu itu lagi. Namun, belum sempat ditembakkan, Akbar sudah lebih dahulu mengempaskannya. Punggawa itu bertarung dengan Mantili. Alif sendiri mencari ke segala arah mengapa Kenanga tak muncul juga.
Desing pedang terdengar beradu di udara. Akbar lawan yang tangguh bagi Mantili. Licik, gadis bengis itu membuka pakaian bagian atasnya. Hingga Akbar berbalik dan punggungnya ditendang oleh Mantili.
Alif tak bisa tinggal diam lagi. Ia turunkan ikat kepala, untuk menutup dua matanya. Gegas ia membantu Akbar yang kesulitan menghadapi gadis culas tersebut. Namun, tiba-tiba saja, sebuah panah turun dari arah atas. Terus mengenai lengan sebelah kiri Akbar. Punggawa itu terjatuh. Alif membuka tutup matanya. Ia ingin menolong tapi sebilah pedang Mantili telah diarahkan ke lehernya.
Kemudian, dari arah yang tak disangka-sangka salah seorang gagak hitam turun. Ia menghajar Akbar yang sudah tidak berdaya. Alif terjebak dalam permainan pedang Mantili. Ridwan datang dan melihat semua kekacauan yang sedang terjadi. Ia berlari ingin menolong Akbar terlebih dahulu. Sayangnya, gagak hitam itu telah melempar tubuh Akbar hingga ke tepi jurang.