Razi mengawasi pergerakan Cempaka sedari tadi. Kini mereka telah berpindah tempat dari hutan sebelumnya. Membangun persembunyian sementara di Danau Lut Tawar. Gadis keras kepala itu sedang mengelus panah pemberian Razi dan menghitung sisa anak panahnya. Tak lepas lelaki berambut panjang itu menelurusi Cempaka dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sejak gadis itu menyebutkan dirinya hampir menikah. Tak sedikit kegaduhan timbul di hati Razi. Ia merogoh saku celananya. Meraih kalung dan gelang emas hasil bekerja pada tuan-tuan dari Inggris. "Kenapa lidahku kelu sekali dari kemaren." Ketua Perampok Merah itu memandang kemilau emas hasil keringatnya. Ingin sekalia ia mengenakannya pada Cempaka. Namun, tanpa alasan yang jelas tentu gadis itu tak akan mau. "Sedang memikirkan apa, Bang? Mukamu

