“Bang Alif, sepertinya semakin banyak orang yang mengejarmu. Aku khawatir mereka menangkapmu.” Ridwan tidak bisa tidur tenang selama tiga hari ini. Pikirannya senantiasa mengutamakan keselamatan tuannya. “Ya, sudah, biarkan saja. Cepat atau lambat kita akan mati satu per satu. Tak bisa menghindar lagi. Namanya juga zaman perang.” Alif menoleh ke belakang. Melihat Kenanga yang sedang meracik daun obat. Tangan pemuda pesisir itu terluka sebab terkena goresan pedang musuhnya. Beberapa hari terakhir mereka memang membabi buta diserang orang-orang tak dikenal. Kesemuanya membawa kertas bergambarkan wajah Alif. Mau tak mau Kenanga pun dibuat kerepotan. Batuknya bertambah parah sebab ia terus berlari dan sesekali beristirahat. Makan pun hanya sekadar masuk perut saja, asal dapat, terkadang seek

