Razi memandang Cempaka yang terus mengkrabkan diri dengan para perempuan korban kebiadaban Belanda tersebut. Sesekali mata mereka saling bersitatap, lalu Razi tersenyum pada Cempaka. Kemudian gadis itu akan berpaling. Lalu Razi akan merasa dicampakkan. Tidak, Cempaka justru yang merasa dibuang begitu saja. Ia yang ditinggalkan, bukan dirinya yang meninggalkan. "Memang sebaiknya kita tak usah bertemu saja. Setiap kali kau tersenyum, ada luka lama yang kembali basah. Kau tinggalkan aku sedemikian kejam," gumam Cempaka. Ia masih sakit hati atas sikap si ketua perampok merah itu padanya dulu. "Sepertinya kau masih marah denganku. Harus bagaimana agar kau memaafkanku. Lalu, selama kutinggalkan apa kau benar-benar menikah dengan orang lain? Tak punyakah aku kesempatan? Misalkan suamimu sudah

