What Do You Feel, Aiden?

1103 Kata
Kalau bukan karena suara ribut di dapur dan bau masakan, Rinai pasti masih nyaman di ranjangnya dulu. Rose benar-benar tak habis pikir kenapa bisa Rinai menggila dan nekat minum lebih dari kemampuannya. Apalagi malah merepotkan Jo. "Sudah sadar, princess? Tidurmu nyenyak?" Rinai membuka matanya dengan sempurna, tersenyum dan mengira Rose lah yang tengah berkunjung ke asramanya dan membuatkan makanan. Tapi tunggu, kenapa semuanya tidak sama dengan tempat tinggalnya di agensi? Di mana ranjang Gena dan Wintang berada? "Rose, jangan bilang ini adalah apartemen kita?" "See? Lu tuh ya! Kalau lemah gak usah sok-sokan mabuk sendirian." Rose menaruh air madu dengan isian agar pengar Rinai reda. Rinai cepat-cepat masuk ke kamar mandi dan mencuci muka. Dia bodo amat Rose meneriaki jangan memaki sikat giginya. Kenapa Rinai sampai seceroboh ini? Meskipun tidak akan ada sanksi dan pelanggaran, Rinai sangat mengutuk dirinya sendiri. "Stop! Muka lu aja kayak kucing gak mandi setahun. Setidaknya, pakai pakaian yang lebih fresh. Kumel gini, mau jadi bintang penampilan gembel. Buruan mandi, atau kalau nggak.." Rose sudah mengacungkan garpu, Rinai merinding. Apa sejak kepergiannya dan putus dari Billar, Rose jadi lebih horor? Akhirnya menurut, bisa jadi teman-teman satu unitnya juga pulang. Gena apalagi, dia memang rindu pacarnya. Satu hari tidak bertukar kabar saja lebaynya minta ampun. Tidak ada sepuluh menit, Rinai sudah berganti pakaiannya yang masih ada di apartemen. Rose menjaga kamarnya dengan baik, sewaktu-waktu Rindu tempat tidurnya dulu. "Tadi malam pasti lu juga gak sadar kan kalau Jo yang gendong lu sampai ke sini? Tahu nggak, semua penghuni apartemen ngira itu gue. Sialan lu!" Rose melempari apel, untungnya berhasil ditangkap Rinai dan langsung digigit. Ternyata benar kata Rose, setidaknya dia harus makan meskipun tidak sampai kenyang. Masakan Rose sudah lumayan. Tidak melulu pesan junkfood. Rinai mengomel tanpa henti karena tahu Rose punya riwayat penyakit jantung. "Nanti gue bakalan minta maaf pribadi sama dia. By the way, apa kabar, teman sekamar?" "Baik. Jangan tanya status, gue mau jadi wanita bebas dan berencana nikah akhir tahun." Rinai tersedak apel yang masih setengah jalan ke tenggorokannya. Tak ada angin, hujan, petir apalagi banjir di Jakarta, ada apakah gerangan? Apakah Rose sudah bosan jadi partner ranjang pasangannya? "Ya, gue mau bahagia dan nanti apartemen ini bakalan kosong. Buat lu aja, sewanya bakalan gue perpanjang. Siapa tahu kalau lu udah sukses, lu bakalan punya pacar dan yeah, kalian bisa main ranjang. Santai, gue gak bakalan ganggu. Minimal lu latihan lah sama Jo. Dia gak jelek-jelek amat kok." "Ya, ya, ya. Punya pacar dan having love bukan tujuan gue hidup kok. Jadi kalau gue ketemu seorang pria, dengan sepenuh hati bakalan gue cintai sepenuh hati." Rose hanya mencibir, dia tidak bertanya kenapa temannya mabuk berat. Setelah dirasa pencernaannya membaik, Rinai buru-buru ke asrama. Dia ingin tahu apa yang terjadi semisal nanti ada yang tahu dia kebablasan tidak pulang seharian. ( Bagian Kedua) Haruskah Rinai berterima kasih dan menyembah patung Yesus karena terselamatkan melalui Wintang? "Jadi tadi kamu pinjam kartu jogging dan absenin aku?" "Bukan hal besar. Bosan aja, Gena pulang dan aku kebetulan bangun sebelum fajar. Ya udah deh, kamu emang semalam ke mana?" Yang ditanya malah nyengir kuda, pura-pura memasang wajah blo'onnya. Rinai hanya beralasan menginap di tempat dulu dia tinggal bersama Rose. Wintang memang tidak sepenuhnya kenal, hanya tahu. "Oh, gitu. Gue masih ngantuk, duluan." Selepas mandi dan ambil sarapan, Wintang hanya ingin memastikan kalau Rinai sudah pulang. Dari awal mengenal wanita itu, dia sudah menganggap Rinai seperti kenalan dekatnya. Rinai hanya tersenyum. Tidak ada pekerjaan, dia memilih keliling asrama dan melihat ruangan demi ruangan yang terisi beberapa orang sibuk bersiap-siap perform di suatu acara. Banyak sekali dari sekitaran Jakarta yang kadang memakai anak-anak Star untuk pembukaan sebuah acara, opening konser, premier gala music dan masih banyak lagi yang tidak bisa Rinai hafal. "Rinai," sapa seseorang. Perempuan itu menoleh dan tidak tahu harus berkata apa karena tidak mengenal siapa orang yang menyapanya. Hanya membalas senyuman orang itu dan bilang 'Hai'. "Kenalin, Orion, drummer di Star. Masih amatir sih, sekaligus penggemar rahasia lu. Tapi udah gak rahasia lagi karena akhirnya lu udah mengetahuinya sekarang." Masih ragu-ragu untuk menerima jabatan tangan dari seorang pria yang sama sekali tidak dikenal. Banyak orang yang dari agensi Star keluar masuk, baik sesama pendatang maupun senior lama. Tapi Rinai akhirnya menerima uluran tangan Orion, terasa kasar. Memang begitulah pekerjaan seorang drummer yang harus merelakan tangan mereka dibuat kasar oleh alat yang hampir setiap hari mereka pegang. Tidak terlalu hafal sampai ruangan-ruangan Rahasia di sini, dengan senang hati Orion akan mengantarkannya. "Sungguh? Apakah tidak akan ada yang memotret? Karena siapa tahu banyak orang yang kepo dengan urusan orang lain?" "Santai, gue kenal baik dengan semua orang di sini, meskipun gue baru satu tahun penuh sih. Gak separah dispatch Korea lah ya." Mereka tertawa, Orion menjelaskan satu persatu ruangan dan siapa orang yang sering sekali memasukinya. Rinai penasaran di manakah Aiden sering menghabiskan waktu saat berada di Star agensi. "Jadi, ini ruangan kesayangan sang bintang?" "Iya. Kalau tidak dia ya Mr. Ziao, dulu sih Mr, Xabiru, tapi karena sudah terlalu tua, sepertinya beliau pensiun." Rinai hanya mengangguk. Dia meminta izin untuk masuk, Orion bilang tidak apa-apa karena selama tidak mengambil sesuatu, sepertinya tidak masalah. Lututnya mendadak bergetar karena mungkin saja banyak barang-barang kenangan yang dimiliki oleh pria itu. Begitu masuk, tatapan Rinai terfokuskan pada foto Aiden yang masih berusia dua puluh tahunan, dan tentu saja tampan. Rinai bahkan tidak mengedipkan mata sedikitpun karena terlalu kagum dengan foto background monokrom yang dia lihat sekarang. Ah, gini saja cengeng. Tidak ingin terlihat, tadinya Aiden asal ada pria lain yang mendekati Rinai, kemarin Jo, dan sekarang Orion. Apakah Rinai semenarik itu? Bukankah kebanyakan pria menyukai wanita yang berpenampilan seksi dan berambut panjang? Bukan menjatuhkan sosok Rinai, hanya saja, Aiden tidak suka ada pria yang bisa melihat berapa uniknya Rinai saat diajak ngobrol bersama. "Itu saat dia merilis album Help kayaknya. Dia masih belum setenar sekarang, yeah, harus gua akui dia memang keren sih. Lu termasuk fansnya pasti?" Rinai otomatis mengangguk, Aiden cukup kaget karena sejak pertama mereka bertemu, Rinai tidak pernah mengaku sama sekali kalau begitu mengagumi sosoknya sebagai seorang bintang. "Kadang aku merindukan dia tampil di panggung besar." Mereka berdua keluar dari ruangan favorit Aiden. Mungkin Rinai akan sering melewati lorong ini karena mungkin bisa menyembuhkan sedikit saja rasa kangennya melihat pria itu hadir dalam keadaan nyata di hadapannya. Tatapan Aiden sendu, tak terasa air matanya menetes. Padahal, sejak jadi arwah, dia tidak pernah berhasil menangis meskipun sesedih apa pun. Aiden menggeleng cepat. Benar-benar aneh. Dia segera kembali dan menghilang, tiba-tiba sudah tiba di London. Aiden kaget karena tubuhnya memberontak hebat. Arlita memanggil dokter, takut anaknya akan kenapa-kenapa? Aiden semakin pucat. Kali ini apa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN