Entahlah, harus berapa lama Arlita melihat anaknya terbaring lemah di rumah sakit. Dia bahkan tidak pernah memberi reaksi, meskipun napasnya masih ada tapi tetap saja, Arlita takut akan kehilangan Aiden untuk selama-lamanya.
Dia selalu mendoakan Aiden hampir setiap hari dan pergi ke gereja. Bahkan, saat ini Arlita sering mencurahkan semua isi hatinya pada biarawati di sana.
"Apakah ada sedikit saja harapan untuk anak saya, Dok?"
"Ada. Pasti ada, Mrs, Arlita. Aiden sangat kuat, dia bahkan tidak memiliki riwayat yang buruk dalam tubuhnya. Sepertinya, Aiden sedang mencari tahu sesuatu di alam yang berbeda."
Tidak mengerti maksud penjelasan sang dokter, Arlita berusaha mencerna kalimatnya. Gagal, dia hanya mengira Aiden sedang berjuang melawan kematian.
Tentu saja dia tidak sendiri di sini, ada Anggita yang merupakan adiknya. Karena Anggita tidak punya tanggungjawab mengurus suami, alamat Janda, bibi Aiden terlihat begitu baik mau menunggu keponakannya sampai sadar.
"Pasti dia akan segera bangun. Mendingan kita nyari makan dulu. Kan ada suster yang berjaga. Kamu gak bisa terus-terusan nyiksa diri sendiri, Lita. Aiden bakalan butuh kamu saat dia bangun. So, kamu harus tetap makan bagaimana pun nantinya."
Benar juga, semenjak pindah ke sini tubuhnya mulai melemah. Dia sering drop tapi tidak pernah mengatakannya pada dokter. Hanya berusaha agar Aiden cepat sadar dari koma.
Saat wanita itu pergi, tak ada yang mendengar Aiden menyebut nama seseorang lalu tersenyum indah.
(Bagian Kedua)
Mendadak, Aiden merasa tubuhnya ada yang aneh. Dia sudah lama tidak ke London. Melihat ibunya menangis hampir setiap hari membuatnya merasa sangat khawatir.
"Kok diem aja sih dari tadi? Aku kan bilang, aku menang kompetisi, Aiden. Bahkan berkat latihan sering sama kamu, aku dapat bonus yang lumayan. Tapi sayang banget, kamu gak bisa makan ataupun minum sesuatu."
Aiden tidak menjawab. Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, apakah ada sesuatu yang buruk yang kini tengah terjadi padanya di sana. Tatapannya kabur, Aiden lama-lama menghilang dari pandangan Rinai.
Ya, ditinggal pergi begitu saja. Terlampaui sering sampai-sampai dia sendiri berasumsi bahwa tak ada cinta di antara mereka berdua. Just partner for bussines. Menelan semua kepahitan sendiri, Rinai mengetik sebuah nama pada ponselnya dan menghubungi akan datang.
Dia jarang sekali pamit menginap ke rumah orang tua, kemudahan dari tinggal di asrama Star. Karena bagaimanapun juga pastilah orang tua merindukan anaknya.
"Ke mana? Ke rumah Tante Rindu? Ikut dong. Gue rencana juga mau keluar tapi gak tahu mau ke mana."
"Bukan ke sana, Wintang. Tapi aku cuma beralasan kalau aku ke sana. Dan sorry, aku lagi pingin banget sendiri untuk saat ini. Bisa kan kamu sampein ke Miss Sarah kalau nanti dia operasi keliling?"
Wintang hanya berguman dan membiarkan Rinai menikmati kesendiriannya. Anehnya adalah sampai sekarang dia tidak pernah tahu apakah Rinai dekat dengan pria, nyatanya setelah menyelidiki tidak ada siapa pun yang pantas dicuriagi."
Sudah lama tidak datang, Jo merasa bangga kedatangan sahabat yang sedang menitik karir dari nol. "pesen seperti biasa kan?"
"Terserah. Yang penting aku cuma mau minum malam ini, dan juga buat aku lupa kalau pria tampan itu sangat menyebalkan."
Jo hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd temannya. Tapi Jo tahu, kehidupan yang kadang kita sendiri menganggap mudah belum tentu orang lain bisa melewatinya.
Karena sempat mengkhawatirkan keadaan Rinai, sejak tadi Jo selalu melirik ke arah perempuan itu. Sayang sekali tidak ada restu di antara mereka karena tante Rindu sempat menanyakan pekerjaannya dan dia malu menyebut dirinya yang memang seorang bartender.
Tidak tahu lagi harus bagaimana, Jo memilih mundur dan hanya menjadi teman Rinai saja. Tak apa, itu lebih dari cukup bukan?
"Nai, lu lagi ada masalah ya di agensi? Kayaknya kalau masalah uang gak deh. Setahu gue, di sana itu makan terjamin, dapat bonus juga dan keadaan keluarga terjamin. So, what happen with you, Nai?"
Hanya mendapat tawa Rinai saja. Pasti perempuan itu sudah dipengaruhi oleh minuman yang menyengat bahunya. Jo geleng-geleng, dari dulu Rinai tidak pernah berubah. Selalu melarikan diri saat punya masalah dengan cara minum-minum. Jarang sekali bercerita, bahkan dengan Rose saja tidak terlalu terbuka.
Jo menyuruh Flo untuk mengawasi Rinai. Semisal nanti perempuan itu keluar dari night club dan salah memilih alamat apartemen seperti yang sudah-sudah.
"Memangnya dia tidak punya teman di agensi, Jo? Ayolah, gue sedang tidak bisa menemani Rinai. Lihat, pengunjung Snow malam ini penuh banget. Bahaya kalau Rinai terus-terusan di sini. Lu coba hubungi Rose deh."
"Oke."
Lebih baik Jo saja yang pergi, kehadirannya tidak terlalu dibutuhkan karena banyak sekali bartender yang mondar-mandir hanya untuk menawarkan minuman.
Sayang sekali, nomer Rose tidak bisa dihubungi. Kali ini, pria mana lagi yang tidur dengan perempuan penghangat ranjang itu? Mereka seperti langit dan bumi. Rose si devil bed sedangkan Rinai Guardian in the world. Dasar aneh, tapi mereka memang sudah dekat sejak lama.
"Gue keluar dulu cari taksi."
Rinai malah menyebut yang tidak-tidak saat Jo memapahnya jalan. Rinai masih setengah sadar. "Hey, pecundang. Di sini kamu rupanya, hahaha!"
"Kamu benar-benar mabuk, Rinai."
Taksi sudah sampai dan Jo dengan hati-hati membaringkan Rinai, menidurkan kepala perempuan itu ke bahunya.
"Jalan, Pak. Ke apartemen ini ya," Jo melihat dompet Rinai dan ada kunci apartemen. Mungkin Rose memang menginginkan Rinai sering-sering mengunjungi meskipun tempat tinggal mereka sudah beda.
"Siap, Bang."
Ditatapnya wajah Rinai yang bersemu merah karena terlalu banyak minum. Dia memang perempuan manis yang dari dulu tidak pernah hilang pesonanya.
Pertemuan mereka, Rinai bahkan menolak untuk ditawari minum meskipun sekarang itu adalah kebiasaannya saat sedang sedih atau mengalami kesulitan.
Jo tidak sadar ada seseorang tak kasat mata yang sejak tadi berada di antara mereka. Ya, Aiden tahu kalau Rinai mendadak pergi dari villanya karena Aiden memang menghilang begitu saja saat diajak bicara perempuan itu.
Dia merasa tubuhnya aneh, Aiden melihat keadaannya sendiri yang masih terdiam di ranjang rumah sakit. Dan sekarang, dia harus melihat satu-satunya manusia yang juga menganggapnya manusia, Rinai Asmara.
Kenapa Aiden tidak menyukai Jo yang menidurkan Rinai dengan penuh perasaan begitu? Dia ingin menggantikannya. Ya, Aiden pun tak tahu apa yang tengah dia rasakan saat ini.
Kasusnya belum terpecahkan, sedangkan perasaannya makin kacau, terombang-ambing, Anya juga, sudahlah. Aiden lelah, dia butuh jawaban dari semuanya.
Setelah sampai, Jo langsung menggendong Rinai di punggungnya. Tidak peduli ada beberapa orang yang tinggal di apartemen melihat ke arahnya dengan tatapan aneh. Sialan, pasti mereka mengira Jo akan check in dengan pacarnya.
"Nai, kode sandinya berapa?"
"Ah!" Rinai mengerang, dia membuat suara yang membuat Jo kegelian. Stop! Jo tidak boleh goyah, pria mana yang tidak merasa tersudut karena dibisik-bisikkan sesuatu ke telinganya?