If Me Loved You

1084 Kata
Berawal dari kenal, lama-lama sayang. Ya, Rinai mengakui kalau makin hari dia makin kesal dengan perasaannya sendiri. Hari ini karena ada kuliah pagi, Rinai sengaja berangkat lebih awal dan memesan bakmie di kantin. Ditemani Wintang yang sekarang jadi bestie, perempuan itu tahu sepertinya Rinai tengah banyak pikiran. "Kenapa sih? Beban banget ya duduk sama gue?" Rinai menggeleng, "gak lah. Ngapain! Gak berpengaruh apa-apa." Meskipun tadi banyak yang heran kalau Wintang dari dulu memang musuh bebuyutan Rinai. Hanya karena mereka satu kamar dan perempuan itu selalu berbagi makanan hampir setiap weekend, Wintang luluh. Ternyata harga diri orang kaya mudah oleng hanya karena urusan perut. Wintang tak peduli, dia bahkan dijauhi sahabat-sahabat hedonnya. Wintang yang sekarang jauh lebih sederhana dan tidak ingin menonjol. "Aku yang seharusnya heran kenapa kamu nggak gabung sama Tantri dan Amira?" "Mereka semua palsu. Deketin gue cuma pas ada maunya aja, beda sama Gena. Dia nyebelin sih, tapi tulus. Kayak lu juga," Wintang mulai mengaduk bakso kuah yang uapnya sudah mulai menghilang. Sedangkan Rinai malah keheranan sendiri ternyata Wintang sudah menganggapnya teman. Setelah kuliah dia ingin mampir ke rumahnya dan melihat keadaan kedai makan yang sudah lebih besar. Ada baiknya, Rinai mengajak Wintang karena tahu kalau perempuan itu tidak ada kerjaan selain kembali ke asrama dan hanya fokus ke laptopnya. "Ya udah, habisin terus kita ke perpus. Ada tugas yang sebenarnya gue nggak begitu mengerti jawabannya." Pantang bagi Wintang meminta bantuan kepada Rinai. Apalagi dia terkenal juga punya otak yang pintar. Hanya kadang-kadang malas sekali membuka buku sebagai referensi tugas-tugasnya. Apalagi terlahir sebagai anak orang kaya dia sering membayar orang yang punya jasa ketik ataupun mengerjakan tugas kuliahnya. (Bagian Kedua) Masih berpikir kalau kecurigaannya terhadap Ziao memang akurat, Rinai tidak tersadar kalau sejak tadi adukannya mulai tercecer sampai ke mana-mana. Wintang hanya geleng-geleng kepala melihat keabsurdan temannya. "Fokus, Nai. Tuh, mejanya jadi kotor. Lu mikirin apa sih? Uang kuliah belum bayar? Bukannya kalau udah masuk Star biaya kuliah mereka yang tanggung?" Ya ampun! Kenapa jadi begini? Rinai hanya kesal Aiden sama sekali tak mempercayainya dan memilih tetap beranggapan kalau teman-temannya tidak mungkin punya niat jahat. "Lagi bete aja sama seseorang. Dia tuh plin-plan banget, gak bisa ngelihat sesuatu dari sisi busuk manusia itu sendiri. Tahu kan? Manusia diciptakan dari dua sisi yang berseberangan dan tinggal memilih tetap berada di sisi yang mana." Baru kali ini Wintang mendengar Wintang ngomel-ngomel. Sejak mereka baikan, Rinai berusaha tidak jadi menyebalkan, atau lebih tepatnya adalah dia yang dari dulu suka gara-gara. "Ma, ini udah selesai semua. Rinai boleh makan?" "Yang ngelarang makan juga siapa sih, Nai? Makan aja, Astri udah bantuin Mama kok. Wintang juga, makasih ya. Nanti dibawa rantangnya, jangan malu. Itu makanan sehat, higenis dan terpercaya. Rinai ini, sejak dulu selalu malu kalau mamanya ke agensinya." Padahal, meskipun bagi Rinai dia sering malu karena nanti dianggap anak mama, Wintang malah iri. Ya, iri adalah kegiatan yang sangat menyakitkan, kalau dulu Wintang tidak bisa berteman baik dengan Rinai, sekarang justru sebaliknya. Tidak boleh berada di luar lebih dari 8 jam setelah jadwal kuliah selesai, Rinai dan Wintang pamit. Perempuan itu berkali-kali berterima kasih pada Astri yang sudi menemani kesepian mama Rindu. Wanita itu pasti sering merasa kesepian. Sambil melihat langit, cuaca Jakarta yang tak menentu dan juga menunggu bus datang, Rinai meyakinkan Wintang kalau naik bus tidak seburuk yang dia bayangkan. Tadi saat ke kampus, Wintang memesan taksi dan membuat Rinai menurut. Tapi sekarang gantian dong? "Itu dia busnya udah datang. Nanti kamu duduk di sampingku aja. Tenang, aman kok!" Wintang mengangguk dan langsung mengikuti langkah Rinai, ini perdana dia naik kendaraan umum. Padahal orang tuanya sudah menyuruh supir pribadi menjemput setiap Wintang ingin ke manapun. Akhirnya setelah mendapatkan kursi, Wintang menikmati suasana bua kota. Tidak terlalu sesak seperti tayangan FTV, ini bus kota, bukan angkot 10.000 an. "Lu sering banget ke ruang musik. Padahal kan gak ada latihan berat. Kita masih bisa bersantai selama tidak ada kompetisi ataupun konser besar. Apalagi sang bintang juga gak ada di agensi. Star seakan kehilangan nyawa," ungkap Wintang memulai pembicaraan. "Entahlah. Aku hanya berusaha agar bisa sehebat seseorang." "Siapa?" Wintang tidak percaya kalau Rinai masih ragu dan buta akan kemampuannya sendiri. Padahal, Wintang percaya kalau teman barunya pasti akan mendapatkan panggung kalau dia sudah keluar dan lulus dari agensi. Hanya menggeleng pelan, jujur, Rinai tidak tahu. Dia hanya ingin bisa sekeren Mozart dan karyanya diakui oleh seluruh dunia. Tapi satu hal yang pasti, suatu hari nanti kalau masih ada harapan hidup bagi Aiden, dia ingin panggung dengan pria itu dan menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri. Terdengar mustahil memang, tapi siapa tahu bukan? Masih tersisi 15 menit untuk sampai ke agensi, Rinai mulai melihat ponsel dan membalas pesan mamanya, mengabari kalau dirinya hampir sampai. Dia melihat rantang yang sejak tadi dibawa oleh Wintang. Teman satu unitnya itu selalu saja melebih-lebihkan sesuatu. Seperti diajak makan, ke tempat kedai makan mamanya dan sekarang naik bus. Tentu itu bukan hal besar bagi Rinai, tapi Wintang sangat bersyukur bisa tahu kehidupan orang-orang biasa di sekitarnya. Baru sadar sudah sampai, mata Rinai fokus pada foto Aiden yang memang menjadi wajah utama bagi star management. Dadanya sesak, dia merasa punya ikatan dengan pria itu. "Padahal Kek Tere bilang, cuma Coach Aiden senior yang selalu humble, gak pernah merasa dirinya bisa segalanya. Yeah, meskipun dia sedikit pemaksa." "Oh ya? Kak Tere dekat dengan Aiden?" Wintang agak heran karena baru kali ini mendengar Rinai memanggil seniornya hanya dengan namanya saja. Sadar kalau Wintang terkejut, dia berusaha menjelaskan. "Ah, aku adalah penggemar beratnya dari dulu dan kebanyakan dari penggemar selalu memanggilnya Aiden." "Oh, begitu. Tidak terlalu dekat sih, cuma ya kadang mereka ada rapat bersama saat audisi besar berlangsung. Lu tahu lah, Star sangat mengedepankan berapa sempurnanya bintang mereka. Hanya kenal saat ada konser saja, Coach Aiden lebih sering konser tunggal di luar negri." Rinai tersenyum dan melangkah lagi. Dia merasa aneh setiap melihat foto Aiden di mana-mana. Mungkin benar, Anya tanpa Aiden memang tak bermakna apa-apa. Itulah mengapa, Anya merasa sangat tak berdaya ketika Aiden ada di sampingnya. Background foto Ziao, Max, dan Aiden sering menjadi lukisan setiap lorong. Rinai selalu memandangi foto pria yang lebih dulu menghubunginya meskipun saat itu Aiden sudah tidak berwujud lagi sebagai manusia. Bahkan, Rinai sempat memotret dirinya di depan lukisan bertema black white hanya demi kenang-kenangan saja. Dia hanya berjaga-jaga semisal nanti kalau Aiden sudah sadar setidaknya dia punya kenang-kenangan bersama kerja itu meskipun hanya dengan fotonya saja. Mereka memang sangat sering menghabiskan waktu berdua apalagi mengenai latihan, tapi palingan bagi Aiden itu hanya demi kelancaran misi untuk mengungkapkan tabir kejahatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN