Who?

1057 Kata
Aiden menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Kenapa dia begitu bahagia padahal ini hanya kompetisi biasa? Bahkan selayaknya penyambutan? Aiden sudah pernah berkompetensi dan berkolaborasi dengan semua coach hebat di sini. Tidak, Aiden tidak mungkin punya perasaan apa-apa terhadap perempuan yang tengah membungkuk di atas panggung. Rinai menggandeng tangan teman duetnya dan mereka turun bersama. Sorak semua orang seolah tanda kalau permainan Rinai memang bagus. Aiden langsung menghilang karena dia tidak ingin membuat Rinai geer karena lebih memilih stay di Star ketimbang melihat Anya yang sudah mau jauh-jauh ke London demi melihat keadaannya. Ya, dokter mengatakan tubuh Aiden sangat sulit digerakkan padahal tidak ada luka serius dan tulang patah. Hanya cidera di kepalanya yang terbentur keras. "Kamu hebat, Sayang. Mama bangga sama kamu." Rindu memeluk putrinya yang dipuji banyak orang pula. Ketahuilah, pasti sangat berat bagi Rinai menyanyikan lagu itu. Lagu yang sering dinyanyikan papanya sewaktu mereka bersama. Perempuan itu terlalu kehilangan banyak hal dan juga berkorban banyak hal juga. "Ma, nggak usah nangis dong. Itu tadi cuma kompetisi biasa. So, mama bakalan tercengang melihat peserta lainnya karena mereka jauh lebih hebat, aku gak ada apa-apanya, Ma." Gena membenarkan ucapan Rinai tapi juga mendukung kalau penampilan Rinai hebat tadi. Kini giliran peserta drummer. Rinai sangat menikmati suara drummer di mana seseorang akan mengerahkan tenaganya. Meskipun mereka lebih sering berada di belakang dan tidak kelihatan, padahal suara bass sangat berperan besar. Para komposer lebih suka memperhatikan pemain biola ketimbang drummer yang hanya berada di bagian belakang. (Bagian Kedua) Meskipun ini adalah hari santai, tapi Rinai lebih sering menggunakan ruangan musik. Dia baru saja ganti baju karena kopi yang dia minum tumpah sedikit, ada kaos dari Star management yang selalu stok di setiap ruangan. Hampir keluar, dia mendengar suara seseorang yang sedang mengungkit nama Aiden. Rinai tidak jadi muncul. Dia sangat kenal siapa pemilik suara itu, Anya Gwen, kekasih Aiden. Tapi, sepertinya Anya sedang berbicara dengan seseorang juga meskipun Rinai tidak bisa memastikan itu siapa. "Dan sekarang kamu mau gimana, Gwen? Bisa dibilang, Aiden itu udah gak ada. Harapan hidup untuknya sangat kecil. Kamu masih mau menunggunya? Masih mau berlarut-larut demi seseorang yang tubuhnya saja sangat sulit digerakkan. Ayolah, hidup itu maju. Gak bisa begini terus!" Anya sepertinya memukul sesuatu, Rinai tidak bisa memastikan apa yang dipukul Anya. Dia ikutan deg-degan. Untung saja tadi Rinai sempat membuang kopinya ke tempat sampah dan tidak meninggalkan bekas. Dia hanya ke sini membawa seorang diri saja, tanpa ponsel. Sekarang Rinai terjebak di ruang ganti. "Hanya karena dia gak ada di sini bukan berarti kamu berhak mengatakan yang tidak-tidak tentangnya. Hah, kamu gak tahu apa-apa soal dia, Ziao." Apa? Jadi pria itu yang sedari tadi sangat ngotot memberikan pernyataan Aiden sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup? Semoga Aiden tidak ada di sekitar sini. Jangan sampai pria itu sakit hati dibicarakan yang tidak baik oleh orang terdekatnya. Sampai sekarang, Rinai belum curiga dengan siapa pun. Hanya berusaha mendekati beberapa Coach termasuk Anya dengan caranya sendiri. Bagaimanapun juga, untuk sekarang Rinai harus bekerja ekstra demi membuat pria itu bangun dari komanya. "Dia itu seseorang yang punya jasa membuatku jadi seperti ini. Konser-konserku tidak akan punya moment kalau gak ada permainan dia, Ziao. Aku masih sangat membutuhkan dia." jelas Anya. "Apa kau mencintainya? Terlepas dari seberapa banyak kebaikan Aiden selama ini. Jujur, aku tahu kamu didekati banyak pria yang bahkan lebih terhormat daripada pria itu. Dia hanya penyanyi, dia bisa kehilangan pamor saat sudah mati." Rasanya Rinai ingin marah. Dulu Aiden adalah penyanyi favoritnya, dan sekarang pria itu sudah dianggap menjadi seseorang yang begitu baik sampai membuatnya bisa di Star management. Dadanya sesak, Rina seperti diburu napas. Omongan Ziao benar-benar menyebalkan. Tidak munafik. Anya memang wanita berada, wanita yang bisa saja mendapatkan pasangan yang luar biasa juga. Dia didekati banyak pemimpin perusahaan, anak bupati, pemilik BUMN. Ya, semuanya menjanjikan. Anya bisa memikirkan ini setelah namanya benar-benar dikenal sebagai pianist Anya Gwen. Bukan anak didik dari Star yang sering berduet dengan pacarnya sendiri, Aiden. Ya Tuhan! Drama apalagi ini? Kenapa Rinai harus terjebak di ruangan ini dan mendengar semua kebusukan Anya. Urusan percintaan mereka, Rinai tidak terlalu peduli. Tapi jika itu menyangkut nyawa Aiden, rasanya Rinai ikut terpukul juga. Suara Ziao sepertinya semakin menghilang. Tapi Rinai tebak, Anya sedang menangis. Denting piano terdengar. Permainan Anya memang tidak pernah gagal, anehnya, Rinai akan berusaha keras menjadi sebaik wanita itu agar Aiden tidak buta siapa wanita yang sungguh-sungguh peduli dengannya atau hanya peduli soal popularitas saja. Karena sudah tidak ada suara lagi, Rinai hati-hati sekali keluar. Dia cepat-cepat pergi siapa tahu nanti Anya akan segera kembali. Star masih terbawa suasana kompetisi pembukaan kemarin. Daripada gabut, mendingan Rinai jalan-jalan ke sekitar taman saja, siapa tahu pria itu nanti datang seperti biasanya. Harapan Rinai tahun ini tidak terlalu banyak. Punya penghasilan yang tetap, bisa memulihkan keadaan ekonominya dan juga berhasil memecahkan kasus tentang Aiden. Ternyata sibuk juga. Sambil membaca buku, meskipun tidak benar-benar dibaca, Rinai lirik ke kanan dan kiri. Ke mana sih, Aiden? Kenapa pria itu jarang sekali muncul? Apa karena kepulangan Anya yang memastikan keadaannya membuat Aiden tidak ikhlas? "Nyari apa sih? Mamang nasgor yang biasanya lewat pagar belakang?" Tuh, kan? Bener! Pasti Aiden akan datang saat Rinai di sini. Seperti sebuah markas pertemuan mereka. "Kebiasaanmu memang ngagetin orang. Sibuk apa belakangan ini?" Aiden ikut duduk. Meskipun dia tidak benar-benar bisa duduk seperti Rinai, tapi pria itu juga ingin terlihat sebagai manusia. "Sok sibuk aja sih. Lihat seluruh sisi kota Jakarta, seandainya aku punya kekuatan yang bisa membawaku melihatnya kamu bakalan takjub. Banyak tempat yang indah saat malam hari. Sepi, damai, sejuk. Tidak seperti Jakarta yang kita kenal, panas, macet di mana-mana dan banyak kejahatan." Baiklah. Rinai akan memegang janji Aiden semisal nanti pria itu benar-benar bangun. Tapi, apakah Aiden akan tetap mengingatnya? "Sebenarnya aku mencurigai seseorang. Ini berkaitan sama kecelakaan yang kamu alami." Aiden menoleh ke arah Rinai, alisnya berubah melengkung layaknya orang kepo, "siapa?" "Ziao." Kini, wajah Aiden malah sepertinya menertawakan asumsi Rinai. Bagaimana bisa Ziao yang jauh di atas Aiden harus bersusah payah mencelakainya? No, sepertinya Rinai hanya salah duga saja. "Gak percaya sama aku?" "Bukan gitu, Nai. Cuma aku gak yakin, aku tahu saat awal kamu masuk sini dia memang mempersulit kamu. Tapi aku pastikan bukan dia orangnya." Inilah yang disebalkan Rinai, Aiden selalu saja bilang teman-temannya baik. Padahal bisa saja mereka adalah musuh dalam selimut. Ya, pekerjaan Rinai sekarang hanya tinggal menyibak tabir yang disembunyikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN