Value

1068 Kata
Meskipun Anya sudah tiba di London, tapi sepertinya tidak berpengaruh apa-apa. Bahkan ibunya Aiden hanya mendengkus kesal setiap melihat wanita itu. Pertanyaan besar dari anaknya kenapa Arlita begitu membenci Anya? Bukankah semua orang akan bangga ketika mendapatkan calon menantu yang merupakan pianis terkenal dan di diketahui banyak orang di seluruh Indonesia. Lain halnya dengan Arlita karena dia menganggap wanita itu penuh kepalsuan tetapi sampai sekarang Aiden dak pernah mempercayai kata kata ibunya. "Apakah selama empat bulan ini dia tidak bergerak sama sekali, Bu?" "Tidak sama sekali. Bahkan, kupikir karena kamu mencintainya dan juga anak saya mencintai kamu ada kekuatan terbesar yang membuat dia terbangun. Tapi tetap saja Aiden menutup matanya. Doakan saja yang terbaik untuknya." Tentu saja, kehilangan Aiden membuat nama Anya meredup. Bahkan dia tahu, banyak orang yang berharap mereka segera tampil di layar kaca dan konser-konser besar di setiap negara. Lalu, sekarang dia harus berjuang sendirian karena pria itu belum juga bangun sampai sekarang. Anya ke sini dengan Ziao, salah satu Coach paling disegani di Star. Pria yang juga belum menikah, dia sangat mengagumi Aiden karena talenta alami dan juga sikap baiknya terhadap siapapun tanpa pandang bulu. "Kita harus kembali ke hotel. Keberangkatan ke Indo besok jam 8 pagi, Anya. Jangan sampai kamu tidak tidur sama sekali." "Baik, Ziao. Aku hanya ingin mencium keningnya sebentar saja." Arlita tidak melarang, kalau dulu dia sangat tegas dengan hubungan Aiden, tapi biarlah wanita itu melakukan apa saja yang dilakukan. Rasanya miris melihat keadaan putranya dan sampai sekarang kasus kecelakaan Aiden masih abu-abu. Karena menuruti perintah Ziao, Anya akhirnya ikut ke hotel. Dia menaruh kotak musik yang sering didengarkan bersama. Bisa saja saat nanti Aiden membuka mata, pria itu akan mengingat kejadian-kejadian manis yang mungkin saja sangat sulit terulang. Hantu Aiden tidak ada disini karena dia tahu tidak akan ada perubahan dalam tubuhnya selama kasus pembunuhan ini tidak terpecahkan. Ya, mungkin saja semua akan terjawah setelah Rinai masuk ke dalam Star mengawasi semua orang bahkan termasuk Anya. (Bagian Kedua) Aneh saja, kenapa Aiden malah mengajaknya ke lantai? Ngenesnya adalah dia harus sendirian di tepi bebatuan, melihat air yang menggulung ombak dari kejauhan. "Untung gak panas ya? Kamu gak haus?" "Udah bawa minum. Kamu gabut deh, ngajak aku ke sini. Mending di villa kamu, besok aku udah audisi yang sesungguhnya. Sama siapa ya? Lupa, dia berkacamata dan kurasa dia hampir sejago kamu." Tidak semua orang yang bicara dengan Rinai, Aiden menghafalkannya. Hanya beberapa saja dan dia sangat senang Rinai punya teman seaneh Wintang. "Masa? Aku jadi penasaran bagaimana permainan kalian nanti. Tapi, tim Marina juga gak kalah hebat. Permainan biolanya selalu memukau, asal kamu tahu ya, Nai, Wintang itu jago banget main biola. Cuma karena kamu lebih ngasih effort ke piano dan saat itu kalian masih musuhan akhirnya dia ngubah haluan. Ah, dasar aneh, membuang peluang saja." Rinai hanya tahu Wintang adalah perempuan yang kesepian. Meskipun mengalami hal yang sama, tapi setidaknya Rinai masih sangat disayang mamanya, sampai sekarang setiap minggu pagi pasti ada kiriman makanan dari sang mama dan tentu saja dia membaginya pada Gena dan Wintang. Mereka memuji masakan mamanya Rinai, apalagi Wintang sudah lupa rasanya menyantap masakan dari orang tuanya sendiri meskipun dulu mereka masih satu rumah. "Dia sebenarnya asyik. Tidak terbiasa hidup kekurangan dan sering bertanya gara-gara jadi orang biasa. Tapi beneran, dia gak caper, cuma emang belum terbiasa aja. Pernah ya, Wintang gak tahu caranya pakai botol cuci piring. Padahal kan cuma tinggal ditarik dan dikeluarkan cairannya lalu dioleskan pada spons! Lucu banget kan! Ah, ya ampun!" Rinai tertawa lepas, membuat Aiden ikut tertawa juga. Pria itu tidak tertawa dengan cerita Rinai tapi tertawa karena melihat Rinai tertawa. Setidaknya, perempuan di hadapannya tidak pernah bermuka dua atau menampilkan sisi yang berbeda. Karena sampai sekarang, punya orang yang bisa diajak bicara dan masih menganggap Aiden manusia adalah hanya Rinai Asmara saja. (Bagian Ketiga) Sungguh! Rinai tidak pernah segugup ini. Bahkan banyak sekali sorot kamera yang mengarah ke atas panggung. Dia menjadi tim ke-7 yang akan memeriahkan kan acara demi menyambut peserta-peserta baru yang masuk ke Star management. "Jangan panik gitu. Aku tahu, Kak, kamu tuh hebat banget. Meskipun kalian benar-benar bersaing secara sesungguhnya tapi kalian juga punya value masing-masing. Semangat ya, Kak Rinai, Wintang!" Wintang ikut tersenyum. Pandangannya datar sedatar tembok di sini. Tidak ada tanda-tanda orang tuanya akan datang berbeda dengan mamanya Rinai, bukan wanita yang memakai pakaian biasa itu membawakan buket bunga karena ini adalah penampilan pertama putrinya. Jujur meskipun sangat sederhana, tapi semisal Wintang berada di posisi Rinai, dia akan sangat bersyukur karena memiliki seseorang bisa diandalkan dan menjadikan seseorang itu tempat curhat apa pun yang dirasakan tentang dunia. "Halo, Bu. Perkenalkan saya Wintang, temannya Rinai. Kami satu kamar, bahkan saya sangat sering merasakan masakan ibu, enak sekali." Rindu tersenyum. Dia tidak menyangka akan disapa teman satu unit Rinai. Menyambut ukuran tangan Wintang, apalagi masakannya sempat dipuji. "Kamu juga ikut tampil?" "Ah iya. Tapi aku yakin, penampilan Rinai akan jauh lebih baik karena mamanya ada di sini." Rindu ikut bangga dan mendoakan yang sama. Akhirnya dia kembali fokus saat nama Rinai dipanggil, berkolaborasi dengan seorang pria berkacamata. Padahal, di pikiran Rindu, dia sangat ingin anaknya bisa bermain piano dengan pianis terkenal di Star, Aiden Alexandra. Sayang sekali karena pria itu masih belum sadar dari koma. Masih mengatur napas, instrumen awal membuat Rinai mengikuti nada yang harus dia imbangi. Berlatih dengan Aiden hampir setiap hari di ruangan musik membuatnya merasa jadi pianis sungguhan. Beberapa orang terpukau seperti layaknya menonton orkestra meskipun ini hanya bermain piano saja. Rindu berharu pilu, kenapa dari semua lagi harus lagu ini yang dia dengar? Apakah Rinai sangat merindukan sosok ayahnya? Ya, Rinai pasti ingat masa-masa masih bisa mendengar suara maskulin pria yang dulu dipanggil papa. Tapi nyatanya pria itu malah pergi dan meninggalkan banyak hutang juga luka bagi Rindu dan Rinai. "Lagu yang indah ya, Bu." ucap Wintang. Dia juga menitikkan air mata, Rinai pasti berlatih sangat keras sampai bisa membuat semua Coach tersihir. Di balik tulisan Star management di sisi kiri ruangan, Aiden melihat seorang perempuan yang menyimpan lukanya sendiri. Ya, Aiden tahu kenapa Rinai memilih lagu itu dan pasangannya juga sama sekali tidak menolak untuk dibawakan ke atas panggung. "Kamu hebat, Rinai." ucap Aiden dalam hati. Dia bertepuk tangan meskipun tidak akan ada orang yang melihatnya. Padahal Rinai menganggap Aiden tidak akan ada di sini lantaran Anya masih berada di London. Rinai berkecamuk dengan perasaannya sendiri. Kenapa pria selalu memberi harapan meskipun itu hanya satu persen saja? Menyebalkan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN