You Are Violance

1082 Kata
Karena sering berlatih dengan Aiden kadang-kadang, Rinai mengalami peningkatan. Bahkan dia diakui Max kalau latihannya berjalan sangat baik, pria yang memang dulu memilihnya saat masuk ke Star agensi. Namun, ada berita dadakan kalau Anya tidak melanjutkan semua kolaborasi yang sudah dijanjikan. Kabarnya wanita itu akan terbang ke London dan menjenguk kekasihnya yang masih koma. Rinai juga ingin sekali ke sana, tapi pakai uang siapa? Hidupnya sudah sangat beruntung bisa makan enak dan tidur nyenyak di Star, gratis pula. Lagian, akan terlihat aneh semisal nanti Rinai ke sana, memangnya ada hubungan apa antara Aiden dan juga dirinya? Sangat disayangkan karena Rinai sudah berlatih sangat keras. Hanya bisa menunggu konfirmasi dari tim penyelenggara. "Harusnya lu tuh marah, Nai. Gak bisa seenak jidat, lu udah latihan hampir setiap hari, menghafal lagu dan bersusah payah meluangkan waktu." Terasa aneh saja karena Wintang tidak terima bestienya diperlakukan segampang itu. Iya kalau Anya bisa membawa kabar baik misalnya Aiden nanti bisa bangun setelah mengetahui Anya akan datang. Tapi sepertinya itu hanya mustahil saja. Perasaan keduanya sering berubah-ubah, Anya sering sekali cemburu dan berusaha untuk jadi pasangan yang pengertian. Sedangkan Aiden harus pasrah lantaran pacarnya punya fans yang kebanyakan adalah musisi hebat. Aiden sangat tahu bahwa pemain drummer di Star naksir berat pada pacarnya. Tidak ingin ambil pusing, Rinai memilih latihan saja. Dia tidak mempermasalahkan siapa pun semisal bukan Anya teman collebnya. Tapi anehnya adalah saat wanita yang dicintai Aiden ke sana, pria itu malah stay di Indonesia. Ya, melalui kontak batin saja Rinai tahu kalau pria yang mulai sering masuk ke pikirannya mengajaknya bertemu. "Santai. Gue gak masalah kok, lagian gak ada yang rugi. Acara tetap berjalan dengan ataupun tanpanya. Usaha gue juga gak ada yang sia-sia." Rinai berusaha mengambil sisi positifnya karena tahu dari awal dia tidak ingin berkolaborasi dengan Anya. Lebih tepatnya minder. Karena sudah latihan dengan beberapa Coach yang mahir di bidang piano, Rinai diizinkan pergi. Hari ini dia ingin pergi untuk bertemu dua orang, bukan Rosaline, bukan. Tapi Ajun, ya! Tidak ingin menyakiti hati Wintang, Rinai memilih dibenci seumur hidup. Bagaimana bisa Ajun yang merupakan cassanova kampus malah menyukainya dan menyatakan cinta padanya. Semuanya gak masuk akal bukan? Sudah setengah jalan, pria yang memakai kemeja kotak-kotak warna Teracota itu terlihat senang melihatnya. Rinai hanya tersenyum, semoga saja Ajun pengertian. "Hai, sudah sampai kamu rupanya. Nunggu lama?" "Tidak juga. Selama apa pun aku tetap nunggu." Rinai mulai ketar-ketir. Ayolah, ingin sekali dia segera menyelesaikan ini dan pergi menemui orang selanjutnya yaitu Azkia. Dia rindu sahabat yang dari dulu selalu bergantian shift kerja di Toserba. Hanya memilih pesan minuman, barulah Rinai bicara. "kenapa menyukaiku, Jun? Maksudku adalah dari banyaknya perempuan cantik di kampus. Bahkan semua orang tahu perempuan-perempuan cantik seperti dari jurusan Bahasa sangat menyukaimu. Aku tahu kamu sering menerima hadiah dari fans-fansmu itu." "Kamu cemburu ya?" tebak Ajun, kepedean. Bukan begitu, Rinai hanya sedang mengumpulkan hal-hal yang bisa membuat pria itu mundur mendekatinya. Bukan Ajun yang diinginkannya, karena sampai sekarang Rinai masih ragu dengan perasaannya sendiri. Hanya bisa mengambil napas panjang. Menyiapkan mental semisal nanti perkataannya akan menyakitkan. "Aku tidak bisa menerima perasaanmu, Jun. Beneran nggak bisa, aku akan habiskan minuman ini dan kemudian pergi. Lain kali akan kutraktir kamu minum." Mata Ajun menatap Rinai, seolah bertanya kenapa? Mereka cukup dekat, bahkan beberapa kali Rinai sering mengeluh betapa kerasnya hidup. Lalu sekarang? Ya, kedekatan mereka kadang disalahartikan. Rinai 100% menganggap Ajun just friend, tak lebih. Ada orang yang dia suka, namun belum dipastikan lagi. "Karena kita dekat, bukan berarti aku punya perasaan denganmu, Jun. Kita dekat karena kamu baik, kamu benar-benar pria baik dan sayangnya bukan aku orangnya yang tepat untukmu." "Lalu siapa? Aku sangat merasa kita serasi. Di forum kampus pun banyak yang mendoakan supaya kita bersama bukan? Kamu nggak bisa menghindari fakta itu, Rinai. Atau jangan-jangan.." "Apa?" Ajun memang sedang menyukai Rinai, ditolak pun tak ada dalam bayangannya. Selama ini belum pernah ada yang menolak cintanya, bahkan lebih banyak yang terkesan mengejar. Perempuan di hadapannya adalah perempuan biasa, sederhana, tidak banyak gaya seperti perempuan pada umumnya. Mandiri, penyayang dan cuek. Sifat-sifat itu sangat disukai Ajun, tapi Rinai malah sebaliknya. "Kamu sedang menyukai orang lain." "Hanya sekedar.." "Suka?" Baiklah, Ajun tidak akan memaksa. Dia harus pasrah, tidak memutuskan persahabatan mereka yang terjalin selama satu tahun ini di kampus. Ajun membiarkan Rinai benar-benar pergi. Betapa leganya, Rinai beranjak dan berjalan ke halte bus. Tidak perlu menunggu lama, Rinai sudah duduk dan mendengarkan lagu Aiden. Lagu yang cukup mendamaikan. Dadanya sesak karena dia sangat takut penolakannya akan mengubah jalan hidup seseorang. Toserba tempat dia beekeja sudah kelihatan dari kejauhan. Kebetulan ini adalah jam jaga Azkia. Rinai membelikan sesuatu untuk gadis itu. Turun dari bus, Rinai membuka pintu bertuliskan dorong dan pura-pura jadi pembeli karena membeli masker. "Selamat datang, Kaka." sapa Azkia. Rinai dulu juga melakukannya. Setelah memilih air mineral, roti kesukaan dan Pocky, barulah dia pergi ke kasir dan membayar. Azkia menatap mata pembelinya dan merasa familiar. "Rinai ya?" tebaknya akurat. "Tada! Ah, kangen banget sama kamu, Az. Peluk sini peluk!" Mumpung sepi, mereka benar-benar saling berpelukan dan berputar. Kalau saja bukan karena rak yang hampir terkena, Azkia yakin Rinai tetap akan histeris. Dari seluruh pegawai di sini, hanya Rinai yang paling akrab dan disegani. Ya, Rinai sangat bertanggungjawab sekali. "Ada angin apakah engkau ke sini, wahai kaum langit?" canda Azkia. Dia memberi selamat karena tidak menyangka Rinai bisa lolos sampai masuk ke Star management. Ya ampun, tentu saja banyak penyanyi yang disukainya termasuk Aiden. Rinai berjanji semisal nanti urusannya selesai dengan pria arwah itu, dia akan meminta agar Aiden meluangkan waktu untuk menemui Azkia sebagai kado ulang tahunnya. Entah kapan hal itu akan terjadi? "Hehehe, do'ain aja gue baru-baru ini ada kompetisi. Gak benar-benar banget sih acaranya, tapi karena perdana pokoknya vote gue ya!" Azkia melakukan penghormatan seolah baru saja mendapat tugas dari negara. Tentu saja, kan gak ada biayanya. Palingan hanya potongan pulsa. Azkia menggratiskan chiki yang diambil Rinai sebagai tanda terima kasih karena perempuan itu mampir ke sini di tengah kesibukannya. "Lu pernah gak sih ngungkapin perasaan sama seseorang?" "Nembak maksud lu? Kenapa emang? Lu barusan nembak cowok? Serius?" Rinai menggeleng, justru sebaliknya. Dia kadang memikirkan kemungkinan nasibnya akan sama dengan Ajun jika menyatakan perasaan pada orang yang disukainya. "Entahlah. Cowok dan cewek beda, Nai. Kalau gue bakalan menyatakan perasaan saat kemungkinan sudah 99%. Ngapain menyatakan perasaan kalau gambarannya masih abu-abu." Benar juga kata Azkia, lalu, bagaimana nanti saat Rinai menyatakan perasaan? Bahkan pria itu sama sekali tidak punya perasaan apa-apa padanya? Sungguh miris. Rinai tidak menyangka kasus cinta pertamanya akan serumit ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN