Finally, Try!

1030 Kata
Akhir-akhir ini, kesibukan Rinai disibukkan dengan latihan mendengarkan. Anya memang memukau, selama tiga hari selalu menampilkan musik dari tuts piano dengan jemarinya. Apalagi pernah tak sengaja memergoki Rinai yang iseng berlatih. Padahal saat itu ada Aiden dis sekitar perempuan yang sedang gabut. Anya merekam permainan Rinai dan hampir meneteskan mata. Dia sangat tak percaya pada permainan seseorang yang sangat mirip dengan Aiden. "Lagi apa?" tanya seseorang. Anya menoleh, menempelkan jari telunjuk di bibirnya, menyuruh seseorang itu untuk diam agar fokusnya tidak teralihkan. Akhirnya dua orang yang sedang berada di depan pintu sebuah ruangan sama-sama mengintip. Memang ruangan sengaja dibuka sedikit agar Anya bisa mendengar permainan Aiden lewat bahasa tubuh Rinai. Ya, benar-benar mirip. "Aku sangat tahu apa yang kamu pikirkan. So, kenapa kamu tidak menyusul kekasihmu sampai ke sana? Apakah ibunya lagi-lagi tidak merestui hubungan kalian?" Pernyataan sekaligus pertanyaan dari Melinda memang memilukan. Hati dan pikiran Anya ikut ngilu. Sudah berkali-kali melakukan pendekatan tapi sepertinya percuma, sampai sekarang belum ada titik terang tentang hubungan mereka. Tapi Anya yakin, Aiden selalu mencintainya. Bahkan pria itu sudah kepergok beli cincin sebelum show konser di luar negri, buat siapa lagi kalau bukan dirinya? Merasa sedikit terobati, Anya ingin masuk tapi dicegah Melinda. Linda sangat tahu seperti apa karakter Rinai. Bukan seperti itu cara mendekati seorang juniornya yang sedikit introvert. "Daripada kamu dicuekin, mendingan ajak dia buat jadi teman collab kamu. Aku jadi ingat pas kamu dulu ada konser di Bali, bersama Aiden. Lagu yang indah dan tidak bisa dilupakan begitu saja bukan?" Ingatan itu seakan kembali terulang. Masa-masa di mana Aiden selalu bangga bisa sepanggung dengan wanita yang dicintainya. "Ide yang bagus. Baiklah, kamu sibuk banget. Berkas apa itu?" Linda menarik salah satu dan memperlihatkannya sebentar di depan Anya, "biasalah. Kerjaan penerima surat dari beberapa keluarga dari penghuni di sini. Mereka rata-rata emang keluarga yang menitipkan anak-anaknya dengan harus bertalenta. Kadang kasihan ya?" Benar sekali. Banyak pesaing di sini yang selalu berpikir menang kompetisi adalah segalanya. Karena rata-rata dari mereka adalah berasal dari keluarga kaya raya yang sibuk. Hanya mengejar kesuksesan dengan membayar harga mahal. Les privat olah vocal, menyewa musisi dan berlatih sekeras mungkin sampai tidak bisa dikalahkan dengan yang lain. Lagi-lagi Anya mengingat momen di mana dia berniat mengajak Rinai untuk jadi teman duetnya. Juga pada pria berkacamata yang sangat pendiam. "Kenapa harus saya? Banyak di sini yang menggunakan alat musik lain, seperti biola misalnya." Anya melipat kedua tangan di depan dadanya, "sepertinya karena aku melihat talenta dalam diri kamu. Bukankah seharusnya kamu berterima kasih sudah dipilih Coach?" "Ah iya, terima kasih, Coach Anya. Saya sangat merasa tersanjung. Tapi, kemampuan saya tidak sehebat itu. Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan anda." Hanya diam sesaat. Sampai sekarang, bahkan Anya sekalipun kesulitan memainkan lagu Hero - cash cash feat Christina Perry dengan begitu baik. Permainan Rinai sangat unik. Seandainya saat itu Anya merekam, pastilah banyak yang meminta video yang dia simpan. Anya juga yakin Coach Ziao memuji Rinai lebih dari pujiannya saat ini. Rinai hanya bisa menerima fakta mereka harus tampil bersama di ajang kompetisi biasa. Tidak akan ada banyak orang, tapi orang-orang penting seperti pendiri Star akan hadir. Ah, belum apa-apa saja sudah segugup ini. Gara-gara keisengan Aiden, Rinai harus menghadapi kenyataan yang membuat matanya sulit memejam setiap malam. "Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih atas perhatian anda, Coach." "Sama-sama. Semangat ya, kamu. Semoga selalu berhasil. Silakan, lanjutkan aktivitasmu, Rinai." Rinai mengangguk lalu cepat-cepat pergi. Dia sering tak sadar sudah menilai betapa cantiknya Anya. Dari rambut sampai dagu, semuanya sempurna. Tidak ada bekas jerawat, tidak kusam dan tidak punya blackheads. Iri banget, tolong! (Bagian Kedua) Pulang dari kuliah kelas sorenya, Rinai menolak ajakan Wintang untuk mampir ke pusat perbelanjaan. Dia ada janji temu dengan Aiden hari ini sekaligus latihan sebelum bakatnya diuji Anya. "Gara-gara kamu. Ah, aku hanya gak terlalu suka dengan piano. Tahu kan, aku lebih suka menyanyi, bukan menggarap semuanya seperti kemampuan kamu." Aiden malah merasa bersemangat sudah mengerjai Rinai kali ini. Mimik wajahnya, nada bicaranya, tingkahnya. Semuanya nampak lucu baginya. Sudah lama dia tidak tertawa sampai selepas ini. "Tenang saja. So, mulailah berlatih. Siapa tahu, bakatmu yang sesungguhnya adalah bermain piano seperti Anya." Rinai mulai tidak suka mendengar nama wanita lain dari mulut Aiden. Tunggu, Apakah ini yang cemburu? Apakah ini perasaan yang akan muncul ketika menyukai seseorang yang sudah memiliki tambatan hati? Tidak, Rinai menggeleng dengan cepat dan membuyarkan lamunannya. Dia mulai berlatih pelan-pelan dan membiasakan diri menguasai apa yang disukai Aiden. Lalu, yaitu dengan cepat akan masuk ke dalam tubuh Rinai. Lama kelamaan, tubuhnya mulai terbiasa ketika diawal rasa sakit yang dia terima. Tapi selama ini, Rinai tidak pernah bermasalah atau pun menceritakan kesakitannya pada Aiden. Dia tidak mau membebani pikiran kayak itu karena sudah terlalu banyak masalah yang dihadapi penyanyi yang sudah lama tidak comeback. Setengah jam menghabiskan waktu di rumah Aiden, Rinai tidak sadar ternyata hari semakin petang dan dia harus kembali ke asrama. "Kamu sepertinya betah di sana. Wintang sekarang mulai baik kan? Kamu tidak punya musuh lagi akan mengganggu dan usil." "Iya sih. Ah iya, kabarmu di London bagaimana? Apakah ada kata-kata dokter di sana? Atau apa?" Ya, Aiden memang berada London. Meskipun dia kecelakaan di Hongkong, tapi pihak rumah sakit di sana merujuk Aiden berpindah agar tidak ada lagi orang yang bertindak jahat. Manager Aiden, Arsen tahu kalau ada yang berusaha mencelakai singernya. Hanya bisa pasrah. Aiden saja ditemani ibunya, seorang wanita yang memang dari kecil merawat Aiden tanpa pamrih. Kehidupan keluarganya biasa-biasa saja, tapi memang dari keluarga yang cukup terhormat dengan attitudenya. "Tidak tahu juga. Dokter selalu mengatakan hal sama. Aku yakin, ini ada kaitannya dengan kasus di mana aku kecelakaan. Mobil yang kukendarai bahkan dinyatakan tidak rusak, terlalu rapi dikatakan rusak malah." "Tenang. Selama ada aku, kamu pasti akan bertahan sampai semua misi kita berhasil. Ayolah, Kamu sendiri yang menawarkan semangat begitu besar dalam hidupku dan sekarang mau menyerah?" Akhirnya mereka bisa saling tertawa dan menertawakan hidup masing-masing. Karena kata Indro Warkop tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Rinai pamit untuk kembali ke Star management, sedangkan Aiden malah berbaik hati untuk mengantarkan. Meskipun nantinya mereka tidak akan saling berbicara karena takut Rinai akan dianggap aneh oleh banyak orang yang melihat perempuan itu berbicara dan tidak ada siapa-siapa di dekatnya. Aneh bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN