Ada sekitar 25 orang yang menjadi teman bergabung dan bisa berkolaborasi dengan Anya. Lalu, setelah itu akan ada voting siapa yang akan menampilkan sebuah penampilan dengan karya. Rinai berharap dia tidak berhasil kali ini. Entahlah, sungguh malas karena wanita itu menjadi manusia paling dihindari Rinai selama di Star.
Anya terlihat ramah, beberapa kali berusaha menjadi teman yang baik dengan 25 orang termasuk Rinai. Bukannya fokus pada penjelasan Anya, Rinai malah sibuk menilai seberapa cantiknya wanita yang selalu dipuja-puja Aiden itu.
"Karena hanya akan ada 5 orang terpilih, usahakan yang terbaik kalian. Dari data yang aku baca, ada beberapa orang yang memang akan memainkan piano. Aku suka punya teman yang memiliki kemampuan yang sama."
Semuanya mengangguk tanda paham. Lalu, Anya berjalan dan membuka piano. Mengelus sebuah ukiran, Rinai jadi penasaran. Apakah ada kaitannya dengan Aiden? Pikirannya kembali fokus setelah suara denting piano Anya mulai membius banyak orang.
Memang sih, permainan Anya tidak usah diragukan. Jemari lentiknya seolah diciptakan agar bisa membuat orang-orang yang mendengarnya bisa hanyut dalam permainannya.
Lagu soundtrack Twilight membuat Rinai perasaannya mendayu-dayu. Ah, apa-apa ini? Kenapa dia bisa menangis terharu hanya karena sebuah alat musik?
"Dari dulu, Kak Anya memang gak berubah ya? Bahkan, pianist di Star, aku sangat memfavoritkan dia. Untung saja aku ikut bergabung dalam grupnya, sayang banget aku gak bisa main piano."
"Aku juga. Kayaknya di antara 25 orang ini hanya beberapa, kamu tahu yang pakai kacamata itu? Dia handal banget. Seleksi online dan memang dari keturunan orang kaya. Konglomerat malah, punya pabrik tambang emas di pedalaman Sulawesi sana."
Rinai tidak tahu siapa yang dimaksud, tapi matanya mengarah pada pria yang memakai kacamata. Cukup manis, meskipun terlihat sangat polos dan lugu. Baginya, sejauh ini yang paling tampan adalah Aiden.
Tunggu-tunggu, ini kenapa malah mikirin Aiden terus sih? Rinai kembali fokus lagi.
"Nah, itu sebagai contoh ya? Aku paling suka lagu sedih, apalagi lagu yang bisa membuat para pendengarnya ikut menikmati permainannya."
"Yes, Coach!" seru 25 orang itu serempak.
Anya mengaku sudah melihat beberapa permainan anak didiknya, hatinya tersentak melihat permainan bernama Rinai. Entah kenapa, dia merasa dekat dengan permainan yang dibawa Rinai. Untung saja ada foto, matanya mulai mengabsen satu persatu dan berhenti pada seorang perempuan yang melihat ke arah jendela.
Jadi perempuan itu yang dipuji Coach Xiao, memilki permainan yang cukup baik dan tidak neka-neko. Tidak pernah membantah banyaknya aturan saat kompetisi.
"Nanti aku akan menghubungi kalian langsung dan membicarakan soal kolaborasi. Untuk yang tidak terpilih, kalian tetap spesial dengan value masing-masing. Jangan menyerah ya?"
Tetap saja, dipilih atau tidak tetap beda rasanya. Rinai tidak berharap banyak, dia memilih untuk tidak dilihat Anya, pasti nanti Aiden akan kepo dan nanya ini itu.
Sepagi ini, tidak ada urusan yang dilakukannya. Rinai bisa mengambil waktu untuk berkunjung ke apartemennya. Dia sangat rindu Rose, tentu saja. Setelah perkumpulan anak didik Anya bubar, barulah Rinai kembali ke kamar.
Melihat hanya ada Wintang, kemungkinan besar Gena sudah mencari celah untuk kencan.
"Gak ada kegiatan?"
"Gak ada. Palingan tidur, nanti tutup pintunya ya. Gena sering lupa."
Rinai mengangguk, dia berganti pakaian. Tatapannya kasihan, apalagi Wintang sering sekali menghabiskan waktu di kamarnya. Hanya menatap laptop dan dunia gamenya, kalau jadi Wintang sih mending kuliah di IT dan menekuni hobi.
Baru sampai di lantai 2, Rinai kaget dengan sebuah suara yang nyempil ke telinganya. Pastilah si usil Aiden, dia hanya melirik sebentar dan menunggu pria itu bicara.
"Good job, Rinai. Kayaknya Anya tadi sangat memperhatikanmu. Lihat saja, kamu bakalan terpilih untuk bisa berkolaborasi dengannya. Bukankah ini kesempatan emas?"
"Huh, aku malah berdoa supaya tidak ada pilihan dalam diriku. Kamu tahu kan, Kak Anya sehebat itu. Aku bukan apa-apa."
"Ayolah! Aku tahu, kamu itu sebenarnya.."
Aiden tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Rinai membungkuk pada penjaga gedung, men -scan kartu tinggalnya di Star lalu keluar dari asrama. Apa yang dilakukan Rinai sekarang? Kenapa dia terburu-buru sekali agar Aiden tidak bisa mengejarnya?
Mungkin karena saat berenang dengan Wintang, dia masih sangat ingat ada yang menolongnya dan itu adalah Aiden? Ah, tidak-tidak. Mungkin itu hanya halusinasinya saja.
(Bagian Kedua)
Sudah beberapa kali Rinai memencet bel, kode sandi pun sudah berubah. Apa-apaan? Apa yang disembunyikan Rose kali ini? Seorang pria lagi?
Terdengar ada suara bel, Rose dengan malas akhirnya membuka dan masih menguap. Dia tidak ada pemotretan hari ini dan ingin menghabiskan waktu dengan tidur panjang.
"Ya ampun, Rinai! Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini sih?"
Rinai menerobos masuk, "hahaha. Sorry, tapi kayaknya kode sandinya berubah. Lu berantem sama Billar atau lu...?
Tebakan Rinai meleset. Rose sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan pria seberengsek Billar, pria yang hanya suka celap-celup manja tanpa perasaan. Padahal Rose ingin menikah tahun ini, tentu saja dia sangat serius dengan hubungannya. Tapi, lagi-lagi hubungannya kandas di tengah jalan.
Tuhan, apakah Rose tidak diizinkan untuk bahagia dan dicintai seorang pria dengan tulus?
"Ternyata di dunia ini enggak ada ya pria yang sangat serius? Padahal gue sangat tulus sama Billar. Yeah, meskipun gue nggak berharap banyak kalau Billar pacar gue itu lebih setia dari Billarnya Lesti."
Rinai menepuk bahu Rosaline tanda peduli. Terkadang mereka memang satu pemikiran kalau membicarakan tentang pria, terbesit harapan kalau suatu hari nanti mereka akan dicintai dengan perasaan yang semakin bertambah setiap harinya.
Mumpung tadi Rinai belanja, dia sengaja kesini untuk meluangkan waktu dan membuatkan makanan kesukaan Rose. Ya, perempuan yang suka dipanggil kembarannya Rose Blackpink ini sangat mencintai masakan apa pun yang berbau seafood.
"Keahlian masak lu makin oke juga. Apakah lu gak salah masuk agensi? Jangan-jangan lebih karena bukan untuk kompetisi menyanyi tetapi memasak."
Hanya tertawa oleh bercandaan Rose, akhirnya dia bisa mengolah kepiting dengan bumbu saus yang dipelajari saat gabut di agensi. Meskipun terkadang dia makan di kafetaria, tetapi tetap saja perutnya sering meronta-ronta saat malam ataupun begadang.
"Hitung-hitung sebagai penyambutan karena gue datang dan menghibur lu yang baru saja patah hati. Nih, cobain. Gak terlalu suka pedes banget kan? Mirip banget sama Ai.."
Rinai merasa aneh. Hanya sebuah pengakuan saja, perempuan itu sudah percaya bahwa Aiden memang tidak suka makan pedas.
Kening Rose mengkerut, "Ai siapa?"
"Hehehe. Bukan siapa-siapa, artis China kan baru-baru ini aku lagi nonton drama China yang memang ceritanya unik."
Bukan hanya menanam dana Korea Thailand saja tetapi Rinai memiliki segudang list drama China yang haru ditonton setiap tahunnya. Rinai makin menggila, sejak kejadian di kolam renang kewarasannya mulai berkurang. Nama Aiden tercetak nyata di dalam pikirannya.
Terkadang, Rinai memikirkan seandainya nama pria itu semakin jelas dan dia mulai menyukai. Memang hal wajar sih, Aiden tidak mudah ditolak pesonanya, tapi lagi-lagi Rinai harus sadar siapa dia dan siapa Aiden.
Kenapa dunia selalu punya perbandingan yang licik dan menyakitkan?