Feel Inferior

1023 Kata
Kalau saja boleh bertukar, ingin rasanya Rinai bertukar saja. Konon katanya, Anya terkenal sangat profesional dan sangat susah diajak bercanda. Padahal dari tampangnya, wanita itu terlihat jinak. Ah, apalagi Anya adalah kekasih Aiden. Apakah ini sebuah kebetulan? "Aku gak begitu kenal Anya. Hanya saja, wanita itu sangat aneh. Kata Kak Tere, dia sering mencuri banyak perhatian." ungkap Wintang. Gena sedang mengunyah keripik tempe, apalagi itu adalah buatan mamanya Rinai. Enak sekali, apalagi gratis. Banyak cemilan yang datang. Dilewatkan kurir dan akhirnya sampai di depan kamarnya. Star memang tidak punya aturan apa-apa. Kecuali jika punya talenta khusus dan harus menjaga pola makan. Rasanya seperti digembleng di sekolahan internasional dengan fasilitas fantastis. "Bukankah dia sangat baik? Kudengar, dia juga anak kesayangannya Mr. Xiao. Kamu dulu dites sama dia kan? Ituloh, pria yang selalu memakai kacamata dan jalannya tegak sempurna. Gak pernah noleh-noleh." Rinai berusaha mengingat. Terlalu banyak senior di sini, terlalu banyak pula nama-nama yang entah terkenal. Dia hanya masih ingat Aiden saja, mungkin karena pria itu akhirnya Rinai bisa berakhir di sini. "Lupa. By the way, apakah kita akan bertemu pembimbing hampir setiap hari?" "Kurasa tidak. Hanya tiga kali dalam seminggu, semua orang butuh napas, Rinai. Selama ini hanya latihan biasa tidak akan terlalu mencekik." Setelah mereka satu kamar, meskipun masih bersikap menyebalkan. Wintang setidaknya tidak pernah membuat masalah lagi. Rinai tahu, perempuan itu banyak masalah di rumah. Jiwa-jiwa kesepian yang butuh perhatian. Meskipun penuh uang dan punya orang tua yang lengkap, ternyata tidak semua orang bisa menyambut kata bahagia? Jadi, bahagia itu bagaimana? Mungkin Rinai memang masih berharap bisa bertemu pria yang sudah mencampakkan mama dan juga dirinya. Tidak butuh pengakuan, Rinai akan tetap hidup tanpa itu. Dia hanya ingin pria yang sudah tega membuangnya menyesal dan membayar apa yang sudah dilakukannya. Sedang bosan, Rinai mengajak Gena berenang. Ada fasilitas renang yang bersebelahan dengan kolam renang milik asrama pria. Bukan ingin ngintip sih, hanya saja Rinai bosan karena kehidupannya berupa makan, ke aula pertemuan, berlatih. "Gue boleh ikut?" tawar Wintang. Dia membuka lemarinya dan menunjukkan banyaknya kostum renang. Rinai bisa membawanya satu. Agak gimana gitu kalau akur. Tapi baiklah, permusuhan akan menjemukan karena Rinai suka hidup tentram. Gena memilih stay di kamar karena punya jadwal video call dengan sang pacar. Mereka berjalan berdua. Hanya berdua. Di sana mungkin ada beberapa orang, mungkin saja tidak. Intinya saat ini Rinai hanya bosan. "Sepertinya aku sangat jarang lihat kamu main ponsel. Kenapa?" "Tidak ada yang penting." "Orang tua?" "Gue tidak terlalu penting juga dibandingkan seluruh kesibukan mereka. Makanya mendingan gue ke sini, melihat orang-orang yang sibuk sama urusan mereka. Gue terbiasa jadi pengamat." Rinai manggut-manggut, Star nampak megah saat malam hari. Mungkin weekend, tidak ada penjagaan keliling. Semua orang bebas asalkan mereka tahu aturan. Tak sadar, Rinai berpapasan dengan Anya. Wanita yang katanya murah senyum itu berdiri di dekat cafetaria. Terlihat sedang bicara dengan orang lain. "Kan, apa gue bilang. Udah, anggap aja kita gak lihat. Wanita itu tuh bermasalah, selalu nampilin sisi korban di mana dia sangat kehilangan kekasihnya. Dan gue rasa, dia gak sebaik yang gue kira." Hanya bisa melihat sekilas lalu pura-pura tidak peduli. Jujur, Wintang sanga mirip dengan Rose, dia sangat rindu sahabatnya yang selalu sendirian. Tapi mungkin Rose juga merasa bahagia lantaran punya banyak waktu dengan Billar. Semoga saja pria itu benar-benar serius dengan hubungan mereka. Sampai di kolam renang, dugaan Rinai benar. Hanya ada 4 - 7 orang yang asyik menenggelamkan kaki mereka, hanya bermain air. Tiga orang lain benar-benar berenang. Mungkin gerah. "Gue ganti baju dulu. Lu tunggu di sini, jaga ponsel." "Oke." Di sini memang ada CCTV setiap sisi ruangan. Tapi karena Rinai belum sepercaya itu sama siapa pun dia memilih bergantian. Banyak orang-orang tertawa dan bahkan iseng ingin memanjat pagar. Suara tawa dari sebrang menandakan adanya banyak pria yang sedang berenang. Pasti banyak juga yang ingin melihat pria-pria itu memarkan bidang dadanya. "Giliran lu, sana." Rinai pura-pura sibuk memandangi sesuatu. Jangan sampai Wintang tahu pipi Rinai bersemu merah lantaran membayangkan yang tidak tidak soal pria. 10 menit kemudian, Rinai sudah melihat Wintang basah. Ternyata perempuan itu sangat lincah dan energik. Gerakannya tidak asal-asalan, teratur dan cepat. Wintang menyemburkan air dari mulutnya, memunculkan kepala dan meminta air minum. "Hebat juga. Kamu seperti seorang atlet. Aku baru bisa berenang saat usiaku 17 ke atas. Apa kamu sering ikut lomba?" "Tidak. Aku bisa membeli tropi dan penghargaan yang kumau, tapi malas semua kerjaan ayah. Kebetulan rumahku memang ada kolam renang, hampir setiap hari aku berenang." Ya, Wintang ingat saat dia sering menghabiskan waktu dengan kakaknya dulu. Sekarang semua orang sibuk, Wintang kesepian sejak usia 10 tahun, memendam luka sendirian. Dan semua yang dia punya hanyalah fatamorgana. Gantian Rinai, hati-hati sekali. Hanya renang sebisanya. Pasti Wintang menertawakan. Mendadak kaki Rinai mulai keram. Akhir-akhir ini karena terlalu lama jogging tanpa pemanasan, Rinai merasa semakin sakit. Dia kesulitan bertahan untuk mengambang. Hampir tenggelam, Rinai merasa ada yang menyentuh pinggangnya. Dadanya sesak, dia tidak begitu melihat jelas. Tapi Rinai mengenali pria itu, ya, pria yang selama ini ada di pikirannya tengah memberikan napas buatan untuknya. Hosh! Hosh! Hosh! "Rinai, are u okay?" Wintang berjongkong dan berusaha menggapai tubuh teman satu unitnya. Ya, karena tidak pernah membalas semua kejahilan Wintang, dia merasa malu sendiri. Akhirnya pelan-pelan Rinai menjadi sosok yang sangat dekat dengannya di star selain kak Tere dan Gena. Setelah berhasil berbaring di tepi kolam renang, Rinai bernapas lega. Dia bisa selamat malam ini. Ah, apa benar tadi Aiden? Mereka sudah.. Sudahlah! Rinai pasti hanya halu saja. Apa-apaan, mana mungkin pria itu menciumnya? Pria itu hanya menyukai Anya saja. (Bagian Kedua) Saat ini, tidak ada kesibukan yang dilakukan Aiden. Rasa pusingnya mendadak datang. Padahal sejak menjadi makhluk aneh, jangankan ngantuk, lapar saja tidak pernah dirasa. Kenapa tiba-tiba kepalanya pusing? "Aku yakin Rinai tidak akan menyadarinya. Ya, aku hanya berusaha menolongnya. Aku tidak memanfaatkan situasi." batinnya melegakan hati sendiri. Bahkan Aiden sangat heran, ternyata dia bisa menembus air. Entahlah, adakah keajaiban yang akan Aiden temukan lagi? Tidak ada kerjaan selain melihat hara-huru orang yang sibuk dengan latihan mereka, dari atas sana, di dekat sekat bangun gedung, Aiden melihat Anya yang berjalan dengan beberapa juniornya. Ya, wanita itu selalu saja sendu. "Aku akan segera kembali, Sayang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN