Atas kebaikan Rinai, Wintang tak jadi kelaparan. Dia memang mudah sakit jika telat makan sebentar saja, sebagai seorang gadis yang manja memang kehidupannya dari dulu tidak pernah penuh aturan. Satu-satunya asalan agar bisa di sini adalah agar merasa mengalahkan Rinai. Meskipun dalam. Arti sebenarnya mereka tidak pernah benar-benar bersaing.
Tapi pandangannya tentang Rinai hampir berubah. Gadis itu tidak pernah benar-benar musuhnya. Selama satu kamar, setiap Gena maupun Rinai membeli cemilan, pasti mereka membaginya. Meskipun hanya biskuit ringan.
Jujur, Wintang memang sulit bersosialisasi. Dia tidak pernah diajarkan berteman. Terlalu ramai dan memang orang tuanya super sibuk sejak Wintang masih berusia 10 tahun, kakaknya juga sedang bersusah payah mengambil gelar master di universitas Beijing.
"Ternyata latihan tadi memang benar-benar menguras suara. Dengar, ehm, ehm, ehm. Aku hampir aja kehilangan pita suaraku kayak Spongebob. Di sini sangat harus bekerja keras." ulas Gena.
Berkali-kali menenggak minuman hangat agar tenggorokannya membaik. Dia langsung mengambil ponsel dan menunggu jaringan. Ada seorang pria di sana, tersenyum. Setelah itu Rinai langsung menyibakkan selimut. Jomlo mana paham?
Tapi sebelum tidur, Rinai mematikan lampu. Suara Wintang membuatnya membuka mata lagi. Jadi, gadis itu mau juga berbicara dengannya.
"Kenapa kamu juga gak menelpon orang yang kamu suka?"
Wintang menyukai Ajun, dan sialnya pria itu selalu memperhatikan Rinai. Setiap Rinai kekusahan, bisa dibilang Ajun lah perwira sebagai jagoan. Jujur, Wintang iri dan cemburu.
Kekesalannya bertambah karena Rinai masuk nominasi pesaingnya yang memiliki banyak penggemar lewat online.
"Maksudmu pacar?"
"Ya semacam itu. Gak mungkin kamu gak punya kan?"
Rinai kembali menyalakan lampu tidurnya. Dia menggeleng, terlalu malas mengurusi hal tabu, di usianya yang serba produktif ini, Rinai ingin banyak melakukan hal yang berguna. Lagi pula mamanya sangat ingin melihat anaknya bisa terkenal dengan bakat, ketenaran hasil kerja keras. Bukan karena Joget gak jelas dari aplikasi tok-tok. Ehem, bukan nyindir ya!
Semakin tak percaya. Wintang jelas-jelas melihat Rinai sering ke kampus dengan Ajun. Pastilah ada sesuatu di antara mereka, gak mungkin hanya sekedar teman kampus saja kan?
Melihat Wintang hampir berbicara lagi, Rinai jadi tahu gadis itu menyimpan sesuatu di pikirannya. "Ada pertanyaan lagi? Kayaknya tadi mulut kamu komat-kamit. Bilang aja, toh biasanya kamu gak pernah mikir kan kalau mau ngomong?"
Sarkasme yang terlalu menurunkan mental. Dari dulu, Wintang memang sering berkata kasar, bahkan terkesan ngajak ribut. Satu-satunya orang yang selalu tak pernah membalas hanya Rinai, gadis itu terlalu buang-buang tenaga misal meladeni Wintang yang suka cari gara-gara.
Bel wajib tidur sudah mulai terdengar. Akan ada operasi keliling. Di sini seperti hidup di asrama kalangan muda, jika ada yang sampai ketahuan masih bermain ponsel, pastilah akan disita dan dikembalikan tiga hari kemudian.
Rinai memperingatkan Gena, gadis itu mengatakan salam perpisahan. Lagi-lagi Rinai tahu, ada banyak hal yang masih gamblang di mulut Wintang. Gadis itu sepertinya sekarang jadi lebih banyak bicara hal-hal yang lebih manusiawi.
"Kupikir kamu suka Ajun. Kalian tidak tahu ya, selalu dianggap dekat oleh teman-teman kelas? Dan juga, aku sering lihat kalian mengerjakan tugas bersama. So, kupikir kamu ada apa-apa sama dia."
Ah, soal Ajun. Rinai tidak terintimidasi dengan kata-kata siapa pun yang tidak pernah punya peran apa-apa di hidupnya. Mulutnya tidak dihidupi oleh mereka, Rinai bisa hidup kenyang karena kerja kerasnya sendiri.
Dia tahu kalau Wintang menyukai Ajun. Gadis itu sering menitipkan makanan pada mahasiswi lain ke kelas Ajun tanpa nama. Tidak ingin dikenal seolah dari penggemar rahasia. Ngapain sih jaman sekarang harus pakai cara ngumpet segala, gak dewasa banget!
"Pasti kamu hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu kan? Santai, aku gak ada apa-apa. Kamu kejar dia, pria yang kusuka juga bukan dia, tapi orang lain."
Gena yang sudah selesai bertelepon langsung ikut menimpali, bertanya siapa pria beruntung yang disukai Kak Rinai? Ah, kan? Jadi pada kepo! Mendingan Rinai tarik selimut, nanti pagi ada jadwal latihan dan katanya sebagian dari penghuni asrama akan berkolaborasi dengan para coach.
(Bagian Kedua)
Keringat Rinai mengucur deras, dia duduk di atas pondasi setiap sisi lapangan. Untung saja ada tempat mengambil minum pakai koin, setidaknya tidak terlalu membuatnya dehidrasi.
Ternyata ada orang yang ikut mengantri, wanita yang selama ini membuatnya kesal dan muak. Ya, namanya Anya, wanita yang sangat dicintai Aiden. Pria yang selama ini selalu menganggu kesibukannya.
Anya mengambil air mineral biasa dan meneguknya perlahan. Dia juga sama berkeringat, disusul beberapa orang di belakang. Mereka saling mengobrol, sedangkan Rinai pura-pura tidak peduli.
"Sudah berapa kali putaran kamu, Nya?"
"Entahlah. Mungkin 7, hari ini aku akan melakukan sampai 15 putaran. Perutku buncit karena sering ikut perayaan setiap coach. Banyak dari mereka yang akan segera menikah, dan sialnya aku harus ikut acara yang membuat aku makan terus setiap malam."
Ketiga orang tersebut seakan menganggap Rinai hanya patung tak berguna. Rinai iri, apa tadi? Buncit? Perut kayak papan triplek gitu dikatakan buncit? Apa jadinya jika Anya melihat perutnya yang sudah seperti ikan Molly?
Setelah mengisi absen, Rinai langsung mandi dan makan di kantin. Lagi-lagi dia mengamati Anya, wanita itu pemilih sekali. Pastilah Aiden sangat bekerja keras saat mendekati coachnya itu.
Usai perutnya kenyang, Rinai bermalas-malasan dan menyelonjorkan kaki di aula. Sudah ada Gena di sana, dan yang mengherankan adalah Wintang juga ada di samping teman unitnya. Tumben akur, ada apakah gerangan?
"Lama banget sih makannya? Apa gara-gara lauknya enak, hm?"
"Iya palingan. Wintang, kamu udah makan?"
Malah melengos, mungkin malu mendapatkan pertanyaan seperti anak kecil. "Udah. Santai saja, aku gak bakalan merepotkan kalian."
Rinai dan Gena hanya tertawa. Akhirnya seluruh penghuni asrama berkumpul. Meskipun tempat laki-laki dan perempuan beda, mereka tetap satu lokasi. Rinai yakin ada yang berpacaran di sini. Gak cuma Aiden dan Anya.
Semuanya mendapatkan lintingan kertas. Setelah ini akan ada jadwal latihan, lalu berkolaborasi dengan coach yang namanya tertulis di kertas yang diambil. Siapa pun, Rinai berharap mendaptkan coach yang ramah.
Hah? Matanya membulat sempurna. Apa gara-gara sering membatin tentang wanita itu, sekarang malah nama Anya yang muncul?
"Dilarang bertukar. Ingat, kalian harus disiplin. Mulailah berkenalan dengan coach kalian. Dan minggu depan, siapkan mental karena saat itulah bakat kalian akan benar-benar diasah."
"Siap, Coach!" jawab serentak.
"Aku dapat coach Marina, dia terkenal sangat pelit bicara. Kamu siapa, Kak Rinai?" Gena mengintip dan memanyunkan bibir. Mengatakan kalau Rinai sangat beruntung bisa dilatih coach Anya.
Sedangkan menurutnya ini adalah petaka. Semenjak tahu wanita itu jalan dengan coach pria lainnya, setelah Aiden kecelakaan dan koma di sana, rasanya setelah itu rasa iba di hati Rinai mendadak lenyap.
Sungguh, dia mengkasihani sosok Aiden yang memang tidak pernah membicarakan keburukan Anya. Pastilah pria itu yang dulunya mengejar untuk mendapatkan sosok Anya.
"Kalau kamu, Kak Wintang?"
Bilang kalau mendapatkan coach Marina juga. Gena histeris, akhirnya ada teman. Setidaknya mereka berdua bakalan ada pembahasan. Sialnya, Rinai ingin sekali bertukar lintingan kertas.
Apakah setelah ini dia mampu menghilangkan rasa muaknya terhadap wanita yang kelihatan tidak merasa kehilangan sosok pria yang mencintainya?