Tidak memiliki kebiasaan bangun pagi, Wintang berkali-kali dibangunkan oleh tim operasi. Meskipun punya tabiat yang sama, tapi setidaknya Rinai dibangunkan oleh Gena. Memasang alarm dari semalam.
Byurr! Siraman air membuat Wintang tak kuasa selain harus bangun, dia menggigil namun menutupi rasa sebalnya melihat Rinai dan Gena menahan tawa.
Dengan sangat terpaksa, Wintang berganti pakaian. Star memang punya kegiatan rutin yaitu jogging pagi, mengabsen diri dengan konfirmasi hadir pada sebuah kartu.
"Sepertinya dia bakalan ikut. Besok kita bangunkan saja. Kasihan kalau setiap hari dia diguyur seperti itu, bisa-bisa masuk angin kan?"
Malas sebenarnya baik pada orang yang hampir ingin mencari gara-gara dengannya. Tapi setidaknya Rinai masih punya sifat manusiawi, Wintang hanya sering melukainya dengan kata-kata sejauh ini.
Akhirnya mereka turun, mulai berlari. Ada sekitar hampir 200 orang di gedung ini, belum termasuk para senior, pegawai, ibu kantin dan penjaga. Mereka semua punya perannya masing-masing.
Guna jogging adalah agar para pengunjung tidak membiasakan tidur pagi, tidak sehat pula bagi tubuh. Kenapa Aiden tidak memberitahunya tentang kebiasaan ini, kan bisa tidur lebih awal?
"Hah, aku gak biasa lari. Kamu cepat banget larinya, Kak Nai. Sering jogging juga?"
Tidak. Rinai hanya sering berlari dari kamarnya menuju lantai bawah, itu pun saat liftnya rusak. Dia harus terburu-buru untuk bekerja atau saat ada jadwal kuliah.
Sudah satu putaran. Masih 9 putaran lagi, Gena mengajaknya memelankan langkah kaki. Apalagi dia memang sudah mengidap sindrom lapar.
Sangat ingat kebiasaan di rumah, selalu dimanjakan oleh kakak dan mamanya. Sepertinya Star mengajarkan untuk tidak membiasakan diri bergantung dengan orang lain. Bagaimanapun juga, Gena adalah orang yang tidak suka membuat susah orang lain.
11-12 sama Rinai. Sepertinya mereka akan jadi teman baik.
"Udah yuk, ada beberapa anak yang sudah kembali ke dalam. Mereka pasti langsung mandi dan ke kantin. Apa ya menu hari ini? Biasanya kantin gedung asrama selalu menjanjikan bukan? Tidak separah di rumah sakit."
Lagi-lagi Rinai mengangkat bahu, mereka berdua ke atas. Tidak ada Wintang. Tapi kenapa tadi Rinai tidak melihat perempuan itu ikut jogging? Kabur lagikah dan mengadu pada Kak Tere?
"Udah, biarin aja. Mendingan kita mandi terus ke bawah. Udah laper banget tahu. Kamu tahu kan, jam 9 nanti kita ada perkumpulan besar di aula pertemuan. Pasti ujung-ujungnya kompetisi dadakan."
Rinai mengangguk, langsung menyambar handuknya. Jakarta tidak sedingin daerah di manapun. Kadang terbesit seandainya dia tidak hidup di kota ini, pasti Rinai akan menjelajah. Ada keinginan sederhana, hanya ingin keliling Indonesia bersama mamanya atau setidaknya pernah keluar dari sekitaran tanah Jakarta.
Setengah jam berkemas, Gena mengajak Rinai ke kantin. Sudah banyak yang mengantri memang, apalagi mereka pasti semua lapar bukan?
"Hmm, lumayan enak. Aku suka tumis buncis, ada kecambahnya lagi. Sedap, bisa double gak ya lauknya?"
"Dasar omnivora!"
Mumpung gratis kan? Mereka mencari tempat duduk, tapi sejak tiba di sini Rinai celingukan. Dia mencari Wintang, perempuan itu tidak ada di mana-mana. Ke mana sih?
Akhirnya dia tak ingin ambil pusing, perutnya sudah keroncongan. Terlebih memang harus punya tenaga untuk acara perkumpulan. Ini adalah hari sabtu, tidak ada sesi latihan. Rinai mengambil kuliah seminggu dua kali setiap senin dan selasa, sekelas dengan Wintang. Hanya sampai jam 3 sore, setelah itu dia akan mengikuti latihan dengan coach sesuai kode yang diberikan oleh tim keliling.
Suaranya memang sedikit berat, khas dengan Lyodra Indonesian Idol. Meskipun terlalu bagus. Rinai saja harus punya kepercayaan diri saat nanti latihan, jangan sampai mempermalukan Aiden. Pria itu akan datang membantunya.
"Setelah ini kita harus bersiap-siap kan? Kamu ngapain ambil kotak makan? Masih laper?"
"Kasihan Wintang. Dia kayaknya malas ke bawah karena selalu dimanjakan oleh pengurus rumah. Dan belum terbiasa meminta bantuan dari orang asing. Tadi dia disiram air dingin, terus jogging. Nanti kalau dia sakit, kita juga kan yang repot?"
Benar juga. Perempuan itu pasti sungkan untuk sekedar mengajak teman-teman unitnya minta tolong. Begitu sampai di kamar, Wintang benar-benar meringkuk di dalam selimut.
Rinai bertanya bagaimana keadaannya. Wintang hanya menghela napas. Dengan sangat terpaksa, tangan Rinai memeriksa. Kening Wintang mulai menghangat.
"Kamu demam. Bangunlah, paksakan makan. Aku akan membuatkan teh hangat dan mengompres kepala kamu. Taruh juga kain ini di sisi ketiakmu. Kami harus ke bawah, aku bisa lapor sama tim penjaga kalau kamu sakit."
Biasanya Wintang sangat tidak suka didekati apalagi dikasihani. Tapi badannya memang tidak enak, dia terdiam dan berusaha bersandar pada ranjangnya.
Melihat bagaimana Rinai sangat cekatan, perempuan itu pasti sudah terbiasa menjaga dirinya sendiri. Tidak perlu merasa lemah saat sakit sendirian. Mereka berdua pamit turun ke bawah, menutup pintu dan membuat Wintang hanya diam.
Karena perutnya memang lapar, Wintang mulai menyendok. Dia yakin tak yakin, tapi tidak mungkin kan Rinai akan memberi racun pada makanannya.
Setidaknya dia harus punya tenaga, sialan memang orang yang iseng menyiram air. Tapi ini adalah peraturan, dan Star selalu ketat dalam urusan bangun dan latihan.
"Kenapa kamu baik sama Wintang. Biarin aja dia sakit, toh selama ini kamu bilang sendiri kalian sering ribut."
"Aku bukan pendendam, Gen. Hatiku luas banget ruang maafnya. Orang seperti dia harus kadang-kadang dibaiki, biar sadar kalau pemikiran bodoh seperti bersaing cuma buang-buang waktu saja."
"Oke."
Sampai di tempat perkumpulan, para senior sudah berada di garis terdepan. Memperkenalkan diri satu persatu. Kayaknya seperti orientasi. Semoga tidak ada strata sosial antara kelas juniornya dengan senior. Rinai paling benci tentang hal itu.
Banyak orang yang berdesas-desus. Layar di tampilkan dan ada gambar Aiden di sana, penyanyi sekaligus musisi yang dikabarkan masih koma.
"Kita bisa belajar dari Kak Aiden. Dia lahir dari keluarga yang broken, dan saat aku mengatakan ini, aku yakin Kak Aiden mengizinkan aku menceritakan tentang pahitnya hidupnya di masa kecil."
Ah, Rinai baru tahu. Kenapa hampir semua orang yang dikenal memiliki kisah yang sama? Rinai, Gena, dan sekarang Aiden.
Semua penghuni baru menikmati suara Aiden sebagai pembukaan hari mereka di sini. Banyak yang memuji, merasa Aiden adalah penghuni Star yang selalu diagung-agungkan.
"Kabarnya, dia bahkan dikabarkan meninggal. Aku ngeri membayangkan, pasti berat buat papanya, juga Kak Anya. Miris ya?"
"Hust. Kita doakan saja semoga Kak Aiden segera pulih dari komanya. Dulu, aku juga mendengar penyanyi luar negri hampir setahun koma, terbangun karena dia menunggu seseorang datang."
Rinai kembali fokus pada layar. Tersenyum, merasa kalau pesona Aiden dari dulu tidak berubah. Wajah tampannya, suara emasnya, keramahannya. Ya, semua yang dimiliki pria itu terlalu sempurna.
Pandangan mereka banyak yang teralihkan saat Anya masuk. Wanita yang sudah menjadi kekasih Aiden sejak dua tahun yang lalu. Hubungan mereka pernah digosipkan putus, nyatanya sampai hari ini Anya masih menambahkan nama Aiden di setiap bio Wechattnya.
"Anya juga cantik banget ya. Mirip banget sama penyanyi Raisa, cuma lebih ke versi mudanya sih. Salut, sabar banget nunggu kekasihnya sadar. Tapi, yang paling mengherankan kenapa Anya enggak menyusuk ke sana?"
Entahlah. Pandangan ke Anya yang awalnya kasihan menjadi kesal. Setelah melihat wanita itu malah jalan dengan pria lain. Intinya, Rinai tidak suka ada yang menyakiti Aiden meskipun pria itu tidak melihatnya sendiri kelakuan sang pacar.