Meet

1067 Kata
Akhirnya Rinai bisa masuk ke kamarnya, hanya dihuni tiga orang saja. Yang paling membuatnya tak percaya adalah dia harus satu kamar dengan Wintang. Bukankah perempuan menyebalkan itu bilang kalau akan ditempatkan di kamar VIP? Kenapa malah bisa-bisanya satu kamar? Ah, pasti nanti selalu bikin gara-gara. "Aku senang akhirnya ada yang kukenal. Mendengar nama Wintang, jujur malas banget. Dia kan sombong gara-gara punya akses di sini, kalau aku sih malu hal kayak gitu disombongin. Wah, kamu bawa barang dikit banget, Kak Rinai." Gena ikut membantu barang-barang Rinai, merapikan sebagian baju di lemari yang sudah disiapkan. Ada meja kecil di samping ranjang dan rak tempat buku. Jujur, ini sangat rapi dan indah. Lebih indah dari bayangannya. Rinai merasa mimpi punya kamar sebagus ini, tidak akan pernah mencicipi seandainya dia tidak mengenal sosok Aiden. Sambil merapikan sprei, Rinai mencoba betapa nyamannya ranjang yang akan dia tiduri. Dan jujur, empuk. Sebanding dengan kamar di apartemennya dulu. "Kamu di sini atas kemauan kamu sendiri, atau siapa, Gen?" Gena mengangkat bahu, bukan kemauannya murni. Ini adalah mimpi sang kakak yang ingin punya silsilah keluarga jago bernyanyi atau punya bakat sedikit saja tentang musik. Mau bagaimana lagi? Tidak bisa ditolak karena sejak kecil, kakaknya sudah bersusah payah merawatnya dan juga sang mama. "Kamu mirip denganku, hanya hidup sama mama. Tapi kamu masih punya kakak. Aku bersyukur sampai hari ini masih bisa menjaga mama dari kejauhan." Mereka saling menertawakan takdir yang kadang menjemukan. Pintu kembali terbuka, seorang perempuan sok cantik melangkah pelan-pelan dan duduk di ranjangnya. Diikuti seorang wanita dengan pakaian biasa. "Taruh saja di situ, rapikan. Aku mau menemui Kak Tere." "Baik, Non." balas wanita yang mungkin saja adalah pembantu rumahnya Wintang. Sedangkan Rinai dan Gena hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan seorang perempuan yang manja dan sekarang harus satu kamar dengan mereka. Dari awal audisi, Wintang selalu bersikap menyebalkan. Sok penguasa dan selalu mengatur ini itu. Meskipun sudah menganggap hal itu sudah biasa bagi Rinai, tetap saja baginya sangat menyebalkan. "Bi, biar kami bantu." Wanita bernama Lusi tersenyum, setidaknya nona mudanya bersama dengan orang-orang yang baik di sini. Dia mengucapkan banyak terima kasih karena ada yang menawarkan bantuan. Dari dulu, Lusi sangat mengenal nona muda. Sudah beranjak dewasa dan memang sangat manja, tidak bisa dibantah dan selalu mau menang sendiri. Itu terjadi karena Wintang sama sekali tidak pernah merasakan rasanya dipeluk oleh papa kandungnya. "Terimakasih. Saya tinggal dulu, saya harap kalian bisa berteman baik dengan Non Wintang, sebenarnya Dia sangat baik dan penyayang tapi mungkin karena faktor lingkungan Nona muda menjadi sangat cuek dan acuh tak acuh." Hanya bisa diam saja. Sejak mengenal Wintang, tidak pernah sekalipun mereka akur atau pun saling menyapa. Saling menjatuhkan malah iya! "Memang sih, kadang orang-orang kaya itu malah kesepian. Terlalu punya kesibukan, terlalu punya banyak uang dan juga terlalu tidak peduli dengan perasaan orang-orang yang mereka tinggalkan di rumah." Gena kembali ke ranjangnya. Dia mengamati kotak musik di dekat jam wekernya. Pemberian Dito, pria yang selama ini sudah memberi semangat dalam hidupnya. Sedangkan Rinai hanya bisa gigit jari mendengar cerita kalau teman seunitnya ternyata sudah punya pasangan. Usia mereka memang tidak terlalu jauh, tapi tentu saja Rinai lebih tua dari Gena. Dan sampai sekarang dia masih tetap jomblo, nasib memang tidak selalu baik bukan? *** Ini sudah makin larut, ke manakah Aiden? Jalan-jalankah? Bukankah pria itu berjanji akan menemuinya di taman sekitar agensi. Rinai tidak mau dianggap aneh karena bicara sendiri di kamarnya, bisa-bisa dia dianggap cenayang dan semacamnya. "Hah, udah tahu kalau malam-malam begini Jakarta juga bisa dingin." Baru beranjak dan ingin kembali ke kamarnya, Rinai dikagetkan dengan sosok yang muncul. Dengan pedenya tersenyum seakan tidak punya kesalahan apa-apa, padahal ditunggu selama lebih lima belas menit di sini. "Nunggu lama?" "Bahkan, kalau aku nunggu 5 menit lagi yakin deh, besoknya aku langsung masuk angin." Aiden mengangkat dua jari, peace. "Terus kenapa nggak pakai jaket? Nyari penyakit aja deh." Hanya tertawa. Rinai malas harus memakai pakaian yang berlapis-lapis. Cukup memakai setelan biasa sebelum tidur, dirasa sudah nyaman. Taman di sekitar agensi memang selalu sepi, dulu saat Aiden sering di asrama, dia juga sering mengendap-ngendap dan mencari tempat untuk menyalakan korek api dan tentu saja merokok. Pekerjaan selalu menuntutnya untuk banyak hal. Bahkan Aiden jarang bisa menikmati makanan pedas dan juga minuman dingin. Hidupnya tergantung pada tenggorokannya, suara emas yang harus dia jaga apalagi ketika ada konser besar. "Jadi, gimana keadaan di dalam? Kamu ada di lantai berapa?" "Lima. Ada di kamar 27, dan kamu tahu apa yang paling menyebalkan? Aku satu kamar sama Wintang, sial emang! Kenapa sih, dari seluruh manusia yang ada di sini dan bahkan ada puluhan kenapa aku harus satu kamar sama dia." Sedangkan Aiden hanya bisa tertawa karena dia sangat tahu kalau Rinai dan Wintang adalah musuh dari dulu. Yeah, mau bagaimana lagi, seandainya Aiden masih bisa dilihat oleh banyak manusia, dia pasti akan protes dan menempatkan Rinai di tempat yang perempuan itu mau. Sudah lama tidak bersua, Rinai menceritakan kesibukannya selama ini. Mulai dari mengambil weekend di akhir bulan bersama sang mama, berkenalan dengan pekerja baru di kedai milik Mamanya dan juga makan bersama dengan Adzkia yaitu teman saat dulu masih ada di Toserba. Aneh, kenapa Rinai merasa wajib harus memberitahu seluruh kesibukannya pada sosok Aiden. "Ah, maaf. Aku cerewet banget ya?" garuk-garuk kepala. Merasa sungkan karena membuat Aiden harus mendengarkan semua curhatannya semingguan ini. "Enggak juga. Aku senang kamu mau berbagi sama aku, beda denganku yang kadang masih menemui orang-orang yang terlihat biasa saja. Kadang juga menemui Anya, wanita itu kini tinggal bersama orang tuanya. Aku tau paman Feeza pasti mengawatirkan keadaan anaknya dan menyuruh Anya tinggal bersama mereka. Setidaknya wanita itu tidak kesepian." Mereka saling melemparkan senyum, Aiden banyak menceritakan bagaimana tempat ini dan juga ruangan ruangan rahasia yang mungkin saja bisa dijelajahi Rinai. Karena merupakan anak kebanggaan Star management, Aiden beri kesempatan untuk menjelajah seluruh ruangan di sini tanpa adanya pelanggaran. Ternyata sampai sekarang, Aiden masih saja menghawatirkan Anya. Terkadang, Rinai merasa kasihan kepada pria tampan di hadapannya. Padahal Anya tidak sesedih yang diceritakan oleh Aiden, wanita itu beberapa kali tidak sengaja dilihat oleh Rinai tengah belanja dan kadang bertemu dengan pria lain. Agak menyebalkan sih, tapi kan bukan urusannya? Mendengar bel jam jaga malam, Rinai akhirnya harus kembali. Jangan sampai ada garis kuning pada buku yang harus dia taati selama tinggal di Star management. Aiden tersenyum kembali dan mengatakan akan berjumpa lagi. Pria itu sudah hilang dari pandangannya, Rinai pun ikut menimpali, " See you next time juga, Aiden."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN