Move

1206 Kata
Memastikan mamanya bisa bekerja dengan baik, apalagi rencananya mereka akan menyewa ruko yang lebih besar lagi membuat Rinai menahan diri untuk tinggal sebentar lagi di rumahnya. Dia juga penasaran dengan sosok Astri, gadis yang menjadi pegawai mamanya akhir-akhir ini. Siapa tahu mereka bisa menjadi teman baik bukan? "Biasanya dia ke sini jam 8 pagi, kadang malah kepagian. Kamu kalau masih ngantuk tidur dulu aja, Nai. Mama bisa mengerjakan semuanya sendiri." Tapi Rinai sudah cerah, rasa kantuknya menghilang setelah mendengar suara blender di jam sepagi ini. Dia memilih terbangun dan melihat apa saja yang sedang dikerjakan mamanya. Banyak sekali adonan yang dibuat mamanya, karena banyak pula peminat gorengan di kota Jakarta. Rata-rata pembeli warung mamanya adalah para pekerja bangunan dan mahasiswa. Nasi rames, soto, dan banyak sayuran yang dibuat mamanya Rinai. Sambil menggoreng beberapa adonan ke dalam wajan yang minyaknya sudah panas, Rinai melalang buana pada kabar Aiden sekarang. Apakah pria itu punya kesibukan? Mungkin bisa jadi punya, karena Aiden sering pergi ke tempat Anya setiap tidak ada sesi jadwal latihan. "Mama kadang kalau ada pembeli mahasiswa suka teringat kamu. Mereka masih muda juga, ganteng-ganteng lagi. Kamu beneran gak ada teman dekat gitu, Nai?" Sejujurnya mamanya agak cemas, biasanya di usia Rinai pasti setidaknya perempuan itu punya kenalan terdekat. Nyatanya tidak ada, mau bagaimana lagi? Rinai memang sulit untuk berbaur dengan banyak pria. Baginya masih ada urusan yang lebih penting daripada memikirkan kisah yang belum jelas ujungnya. Rinai lebih memilih fokus akan karir yang baru saja dia mulai. "Tenang saja. Aku bakalan menikah kok, Ma. Cuma enggak sekarang dan memang belum punya pandangan itu. Setiap orang pasti punya pilihan dan sekarang aku tengah menjalani pilihanku. Ini jangan-jangan mama pengen aku ngasih cucu mama ya? Hayo?" "Enggak, Sayang. Mama tahu kamu masih baru di cita-citamu sendiri. Kejar terus sampai kamu benar-benar bahagia dengan pilihan kamu. Urusan menikah kan nomer sekian, lagian yang menikah kan bukan mama tapi kamu. Jadi kamu gak boleh merasa terbebani atas pertanyaan mama tentang hal pria." Kalau tidak sedang menggoreng, Rinai sudah pasti akan memeluk mamanya. Dunia Rinai masih terasa begitu lengkap lantaran ada sosok sang mama yang begitu perhatian. Suara pintu dari luar membuat Rinai akhirnya bangkit. Dia yakin itu adalah Astri, gadis yang ditawari untuk bekerja di warung milik mamanya. Dari atas dan bawah, penampilan yang sangat sederhana. "Halo, aku sudah mendengar semua tentangmu, Kak Rinai. Aku Astri, pegawai di sini." "Rinai. Terima kasih ya, sudah mau kerja sama mama. Beliau sekarang tidak kecapekan lagi dan punya teman ngobrol." Astri mengangguk. Dia merasa mamanya Rinai memang sangat baik, dan seandainya punya kesempatan, Astri bisa memanggil wanita yang sudah sangat baik padanya dengan panggilan ibu. Panggilan yang sangat dia harapkan selama ini. (Bagian Kedua) Setelah liburan sebenarnya usai, Rinai kembali ke kota dan bersiap-siap untuk ke agensi Star. Bertemu banyak orang, hebat-hebat pula. Banyak barang yang disiapkan, tapi palingan kebanyakan adalah baju baru pilihan Rose. Katanya jangan sampai pakai baju gembel di sana, agar Rinai tidak dipandang sebelah mata. Ketika baru sampai di depan apartemen, kebetulan dia bersimpangan dengan Billar, pria yang menjadi kekasih Rose baru-baru ini. Entahlah, sudah ke berapa perempuan itu gonta-ganti pasangan. "Pagi. Pasti abis olahraga semalaman kan, Lu?" "Sok tahu. Tuh, di tangan lu ada apaan? Tante Wulan pasti masakin banyak kan? Bagi dong, laper banget gua. Udah beberapa hari ini males makan, biasa berantem sama Billar." "Iya deh iya. Padahal kan lu sendiri yang ngebolehin dia ke Bali, tapi lu sendiri yang muring-muring gak jelas." Rinai membuka rantang yang dia bawa dari rumah. Juga ada nasi yang lumayan, bisa dihangatkan sampai nanti siang. Perut Rinai juga memberontak setiap melihat masakan mamanya. Banyak sayuran dan lauk pauk, Rose menyantap satu persatu. Seperti biasa, dia sangat tergila-gila dengan masakan tante Wulan. Enak dan legendaris. "Gue yakin, mama lu bakalan banyak punya cabang. Pelan-pelan aja, rasanya bahkan lebih enak daripada masakan Padang. Yakin deh sama gue." "Bawel, udah makan aja. Nanti lu ya yang angetin sayurnya." Rose mengangguk. Dia harus banyak-banyak menghabiskan momen bersama Rinai sebelum perempuan itu akan tinggal di gedung besar. Sambil mengunyah gorengan dan sambal, Rinai mulai melihat agensinya dari ponsel. Banyak unggahan tentang star management. Gedung tinggi, banyak kamar pula di asramanya dan juga taman. Sepertinya Rinai akan betah di sana. Banyak pengalaman. Banyak teman. Banyak keberanian dan keputusan yang harus Rinai pertaruhkan nantinya. Ini adalah mimpi besar Rinai, jadi wajar dia harus berjuang bukan? "Gue ngantuk. Capek juga di rumah sering begadang. Bangunin ya, setelah itu gue ada kerjaan di toserba. Sorenya nanti gue ada urusan di suatu tempat sebelum nanti pindah." "Oke, Tuan Putri. Selamat beristirahat." Rose masih menguyah makanannya. Bahkan dia berjanji akan mengunjungi tante Wulan. Sudah menganggap wanita itu seperti mamanya sendiri. Keluarga Rose memang masih lengkap, tapi percuma karena mereka sudah berpisah. Lalu, ngapain juga Rose betah tinggal di rumahnya. Kebahagiaannya sudah hilang sejak lama. Membiarkan Rinai tertidur pulas, Rose hanya diam saja sambil nonton TV. Tidak ada yang tahu kalau sejak tadi ada pria yang mengawasi keduanya, sosok makhluk tak kasat mata yang memang sudah berteman dengan Rinai dari beberapa bulan yang lalu. "Dia pasti kecapekan. Kasihan, apa gak usah latihan saja? Tapi ini sangat penting, semakin dia terlatih semakin banyak para coach yang akan mulai memperhatikan Rinai." Aiden terus bicara sendiri, sesekali tersenyum melihat Rinai yang bergerak kadang ke kanan dan ke kiri. Perempuan yang malang. Dua jam berlalu, Rose berkali-kali membangunkan Rinai. Baru setelah menyetel lagu dengan nada keras, Rinai membuka matanya. "Sorry, ngantuk banget gue. Mandi dulu deh." "Minum dulu. Lupa? Lu sering banget darah rendah gara-gara kekurangan cairan. Sayang badan dikit kenapa sih? Heran!" Rinai tertawa. Meskipun terkesan dimarahi dia sangat bangga Rose tahu keadaan tubuhnya. Mereka memang saling menjaga meskipun tidak harus bilang-bilang dulu. Rinai duduk sebentar sambil memulihkan kesadaran. Agak kaget karena melihat pria yang sejak tadi mungkin berdiri di pojokan. Sayang sekali, Aiden tidak bisa bicara untuk saat ini. Takut Rose mengira Rinai gila nanti. "Nanti gue makan dikit lagi ah. Mau mandi dulu, kaya Kia toserba akhir-akhir ini ramai." "Iya. Udah sana, ngomong mulu dari tadi. Gue sambit piring nih," kesal Rose. Sedangkan Rinai hanya berbalik badan dan mengambil handuk bersih. Tatapannya diarahkan pada Aiden. Ngapain pria itu ada di sini? Bukankah mereka akan bertemu nanti jam 12 siang? Melewati Aiden, Rinai merasa pria itu agak beda. Pandangannya lesu, apakah ada sesuatu yang telah terjadi selama mereka tidak bertemu belakangan ini? Sudahlah, nanti dia bisa tanya sendiri pada Aiden. Sekarang mendingan mandi dan berangkat kerja. "Aku lega kamu makan dengan baik, Rinai." Tidak jadi masuk ke kamar mandi. Dia terdian sesaat atas ucapan Aiden. "Kenapa memangnya? Aku kan baik-baik saja?" "Aku tahu kamu banyak cemasnya memikirkan bagaimana nanti di star. Aku pastikan tidak ada orang yang menganggumu. Termasuk Anya." Rinai terdiam cukup lama, bahkan setelah Aiden pergi. Dia menyadarkan lamunannya setelah Rose meneriakinya untuk cepat-cepat mandi. Dasar teman bawel! Usai berdandan, Rinai semangat berangkat kerja. Bisa jadi ini adalah jadwal dia untuk terakhir kali, karena saat di star, semua sudah terjamin mulai uang jajan, makan, juga transport. "Berangkat dulu. Jangan lupa mandi juga, muka lu kayak gembel di perempatan." "Rese' lu!" Hampir tertimpuk bantal sofa, Rinai melihat ke kiri dan kanan. Berharap dia akan melihat sosok Aiden. Tapi pria itu tidak datang-datang juga. Ah, ngapain juga mengharapkan pria itu? Palingan sibuk sama Anya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN