Annoying

1072 Kata
Star Management nampak begitu gagah dari luar, dari dulu Rinai tidak pernah sekali pun bisa menjadi bagian dari mereka. Terlalu tinggi! Tapi hari ini, semua keraguannya akhirnya tercapai. Mimpi yang katanya tinggi itu bisa diraih pelan-pelan meskipun dengan merangkak. "Apa jadinya kalau lu udah jadi penyanyi sukses, Nai? Apakah lu bakalan punya fans tersendiri kayak Aiden? Ataukah Kai? Jujur, gue merasa lu bakalan lebih sibuk ketimbang ibu induk semang yang kerjaannya keliling apart demi menagih uang sewa." Rinai hanya tertawa dengan gurauan Rose. Teman satu unitnya agak tak rela melepaskan Rinai, kebingungan pasti sendirian di apart dan tidak tahu lagi saat membutuhkan sesuatu meminta bantuan siapa. Tapi dari dulu Rinai memang tahu, Rose sudah banyak membantunya. Menurunkan harga sewa meskipun keduanya patungan. Hidup pelik seperti itu memang kadang memilukan. Berjalan menuju halte bus, Rinai agak gontai. Baru saja keluar dari agensi untuk mengisi formulir. Dia merasa sangat jauh tertinggal, rata-rata orang yang lolos selalu punya pengalaman segudang. Minimal punya coach pribadi yang dibayar untuk setiap sesi latihan. Tapi lihatlah Rinai? Perempuan biasa saja itu hanya modal keberanian dan support dari Aiden. Wajah Aiden yang meneduhkan menjadi alasan agar Rinai bisa masuk ke Star agensi. "Gak akan ada yang berubah. Gue malah gak bisa bayangin betapa menakutkannya para pesaing yang ada di dalam sana. Sebelum berperang, gue mau pulang dulu dan memeluk mama, kangen banget." "Oke. Titip salam ya buat Tante. Kangen banget makan masakannya." "Bilang aja minta gratisan." Rose melambaikan tangan kepada Rinai saat perempuan itu menaiki bus, lalu pandangannya menghilang seiring melajunya bus ke perbatasan kota. Dari dulu, semenjak Rinai lahir, hanya sang mama lah tempat ternyaman saat merasakan risau dan resah. Rinai sering sekali gagal masalah percintaan bahkan dia mengakui kalau jatuh cinta bukanlah hal yang mudah. Bermimpi bisa punya pasangan yang baik saja sudah lebih dari cukup. Tapi, dengan keadaan Rinai yang serba kekurangan, tanggungan yang besar dan juga hutang keluarga secara turun menurun membuat Rinai gusar memulai sebuah hubungan dengan pria. Dari sisi kanan, tatapannya kembali riang. Rinai sengaja memberi kabar akan pulang dan menginap beberapa hari ke depan sebelum nantinya akan sibuk saat sudah berpindah ke agensi star. "Ya Tuhan. Mama rindu sekali, kamu pasti capek banget kan? Kelihatan banget dari wajah kamu. Kebetulan tadi mama banyak banget belanja, sekarang kedai lagi ramai-ramainya juga mama mau ngasih tahu kabar baik." Saling menggenggam tangan satu sama lain, Rinai cukup tersenyum melihat mamanya bahagia. Sudah lebih cukup dari hal termegah seisi dunia. Mereka hampir sampai di rumah dan belum ada yang berubah. "Ma, dapat salam dari Rose. Katanya rindu kimchi buatan mama." "Oh ya? Nanti kalau kamu kembali ke kota mama bisa buatkan kalian. Kamu mandi, ganti baju dan setelah itu bantu mama ya? Nanti malam mama ada orderan lumayan banyak dari acara di RT sebelah." Rinai pun menurut dan memasuki kamarnya. Meskipun jarang ditempati, dia yakin mamanya selalu rajin merawat dan tidak ada yang berubah sama sekali penataannya. Aroma sprei yang khas dan buku-buku sekolah Rinai dari kecil sampai sekarang pun masih utuh. Sudah rapi dengan pakaiannya, Rinai menuruni anak tangga. Setidaknya rumah yang dari dulu dia tinggali tidak akan menjadi milik orang lain, ini adalah tanah milik keluarga sang kakek yang sudah meninggal sejak Rinai masih bayi. Tidak ada foto kenangan keluarga karena memang dari dulu Rinai tahu kalau mamanya akan sakit hati mengingat tentang keluarga mereka yang tidak utuh. Ada benak paling dalam di mana Rinai ingin tahu bagaimana perasaan mamanya, apakah ada sedikit saja kerinduan terhadap pria yang sudah meninggalkan mereka? "Mama ada kabar baik, tapi sebelum itu bantu kupaskan wortel ini dulu ya. Sambil dengerin mama, mama seneng ada teman ngobrol." "Maaf ya, Ma, kalau Rinai jarang ada waktu." Mamanya tidak keberatan. Dia tahu anaknya pastilah sedang menggebu-gebu untuk mencapai cita-citanya sejak masih remaja. Bau dimsum yang baru saja dikukus membuat Rinai kelaparan. Harus diakui, apa pun yang dibuat mamanya memang menggugah selera. "Mama awalnya tidak sengaja bertemu dengan anak ini. Dia baik sekali, tapi karena mama lupa bertanya di mana dia tinggal mama kehilangan jejak. Namanya Astri, dia berasal dari panti asuhan dan bekerja di salah satu minimarket terdekat. Jujur, mama langsung ingat kamu. Dan akhirnya, karena kamu khawatir mama sering bekerja sendirian, mama mengajaknya untuk bekerja di kedai mama." Rinai hanya angguk-angguk, tidak sabar bertemu dengan Astri. Gadis yang usianya dua tahun lebih muda di bawahnya, hanya punya keluarga sambung di panti asuhan dan harus membiayai sekolahnya sendiri. Pasti mamanya tidak sampai hati mendengar kisah Astri yang hampir mirip dengan Rinai saat kecil dulu. "Syukurlah. Ini setelah dikupas lalu diparut kecil-kecil kan, Ma?" "Iya. Dimasukkan ke dalam adonan yang sudah mama bentuk. Oh ya, Nai, mama benar-benar penasaran. Tapi, apakah kamu sama sekali tidak punya teman dekat pria?" Ini sudah waktunya mamanya tahu siapa saja pria yang mendekati Rinai. Tentu saja insting seorang mama akan lebih kuat saat ada orang yang berusaha mendekati putri mereka. Was-was karena sampai sekarang Rinai sama sekali belum pernah memperkenalkan teman prianya. Dulu sekali, mamanya pernah menyangka kalau Jo, bartender tampan itu menyukai Rinai. Tapi Rinai menampik kalau hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja. "Tidak ada, Ma. Tidak ada waktu juga untuk mengurusi hal seperti itu." "Ah, jangan terlalu memikirkan tentang segalanya. Tapi pikirkan juga tentang kebahagiaanmu sendiri, Rinai. Kamu butuh pendengar selain mama, suatu hari nanti pasti kamu akan mencari sosok spesial itu." "Mama kebanyakan nonton drama deh. Jangan-jangan mama nyuruh aku nikah muda lagi. No, Rinai lagi semangat ngejar karir dan fokus ke kuliah aja, urusan yang lain mah belakangan." Hanya bisa pasrah. Tahu sekali kalau Rinai kesulitan berbaur, beda dengan Rose sahabat anaknya yang sering bercerita dekat dengan siapa atau tengah menjalin hubungan dengan seseorang. Baginya, Rinai pasti punya seseorang yang memang belum bisa dikenalkan secara resmi. Sangat tahu perubahan Rinai, alih fokusnya dan juga tatapan Rinai saat melihat pasangan yang sedang kencan di jalan. Begitu semua pekerjaan sudah selesai, Rinai memasukkan adonan dan mengukusnya secara bergantian. Dimsum buatan mamanya memang selalu banyak diminati, buktinya 20 dus mini menjulang tinggi siap diisi. "Kamu makan aja dulu. Nanti biar sisanya mama yang urus, kan sekarang mama pakai jasa kirim, gak usah repot-repot nenteng pesanan segini banyaknya." "Baik, Ma. Aku cuci tangan dulu." Interaksi antara mama dan Rinai membuat Aiden ikut tersenyum juga. Ternyata perempuan itu juga ditagih soal hubungan dengan seseorang, sama persis dengannya saat usianya menginjak 25 tahun ke atas. Dan sekarang, Aiden hanya bisa berharap kembali ke tubuh semulanya dan memulai menyiapkan untuk serius dengan Anya. Semoga saja kisah mereka tetap berlanjut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN